YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 1
Di rumah, anak saya punya langganan susu segar keliling. Namanya, Mas Agus; orang Kartasura. Hampir setiap Hari Minggu siang dia selalu apel ke rumah saya. Entah kenapa, setiap kali ketemu Mas Agus, saya merasa nyaman. Bisa jadi, karena setiap kali ketemu, topik pembicaraan selalu tidak jauh dari agama.

Kali ini, tentang haji. Dia sering kali menanyakan banyak hal tentang haji ke saya. Saya bisa menangkap dengan jelas kalau Mas Agus pengin sekali bisa pergi haji.

Saya salut dengan orang-orang seperti Mas Agus. Walaupun secara ekonomi masih jauh dari mampu, namun keinginannya untuk bisa pergi haji sangatlah tinggi. Sementara di sisi lain, banyak orang berkelimpahan, namun belum tergerak hati untuk menunaikan Rukun Islam kelima tersebut.

Perbincangan lebih menarik manakala dia bertanya, Pak Haji, apa benar orang bisa pergi haji itu karena panggilan dari Allah Saya sering

Ibadah Itu Gampang

mendengar, Alhamdulillah, Pak A sudah mendapat panggilan Allah, sehingga bisa pergi haji. Sementara yang lain mengatakan, Pak B itu, orangnya kaya, tapi kok belum juga pergi haji, ya Mungkin karena belum mendapat panggilan Alloh.

Dan kalimat-kalimat senada lainnya.

Dengan bercanda, saya jawab pertanyaan Mas Agus.

Seingat saya, dulu saya pergi haji kok tanpa panggilan Allah, ya, Mas Memang kalau Allah memanggil, pakai apa Lewat telepon, SMS, atau email

Mas Agus tertawa.

3

Misal pun Allah memanggil, kenapa ndak semuanya dipanggil Apa ada syarat dan ketentuan khusus, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang dipanggil Atau jangan-jangan, Allah pilih kasih

Mas Agus kembali tertawa.

Kali ini, saya menjawab serius, Mas, sebenarnya, Allah itu memanggil kita semua untuk pergi haji, tanpa terkecuali. Entah dia kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, dari negara mana pun; semuanya dipanggil. Coba lihat di Surat Al Hajj, di sana jelas disebutkan.

Oleh karena itu, mereka yang tengah menunaikan haji, menjawab panggilan tersebut dengan bacaan talbiyah, Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syarikalaka labbaik, innalhamda wan-ni mata laka wal mulk laa syarikalak. Artinya, Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah; aku penuhi. Aku penuhi panggilan-Mu; tiada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya, segala puji, nikmat, dan kekuasaan hanyalah milik-Mu semata; tiada sekutu bagi-Mu.

Atas panggilan haji ini, sambung saya, beberapa kelompok menyikapinya berbeda. Ada yang segera mengiyakan dan mendatanginya. Ada yang

menunda-nundanya. Bahkan ada yang seolah-olah tidak mendengarnya, sehingga enggan untuk datang.

Di tempat kerja, kalau seorang karyawan dipanggil oleh pimpinan atau bosnya, sudah bisa ditebak. Sebagai karyawan yang baik, pasti akan bergegas mendatangi panggilan pimpinannya. Kalau ada anak dipanggil orangtuanya, sebagai anak yang baik, pasti akan menjawab dan mendatangi penggilan orangtuanya.

Bagaimana dengan panggilan haji Bergegaskah kita memenuhi panggilan tersebut Bukankah Dia yang memanggil adalah Tuhan yang setiap saat memenuhi kebutuhan kita Bukankah Dia yang memanggil adalah Penjamin rezeki kita Bukankah Dia pemilik bumi yang setiap saat kita injak

Begitu beraninya kita menunda-nunda panggilan tersebut Bahkan seolah-olah tidak mendengar panggilan-Nya

8 Oktober 2013

Pagi-pagi, handphone saya bergetar, tanda ada SMS masuk. Saya tidak tahu siapa pengirim SMS tersebut. Nomornya tidak saya kenal. Dia tulis, Assalamu alaikum, Mas Haji. Mau tanya, kalau

daftar haji itu gimana caranya, ya

Segera saya jawab, Waalaikumusalam. Ini siapa, ya

Tak lama, SMS masuk lagi, Saya Mulyanto dari Mulyosari.