MALAM MERUNJUNG - 10
kapal saudagar itu terempas di sebuah pulau yang benar-benar lain. Ketika ombak menggulung mereka hingga terdampar di pantai, mereka tak mendapati pasir melainkan abu. Pepohonan yang tumbuh di sepanjang pesisir itu kelabu. Pada tiap-tiap daunnya tertera tulisan-tulisan. Seakan ada makhluk sinting yang menulisi tiap lembar daun itu dalam hurufhuruf yang benar-benar asing.

Si anak berusaha bangkit di antara puingpuing kapal. Tubuh-tubuh yang dikenalnya terlihat telungkup dengan burung-burung pemakan bangkai yang mencabik-cabik mereka. Si saudagar terkapa-kapa dengan tubuh gempalnya. Berusaha bangkit di antara tumpukan puing dan harta karunnya. Ia mengumpat mengutuk langit. Seekor burung bangkai hinggap di kepalanya lalu mematuk keluar bola mata kanannya. Ia mengumpat sekali lagi dan burung yang lain datang mematuk keluar bola mata kirinya. Di antara teriakan dan umpatan, si anak memungut balok kayu dan berusaha menghalau burung-burung bangkai yang menyerang si saudagar.

Jadi kau! jerit si saudagar begitu si anak membantunya berdiri. Rongga matanya kini menjadi dua ceruk merah yang tak henti mengalirkan darah. Si anak menuntunnya menjauh dari kerumunan burung bangkai. Ia berusaha membawanya ke tepi, ke bawah pohon-pohon kelabu dengan huruf-huruf a sing pada tiap lembar daunnya. Tiap kali melangkah, kaki mereka terbenam ke dalam abu.

Di bawah pepohonan, daratan yang mereka pijak lebih keras. Daun-daun kering yang terinjak terdengar merintih di bawah kaki mereka. Sementara daun-daun tua yang berguguran diikuti suara eranga n kesakitan.

Kita harus maju sampai bertemu dengan sebuah sungai, kata si saudagar.

Tuan pernah ke sini

Semua pelaut mengenal tempat ini, tolol!

Mendengar kata terakhir dari si saudagar, si anak mengurungkan niatnya bertanya lebih jauh. Paling tidak itu berarti tuannya tahu cara keluar dari pulau terkutuk ini. Selama beberapa saat tak ada suara kecuali langkah mereka berdua. Suara daun-daun yang merintih saat terinjak. Disahut erangan kesakitan dari daun-daun yang terlepas dari ranting-ranting. Jauh dalam hati kecilnya, si anak tahu kalau suara-suara yang mereka dengar adalah suara kematian. Tempat ini lebih mirip tempat maut bersarang.

Mereka tiba di tepi sungai yang dimaksud saudagar itu. Air yang mengalir jernih mengundang si anak untuk melepas dahaganya. Ia melepas si saudagar begitu saja dan berusaha mereguk air sungai sebanyak mungkin. Airnya terasa manis. Semakin ia meneguk air sungai itu, ia semakin haus. Perutnya mulai kembung tetapi kerongkongannya semakin kering.

Meminum air sungai itu adalah cara paling cepat untuk mati, kata si saudagar. Tanpa kedua bola matanya, ia mengetahui apa yang dilakukan si anak dari suara kecipak air di hadapannya. Dengar, kita harus menyeberangi sungai ini. Menembus padang ilalang di seberang dan menemukan gua yang nyaman untuk bersembunyi. Di suatu tempat di pulau ini terdapat mata air yang akan melepas dahagamu seumur hidup dalam sekali teguk.

Kerongkongannya yang kering sudah tak tertahankan lagi. Namun dengan patuh si anak kembali membantu saudagar itu berdiri. Sungai ini cukup dalam. Kau akan kewalahan jika menuntunku. Kamu harus menggendongku di atas pundakmu. Itu cara terbaik.

Anak itu berjongkok dan membantu saudagar itu duduk di atas pundaknya. Si saudagar membuka ikat pinggangnya dan mengikat kedua pahanya lalu menyelipkannya pada ketiak si anak. Ujung kedua ikat pinggangnya tetap ia genggam seperti pengendali kuda memegang tali kekang. Dengan begini akan lebih mudah, kata si saudagar puas.

