A SHOULDER TO CRY ON - 1
CUACA luar biasa panas pagi ini, saat cerita ini dimulai. Danu mengayuh sepeda sekuat-kuatnya. Sepedanya bergerak cepat, menyalip lincah di antara ramainya kendaraan bermotor yang memadati jalan raya Jakarta pagi hari. Sengatan matahari membuat peluh mulai membasahi seragamnya, tapi tidak membuatnya memperlambat kayuhan, ia malah semakin ngebut ketika memasuki sebuah kompleks perumahan.

Danu mengerem sepedanya tepat di depan rumah mungil berlantai dua bercat biru tua. Di depan pagar teralis rumah itu berdiri gadis berseragam sama dengan Danu, rambut sebahunya diikat satu asal-asalan, wajahnya cemberut.

"Lo lama banget sih Udah jam berapa nih" gerutu si gadis. "Gue hampir jalan sendiri ninggalin lo."

"Sori, Anka, gue bangun kesiangan. Tadi kan gue udah SMS lo kalo gue agak telat hari ini," jelas Danu ngos-ngosan, seraya menghela napas dan mengelap keringat di dahinya.

Melihat Danu yang begitu kelelahan, gadis yang dipanggil Anka itu berhenti menggerutu, meredam kekesalannya. Anka mengeluarkan sepedanya yang sengaja diletakkannya di samping mobil inventaris kantor ayahnya.

"Berangkat, yuk! Takut telat nih, gue kebagian Kimia jam pertama, gurunya galak," ajak Anka, seraya naik ke sadel sepedanya, siap berangkat.

"Nggak pamit ibu sama ayah lo dulu, Ka"

"Nggak usah, mereka lagi pada sarapan. Tadi gue udah pamit sebelum keluar."

Anka mengayuh sepedanya mendahului Danu, yang sekali lagi menghela napas untuk melepas lelahnya, sebelum kembali mengayuh sepedanya menyusul Anka.

Seperti inilah keseharian seorang Danu selama hampir empat tahun, tepatnya sejak ia bersahabat dengan Anka, gadis manis yang sekarang mengayuh sepeda di depannya.

***

Empat tahun lalu, pertama kali menginjak Jakarta, Danu datang bersama kakak laki-lakinya. Kedatangan Danu ke Jakarta selepas perceraian orangtuanya. Ia lebih memilih pindah dan ikut kakaknya, ketimbang selalu menjadi objek lempar tanggung jawab kedua orangtuanya yang seakan enggan terbebani oleh anak-anak mereka. Entah apa yang ada dalam pikiran dua orang dewasa itu, yang mengaku dulunya menikah atas dasar cinta.

Awalnya Danu sempat khawatir dengan kehidupan barunya. Jakarta jelas berbeda dengan Bandung, tempat tinggalnya dulu. Kekhawatiran tidak dapat menyesuaikan diri sempat dirasakannya. Keterasingan begitu terasa di sekitar lingkungan barunya. Dan Anka-lah orang pertama yang begitu baik dan ramah menyapanya.

Di tengah upaya Danu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, Anka selalu membantu. Membantunya dalam segala hal yang dirasa Danu sulit dipahami orang baru sepertinya.

Seiring berjalannya waktu, pertemanan mereka yang sudah terjalin sejak mereka duduk di kelas

IX (kelas III SMP), berubah menjadi persahabatan. Tidak ada yang lebih tahu soal Anka selain Danu, begitu pula sebaliknya. Sampai-sampai mereka tahu kapan salah satu dari mereka sedang naksir seseorang, atau kapan salah satu dari mereka patah hati karena seseorang.

***

Sesampainya di kelas XII-Bahasa-2, Danu mengenyakkan diri dengan lelah di kursinya, di samping Andro, teman semejanya, lalu menarik buku tipis dari dalam tasnya dan mengipasngipaskannya ke wajah.

"Capek bener, Nu," komentar Andro setengah meledek. "Berangkat naik sepeda bareng Anka lagi"

Danu tidak menjawab, sudah hafal benar Andro bakal mengejek kebiasaannya berangkat naik sepeda.

"Lama-lama betis lo bisa segede talas Bogor kalo tiap hari naik sepeda!" Andro memulai ritual paginya. "Kenapa sih lo nggak mau bareng sama gue pake motor, rumah kita deket, gue mau setiap hari jemput lo, daripada lo tiap hari naik sepeda."

