GOING TO HEAVEN - 1
Senja datang melipat mentari. Petala langit disekitar pondok telah disemburi oleh riuh gemuruh lantunan syair doa. Syair sederhana yang dilantunkan oleh para santri yang sedang asyik mempelajari khasanah bahasa.

Allahumaghfirlii

Dzunubi wali walidayyaa

Allahumaghfirlii

Dzunubi wali walidayyaa

Warhamhuma

Warhamhuma

Kama rabbayaani shaghiraa

Oh my God

Forgive me and our parent

Oh my God

Forgive me and our parent

Bless them bless them

Bless them bless them

As they care me since baby

Seorang pemuda berambut keriting tersenyum manis didepan kaca. Ia menatap parasnya sendiri yang tampak berseri-seri. Matanya berbinar, seolah melihat segenap bintang yang ada diruang petala langit tengah mengulurkan syair-syair pujian untuknya, terpesona akan kegagahan dirinya. Dalam jiwanya tersimpan rasa bangga dan suka cita. Rasa percaya diri dalam dadanya mengalahkan kegagahan mentari di siang hari. Gelora semangatnya mengungguli bintang-bintang di angkasa raya. Senyum manisnya lebih merekah dari terang rembulan dikala purnama. Jikalau seluruh kosmos didunia ini bersatu padu, maka dialah yang akan menjadi titik pusatnya. Seandainya ada sepuluh ribu pasukan perang di medan pertempuran, maka dialah orang pertama yang akan berdiri dibarisan terdepan. Ia akan menjadi yang terdepan untuk sebuah peran. Sore ini adalah agenda yang cukup penting baginya. Di sebuah Pendopo Balai Kota sana, ratusan anak muda sedang menanti kehadirannya. Anak-anak usia pelajar yang telah membaca bukunya, semuanya hadir untuk mendengarkan secara langsung ceramahnya. Bukunya adalah buku terlaris yang pernah ditulis oleh seorang pelajar seusianya. Buku yang menyajikan resep untuk memperoleh sebuah kekuatan jiwa. Buku yang mengubah besi menjadi permata, yang mengubah duka menjadi bahagia, yang mengubah benci menjadi cinta. Sehingga melihat dunia ini tidak selebar daun delima.

Ia kenakan baju koko cokelat dan celana kain hitam miliknya. Menyisir rambutnya dengan rapi. Memakai sepatu hitam yang masih tampak mengkilat karena baru disemir tadi pagi. Ia merasa harus tampil sesempurna mungkin. Untuk menjadi manusia sempurna maka ia merasa harus mengerjakan hal-hal kecil dan remeh dengan sempurna pula. Segera ia cangking tas yang berisi laptop miliknya, mengambil helm lalu bersiap menaiki sepeda motor Tiger-nya.

Kau mau kemana anakku suara wanita berumur empat puluhan terdengar nyaring dari bilik kamarnya. Kelihatannya ibunya mengetahui kalau ia hendak pergi. Sang ibu segera mendekatinya. Ia menjawab singkat.

I have bussiness Mom

What bussiness Ibunya bertanya penasaran.

Aku mau mengisi acara bedah bukuku di Pendopo Balai Kota jawabnya dengan semangat.

Bukumu yang mana

Yang terakhir itu lho bu...

Yang mana Yang Becoming the best atau yang Going to Heaven

Going to Heaven. Masak sama karya anak sendiri Ibu lupa sih

Iya Maaf. Ibu percaya kau anak yang hebat

Hehe... siapa dulu Ibunya

Ya sudah. Ibu dukung semangatmu. Semoga acaramu sukses

Hehe... Ibu adalah orang tua yang terbaik di dunia

Kau itu kalau sudah memuji... Pasti ada maunya

Hehe... Kali ini memujinya ikhlas kok

Ya sudah jangan bercanda terus, nanti terlambat! Oh ya jangan lupa nanti malam setoran buku sama bapakmu, ya

