Kalau pernyataan sang ayah tadi benar-benar terwujud, maka kejadian tersebut bisa menjadi sebuah keanehan. Pernyataan sang ayah tadi nyaris tak mungkin, sebab sang ayah itu sendiri pun tak yakin dengan pernyataannya. Dia hanya bergurau dengan sikap getir; betapa tak mungkin baginya biarpun zaman berubah seribu kali setahununtuk bisa membeli rumah. Seorang kecil, miskin, dan papa tak bisa melakukan apa pun, meskipun zaman telah berubah.
Memangnya kenapa kalau terjadi wolak-waliking jaman Biarpun terjadi perubahan zaman, biarpun berlangsung perubahan penguasa dari tingkat nasional ke tingkat desa, ataupun tatanan kehidupan berubah tajam dalam semua tingkatan di seluruh wilayah tanah air, bukankah kita selalu mencatat, perubahan itu tak pernah menyentuh nasib kaum miskin Janji kelak kalau ada wolak-waliking jaman, sang ayah akan membelikan rumah untuk anaknya merupakan ungkapan skeptis, getir, dansekali lagi sang Ayah sendiri tidak percaya hal itu bakal terjadi.
Ungkapan tadi memang sering dipakai dalam konteks bergurau, gurauan getir. Tapi jika ungkapan itu dimaksudkan sebagai perubahan-
perubahan sosial seperti dalam istilah sosiologi, yang menyebabkan nilai, sikap, pandangan dunia, tingkah laku manusia, dan institusi-institusi sosial di dalam masyarakat berubah, maka ungkapan ini hanyalah ungkapan apa adanya. Tanpa pretensi apa pun, atau tanpa muatan nilai lain, bahwa hidup memang berubah. Apakah kaum miskin diharapkan agar ikut menikmati manfaat atau buah perubahan itu Di sana tak disebutkan. Siapa yang memperoleh manfaat dari perubahan itu dan siapa yang tak memperoleh apaapa Hal itu merupakan persoalan lain.
Sekali lagi, jika wolak-waliking jaman hanya berarti zaman bertukar, musim berganti, tanpa embel-embel apa pun, maka jelaslah, ungkapan itu hanya menggambarkan perubahan dalam hidup, sebagaimana makna perubahan sosial di dalam kajian sosiologi yang netral dari kepentingan apa pun. Wolakwaliking jaman dalam kategori ini, dapat membawa akibatdiharapkan atau tidak, disukai atau dibenci terjadinya guncangan sosial yang tak mengenakkan.
Warga masyarakat, tua atau muda, harus belajar menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru. Dan di sana-sini timbul keraguan, atau bahkan ketidakpastian, yang meresahkan. Tak jarang pula, banyak kalanganmungkin terutama yang tua-tua dalam masyarakatharus belajar mengenai berbagai hal baru. Tak peduli bahwa yang tua sudah bukan masanya lagi untuk belajar, atau setidaknya sudah merasa sulit untuk mempelajari sesuatu yang sama sekali baru.
Sebaliknya, di kalangan anak-anak muda, mempelajari sesuatu yang baru merupakan tantangan menggairahkan. Anak-anak muda mampu menguasai dengan cepat apa yang harus mereka kuasai demi kepentingan hidup mereka sendiri. Demi kemaslahatan masyarakat secara luas, di mana mereka hidup. Di sinilah tampaknya ketidakenakan itu terjadi. Yang muda maju dengan cepat, yang tua tertinggal jauh dan tertatih-tatih untuk mengikuti perubahan zaman. Namun tidak memalukan untuk diakui, bahwa yang tua banyak yang menyerah kalah dan dengan agak terpaksa mereka merendahkan hati untuk belajar dari yang muda-muda.
Dalam banyak hal, anak-anak muda yang bisa saja berkonotasi wong cilik, atau rakyat jelata, tak mustahil lebih tahu dan bahkan lebih pandai daripada para orang tua, para penguasa, dan orang-orang besar yang diakui kebesarannya oleh masyarakat. Dengan begitu, orang tua, orang-orang besar atau para penguasa sering dipaksa oleh keadaan untuk bersikap rendah hati, dan belajar dari yang muda-muda.
Mulai disadari secara luas, bahwa kesediaan yang tua belajar dari yang muda tak meruntuhkan wibawa yang tua. Bukankah belajar dari siapa pun tidak merendahkan derajat Sebaliknya, kita tahu, bahwa belajar makin meninggikan mutu kehidupan kita. Tapi fakta di lapangan tentu tidak demikian. Masih banyak orang tua dalam suatu masyarakat sering lupa sesuatu hal yang penting: sikap sok gengsi dan serba menjaga wibawa itu merupakan musuh utama kematangan dan kedalaman hidup. Ringkasnya, musuh bagi wisdom atau bijaksana. Yang tua sering tak memiliki wisdom dan tak mudah bersikap bijaksana.
