MALAM MERUNJUNG - 1
BeriBu aBad sejak Raja Pertama mati, malam masih saja merunjung di bukit-bukit. Kisah tua tentang malam cuma bisa ditemukan dalam kitab-kitab usang. Kitab-kitab yang lambat laun tak lagi bisa ditemukan. Orang-orang tak lagi percaya kalau dulu malam pernah membentang. Dulu ada malam dan ada siang. Ada saat ketika matahari terbenam dan beristirahat panjang. Lalu di langit, akan ada jutaan titik pijar yang berarak bernama bintang. Kini sudut-sudut tergelap hanya bisa ditemukan di bawah bayang pohon yang memanjang.

Jauh-jauh dahulu, jauh dari ingatan siapa pun, Raja menggulung malam dan menancapkannya di atas bukit. Menjadikannya monumen runjung hitam dengan titik-titik pijar yang berarak di dalamnya. Mereka tak lagi tahu nama titik-titik itu karena tak ada yang masih ingat untuk memberitahu mereka. Kadang muncul juga bundaran besar di tengahtengah. Mereka tak tahu kalau bundaran terang itu punya nama. Yang mereka tahu, keindahan yang runjung di hadapan mereka tak pernah berhasil mereka hitung berapa. Indah sekali! Entah berapa. Tapi indah!

Matahari menggelinding dari timur ke barat, lalu kembali ke timur lagi. Mereka membagi waktu dengan menghitung berapa banyak matahari mondar-mandir dari timur ke barat dan dari barat ke timur lagi. Hidup dibagi dalam angka-angka. Ke mana pun pergi yang ditemukan adalah angka. Usai beristirahat singkatyang juga sudah dihitung mereka akan kembali bekerja dan lagi-lagi bertemu dengan angka.

Dan malam itu, malam yang merunjung di atas bukit-bukit itu, alangkah indahnya. Pada jam-jam istirahat yang sudah terukur, para pekerja duduk mengitari bukit. Menikmati makan siang mereka sambil mengagumi bangunan kerucut gelap yang teramat megah.

Ketika Raja yang Kesembilan melintas dengan kereta, mereka semua membungkukkan badan. Raja Kesembilan itu menyingkap tirai. Bukan untuk menengok para pekerja yang bersujud, tapi melihat lahan pertanian yang membentang. Mengagumi dirin ya dan kakek buyutnya. Lama setelah kereta itu pergi dan gumpalan-gumpalan awan biru yang ditinggalkan kereta itu sudah menguap, para pekerja akan bangun dari sujud dan kembali menikmati makan siang.

Aku mendengar sesuatu! yang bersuara ini bernama 301. Teman-temannya berhenti makan dan mencoba ikut mendengarkan.

Aku juga! kata si 757. Suara yang mereka dengar mirip seperti bergerit, namun terus berulang.

Terdengar mendamaikan sekaligus menakutkan.

Yang lain berusaha menajamkan telinga, namun mereka tak juga mendengar apa-apa. Sampai hitungan untuk waktu istirahat mereka sudah genap, selain 301 dan 757 tak ada yang mendengar suara itu. Mereka pun kembali bekerja. Makanan yang sisa dibungkus dengan rapi untuk mereka makan pada jam istirahat berikutnya.

Matahari sedang menggelinding ke barat dan hitungan baru pun segera dimulai. 301 beranjak ke kebun tebu, sektor tempat ia ditugaskan. Suara yang ia dengar dari malam merunjung tadi masih saja berputar di dalam kepalanya. Suara yang aneh. Ganjil. Namun ia merasa sangat mengenal suara itu. Seakan sejarah hidupnya masih terhubung dengan gerit decik misterius itu.

Jangan sampai Raja mendengar apa yang terjadi tadi, bisik seseorang. 301 menoleh dan ternyata kata-kata itu diucapkan oleh mandor mereka, 19.

Temui aku pada jam istirahat berikutnya. Jangan lupa ajak 757, kata si mandor. Lalu menghilang di balik rimbunan tebu sambil bersiul seakan tak pernah mengatakan apa-apa. 301 pun meneruskan kerjanya.