Oke bu... Aku sudah selesai baca Die Traumdeutung-nya Freud kok

Bagus

Ngomong-ngomong bapak mana Bu

Biasa lagi ngajar kelas Arabic-English

O. Yaudah aku pergi dulu ya Bu Doain biar acaraku sukses ya

Allah yubarik fik

Wa iyyakunna

Anak semata wayang itupun segera melaju mengendarai sepeda motor Tiger-nya. Sorot matanya menatap lurus kedepan dengan tajam. Motornya berlari dengan kecepatan sedang, karena ia melawati jalan kota sehingga ia harus lebih mengatur kecepatan. Biasanya dijalan yang sepi ia biasa mengendarai motor dengan kecepatan 70-90 km/jam. Tapi kali ini ia agak santai agar rambutnya tidak menjadi acak-acakan. Sebentar lagi ia akan berada tepat ditengah-tengah banyak mata. Semua mata akan terpasang tertuju kepadanya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki ia akan menjadi tontonan. Setiap kata yang ia keluarkan akan didengarkan. Semua bahasa tubuhnya akan diamati.

Ia tiba di Pendopo Ki Gede Sebayu Balai Kota Tegal, sebuah bangunan khas jawa yang atapnya ditopang oleh kayu-kayu berukuran besar tanpa dinding. Pendopo itu berada dipusat kota, tepat ditengah gedunggedung pemerintah daerah, berdekatan dengan alun-alun. Tampak disana telah ramai orang-orang yang datang untuk mengikuti acara bedah buku. Sebuah buku karangannya sendiri yang ia beri judul Going to Heaven. Ini adalah kali pertama ia diminta untuk menjadi pembicara buku tersebut, setelah sebelumnya ia berkali-kali menjadi pembicara inti ketika membedah karya-karyanya yang lain. Kalau bukan di Pendopo ini, biasanya bertempat di Gedung Nusa Bahari atau di Balai Muhammadiyah. Kebanyakan dari hadirin adalah anak-anak usia pelajar SMP dan SMA se Kota dan

Kabupaten Tegal. Sebagian adalah teman-temannya sendiri di sekolah.

Teman sekelas, teman seorganisasi, teman sepermainan dan teman-teman lain yang mengenalnya.

Ia taruh motor Tiger-nya di halaman parkir sebelah barat Pendopo. Lalu berjalan pelan menuju ruang Pendopo. Tempat itu telah tertata rapi layaknya sebuah ruang seminar. Para panitia mengulurkan tangan padanya, mereka menyuguhkan senyum hangat yang mendamaikan kalbu. Iapun menjabat tangan mereka dengan erat, kecuali dihadapan perempuan ia hanya menelungkupkan telapak tangan didepan dada. Banyak mata-mata bening yang menatap matanya. Wajah mereka berbinar-binar. Ia sendiri tak tahu apa yang ada dalam benak mereka ketika menatapnya. Ia hanya memberikan senyuman wajar, kemudian segera memilih kursi dibagian paling depan yang khusus disediakan untuk pembicara. Ia duduk disamping seorang bapak-bapak yang masih tampak muda. Ia jabat tangannya. Sementara itu ia diam, menunggu acara dimulai. Tiba-tiba bapak-bapak disampingnya tersebut berkata padanya seperti berbisik, nadanya pelan.

Buku anda sangat menarik. Saya suka

Begitukah Terima kasih atas masukannya, Pak jawabnya santai.

Saudara orang yang rendah hati

Ia hanya terdiam, tersenyum. Terasa ada rasa bangga dalam dadanya.

Kalau boleh tahu, Saudara telah menerbitkan berapa buku Ini yang kelima jawabnya singkat.

Luar biasa puji laki-laki dewasa itu.

Terima kasih.

Bapak-bapak tersebut terdiam. Kemudian ia bertanya, Kalau boleh tahu, bapak tamu undangan, atau mengantar anak bapak

Tiba-tiba bapak-bapak itu tersenyum mendengar pertanyaannya.

Lalu berbisik ke telinganya,

Sebentar lagi Saudara juga akan tahu

Ia berusaha menahan rasa penasaran. Diam. Pandangannya tertuju ke tiga buah kursi yang salah satunya tak lama lagi akan ia duduki. Sementara itu moderator yang seorang perempuan berjilbab biru berjalan menuju ke salah satu kursi didepan, lalu duduk dengan tenang. Beberapa saat kemudian moderator itu membuka acara. Ia mulai dengan membaca basmalah, kata-kata pembuka dan kemudian keluarlah kata-kata,

Hadirin yang berbahagia... Marilah kita sambut saudara Ibnu

Hajar...

