NIKEN DAN PANDU - 1
"Pelajaran kosong". Tanyakan pada pelajar SMA manapun, kata-kata ini nilainya tinggi sekali, jauh lebih tinggi daripada "batal ulangan" sekalipun. Mungkin kata-kata yang bisa menandingi nilai "pelajaran kosong" hanyalah "dua jam pelajaran kosong". Itulah sebabnya suasana kelas hari ini ramai sekali. Keramaian ini dimulai saat mereka mendengar bahwa guru biologi, Bu Tanti, tidak bisa mengajar hari ini karena sakit. Itu berarti, dua pelajaran penuh, dua kali 45 menit, mereka bebas dari pengawasan guru. Guru-guru yang lain sibuk mengajar. Bu Tanti memberikan tugas meringkas dua bab dari buku diktat. Tapi rasanya murid-murid tidak ada yang menganggap penting tugas itu sekarang. Yang penting sekarang adalah pelajaran kosong, dan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

"Kalian bisa diam, tidak" tiba-tiba saja Bu Mirna, yang sedang mengajar ekonomi di kelas sebelah, masuk ke dalam kelas. Murid-murid cepat-cepat kembali ke tempat duduknya masing-masing. Bertepatan dengan itu, Pak

Yusril, kepala sekolah SMA Antonius mengetuk pintu kelas.

"Terima kasih, Bu Mirna. Saya akan jaga di kelas ini," kata Pak Yusril.

Ada seorang laki-laki yang membuntutinya.

"Anak-anak, ini Pandu. Mulai hari ini dia akan menjadi anggota kelas 2C ini. Tolong perlakukan dia dengan baik. Pandu, ceritakan sedikit tentang dirimu sehingga teman-teman barumu bisa mengenalmu lebih baik," kata Pak Yusril. "Nama saya Pandu. Pandu Prasetya. Saya pindahan dari SMA Mataram di Yogyakarta. Ayah saya polisi, baru saja selesai tugasnya di Yogya, dan dipindah ke Semarang ini. Saya anak bungsu dari 5 bersaudara, kakak saya laki-laki semua. Pasti ada yang bertanya-tanya kenapa ayah saya memberi nama Pandu padahal saya anak bungsu Kakak-kakak saya semua bernama Pandu. Jadi kalo ada yang naksir saya, mau telepon ke rumah, carinya Pandu Prasetya. Kalo nggak nanti pada bingung Pandu yang mana." kata Pandu tanpa malu-malu dengan gaya yang ramah dan kocak

"Huh," gersah Niken yang duduk di samping jendela, "Pe-de benar cowok satu ini. Lagaknya sok ganteng", batinnya.

"Nik, cakep yach tu cowok," Wulan yang duduk di sebelahnya berbisik. "Cakep apanya, ah" "Bagaimana sih kamu Perawakannya tegap, tinggi lagi. Rambutnya keren. Ketahuan lah kalau bapaknya polisi. Matanya seperti mata elang..." bisik Wulan, mulai berandai-andai.

"Seperti mata jangkrik." sahut Niken asal-asalan. "Niken!" panggil Pak Yusril. "Ya Pak!" Mendengar namanya dipanggil, Niken sontak berdiri. "Aduh, jangan- jangan Pak Yusril mendengar percakapanku dengan Wulan"

"Kamu ketua kelas, saya ingin kamu duduk dengan Pandu. Wulan, kamu pindah di samping Arya. Pandu, kamu duduk di samping Niken."

"Baik, Pak." sahut Wulan dan Pandu hampir bersamaan.

"Duh, sial! Kenapa pula si jangkrik itu musti duduk di sebelahku Benar-benar sial." gerutu Niken dalam hati sambil duduk kembali.

"Kamu beruntung sekali bisa duduk di sebelah si mata elang." bisik Wulan sebelum berdiri.

"Kalau saja aku bisa bertukar tempat dengan kamu sekarang, aku bakal merasa sangat beruntung." Niken balas berbisik. Dia tidak menyangka Pandu sudah berdiri di sebelahnya. Tapi dia tidak berkata apa-apa, hanya menebar senyum lalu duduk.