Ketika jam istirahat berikutnya, matahari sedang berada tepat di atas kepala. Karenanya para pekerja mesti berkumpul di bawah pohon untuk melindungi diri dari terik. 301 mendatangi si mandor bersama 757.

Sudah lama aku menantikan ada yang mendengar suara itu juga, kata si mandor. Lalu dari saku bajunya yang bertuliskan angka 19, ia mengeluarkan sekuncup kembang. Ia menyodorkan kembang itu kepada kedua anak buahnya. Mereka memer hatikan kembang itu cukup lama, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Coba kalian hirup, adakah baunya

Mereka mendekatkannya ke hidung masingmasing, lalu menggeleng.

Itu namanya bunga sedap malam, bisik si mandor. Hanya mengeluarkan aroma saat malam hari, tambahnya. Namun wajah 301 dan 757 masih saja kosong. Tak bisa mencerna apa pun. Kalian tahu mengapa warnanya putih tanyanya lagi, tapi yang ditanya menggeleng. Agar mereka bisa memantulkan sinar bulan. Bulan, adalah bundaran terang di atas langit saat malam. Sangat indah.

Keindahan yang tak bisa dihitung dengan angka.

Adakah yang seperti itu Yang tak bisa dijelaskan dengan angka tanya 301 ketakutan.

Si mandor tersenyum mendengarnya.

Tapi apa hubungannya dengan bunyi aneh yang kami dengar tadi

Yang tadi itu suara jangkrik. Itu serangga yang berderik kalau malam.

Anda bilang jangan sampai Raja mendengar ini

Si mandor mengangguk. Mereka akan memenggal kepala kalian, katanya dan wajah kedua anak buahnya itu pucat seketika.

Tolong jangan beritahu Raja. Kami mohon, mereka bersujud seperti mereka biasanya bersujud ketika kereta Raja melintas.

Aku tak akan melapor, asal kalian berjanji untuk mendatangiku saat jam istirahat nanti. Akan kuberitahu kalian lebih banyak tentang malam.

Mereka pun menghabiskan jatah makanan mereka dengan tergesa-gesa. Kemudian begitu waktu istirahat mereka genap, 301 dan 757 bergabung dengan pekerja lainnya. Kembali bekerja seperti yang selalu mereka lakukan.

Matahari sedang merangkak turun dengan perlahan di timur. Udara tak sepanas di saat siang, karenanya mereka beristirahat terpencar-pencar. Mengitari malam merunjung dan mengagumi kegelapan yang tak mereka pahami. 301 dan 757 kembali menghadapi si mandor. Apa kalian mendengar suara itu lagi tanya si mandor.

Ya, sekarang malah semakin jelas. Mereka terdengar bersahutan, jawab 757. Hal ini semakin membuatnya takut. Apalagi ia sangat menyukai suara itu. Ia ingin berbaring sambil menikmatinya, namun takut kepalanya akan dipenggal jika melakukannya.

Jika kuberitahu kalau dulu malam tak seperti itu, apakah kalian akan percaya tanyanya.

Mereka berdua saling menoleh. Tidak seperti apabagaimana maksud Anda

Si mandor menganggukkan dagunya ke arah malam yang mengerucut ke angkasa. Dulu malam tak merunjung seperti itu. Malam membentang di langit. Kalian lihat titik-titik itu Itu namanya bintang. Siapa pun tak akan sanggup menghitungnya.

Kedua pekerja itu kembali menarik napas. Mendengar adanya hal-hal yang tak bisa dihitung semakin membuat mereka takut. Berapa banyak mereka Yang tak bisa dihitung itu tanya 757 takut.

Jumlahnya jauh lebih banyak dari yang bisa dihitung. Jumlahnya bahkan tak terhitung, jawab si mandor nyaris tertawa. Aku tahu ada perasaan tertentu dalam diri kalian saat mengagumi malam merunjung itu. Perasaan yang tak bisa kalian jelaskan dengan angka-angka.

Tapi kami tahu berapa banyak malam yang merunjung. Jumlahnya tujuh. Tujuh di bukit-bukit. Dan kita di sini tergolong yang beruntung bisa menyaksikannya sendiri. Pekerja di sektor lain belum tentu punya momen seperti ini, kata 301 nyaris berteriak, menghalau rasa takutnya sendiri.