Moderator perempuan berjilbab itu menyebut namanya dengan suara yang penuh tenaga. Ya, itulah namanya, Ibnu Hajar. Kata-kata moderator tadi terasa tertransmisikan secara cepat sampai ke sela-sela amigdala dalam otaknya, hingga beberapa saat kemudian baru tertangkap oleh neokorteks. Ia segera berdiri dan berjalan menuju kursi yang telah disediakan. Ia melampahkan kaki dengan penuh percaya diri. Kemudian duduk dengan kalem.

Sang moderator kembali berkata dengan semangat,

Dan untuk pembanding dalam acara bedah buku ini adalah bapak Adnan Hasan M. Psi. Kami persilahkan beliau untuk maju kedepan...

Ibnu sedikit terkejut. Ternyata bapak-bapak itulah yang akan dipanelkan dengannya. Bapak-bapak yang baru saja mengomentari bukunya dan memujinya. Ia baru sadar. Sebelumnya ia tidak pernah bertemu dengan laki-laki itu sehingga ia tak mengenalnya. Pak Adnanpun duduk

disampingnya. Lalu ia berbisik ketelinga Pak Adnan,

Sekarang saya sudah tahu, Pak

Pak Adnan cuma tersenyum. Sepertinya cukup puas sedikit mengerjainya.

Saya bacakan Curiculum Vitae Pak Adnan. Nama: Adnan Hasan M. Psi; TTL: Tegal, 13 Juni 1970; Pekerjaan: Dosen Psikologi UGM Yogyakarta. Motto hidup: Tanamkan motivasi, ledakkan potensi, hiasi diri menggapai ridha Illahi. Kali ini beliau khusus kami undang untuk menjadi pembanding dalam acara bedah buku Going to Heaven karya Saudara Ibnu Hajar... jelas moderator.

Sementara itu tepuk tangan hadirin bergemuruh ke angkasa. Mereka bertepuk tangan dengan mempertontonkan wajah berbinar-binar, mungkin juga bangga karena saat ini yang ada dihadapan mereka adalah orang Tegal yang menjadi dosen di UGM, sebuah kampus ternama di Yogyakarta, bahkan di nusantara.

Kemudian, akan saya bacakan CV dari seorang anak muda belia yang saya yakin saudara yang ada disini sudah tidak asing lagi mendengar ketenaran namanya di Kota Bahari ini. Dia adalah saudara Ibnu Hajar... Tepuk tangan hadirin dua kali lipat lebih bergemuruh dari tepuk tangan sebelumnya. Ibnu menyuguhkan senyum hangat kepada semua mata yang ada.

Saudara Ibnu Hajar ini Lahir di Munchen Jerman, 28 September 1991. Sekarang ini berarti usianya baru 17 tahun. Status: Pelajar SMA kelas 2 di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Tegal. Motto hidup: Dare to lead (berani memimpin)

Gemuruh suara telapak tangan kembali menyeruak ke atas petala langit. Suaranya lebih nyaring dari sebelumnya.

Baiklah, Saya beri kesempatan kepada bapak Adnan Hasan M. Psi untuk yang pertama kali mempresentasikan makalahnya. Menyampaikan pandangannya tentang buku ini kata moderator.

Pak Adnan pun mulai berbicara,

Baiklah. Ketika saya membaca buku ini, saya benar-benar merasa seperti sedang berpetualang ke angkasa raya yang tak terbatas. Yang unlimited. Buku ini mengajarkan kita akan pentingnya semangat dalam menelusuri samudera ilmu dan bagaimana cara menginternalisasikannya dalam jiwa, sehingga bisa menjadi kekuatan besar yang sangat berguna dalam menjalani hidup. Saya merasakan, buku ini sepatutnya bukan ditulis oleh seorang anak yang masih sangat muda belia. Sepertinya buku ini ditulis oleh seorang doktor atau profesor. Penulisnya menjelaskan hal-hal yang sebenarnya sangat besar dan serius tapi ia mampu membahasakannya dengan lebih sederhana, sehingga bisa dibaca oleh semua kalangan. Ini menunjukkan ia benar-benar memahami apa yang ditulisnya. Ia telah berhasil menulis bukan sekadar buku motivasi yang selama ini ada di pasar atau di toko-toko buku pada umumnya, tapi ia telah meramu ilmu filsafat, psikologi, sosial, dan science kedalam sebuah buku yang sangat menginspirasi dan memotivasi pembacanya. Lebih-lebih, jika anda buka daftar referensinya, saya jamin anda yang melihatnya akan sangat terkesima. Buku ini ditulis dengan kedalaman keilmuan yang sangat luar biasa. Ada sekitar 60 referensi yang mana penulisnya mampu mengadaptasi buku-buku berbahasa Indonesia, Arab, Inggris, Perancis, Jerman dan Jepang sekaligus. Dizaman sekarang ini saya baru pertama kali menemukan seorang anak muda yang memiliki kecakapan luar biasa seperti ini. Kebetulan tadi saya sempat bertanya kepada penulisnya, ini adalah buku keberapa yang pernah dia tulis Katanya ini adalah bukunya yang kelima.