Ia bersusah payah melangkah di tepi sungai. Dengan beban saudagar yang hampir lima kali bo bot tubuhnya sendiri, si anak cuma sanggup menggeser kakinya sedikit demi sedikit. Baru kemudian saat ia sampai di tengah sungai, bobot saudagar itu berkurang. Arus sungai yang tenang membantunya bergerak ke tepi lain sungai. Permukaan air yang tepat di bawah hidungnya memaksanya mendongak untuk bernapas. Jangan mendongak, tolol! Kau bisa menjatuhkanku, si saudagar menarik kedua ujung ikat pinggangnya dan membuat tulang belikat si anak hampir lepas. Ia bersumpah begitu tiba di seberang dan saudagar ini turun dari pundaknya, ia akan membiarkan saudagar ini mati sendirian di tepi sungai. Kau sedang berpikir untuk membunuhku, kata si saudagar terkekeh. Cairan hangat menjalari leher si anak. Saudagar itu mengencinginya. Kamu belum mengenal tempat ini. Kau kira mudah me nemukan gua yang aman itu nanti Padang ilalang di seberang hanya boleh dilangkahi dengan dua kaki. Sekali saja kau merangkak atau terpeleset jatuh, kamu akan mati. Tanganmu menyentuh tanah, kamu akan mati. Jika kamu meludah, kamu akan mati.

Kedengarannya bagus, ujar si anak. Kali ini ia benar-benar ingin membunuh tuannya.

Di gua itu nanti, kita tak hanya berlindung. Tapi juga menyusun rencana untuk mengalahkan Nonius. Dia menjaga mata air yang kumaksud. Sebelum membiarkanmu mengambil senjata dan mengalahkannya, dia akan mengajukan sebuah teka-teki terlebih dahulu. Banyak yang mati sebelum mereka punya kesempatan mengambil senjata. Aku pernah menjawab teka-tekinya dan aku pernah mengalahkannya. Tapi tanpa kedua mataku, hanya makhluk tolol sepertimu yang bisa kuandalkan. Sebaiknya kau tak mengecewakanku kali ini.

Ilalang-ilalang yang tumbuh di seberang sungai itu ternyata tumbuh jauh lebih tinggi dari yang dibayangkan si anak. Si saudagar tetap memegang ujung ikat pinggangnya dan menyentaknya tiap kali si anak hampir roboh. Tegakkan punggungmu! Atau kita akan mati.

Padang ilalang itu bergigi. Jika tak ingin dilumat hidup-hidup, mereka harus tetap tegak menyusuri setapak yang sempit. Nonius membangun tempat ini untuk memelihara dendam. Dia adalah dewa dari segala dendam. Satu-satunya cara untuk mendapat ampunan adalah dengan mengalahkannya.

Adakalanya kegelapan ilalang di sekeliling mereka begitu tinggi. Satu-satunya yang menjadi penunjuk arah adalah bulan purnama. Kadang si anak merasakan ada yang busuk menggelinding di punggungnya. Si saudagar kencing dan berak di atas pundaknya. Meski muak, ia tak punya pilihan lain selain terus menyimak cerita dari si saudagar. Seperti seekor keledai yang dengan pasrah membawa beban dan menuruti apa saja yang diperintahkan tuannya tiap kali menyentak tali kekang.

Daun-daun tadi adalah jiwa-jiwa yang telah dijual kepada Nonius. Tiap senja dia akan keluar dari sarangnya. Menjadi burung gagak yang hinggap di atap-atap rumah. Menghampiri orang-orang yang kesusahan dan menawarkan jalan keluar. Dia tak memberikannya secara gratis. Nonius adalah pedagang yang ulung. Sangat ulung. Pedagang di pesisir timur banyak yang memasang gambarnya dan membakar dupa untuknya. Aku pun pernah membakar dupa untuknya sebelum aku mengalahkannya, ujar si saudagar puas. Jika kamu punya otak, saat ini kamu akan heran. Mengapa dewa dari segala dendam juga menjadi dewa bagi para pedagang. Kuberitahu kau, karena keduanya sama saja. Tanpa dendam, seseorang hanya akan berakhir sebagai penjaga kios kecil di pelabuhan kecil, ia tersedak pada kata-kata terakhirnya. Tertawa keras menertawakan kalimatnya sendiri.