Yang tua, yang memegang kekuasaan, biasanya lebih terbiasa bersikap seperti itu. Sikap ini menjadi hambatan perkembangan dan kemajuan di dalam masyarakat. Wibawa, atau gengsi, sering menjerat leher kita sendiri. Kecuali bila yang tua benar-benar berwibawa dan memiliki gengsi yang dilengkapi wisdom dan sikap maupun tindakan bijaksana.
***
Buku Kriminalisasi Ganja ini ditulis oleh anak-anak muda dari LGN, Lingkar Ganja Nusantara, melengkapi buku-buku mereka yang lain, tentang tanaman ganja dengan segala lika-likunya. Karyakarya mereka sangat mungkin menjadi tantangan bagi generasi tua untuk belajar memahami hal-hal baru yang tak dikenal di zaman sebelumnya. Selama ini, jika kita mendengar tentang tanaman ganja, yang segera terlintas dalam benak dan kesadaran kita adalah sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang menakutkan dan harus dihindari. Negara, dengan Undang-Undang dan seluruh jararan aparat yang berhubungan dengan persoalan tanaman ganja ini menunjukkan perilaku yang sama. Ganja adalah sesuatu yang buruk, berbahaya, menakutkan, dan karenanya harus dilarang. Dan bagi siapa pun yang melanggar larangan ini, akan dikenai sanksi pidana yang sangat berat.
Kemudian, negara menyebarkan informasi, atau lebih tepatnya, propaganda yang pada intinya mengabarkan kepada kita tentang dampak buruk penggunaan tanaman ganja bagi kehidupan manusia. Dan ini dibuat dalam rangka perang melawan narkotika tanpa menyadari bahwa ganja itu jenis makhluk yang sama sekali lain, yang tak ada padanannya secuil pun dengan narkotika. Kriminalisasi Ganja mengabarkandan memberi penyuluhan kepada kitatentang sesuatu yang lain, yang bahkan bertolak belakang dengan seluruh propaganda resmi dari negara dan lembaga-lembaga antinarkotika yang dinaungi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dengan caranya yang lugas dan keras, buku ini berusaha mengabarkan kepada kita semua bahwa kebijakan pelarangan yang mengkriminalisasikan tanaman atau pohon yang bernama ganja ini harus diakhiri. Kesalahan harus dihapus, ditinggalkan, dan dibuang jauh-jauh dari orientasi kehidupan kita yang sehat, yang mendambakan kemajuan dan kesejahteraan bersama seluruh bangsa. Ajakan buku ini untuk berbincang dengan kepala dingin, objektif, dengan berbagai pertimbangan ilmiah, kita terima. Kita dengar dengan saksama apa yang dikabarkan kaum muda, tanpa prasangka apa pun, karena yang muda-muda itu siapa bilang kalah patriotik dibanding yang tua Siapa bilang warga masyarakat biasa kalah nasionalistik dibanding para pejabat negara, yang tua-tua itu
Kita, yang tua-tua, dan terutama para pemimpin negara, memperoleh begitu banyak informasi penting dari buku ini. Informasi yang tidak hanya penting, tapi juga baru. Tentang manfaat dan kegunaan pohon ganja sejak dari masa ribuan tahun Sebelum Masehi di berbagai kebudayaan besar dunia. Barang yang sudah setua ini, mengapa dimudakan, dan kepentingan bisnis dan politik macam apa yang merupakan orientasi hidup kita, bila kita tetap bersikukuh pada apa yang salah Kriminalisasi Ganja ini menuntun pemahaman kita secara objektif, bahwa kampanye global antiganja yang sangat gencar dan massif sejak setelah berakhirnya Perang Dunia II yang dimotori oleh Amerika Serikat dan Persatuan Bangsa-Bangsa, adalah kebijakan yang sarat kepentingan ekonomipolitik. Sarat dengan nafsu dominasi dan hegemoni ekonomi-politik global. Karena itu dengan sikap istiqomah terhadap kebenaran, disertai patriotisme yang jelas, buku ini, hadir sebagai tantangan sekaligus gugatan.
Tantangan dan gugatan itu akan membawa dampak yang luas dan mendasar. Membuka wacana tentang pohon ganja secara terbuka dan objektif di hadapan publik akan berdampak pada perubahan worldview dan kesadaran baru yang sangat penting bagi kita. Terutama bila worldview dan kesadaran tersebut segera diikuti kebijakan yang benar dan adil bagi kepentingan seluruh bangsa, dan bukan kepentingan bisnis bagi segolongan kecil manusia di dalam masyarakat kita yang hidupnya sudah serba berkecukupan.
Kini giliran kita ciptakan perubahan, dan kebijakan baru, yang orientasinya tulus, buat menyejahterakan seluruh bangsa. Juga kalangan bawah, yang selama ini kita lupakan. Pesan khusus buku ini: kita pernah keliru memandang ganja, dan memperlakukannya sebagai bahaya mengerikan. Tapi itu dulu. The wisdom dari ungkapan wolak-waliking jaman, membuat kita sadar, bahwa yang dulu keliru, kini saatnya kita perbaiki. Tak ada salahnya, yang tua belajar dari yang muda.
Moh. Sobary, Penulis, Budayawan.