Dan tahu kah kalian mengapa malam mesti mengerucut seperti itu tantang si mandor.

Itu bukan pekerjaan kami! balas 301 ketus.

Si mandor memejamkan mata. Rasanya ia telah salah langkah. Terlalu cepat memprovokasi mereka. Begini saja, ia meraba saku celananya dan mengeluarkan gulungan kertas yang bertuliskan sebuah cerita. Jangan berikan ini kepada siapa-siapa. Kalau kalian melakukannya, aku bersumpah aku akan memberitahu Raja apa yang kalian dengar tadi.

301 dan 757 saling menoleh ketakutan. Apa sebenarnya yang Anda inginkan dari kami Kami bahkan tak sengaja mendengar suara itu.

Dan kalian menyukainya, ia menatap tajam pada 757, sampai yang ditatapnya gemetar. Ia kembali menyodorkan gulungan kertas itu dan sambil menelan ludah, mereka pun mengambilnya. Baca dan pahamilah. Tak semua orang beruntung mendapat kesempatan seperti kalian.

Betapa menakjubkan apa yang mereka baca. Kisah berjudul Seribu Satu Malam itu membius mere ka seketika. Seribu satu adalah jumlah yang banyak sekali. Namun yang lebih menakjubkan adalah keberanian seorang putri yang berusaha menyelamatkan hidupnya dengan menceritakan satu kisah setiap malam.

Temui aku lagi saat istirahat berikutnya, si mandor mengakhiri pertemuan mereka kali ini.

Pada jam kerja, mereka berdua tak bisa melupakan sekelumit kisah yang telah mereka baca. Tentang seorang laki-laki cerdik bernama Qamaruzzaman yang memperdaya gerombolan perampok.

Tentang sebuah gua yang berisi harta berlimpah.

Jam istirahat berikutnya, mandor mereka tak banyak bicara. Ia menyodorkan kembali gulungan cerita lain, dan mereka mendapati kisah anak lakilaki bernama Aladdin yang mengendarai karpet terbang. Ia pun memiliki hamba, jin, yang hidup di dalam lampu. Sangat mengherankan bagaimana seorang anak laki-laki bisa menundukkan jin dan meminta apa pun yang diinginkannya.

Tuan Mandor, bagaimana bisa anak manusia menaklukkan jin

Si mandor mengetuk keningnya dan tak menjelaskan apa-apa. Pada jam istirahat berikutnya, ia menyodorkan kisah tentang Sinbad yang mengarungi tujuh samudra.

Cerita itu membius mereka lagi. Menumbuhkan kagum yang semakin dalam kepada malam. Betapa malam yang membentang menyimpan banyak misteri. Begitu gelap dan begitu ajaib. Orang-orang dalam cerita itu bisa berbaring santai di atas kasur mereka sambil memintal kisah tentang karpet terbang dan lampu ajaib.

Di dunia mereka yang terang-benderang, tak ada lagi tempat bagi misteri untuk bersembunyi. Mereka bekerja sepanjang waktu dan titik tergelap dari bayangan pohon bahkan bisa dijelaskan dengan angka-angka. Mereka bisa menghitung panjang bayanga n dengan tepat hanya dengan mencocokkan jam dan posisi matahari di atas mereka.

Pada jam istirahat berikutnya, 301 dan 757 sudah tak dapat menahan rasa laparnya akan cerita yang hendak disodorkan sang mandor. Mereka menantikan si mandor merogoh sakunya yang bertuliskan angka 19 dan mengeluarkan gulungan kertas. Namun, ia tak mengeluarkan apa-apa.

Cuma itu yang kita punya, ujar si mandor.

Tapi Tuan, bukankah mestinya ada seribu satu cerita desak 301 dengan kehausan yang kentara.

Dulu memang ada seribu satu cerita. Tapi cuma itu yang selamat. Sisanya, ada di sana, ia menunjuk malam merunjung yang beku di atas bukit.

Apakah tuan putri itu selamat tanya 757. Baginya tak mengapa ia tak tahu kisah-kisah selanjutnya. Ia ingin diyakinkan bahwa Syahrazad selamat dari jerat hukuman sang raja. Sesudah itu, ia akan menjalani hari kerjanya seperti biasa, meski derik jangkrik itu selamanya akan terdengar dalam kepalanya.

