HIZBUT TAHRIR DARI MEREKA DAN UNTUK MEREKA - 1
Diantara Sunnatullah dalam kehidupan ini adalah adanya ujian bagi orangorang yang berpegang teguh dengan as-Sunnah dan al-Atsar di sepanjang masa, yang datang dari musuh-musuh atau orang-orang yang memendam kebencian (hasad). Mereka senantiasa menjelek-jelekkan para ulama serta merendahkan martabat mereka. Akan tetapi walillahi hamdu- Allah Subhanahu wa Taala tetap memelihara dan menjaga mereka, dan Allah akan senantiasa menampakkan kebenaran dan menentukan akhir yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.

Ulama-ulama salaf dahulu pernah berkata, Diantara ciri ahlul bidah adalah mencaci maki dan mencela Ahli Atsar.

Al-Mudzabdzab al-Hizbi berkata di dalam tuduhannya terhadap Imam Ibnu Baz dan Salafiyin :

1- Tentang masalah mengikuti manhaj salaf dalam masalah Aqidah dan Syariat perlu dilihat dan kita kaji terlebih dahulu ! Karena pada faktanya ketika ada fatwa seorang sahabat yang berbeda dengan pemahaman akal seorang Ulama Salafi, maka ia cenderung mengambil pendapatnya sendiri dengan mencampakkan fatwa sahabat tersebut, seperti pada kasus Ibn Baz :

- Seseorang pernah menyusun buku tentang memelihara janggut. Didalamnya dia menyebutkan pendapat Ibn Hurairah, ibn Umar, maupun sahabat2 lainnya tentang kebolehan memotong sebagian janggut jika panjangnya melebihi satu genggam. Maka Ibn Baz berkomentar : Walaupun ini pendapat Abu Hurairah dan pendapat Ibn Umar, hanya saja yang didahulukan adalah firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW !! (Majalah Hidayatullah edisi 03\XVII\Juli 2004; hal. 40-41)

Kalau demikian faktanya, lalu mana slogan memahami Al-Quran dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaf Ash-Sholeh (Sahabat, tabiin dan Tabiut tabiin) ! Jika anda dan kelompok anda dengan berani mengklaim bahwa pemahaman Ibn Baz, Utsaimin, Albani dll lebih baik dari pendapat dan fatwa para sahabat yang mulia ini !! Dan menyatakan bahwa mereka (para ulama salafi) lebih mengetahui hadis Rasul SAW dibandingkan para sahabat yang mulia ini, yang senatiansa menemani, melihat dan mendengar perkataan, perbuatan, serta taqrir Rasul SAW !!

Lalu dengan beraninya, ia berkilah bahwa hadis itu belum sampai kepada Sahabat tersebut, tapi sudah sampai pada Albani, Utsaimin, Ibn Baz dll dari kalangan Salafiyun !!! Seakan2 anda menyatakan bahwa para ulama salafi ini mengklaim diri mereka lebih nyalaf dibandingkan para Salaf As-Sholeh itu sendiri !!

Dan banyak kasus Ulama Salafi lebih mengunggulkan pendapatnya sendiri, ketika pada saat yang bersamaan terdapat pendapat dari Sahabat, Tabiin, Tabiut Tabiin yang berbeda dengan pendapat mereka !! Sebagaimana contoh berikut : Pada suatu pelajaran, Abdullah Ibn Baz pernah menyatakan bahwa pernikahan dengan ahlul kitab dengan persyaratan. Sebagian mahasiswa yang mengikuti pelajaran itu berkata : Wahai Syeikh, sebagaian Sahabat melarang hal itu !. Beliau menoleh kepada Mahasiswa itu, lalu berkata : Apakah perkataan Sahabat menentang Al-Quran dan As-Sunnah !!. Tidak berlaku pendapat siapapun setelah firman Allah SWT dan sabda Rasul-Nya (Majalah Hidayatullah edisi 03\XVII\Juli 2004; hal. 40-41).

Lalu bagaimana bisa, anda mengklaim mengambil manhaj Salaf dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah, sementara pada saat yang bersamaan anda dan kelompok anda menolak dan mencampakkan pendapat mereka !! Seraya melontarkan kata2 keji yang menodai kemulian para Sahabat ini yang telah ditetapkan dengan nash Al-Quran dan Al-Hadis, dengan ucapan : Hadis shahih ini belum sampai pada mereka, atau apakah kamu akan memilih pendapat sahabat atau hadis Rasul SAW !!

Sehingga menurut orang Salafi ini, seakan2 mereka para sahabat ini adalah orang awam yang tidak pernah mendengar apalagi mendapat hadis dari Rasul SAW !! Waliyadzubillah.

Tanggapan :

Ketika saya membaca ulasan si Mudzabdzab di atas, saya hanya bisa tertawa sekaligus bersedih di dalam hati, melihat begitu bodohnya syabab Hizbut Tahrir ini. Di antara syabab HT yang pernah berdiskusi dengan saya, si Mudzabdzab ini adalah syabab HT yang paling jahil, paling pendengki dan paling fanatik. Argumentasi yang dikemukakannya di dalam membantah atau mengkritik salafiyin sangatlah tidak relevan dan terkesan penuh dengan iftiro dan ikhtiro. Pengagungannya terhadap akal dan pemahamannya sangat kentara, sehingga metode berfikirnya dipenuhi dengan kecacatan dan keganjilan yang sangat jelas, sehingga para pembaca budiman akan melihat bagaimana tanaqudh-nya orang jahil satu ini.

Saya katakan : dalam pernyataannya di atas, si Mudzabdzab ini secara tidak malu mempertontonkan dagelannya yang rusak. Pengambilan konklusi si Mudzabdzab ini sangat jauh dari nilai-nilai ilmiah, bahkan saya katakan, metode pengambilan konklusinya dibangun di atas kebodohan, kegelapan dan kebencian, tidak berbobot ilmiah sama sekali. Berikut ini akan saya jawab dan tanggapi pernyataan dan tuduhan kejinya.