"Niken, tugas apa yang diberikan Bu Tanti" tanya Pak Yusril. "Meringkas bab 3 dan bab 4 dari buku paket, Pak." jawab Niken.

"Bagus. Sekarang kalian duduk manis dan meringkas. Saya akan duduk di sini, menonton kalian meringkas." kata Pak Yusril sambil duduk di depan, di kursi guru.

Anak-anak terlihat kecewa. Hilanglah harapan mereka untuk bersenang-senang selama 2 jam pelajaran. Seandainya saja bukan Pak Yusril, sedikit-banyak mereka pasti protes. Mereka sangat menghormati Pak Yusril. Bukan karena dia galak, melainkan justru karena Pak Yusril tidak pernah marah, tapi penuh wibawa. Jadi sekarang mereka terpaksa diam dan meringkas.

"Niken, aku boleh ikut lihat buku diktatnya Aku belum punya buku itu." tanya

Pandu.

Niken berpikir sejenak, lalu menjawab, "Nih, pinjam saja. Aku sudah selesai meringkas. Kemarin malam aku nggak ada kerjaan, jadi aku sudah meringkas separuh. Pas anak-anak ramai tadi aku terusin meringkas yang separuhnya. Jadi kamu boleh pinjam, nih," kata Niken sambil mendorongkan buku itu ke arah Pandu. Sebetulnya Niken belum selesai, kurang satu sub-bab lagi, tapi dia malas sharing satu buku dengan Pandu. Lagipula Pandu perlu mulai dari awal, sedangkan Niken sudah hampir selesai, tinggal halaman terakhir. "Terima kasih," kata Pandu, lalu mulai menulis.

Niken mengambil buku kecil dari tasnya, menyobek secarik kertas dari situ, lalu sibuk menulis pula.

"Kamu lantas menulis apa" bisik Pandu.

Niken diam saja. Malas dia menjawab cowok yang satu ini.

"Niken"

"Bukan urusanmu. Kamu meringkas saja, sana..."

"Iiih... galaknya nona ketua kelas." kata Pandu, lalu meneruskan ringkasannya.

Diam-diam Pandu mencoba membaca yang Niken tulis. Cuma ingin tahu saja.

Sekilas empat baris terbaca.

Berat memikul dunia

Malu menyandang nama

Iblis bertopeng cinta

Maut perangkap asmara

Pandu tercenung. Pandu bisa melihat gadis yang satu ini sangat berbeda dari gadis kebanyakan. Sorot matanya tajam. Dia terlihat begitu cerdas dan dapat dipastikan dia penuh percaya diri. Ketua kelas pula. Makhluk hidup dari mana pula ini Pandu bertekad untuk mengetahui lebih banyak tentang gadis misterius yang galak tapi teramat manis ini.

Berkat kelincahannya dalam bermain basket, sebentar saja Pandu mendapat banyak teman. Cewek-cewek juga sering berlama-lama di dekat Pandu, maklum, Pandu memang ganteng dan gagah. Niken yang duduk di sebelahnya jadi enggan tinggal di kelas tiap jam istirahat. Karena tiap istirahat, mejanya pasti dikerumuni banyak cewek ceriwis dan centil. Niken lebih suka ngobrol dengan Wulan di kantin.

Di pihak lain, Pandu sudah berhasil mendapatkan banyak informasi tentang Niken. Tidak sulit untuk memperoleh keterangan sebanyak mungkin, karena hampir semua orang mengenal

Niken. Niken yang manis, Niken yang galak, Niken yang pandai dan selalu menjadi juara kelas.