Saya jauh lebih terperanga mengetahui ini semua. Saya yang sudah menjadi dosen selama sepuluh tahun saja baru mengarang dua buah buku. Setahu saya, Indonesia hanya punya Imam Nawawi Al Bantani dan Profesor Habibi, dunia hanya punya Einstein, Leonardo Da Vinci dan Willian Sidis. Tapi ternyata pengetahuan saya selama ini begitu kerdil. Ada seorang bocah emas yang lahir dan besar di kota bahari ini. Saya teringat perkataan Don Taps Cott: Kini sedang tumbuh generasi baru yang akan mengubah dunia menjadi berbeda sama sekali dengan sebelumnya. Tak ada yang bisa saya katakan lagi selain kata: Salut!

Tepuk riuh hadirin tak henti-hentinya berkumandang. Sementara itu Ibnu menatap semua mata-mata yang ada dengan binar. Dalam jiwanya yang terdalam sebenarnya ia ingin sekali berteriak keras. Ia baru sadar ternyata ia telah menorehkan tinta emas dalam usianya yang masih sangat hijau. Kemudian sang moderator memberikan kesempatan kepadanya untuk menanggapi apa yang dikatakan oleh sang pembanding.

Ibnu mulai dengan salam, kemudian berbicara,

Salam hangat untuk saudara-saudariku yang hadir di ruangan ini. Terus terang saya tidak pernah menyangka akan muncul sambutan seperti ini terhadap buku yang saya tulis. Going to Heaven, adalah hasil dari pengembaraan diri saya selama ini. Atau lebih tepatnya, sebuah petualangan intelektual sekaligus spiritual. Setiap hari dalam keluarga, saya selalu diajarkan untuk mencintai ilmu. Kecintaan terhadap ilmu inilah yang membuat orang seperti Imam Syafii mampu menghafal Al Quran dalam umur 7 tahun dan sudah bisa memberikan fatwa ketika usianya belum genap mencapai baligh. Begitupula orang-orang besar dengan latar belakang yang berbeda-beda. Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Suhrawardi, Mulla Sadra, Muthahhari dalam dunia tasawuf dan filsafat Islam, Al Bukhari, Muslim,

Ibnu Majah, An Nasai dan lain-lain dalam bidang hadits. Socrates, Plato, Aristoteles, Descartes, Kant dalam dunia filsafat barat, Einstein, Kepler, Newton dalam dunia fisika, Marx, Durkheim, Comte, Habermas, Derrida dalam sosiologi dan politik, Freud, Skinner, Maslow dalam ilmu psikologi dan sebagainya. Mereka semua berangkat dari sebuah curiousity atau rasa penasaran terhadap dunia. Rasa penasaran inilah yang akan menggerakkan jiwa dan fikiran kita untuk mencari kebenaran meski harus menempuh perjalanan melewati karang hingga ke dasar samudera. Dari semangat seperti inilah telah lahir orang-orang besar yang mampu mengubah dunia.

Sebagai manusia kita bukanlah makhluk yang hanya menjadi hiasan di permukaan bumi, tapi kita adalah makhluk yang paling luar biasa dengan segenap kekuatan yang ada didalam diri kita. Bukankah Tuhan bertitah dalam ayatnya Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya

Seketika itu angkasa semakin bergemuruh dengan guntur tepuk tangan yang tak henti-hentinya. Hatinya berdesir. Ia merasa sepertinya kali ini adalah momentum yang paling menggetarkan jiwa diantara sebelumsebelumnya.