Gerak tubuhnya ketika tertawa membuat si anak limbung. Ia tersandung pada jalan menanjak yang mulai berbatu. Si saudagar mengumpat sebelum tubuhnya membentur tanah. Mereka mendengar ilalang itu tertawa menyaksikan mereka terguling di atas setapak. Seperti dua ekor ikan yang mengamuk mempertahankan menit-menit terakhir hidupnya di dalam jala. Mereka berusaha berdiri kembali, tetapi tubuh gempal si saudagar malah menggelinding, menyeret si anak ke tengah-tengah ilalang. Tangannya tetap menggenggam ujung ikat pinggangnya. Sementara ujung-ujung ilalang itu mu lai membelit, meremukkan tulang kering si saudagar. Membuatnya menjerit membelah langit.

Ikan! jerit si saudagar. Si anak mengira itu umpatan, tapi si saudagar kemudian melepas peganga nnya dan membiarkan si anak bebas. Jawabannya ikan! Dungu! suaranya kemudian ditelan oleh suara-suara ilalang yang meremukkan tengkorak si saudagar.

Untuk beberapa saat, si anak terpaku melihat ialalang-ilalang itu berpesta mengoyak tubuh si saudagar. Udara berbau amis darah dan kebusukan.

Dengan perlahan ia merangkak kembali ke setapak yang mulai menanjak. Ilalang itu seperti kehilangan selera kepadanya. Angin dingin dari pegunungan merayap turun membelai padang ilalang itu. Membawa pergi bau busuk yang semula menggantung di udara. Si anak merasakan ketenangan yang ganjil menyaksikan ilalang tersebut bergoyang pelan di bawah cahaya bulan. Ia bebas, pikiran itu yang kemudian menghinggapinya. Ia melepas ikat pinggang yang masih membeliti pundaknya. Melemparnya ke hamparan ilalang dan kembali memanjati bukit berbatu.

Ia harus menemukan tempat yang aman untuk bersembunyi. Ia tak tahu mesti bersembunyi dari apa. Namun setelah apa yang baru saja ia saksikan, ia yakin apa yang akan ia hadapi nanti akan jauh lebih mengerikan.

Rasa haus masih membakar kerongkongannya. Rasa nyeri yang ditinggalkan ilalang masih membelit di tiap persendiannya. Cuma angin dingin dari pegunungan yang menjalar turun membelai keningnya, memberinya sedikit ketenangan sementara mendaki setapak yang menanjak.

Di kejauhan, di antara batu-batu besar yang teronggok tumpang-tindih, ia melihat ada sosok gelap dengan lengan-lengan yang tengadah ke langit. Dengan segera ia merayap menjadikan dirinya serata mungkin dengan jalan. Bebatuan di tepi setapak kecil itu membantunya bersembunyi. Ia te rus merayap dengan rasa kantuk yang mulai menyerang.

Kau ternyata jauh lebih bodoh dari yang kukira, ia mendengar seseorang terkekeh. Si saudagar duduk di salah satu bebatuan di sisi jalan. Benda gelap yang kaukira monster itu kaktus, tunjuk si saudagar ke arah sosok gelap di kejauhan. Kau bisa melepas dahagamu untuk sementara. Tak jauh dari sana ada gua yang aman untuk bersembunyi.

Si anak mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah sosok gelap yang membuatnya ketakutan. Namun kepalanya terantuk ujung sebuah batu dan ia pun terbangun. Langit mulai biru. Jauh di timur, fajar mulai merekah. Sambil memijit keningnya ia mengangkat kepala dengan hati-hati. Mendapati sosok gelap itu memang pohon kaktus raksasa yang menyerupai tangan yang tengadah ke langit. Seperti memohon keberkatan di tengah pulau yang terkutuk ini.