Keterlibatannya di organisasi sekolah juga sangat besar. Boleh dibilang, Niken adalah orang nomer satu se-angkatan. Selain cerdas, Niken rupanya juga pandai bergaul. Pergaulannya cukup luas. Pantas saja semua orang mengenalnya. Dari cowok yang berkacamata tebal yang selalu menyibukkan diri di laboratorium fisika, sampai cowok gondrong yang kerjaannya tiap hari hanya menenteng-nenteng gitarnya, mereka semua kenal Niken. Kesan yang didapat dari masing-masing pun sangat baik terhadap Niken. Teman ceweknya pun banyak, bahkan cewekcewek itu sengaja membuntuti dan meniru-niru Niken ke mana-mana. Singkat cerita, Niken itu benar-benar idola di kalangan murid-murid.

Nilai sempurna diberikannya untuk Niken, karena disamping semua kelebihan di atas, sahabat Niken yang paling dekat, Wulan, adalah anak pembantu rumah tangga. Ini cukup menarik, mengingat Niken itu anak konglomerat. Papanya yang keturunan Cina, pemegang saham cukup tinggi di Pertamina, perusahaan minyak nasional di Indonesia. Selain itu, papanya adalah direktur dari bermacam-macam perusahaan besar di berbagai tempat di Jawa. Benar-benar gadis yang beruntung. Rumahnya megah, seperti Gedung Putih. Di kawasan elite pula. Menurut anak-anak yang sudah pernah ke rumahnya, rumah Niken itu seandainya nasi goreng, komplit pake telor. Ada fasilitas gym'nya, ada kolam renang, sauna, ruang karaoke, ruang bilyar, lapangan tenis, wah, pokoknya katanya segala ada deh.

Meski sudah mengetahui banyak tentang Niken, tetap saja dia terlihat misterius. Misalnya, konon sampai sekarang ini Niken belum pernah pacaran. Ini sangat aneh, mengingat Pandu banyak mendengar pengakuan bisik-bisik dari teman-teman cowoknya, kalo mereka naksir Niken. Tak satupun dari mereka yang berhasil mengambil hatinya. Apa dia tidak doyan cowok Rasanya koq tidak mungkin. Empat baris puisi yang sekilas dilihatnya senantiasa terbayangbayang di ingatannya. Niken bicara tentang asmara di puisinya. Jadi dia pasti pernah jatuh cinta, Pandu menyimpulkan. Tapi dengan siapa Di mana dia sekarang Puisi itu sendiri begitu misterius, susah menyimpulkan begitu saja dari empat baris puisi itu. "Aku harus berhasil mendapatkan kertas kecil itu, itu satu-satunya cara untuk mengetahui lebih banyak tentang Niken." Sepi.

Kau, mungkin telah membusuk Tapi tidak lebih busuk dari si busuk penyamun itu Suci cintamu Pedih deritamu Berat memikul dunia Malu menyandang nama Iblis bertopeng cinta Maut perangkap asmara Kau, tinggal kenangan Pahit kekecewaan Memberi seribu teladan Kau, mewangi sepanjang hari Mekar di dalam hati

"Huh! Tetap saja tidak mengerti." keluh Pandu. Dia berhasil mencuri lihat buku mungil itu dari tas Niken. Dibacanya berulang kali. Tetap saja penuh misteri. Siapa yang dimaksud 'penyamun' itu Siapa yang tinggal di hatinya "Ah, benar-benar bikin penasaran cewek yang satu ini," gumamnya, sambil meletakkan kertas itu di atas meja.

Budi, teman sekelas, sekaligus teman main basketnya, menepuk pundaknya. "Hey, Ndu!

Tumben kamu enggak dikerumuni cewek hari ini Macam James Bond saja kamu."

"Tadi aku bilang sama mereka, aku belum buat pe-er. Jadi mereka menyingkir." "Apaan nich" tanya Budi mengambil kertas itu dari meja.

"Eh... jangan..." cegah Pandu. Tapi terlambat. Secarik kertas itu sudah berada di tangan Budi.

"Ini tulisan tangan si Niken, kan" Budi mengenali tulisan Niken. Pandu diam saja.

"Iya niiiih... Wah Niken bisa puitis juga, yach" kata Budi sambil tertawa. Lalu membacanya keras-keras.