Dibukalah sesi pertanyaan. Seorang perempuan berbadan tinggi semampai dan berbalut kerudung putih bersih maju kedepan meraih microphone, lalu mengajukan sebuah pertanyaan.

Kalau tidak keberatan, bersediakah Mas Ibnu menceritakan kepada kami latar belakang keluarga anda dan bagaimana selama ini orang tua anda mendidik anda

Ibnu termenung sejenak. Ia menarik nafas panjang, lalu mulai jelaskan,

Terima kasih atas pertanyaan Saudari. Saya bersyukur kepada Allah karena Dia telah mengkaruniai saya dua orang tua yang sangat luar biasa. Selama ini merekalah yang telah membimbing dan mengajari saya tentang hidup dan kehidupan, serta tentang arti pentingnya sebuah proses belajar.

Saya hidup disebuah rumah yang kini telah menyatu dengan sebuah pesantren modern berkelas internasional. Pesantren modern yang berorientasi pada peningkatan kualitas spiritual, intelektual dan kewirausahaan. Ayah saya mendirikannya sepuluh tahun yang lalu ketika saya baru masuk SD, dan kini alhamdulillah telah berkembang pesat dengan jumlah santri tidak kurang dari tiga ratus orang. Saya tidak tahu persis bagaimana ceritanya ayah saya bisa membangun sebuah institusi pendidikan sebesar itu. Saya hanya tahu kalau ayah mendapat donatur dari seorang muslim berkebangsaan Jerman yang memiliki sebuah perusahaan besar disana. Mr Adorno, teman kuliah ayah dulu di Jerman. Namanya memang mirip dengan seorang sosiolog Madzhab Frankfurt dari Jerman, Theodore Adorno. Mungkin juga karena Ibu saya, yang aslinya berkebangsaan Perancis, selama ini sangat setia mendampingi ayah sehingga dia mampu menciptakan sebuah karya besar dalam hidupnya. Untuk itulah saya merasa harus mengikuti jejak ayah saya untuk menjadi orang yang berkontribusi besar sepanjang hidup di dunia ini.

Pernah suatu ketika ayah saya berpesan: Ibnu... Dulu bapak hanyalah seorang anak dari keluarga miskin yang kebetulan bernasib baik, sehingga bapak bisa kuliah sampai memperoleh gelar doktor. Dan juga karunia yang tak terhingga berupa Ibumu yang aslinya berlatar belakang dari keluarga terpandang di Perancis. Bapak hanya punya satu modal: keyakinan. Itulah yang mengantarkan bapak sampai bisa seperti ini. Dengan keyakinan seseorang mampu mengubah dunia. Itulah kata-kata mutiara yang selama ini menjadi pecut dalam hidup saya. Kata-kata yang selalu mengingatkan saya dikala menghadapi segala kesulitan hidup. Ia bagaikan bom yang mampu membangunkan semua mata yang terlelap.

Setiap pagi setelah sholat shubuh saya diwajibkan untuk menghafalkan ayat-ayat suci. Setengah jam sebelum persiapan berangkat ke sekolah, saya gunakan untuk melanjutkan membaca buku. Buku-buku bertema apa saja, entah agama, filsafat, sosial, psikologi, science atau yang lain, semuanya lengkap tersedia di perpustakaan pesantren milik ayah saya. Setiap harinya saya dijatah membaca minimal satu buah buku dan malamnya sebelum tidur saya harus setoran. Saya harus menceritakan buku yang saya baca itu disertai dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan buku tersebut. Kalau tidak dihadapan ayah biasanya didepan ibu.

Sejak pertama kali saya keluar dari rahim ibu, saya sudah diajari berbagai macam bahasa. Sejak masih kecil sampai sekarang saya selalu dilatih untuk berbicara dengan banyak bahasa. Bapak bagian mengajari bahasa Arab dan Jerman, sedangkan Ibu bagian mengajari bahasa Inggris dan Perancis. Saya juga belajar bahasa Jepang pada bibi saya. Sehingga, saat ini saya menguasai lima bahasa asing. Mereka memiliki metode yang sangat efektif dalam mengajari saya. Sebagaimana Vernon Magnesen mengatakan bahwa seseorang belajar: 10 persen yang dibaca, 20 persen yang didengar, 30 persen yang dilihat, 70 persen yang dikatakan dan 90 persen yang dilakukan. Ayah dan ibu saya selalu menerapkan berbagai macam bahasa dalam percakapan keseharian dan menyuruh saya untuk mempraktekannya langsung, sehingga secara tidak sadar saya bisa menguasai kelima bahasa asing tersebut. Selama ini saya tidak pernah menganggap semua itu sebagai beban. Saya menjalaninya dengan suka cita. Itulah yang selama ini orang tua lakukan dalam mendidik saya Hadirin kembali bertepuk tangan menyambut penjelasan Ibnu. Kemudian moderator kembali memberikan kesempatan kepada penanya yang lain. Seorang penanya laki-laki menanyakan hal lain,