Ia lantas bergerak ke pohon kaktus tersebut. Rasa hausnya sudah tak tertahankan lagi. Dengan tangan kurusnya ia menggali tanah kering berbatu. Memetik ruas-ruas akar kaktus yang gempal mengand ung air. Sepintas ruas-ruas akar itu mengingatk annya pada jari-jari tangan si saudagar. I ngatan ini membuatnya jijik. Namun rasa terbakar di kerongkongannya memaksanya mengunyah akar-akar kaktus itu. Cairan hangat dan sepat menjalar turun membasuh rasa hausnya. Si anak menggali lebih dalam lagi. Mencari akar-akar yang cukup kecil untuk dipetik. Beberapa berukuran terlalu besar dan dengan tenaganya saat ini akan mustahil untuk dicabut dari tanah.

Sekarang saatnya menemukan gua yang aman. Hari masih pagi. Semakin cepat ia menemukan tempat yang aman untuk berlindung akan semakin baik. Setelah itu ia akan mencari tempat tertinggi di pulau ini. Dari tempat itu nanti ia bisa memetakan ke mana saja ia mesti pergi. Dan dengan begitu akan lebih mudah untuk menemukan mata air yang dijagai Nonius.

Ia mengitari pohon kaktus itu beberapa lama. Memeriksa celah-celah bebatuan, mencari gua yang dimaksud si saudagar. Tak ada apa-apa dan ia mulai percaya kalau saudagar itu telah membohonginya. Lagi pula yang tadi itu cuma mimpi. Kembali ia menatap pohon kaktus itu untuk terakhir kali. Jalan setapak yang membawanya ke tempat ini bercabang mendaki bukit. Siapa pun yang pernah ke tempat ini sebelumnya pasti punya pikiran yang sama seperti dirinya saat ini. Mencari tempat tertinggi dan menemu kan cara untuk keluar dari pulau ini.

Di antara jalan yang menanjak itu ternyata lebih banyak celah. Satu per satu ia hampiri namun kemudian ia mendapati ular berbisa bergelimpangan menjemur diri. Sebelum hewan-hewan itu membuka mata dan menyadari kehadirannya, si anak berjingkat mundur tanpa suara dan kembali meneruskan pendakian. Matahari semakin tinggi dan angin laut yang mengandung garam mulai merangkak mendaki bukit. Bersamanya suara erangan-erangan kesakitan dari daun-daun yang berguguran di pesisir juga ikut terbawa. Semakin tinggi ia mendaki, setapak itu semakin sempit. Bebatuan semakin kecil dan runcing. Ia harus melangkah dengan hati-hati jika tak ingin terluka. Belum juga ia bisa menemukan tempat yang aman untuk bersembunyi. Kembali ia teringat dengan kata-kata si saudagar. Meski cuma mimpi, bagaimanapun juga saudagar itu benar soal pohon kaktus tadi.

Puncak bukit itu terlihat semakin jauh. Namun ia telah mendaki sejauh ini. Tak mungkin ia kembali begitu saja dan mendaki kembali esok pagi. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan. Menuruni jalan ini nanti akan jauh lebih mudah. Pertama-tama ia harus sampai di puncak.

Erangan-erangan kesakitan semakin sering terdengar. Semakin tinggi mendaki, udara semakin busuk mengandung kematian. Kadang ia berpapasan dengan kaktus-kaktus kecil yang tumbuh di antara bebatuan yang runcing. Akar-akar tumbuhan ini jauh lebih kecil dan mengandung air yang jauh lebih sedikit. Namun dikunyahnya juga untuk menunda rasa hausnya beberapa saat.

Matahari mulai menggelinding turun. Saat tiba di puncak bukit, langit beranjak jingga. Di puncak bukit itu ia tak menemukan apa-apa selain bebatuan. Ia melihat ke sekeliling dan dari tempatnya berdiri, pulau itu terlihat seperti pulau biasa. Kecuali erangan kesakitan yang ditiupkan laut yang membuatnya tak akan lupa kalau tempat ini tempat dendam segala dendam bersemayam. Matanya kembali meneliti ke bawah sana. Mencari jalur-jalur setapak yang mungkin akan mengarah ke mata air yang dimaksud si saudagar.