"Gue udah biasa, Ndro. Dari SMP gue juga udah berangkat sekolah naik sepeda," jawab Danu datar, "Lagian sehat kok, hitung-hitung olahraga pagi."

"Sehat! Bukan sehat namanya kalo lo sampai di sekolah kecapekan dan mandi keringat!" Lagilagi Andro sok menasihati. "Rumah lo kan udah pindah, sekarang lumayan jauh dari sekolah, beda sama dulu."

"Nggak bisa, Ndro... Kasihan Anka kalo berangkat sendiri."

Andro mencibir mendengar sahabatnya mengatakan alasan sebenarnya.

"Tuh anak emang nggak pernah lengser jadi prioritas utama lo ya."

"Gue kan udah temenan sama dia dari zaman gue kelas tiga SMP... Emang kenapa Lo cemburu sama Anka"

Danu mengerling dengan cara paling menjijikkan yang pernah ia lakukan pada Andro, membuat Andro bergidik ngeri.

"Najis! Laki-laki normal nih gue!"

Danu terkekeh mengabaikan ekspresi jijik Andro sambil menarik tasnya lalu mengeluarkan beberapa buku pelajarannya.

"Ndro, PR bahasa Prancis udah lo kerjain belum Ada beberapa soal yang nggak gue ngerti nih."

"Tuh, buku PR gue lagi dikerubutin anak-anak."

Andro mengarahkan jari telunjuknya ke meja depan yang dikerubuti 6 atau 7 murid yang masing-masing menulis dengan gaya yang bisa menyebabkan osteoporosis dini. Danu mendesah, dan memilih menunggu buku Andro kembali ke pemiliknya ketimbang harus ikutikutan nyontek saat itu juga dengan risiko pengeroposan tulang, kebungkukan permanen, atau yang paling ringan, encok di usia muda!

***

Jam istirahat Danu langsung mengajak Andro ke kantin. Keterlambatannya tadi pagi membuatnya tidak sempat sarapan. Tak heran perutnya terasa perih, cacing-cacing di dalam perutnya pastilah mulai memakan bagian dalam lambungnya.

"Makan apa, Nu" tanya Andro, berdiri di samping Danu sambil menatap murid-murid yang kelaparan memenuhi jajaran kantin.

"Apa aja, yang penting ngenyangin perut," jawab Danu tidak sabar. "Nasi uduk aja tuh, porsinya banyak," putus Danu lalu berjalan lebih dulu dan dengan sigap mendekati gerobak nasi uduk, memesan seporsi nasi uduk lengkap.

"Eh, itu Anka, Nu," kata Andro di sela makan mereka.

Danu melihat ke arah yang ditunjuk Andro. Anka duduk beberapa meja dari tempat mereka dan melambai ceria seperti biasa saat matanya melihat Danu juga. Duduk di sampingnya Riko, kapten tim basket yang baru diangkat sebulan yang lalu.

"Mereka..."

"Setahu gue sih belum," potong Danu cepat. "Anka bilang, dia baru deket-deket doang," jawab Danu enteng, kembali memfokuskan diri pada nasi uduknya.

"Lo nggak apa-apa kalo Anka deket atau jadian sama Riko"

Danu berhenti mengunyah mendengar pertanyaan Andro, meletakkan sendok dengan santai di pinggir piringnya. "Emangnya kenapa Cewek seumuran dia emang udah seharusnya deket atau jadian sama cowok, kan Gue sih sebagai temennya seneng-seneng aja dia deket sama Riko. Riko anaknya oke."

"Yakin lo Nggak ada perasaan apa-apa"

"Jangan macem-macem, Ndro. Gue sama Anka tuh beneran sahabat. Nggak ada perasaan lain."

Danu kembali melanjutkan makannya, membiarkan Andro diam dengan ekspresi tidak percaya.

Orang-orang boleh menyalahartikan persahabatannya dengan Anka, tapi bagi Danu, Anka benar-benar sahabatnya. Ia akan bahagia bila Anka bahagia, begitu pula sebaliknya. Kedekatan Anka dengan Riko tidak membawa pengaruh apa-apa untuknya, tidak ada rasa yang seperti dituduhkan Andro padanya.