Mas Ibnu... Apakah anda pernah mengalami kegagalan, atau kesulitan sehingga membuat anda berputus asa Ibnu menjawabnya dengan suara mantap,

Kegagalan dan kesulitan pasti setiap orang pernah mengalaminya. Tapi kalau putus asa Tuhan sendiri melarang hamba-Nya untuk berputus asa. Kenapa kita harus berputus asa Bukankah the real champion is not just winning the competition but everyone who can stand up for every failure Paul G Stoltz mengemukakan 3 pilihan untuk orang-orang yang menjalani hidup: Quitter atau orang yang berhenti berusaha, Camper atau pekemah, dan Climber atau pendaki. Nah, sekarang kita tinggal pilih dari ketiganya. Jika kita memilih yang pertama, maka sia-sialah kita hidup didunia ini. Jika kita memilih yang kedua, maka sangat disayangkan ketika kesuksesan sudah didepan mata tapi kita malah menyerah ditengah jalan. Namun jika kita memilih yang ketiga, maka saya ucapkan selamat. Anda akan disebut sebagai pejuang sejati.

Bayangkanlah teori gravitasi Newton. Jika sebuah benda masih berada dalam ruang gravitasi maka benda itu akan jatuh tertarik oleh pusat bumi. Tapi jika benda tersebut telah menembus ruang hampa udara, maka benda tersebut akan bebas melayang terbang kemana ia suka. Analogi itu hampir sama dengan perjuangan kita dalam menjalani hidup. Di ruang gravitasi, tantangan kita untuk mencapai pucuk kesuksesan menjadi sangat besar. Tapi jika kita telah mengalahkan tantangan dan hambatan tersebut (hingga mencapai ruang hampa), maka kita akan menemukan kebebasan. Kebebasan dalam hal ini adalah unlimited power atau kekuatan yang tak terbatas. Kalau kita sudah memiliki ini berarti segala macam hambatan dan tantangan sudah bukan menjadi batu penghalang lagi dalam mencapai kesuksesan

Moderator mengajukan pertanyaan kepada Pak Adnan,

Bagaimana pendapat Pak Adnan Apakah bapak mempunyai

harapan untuk orang seperti saudara Ibnu Hajar ini

Pak Adnan menjawab dengan semangat,

Ada banyak orang jenius yang telah dilahirkan oleh dunia. Mereka memberikan kontribusi besar menurut bidang mereka masing-masing. Newton dalam hukum gravitasi, Copernicus, Kepler dan Galileo dalam Teori Heliosentris, Einstein dalam Teori Relativitas, Da Vinci dalam masalah seni, Ibnu Sina dalam ilmu kedokteran, Al Ghazali dan Rumi dalam ilmu tasawuf, Ibnu Khaldun dalam ilmu sosial, Iqbal dalam sastra dan filsafat islam, Asy Syafii dalam Ushul Fiqih, Ibnu Taimiyah dalam ilmu syariat. Tapi sebagian dari orang-orang jenius di dunia ini, ada sebagian diantara mereka yang sepanjang hidupnya kurang memberikan manfaat untuk ummat manusia. Sebutlah Willian Sidis. Sepanjang hidupnya ia menguasai lebih dari 200 bahasa dengan satu harinya ia mampu mempelajari satu buah bahasa. Sebuah kejeniusan yang benar-benar tidak wajar. Tapi hampir sepanjang hidupnya ia berada dalam ketersiksaan dan keterasingan sehingga ia tak leluasa mengamalkan kejeniusannya tersebut. Saya juga teringat sebuah film apik yang berjudul Good Will Hunting. Film tersebut bercerita tentang seorang pemuda jenius yang lebih memilih hidup bebas tanpa keterikatan. Memang secara psikologis fakta menyebutkan kalau biasanya orang yang jenius sangat susah untuk dikontrol. Ia ingin hidup bebas sesuai dengan hasrat dan geloranya. Untuk itulah, saya melihat ada potensi yang begitu besar yang melekat pada diri anak muda bernama Ibnu Hajar ini, dan itulah yang seharusnya dia manfaatkan untuk kemaslahatan ummat. Itulah harapan terpenting dari saya. Terima kasih jelas bapak-bapak berjenggot tebal tapi rapi tersebut.