Hingga ilalang dan pepohonan di bawah sana mulai disirami cahaya merah, ia tak juga menemukan jalan setapak lain selain setapak yang membawanya ke puncak bukit ini. Tempatnya berdiri adalah ujung dari satu-satunya jalan di pulau ini.

Mungkin saudagar itu berbohong soal Nonius. Mungkin tak ada mata air. Mungkin tak akan ada teka-teki. Mungkin ia menyusun cerita itu agar ia tetap menjadi keledai bagi si saudagar. Dan yang terpenting, ia mungkin bisa pergi begitu saja dari pulau ini. Kapan pun ia mau. Mengumpulkan kayu dan membuat rakit mengarungi lautan.

Kesimpulan ini pun tak kalah membuatnya gentar. Ia tak tahu apa-apa mengenai laut. Mungkin ia bisa tinggal di sini Ia berbaring dan menatap langit yang merah perlahan melindap. Satu per satu bintang di langit mulai menampakkan diri. Purnama yang terang membuat titik pijar itu lebih samar. Mungkin cepat atau lambat ia bisa membiasakan diri dengan tempat ini. Padang ilalang di bawah sana memang mengerikan. Burung-burung bangkai di pesisir pulau ini juga tak kalah mengerikan. Namun jika ia bisa membangun tempat yang aman, ia bisa bertahan hidup dengan akar pohon kaktus tadi. Ia bisa menjala ikan ke pantai. Ia lupa apakah sungai yang jernih itu juga dihuni ikan-ikan. Tetapi ia akan selalu ingat untuk tak pernah lagi mereguk airnya. Setidaknya di sini tak ada gambar wajah buronnya dan tak akan ada yang cukup sinting mendatangi pulau ini hanya untuk menangkapnya.

Ia tertawa ke arah langit. Setelah waktu demi waktu yang ia jalani dalam perbudakan, akhirnya ia mendapatkan pulaunya sendiri. Semua ini karena abu.

Di langit, bintang yang bertebar samar mengingatkannya sekali lagi pada abu leluhur yang dulu berserakan di teras rumah tuannya. Purnama yang pucat mengingatkannya pada guci itu. Ini jauh lebih baik, ia berbisik kepada dirinya sendiri. Menghalau erangan kesakitan yang beterbangan dari daundaun yang berguguran di tepi pantai. Kemudian di antara erangan itu, ia mendengar suara yang jauh lebih mengerikan. Bersama matahari yang mulai terbenam, ia melihat seekor gagak.

Gagak dengan ukuran yang jauh lebih besar dari burung gagak yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Si anak langsung teringat akan cerita saudagar itu. Tentang Nonius yang menjelma burung gagak setiap senja dan menghampiri atap-atap rumah orangorang yang kesusahan. Senja hampir berakhir dan sepertinya, dewa dendam itu sedang terbang pulang ke sarangnya. Si anak langsung bangkit dan berlari menuruni setapak itu secepat mungkin.

Bebatuan runcing mengiris kakinya, namun gagak raksasa yang mulai terbang berputar di atas jauh lebih menakutkan. Ular-ular yang masih menjemur diri, mengharap sisa-sisa panas yang ditinggalkan matahari, juga ikut lari bersembunyi. Tanpa pikir panjang, si anak melompat ke dalam salah satu celah yang paling dekat. Terperosok ke dalam gelap dan terantuk bebatuan. Ia tak lagi memikirkan ularular berbisa itu. Tangannya menggapai-gapai udara kosong berharap bisa meraih apa saja agar tak terperosok semakin dalam. Namun ia membentur permukaan bebatuan. Nyeri seketika menyengat sekujur tubuhnya. Beberapa saat sebelum kesadarannya hilang, ia mendengar tawa si saudagar menggema dalam kegelapan.

Yang pertama kali ia lihat saat membuka mata adalah akar-akar kaktus seukuran lengannya. Kemudian gambar-gambar ganjil yang menghiasi dinding gua. Ia melihat beberapa titik yang menyerupai rasi bintang. Jejak-jejak tangan dan gambar seekor burung raksasa. Cahaya yang masuk ke tempatnya berbaring adalah celah sempit di antara akar pohon kaktus. Jadi ini, gua yang dimaksud saudagar keparat itu, ia mengumpat setengah tertawa. Selama ini ia telah menggali di sisi yang salah. Dengan nyeri, perlahan ia bangkit dan memetik akar-akar kaktus yang masih muda. Mengunyahnya untuk menunda rasa haus yang kian membakar kerongkongannya.