Teman-teman yang lain tertarik, lalu mulai berkerumun di situ. Budi bak seorang penyair, berdiri atas meja Niken dan mulai membaca puisinya, berulang-ulang.

Bel tanda istirahat selesai sudah berbunyi beberapa saat yang lalu, tapi anak-anak masih berkerumun di sekitar situ sambil tertawa-tawa melihat gaya Budi yang kocak.

Niken yang hendak masuk kelas cuma bisa berdiri kaku di depan pintu. Malu sekali rasanya. Dengan mata geram ditatapnya Budi lekat-lekat. Yang lain berhenti tertawa, dan bubar jalan, menyadari Niken sudah berada di situ. Budi pelan-pelan turun dari atas meja, lalu mengembalikan kertas itu pada Pandu, sambil tersenyum, "Terima kasih, kamu benar-benar ahli bikin ketawa."

Niken tidak berkata apa-apa waktu duduk. Pandu tak sanggup menatap wajahnya. Dingin sekali tatapan matanya. Tapi dia merasa harus meminta maaf. Biar bagaimana kejadian tadi gara-gara dia.

"Sorry, Niken. Aku nggak berniat."

"Sudah puas kamu sekarang" serobot Niken.

Percakapan mereka terhenti karena Bu Santi, guru matematika, sudah masuk ke kelas. Pandu sempat melihat setitik air mata di sudut mata Niken. Dia menyesal sekali.

Niken, di lain pihak, cuma satu kata yang ada di otaknya sekarang. "Perang!"

***

Siang itu juga, setelah bel pulang sekolah berbunyi, Pandu berusaha menjelaskan apa yang terjadi.

"Niken, aku serius tidak memberikan kertas itu pada Budi. Sumpah! Memang aku yang mengambil kertas itu dari tasmu, tapi itu cuma untuk memuaskan rasa ingin tahuku saja. Aku memang salah, aku seharusnya mencegah Budi membaca puisi itu. Maafin aku, ya" kata Pandu tulus.

"Kalau tujuanmu ingin mempermalukan aku, kenapa pakai menyewa Budi sebagai aktor Kenapa nggak kamu lakukan sendiri" jawab Niken sinis, sambil memberesi buku-bukunya dari laci.

"Sudah kubilang, aku sama sekali nggak berniat mempermalukan kamu. Aku cuma ingin baca, terus aku kembalikan lagi. Budi datang pada saat yang salah." "Jadi kamu menimpakan kesalahan padanya Nol rasa tanggung jawabmu, ya Bapakmu yang polisi pasti bangga."

Pandu menelan ludahnya. "Maafkan aku, Niken. Aku memang salah. Aku tapi sama sekali nggak bermaksud untuk bikin kamu malu. Sumpah! Lagipula, kenapa kamu mesti marah-marah begini, sih Puisi kamu itu bagus sekali lho. Kenapa kamu mesti malu"

"Aku nggak butuh penilaianmu. Terserah aku dong mau marah atau bangga. Sekarang ini aku malu dan marah. Kamu mau apa" "Ya sudah, ya sudah. Maaf dong."

Niken merengut. "Permisi, aku musti pulang sekarang." katanya kemudian, karena Pandu masih duduk di sebelahnya, menghalangi jalan keluarnya. Pandu berdiri dan mempersilahkannya untuk lewat. Niken bergegas keluar menenteng tasnya.

Pandu mengejarnya. "Sudah dimaafin belum nich aku" teriaknya. Niken berlari menjauh, ke arah pintu gerbang luar. Malas meladeninya. Cowok sialan. Serasa ingin menangis kalo mengingat kejadian yang tadi. Benar-benar memalukan. Puisi tadi adalah ungkapan isi hatinya. Bagaimana dia tidak marah Enak saja Pandu bilang kenapa mesti malu. Niken tidak pernah mengungkapkan emosinya pada orang-orang, jadi ini adalah pengalaman pertamanya. Ya garagara si mata jangkrik itu. "Suatu saat pasti aku balas!" janji Niken pada diri sendiri.