Aku tidak tahu. Kisah itu sudah lama sekali. Untuk mencari tahu, kita harus membuat malam yang runjung itu kembali membentang.

Itu tidak mungkin, Tuan. Raja akan memenggal kepala kita.

Itulah yang dikatakan orang-orang kepada Syahrazad. Raja akan memenggal kepalanya dan semua perempuan di negerinya setiap malam.

Kembali bangkit rasa penasaran dalam diri 757 mengenai nasib Syahrazad. Tanpa diketahuinya, ia mulai jatuh hati pada sosok putri pemberani itu. Sekarang satu-satunya cara untuk mencari tahu nasib sang putri di akhir cerita adalah dengan mempertaruhkan leher mereka sendiri kepada Raja yang Kesembilan.

Anda belum menceritakan mengapa malam itu merunjung, ujar 757 akhirnya.

Itu di luar urusan kita! sergah 301.

Sang mandor tersenyum. Akan kuceritakan mengapa malam merunjung kepada kalian saat jam istirahat berikutnya, katanya. Dan mereka pun bubar. Kembali ke sektor tempat kerja mereka masingmasing.

757 tengah membabat tebu ketika 301 mendekatinya. Kamu percaya apa yang tadi kamu baca bisiknya.

757 tak langsung menjawab. Apakah ini perihal percaya dan tak percaya Yang dia tahu, ia ingin tahu nasib Syahrazad. Kita tunggu sampai istirahat berikutnya saja, balasnya.

Ini akan berbahaya, sergah 301 terengah- engah. Ketakutan dalam dirinya demikian membuncah sampai tangannya yang membabat tebu gemetar. Apa yang akan dia beritahukan kepada kita bukanlah urusan kita.

Apa salahnya kalau kita tahu dulu Urusan kita percaya atau tidak, urusan belakang, katanya.

Masih dengan napasnya yang diburu ketakutan, 301 melanjutkan, Tentang hal-hal yang tak bisa dihitung itu, tidakkah itu menakutkan Tidakkah kamu takut

757 tak menjawab. Derik jangkrik dalam kepalanya sayup-sayup kembali terdengar.

Apa artinya kita dalam dunia seperti itu lanjut 301. Kamu, aku, kita semua punya angka. Apa artinya 757 di hadapan ketakterhinggaan itu Apa artimu dalam dunia semacam itu Tidakkah itu menakutkanmu

757 merabai perasaannya. Akankah ia takut jika yang tak terhitung lebih banyak daripada yang terhitung Jika yang tak terhitung tak terhitung, lalu apa artinya mereka Ia gentar. Mungkin aku akan takut, jawabnya.

301 menghela napas lega. Tahu dalam ketakutannya ia tak sendirian.

Tapi aku merasa ada yang salah, ujar 757 melanjutkan. Aku merasa tak lengkap. Kita tak bisa mengabaikan kemegahan malam yang runjung itu. Bisa kaubayangkan jika malam benar-benar membentang Derik jangkrik semakin ramai dalam kepalanya, dan ia mulai memijit keningnya. Biarkan Tuan Mandor menyampaikan apa yang dia inginkan. Nanti kita putuskan apakah kita menyukainya atau tidak.

Aku akan melapor! sambar 301.

Kamu tidak akan melakukannya!

Aku akan melapor sebelum ini memburuk. Kau ikut denganku atau tidak

Ketakutan dalam diri 301 menjalar dalam dirinya. Ia ikut gemetar dan ketakutan menguliti sekujur tubuhnya. Tunggulah, aku mohon, katanya sambil tersengal. Tunggu sampai istirahat berikutnya.

Namun 301 telah mantap. Ia sudah berbalik dan berjalan ke istana Raja. 757 melanjutkan pekerjaannya dalam cemas. Derik jangkrik berdatangan seperti gelombang. Kadang ramai kadang perlahan surut, lalu datang lagi menggulung kosentrasinya. Ia mual dan berkali-kali ketika membabat tebu ujung arit mengiris tangannya. Tebu-tebu itu menjadi merah, lalu ia rasakan ada yang menarik pundaknya.