Cahaya datang dan pergi dari celah sempit itu. Ia mendekam dalam gelap menyaksikan cahaya masuk serupa tombak bergerak pelan menyusuri dinding gua. Si anak hidup dari waktu ke waktu dengan mengunyah akar kaktus. Ada sisi tergelap dalam gua itu yang tak bisa disentuh cahaya. Ketika ujung sinar matahari yang masuk sampai pada sisi itu, ia melihat sinar itu lenyap begitu saja. Si anak tahu ada lorong gelap tak berujung di sana. Kadang ada udara lembap yang datang menerpanya dari arah itu. Samar-samar ia seperti mendengar gemercik decik air, tapi ia terlalu takut menyongsong kegelapan itu.

Kau memang jauh lebih bodoh dari yang kuduga, suara si saudagar terkekeh membangunkannya. Akar-akar kaktus yang menjulur ke dalam gua tempatnya mendekam mulai habis. Kadang ia keluar dari gua dan mulai mengumpulkan batu-batu runcing di puncak bukit. Membabat akar-akar kaktus yang lebih besar untuk bertahan hidup.

Satu siang, ia melihat kaktus raksasa yang menyerupai tangan tengadah ke langit itu roboh. Menggelinding turun dan terempas di antara ilalang yang dengan cepat melumatnya. Satu-satunya keberkatan, yang telah memohon ke langit entah berapa lama di tengah pulau terkutuk ini, lenyap begitu saja di antara ilalang.

Matahari masih tinggi. Tanpa kaktus itu, cahaya yang masuk menerobos gua itu kini lebih leluasa. Namun sisi tergelap dalam gua tak juga bisa ditembus cahaya. Si anak menghirup udara yang lembap dari arah itu. Di antara angin laut yang beraroma garam mengandung rintihan, ia mendengar gemercik decik air.

Maka ia pun melangkah masuk. Merangkak perlahan di antara dinding gua dengan gambargambar ganjil dan rasi-rasi bintang yang dikenalnya. Semakin ia bergerak ke dalam, udara semakin lembap. Butir-butir air yang dikandung udara semakin membakar rasa hausnya. Ia pun merangkak semakin ke dalam, menerobos hewan-hewan berbisa dan serangga yang berlari ketakutan melihat kedatangannya.

Sebuah mata air terlihat berpendar di tengahtengah. Ia terlalu haus untuk memerhatikan sekelilingnya. Begitu saja ia membenamkan kepala ke dalam mata air.

Saudagar itu benar. Pada tegukan pertama, rasa hausnya padam begitu saja.

Puas menghilangkan dahaga, ia melihat ke arah bayangannya. Wajah yang menatap kembali sama sekali lain. Ia merabai wajahnya sendiri dan mendapati janggut dan kumis yang telah tumbuh di sana. Ia jauh lebih tua dari yang diingatnya.

Kemudian ia melihat wajah tua itu bangkit. Mengambil jala dan pergi ke sebuah sungai. Ia melepas jala ke sungai kemudian beranjak tidur di bawah pohon yang rindang. Ketika hari sore, ia terbangun dan mengambil kembali jalanya. Hanya dua ekor ikan yang tersangkut jala. Mengamuk, berusaha meloloskan diri. Yang satunya gemuk, yang satunya kurus. Laki-laki itu melemparkan yang kurus kembali ke sungai dan membawa yang gemuk ke atas sebuah batu. Dengan beberapa kali hantam, ikan yang gemuk itu tak lagi bergerak.

Kemudian ia pulang. Berharap ikan kecil yang ia lempar ke sungai suatu hari akan besar dan jauh lebih gemuk. Sehingga ia punya makanan di hari lain. Namun sehari sesudahnya, ia mendengar ada ketukan di pintu. Ketika membuka pintu, ia menoleh ke segala arah dan tak mendapati siapa pun. Lalu suara kecil mengagetkannya. Ikan kecil yang ia lepas kemarin berdiri di antara kakinya.

