KEPULANGAN KELIMA - 1
1

Melewati depan rumahmu,

lampu desa yang remang mengejekku

halimun turun perlahan

menjadi selimut sepi yang menakutkan

membawa lari

rinduku pada perjumpaan

Seperti jalan protokol

pukul 10 pagi di Kuala Lumpur

Kau berkejaran, ingar bingar di kepalaku

Ini adalah kepulangan kelima

sejak tumbuh jakunku dan mulai bersemi kumisku

sejak takdir remaja desa

mewajibkan kami yang belia, merantau

mencari makan di tanah orang

2

Di tanah kelahiran

kepulangan dari rantau, hanya mengajakku terheran-heran

Masjid-masjid yang besar, kebun tebu tetangga yang kian kering

rumah-rumah penduduk dengan listrik yang selalu padam

pukul enam petang

Di tanah kelahiran

kepulangan dari rantau, hanya mengajakku terheran-heran

Masjid-masjid yang besar, kebun tebu tetangga yang kian kering

rumah-rumah penduduk dengan listrik yang selalu padam

pukul enam petang

Tapi ketahuilah

tak ada yang berbeda dari setiap kepulangan

meski kepulangan melahirkan pengalaman baru yang menyesakkan

rindu inilah

rindu inilah yang tak pernah padam, Aria

Kau menikah dan telah beranak-pinak

sementara aku,

lihatlah wajah adik dan sepupuku

wajah yang makin asing, bahkan bagi lelaki pergi seperti aku

3

Malam makin deras

tanah basah

pada Februari yang suka sekali mandi

Aku datang kembali, Aria

rombonganku telah melewati semuanya

jalan-jalan gelap, listrik-listrik yang padam

Juga jalan aspal yang bolong di depan rumahmu

Seperti usia remaja dulu, aku ingin datang lagi

kujemput kau dalam malam pertama mimpi basahku

usai kita berciuman di kebun tebu milik tetangga

sebelum akhirnya

gerombolanku gagal menculikmu sebagai istriku

4

Tapi, rantau Tak ada lelaki satu pun di desa kita yang bisa menolak

rantau

hijrah ke Malaysia, Korea atau Saudi Arabia

sekadar jadi kuli hotel dan rumah tangga

atau buruh kelapa sawit dan menggantung nyawa

Masih kuingat kiriman surat terakhirmu

kau selalu boleh berharap, tapi harapan dan kenyataan,

memang sungguh bukan rumus matematika

Lalu kukirimkan balasan terakhir untukmu

tak ada yang bisa mengkhianati kenangan

meski kita telah gagal menyelamatkan perasaan masing-masing

5

Baiklah,

memang tak ada yang bisa kujanjikan

tak pernah ada kata pasti juga kepulangan yang punya jadwal

tapi jangan risaukan aku, Aria

di kepulangan kelima ini aku telah belajar tabah

belajar tulus dari banyak perjalanan

Baiklah,

memang tak ada yang bisa kujanjikan

tak pernah ada kata pasti juga kepulangan yang punya jadwal

tapi jangan risaukan aku, Aria

di kepulangan kelima ini aku telah belajar tabah

belajar tulus dari banyak perjalanan

Hiduplah yang tenang

pergilah dan pergilah

mari kita pasang lambaian-lambaian

waktu adalah saudara kembar kenangan

padanya, telah kususun rapi segala rahasia dan ingatan

6

Tanah ini kelak akan selalu melarikan kita pada ingatan

ciuman-ciuman rahasia,

serta pengkhianatan api muda kita yang selalu jadi rahasia

Dan inilah kehilangan itu, Aria

7

Di album lama ini

masih tersisa wajah berahi kita yang remaja

menantang masa tua

yang akhirnya akan kualami sendiri

Lombok-Jogjakarta 2011