Kau dipanggil Raja! kata petugas yang menariknya.

Ia dipanggil Raja.

Kalimat itu membuat beku jantungnya.

Ruang tempat ia dipanggil Raja adalah ruang yang berlapis marmer. Sang Raja duduk di atas singgasananya yang diliputi asap. 301 ia lihat duduk bersimpuh tak jauh dari singgasana Raja. Tuan Mandor juga duduk diapit dua petugas. Merakap di atas lantai, ia menyeret tubuhnya ke depan singgasana. Kepalanya terus tertunduk, sampai ia bisa melihat kaki Raja yang biru diliputi asap itu.

Kau 757 suara Raja yang sanggup merontokkan seisi ruangan itu melahap semua suara jangkrik yang berderik dalam kepalanya.

Agak lama ia terdiam, menghikmati keheningan setelah gema suara Raja itu perlahan pergi. Iya, Yang Mulia, jawabnya dalam ketenangan yang tak pernah ia sangka ia miliki.

Kau di sini sebagai saksi, kata Raja. Segulung kertas terempas di depannya. Di antara ia dan kaki Raja yang diliputi asap. Benar, kau telah membaca sampah itu

757 menelan ludah. Benar, Yang Mulia, jawabnya dalam suara gemetar.

Apa yang kamu baca

Ia menarik napas perlahan. Cerita, jawabnya tercekat.

Cerita

Benar Yang Mulia, cerita.

Siapa yang memberikannya

Ia melirik ke arah 19, namun mandor itu hanya menatap kosong ke arah lantai. 19 jawabnya.

Penggal kepala 19! ujar Raja lirih. Ia mengucapkannya dalam suara yang amat lembut.

757 kembali melempar pandang ke arah 19 ketika petugas yang mengapitnya menyeret tubuhnya. Tuan Mandor membalas tatapannya. Ia mengira akan ada kemarahan dalam tatapan itu, namun 19 memberikan tatapan yang damai. Kini ia tak akan pernah tahu nasib Syahrazad. Ia tak akan pernah tahu mengapa malam merunjung. Mungkin suara jangkrik itu pun tak akan pernah berderik lagi kecua li dalam ingatannya. Mungkin kelak ia sendiri pun akan lupa pernah mendengarnya.

Dan kamu, kata Raja kepada 301. Kamu pembelot, suaranya yang lirih kini meruncing. Penggal juga kepalanya! titah Raja kepada pengawalnya.

Tatapan 301 kosong sekosongnya. Ketika tubuhnya diseret, seakan ia sudah tak bernyawa.

Dan kamu, kata Raja kepadanya. Kembali bekerja!

757 menyeret tubuhnya mundur. Ia terlalu terkejut untuk menyadari keberuntungannya. Terima kasih, Yang Mulia, ia bersujud tiga kali, kemudian kembali mundur.

Semua pekerja dikumpulkan di lapangan untuk menyaksikan 19 dan 301 dipenggal. Tontonan horor bagi siapa saja yang punya niat melawan kehendak Raja. 757 tak ingin bergabung dengan mereka. Ia terus berjalan menjauhi lapangan. Membelah kebun tembakau. Berjalan jauh, merandai ilalang. Sampai di tepi sungai, derik jangkrik itu kembali terdengar. Datang seperti gelombang pasang. Ia terhuyung. Muntah di antara bebatuan. Di atas lumpur, di bawah bayang pepohonan. Gelap bayangan di sekitarnya mulai menari. Bersama dahan-dahan yang ditiup angin dan derik jangkrik yang semakin ramai. Memaksanya memejamkan mata untuk waktu yang sangat lama.

Lalu jauh-jauh dalam kegelapan ketika ia meme jamkan mata, ia melihat satu ledakan teramat indah yang tak berhingga. Yang tak terhitung menari-nari dalam jumlah yang tak terhitung. Rembulan menggelinding dan seorang perempuan berbaring memintal kata. Syahrazad dengan napas yang beraroma sedap malam terbang menghampirinya. Mengelus keningnya dan mulai bercerita, tentang malam merunjung.