Bagaimana komentar anda, Saudara Ibnu

Ibnu menjawab dengan suara mantap seperti sebelumnya.

Saya hanyalah seorang anak bau kencur yang baru lahir kemarin sore. Tidak pantas disejajarkan dengan orang-orang besar yang disebutkan Pak Adnan tadi. Kecerdasan bukanlah hal utama untuk meraih kesuksesan. Thomas Alfaedison mengatakan, jenius ditentukan oleh satu persen bakat dan sembilan puluh sembilan persen kerja keras. Kita bisa lihat pula bagaimana seorang Ibnu Hajar Al Asqalani juga pernah mengalami masamasa sulit dalam belajar, tetapi dengan usaha kerasnya ia mampu menjadi seorang ahli hadits yang sangat ternama. Atau juga Al Kisai, seorang ulama pakar bahasa Arab mazhab Kuffah. Beliau juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh Ibnu Hajar Al Asqalani Semoga anda seperti Ulama besar tersebut, ya sela moderator sambil tersenyum, bermaksud untuk memecah penjelasanku yang terlampau serius dan menggebu.

Amin... Hehehe... Kelihatannya ayah saya memberi nama saya memang mengambil dari nama Ibnu Hajar Al Asqalani. Hehe... Oke, saya lanjutkan. Jadi begitulah Saudara-saudariku semua... Tiap-tiap diri kita memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya. Masing-masing diri kita sama-sama memiliki kemampuan mewujudkan mimpi. All Children are born geniuses, kata Buchminster Fuller, setiap anak dilahirkan dalam kondisi jenius.

Saya akan berikan sebuah rumus sederhana untuk menggapai kesuksesan itu. Rumus tersebut saya namakan: GILA. Pertama, Gambarlah Diri Sendiri. Kita perlu mengetahui diri kita, sehingga kita mengetahui kekuatan dan kekurangan kita. Dengan begitu kita bisa menyusun strategi yang tepat untuk meraih sukses. Kedua, Imajinasikan Masa Depan. Dengan cara inilah kita menorehkan mimpi dalam kanvas jiwa kita. Jangan biarkan tulisan berujud mimpi-mimpi itu sirna dari jiwa kita. Ketiga, Ledakkan Karya Nyata. Dengan cara ini kita bisa mengekspresikan apa yang telah kita pelajari selama ini. Inilah wujud amal nyata kita dengan memberikan manfaat untuk orang lain dan tentunya juga untuk diri sendiri. Keempat, Angkat Permasalahan Baru. Dengan cara ini kita tidak statis, tapi selalu dinamis. Janganlah merasa puas dengan karya yang telah kita miliki karena itu hanya akan mematikan diri kita sendiri. Rumus GILA inilah yang selama ini saya jadikan pegangan dalam perjalanan hidup saya yang baru mengais pagi ini

Tak terasa satu jam telah berlalu. Jam telah menunjukkan pukul lima sore. Acara pun selesai. Ibnu mendapatkan banyak ucapan selamat dari teman-temannya baik yang sudah kenal maupun yang baru kenal. Banyak juga yang meminta tanda tangan. Ia tak mampu menolak. Ia fikir, apa salahnya memberikan tanda tangan kepada orang lain kalau mereka memintanya Pak Adnan pun meminta tanda tangannya. Ia merasa agak malu, ada seorang dosen Universitas ternama meminta tanda tangan pada seorang bocah yang baru puber Sungguh sukar dipercaya. Tapi iapun tak bisa menolak. Ia merasa dirnya ada dan berarti dimata orang lain. Ia merasa exist, yang berarti ada berbeda dengan tidak ada. Adanya ia dan tidak adanya ia, itu berbeda. Itulah pengertian exist.