Kata si laki-laki, Untuk apa kau datang kemari

Kata si ikan, Aku telah meminta kepada dewi air untuk memberiku kaki dan paru-paru agar aku bisa ke sini.

Tapi untuk apa

Untuk berterima kasih. Aku melihat bagaimana kamu menghabisi keparat itu. Kami sedang dalam perseteruan yang tak mungkin kumenangkan. Lalu kau mengangkat jalamu dan mengakhiri hidupnya.

Aku tak membutuhkan ucapan terima kasih. Yang kubutuhkan hanya makanan. Jika kau ingin berterima kasih, kembalilah ketika tubuhmu sudah jauh lebih gemuk dari ikan yang kemarin kutangkap itu.

Beri aku waktu, jawab si ikan kecil.

Nonius

Burung gagak itu nyaris tak terlihat di antara gelap.

Ikan kecil itu tak pernah kembali.

Nonius bergerak pelan mengitari ruangan. Tempat itu ternyata sarang yang cukup luas. Di atas terdapat celah sebagai jalan cahaya masuk, sekaligus jalan bagi Nonius keluar-masuk. Mungkin dia mati. Mungkin juga di sungai kecil itu nanti, dia menjadi ikan yang paling besar yang tak bisa dikalahkan oleh ikan mana pun untuk waktu yang sangat lama. Mungkin laki-laki yang menjaring ikan itu tak hidup cukup lama untuk menangkap ikan kecilnya lagi. Tergantung kepada siapa kamu memercayakan cerita ini.

Ia masih saja menatap Nonius yang ternyata tak semenakutkan yang ia bayangkan. Sambil melihat ke sekeliling mencari apa saja yang bisa ia ambil jika burung gagak itu menyerangnya. Ikan, seru si anak kepada Nonius. Ia teringat kata-kata terakhir dari si saudagar sebelum ilalang itu mengoyakngoyak tubuhnya.

Nonius mengangkat salah satu kakinya dan mencengkeram sebuah kotak hitam. Si anak mengenali kotak hitam itu. Perempuan di dermaga yang memberikan kotak itu kepadanya. Mana lebih banyak, jumlah ikan di lautan atau bintang di langit suara Nonius tiba-tiba meninggi. Saudagar itu bahkan masih menginginkan kematianmu pada detik-detik terakhir hidupnya. Tentu saja jawabannya bukan ikan. Cakarnya yang hitam dan runcing mengetuk-ngetuk kotak hitam tersebut.

Ia masih melihat ke sekeliling dan tak menemukan apa pun untuk melawan Nonius. Sementara permukaan mata air di hadapannya terus berpendar dan ia melihat perempuan di dermaga yang membenamkan lima keping emas ke tangannya. Mereka berdua kemudian berlari menjauhi keramaian. Menyeberangi sungai yang mengering dan mencaricari celah yang gelap untuk bersembunyi.

Jangan melihat terlalu lama.

Aku pernah bertemu dengannya, katanya.

Itu terjadi di cerita yang lain.

Melihat pantulan wajahnya yang mengernyit, Nonius meneruskan, Kamu mungkin tak akan memahaminya, meski sudah berjalan sejauh ini. Seperti kelopak mawar. Yang mekar dari tangkai yang sama. Kita mendiami salah satu kelopaknya. Lalu pada bulir-bulir embun, kita bisa melihat apa yang terpantul dari kelopak yang lain. Cerita yang lain. Yang kau tatap itu adalah pantulan di bulir embun itu. Jika kau melompat, bulir embun itu akan bergulir dan membawamu ke tengah-tengah.

Jika ini teka-teki, maka ia sama sekali tidak tahu bagaimana menjawabnya. Ia terpikir untuk melompat, tetapi permukaan mata air itu kembali berp endar. Ia melihat pantai yang tenang. Kemudian sebuah rumah di atas bukit yang membelakangi lauta n. Terdapat sebuah pintu yang menguak terbuka.

Kau tidak akan melompat! Tidak sebelum aku mengizinkannya, Nonius mencengkeram pundaknya. Cakarnya membenam ke sela-sela tulang rusuknya.

Saudagar itu bilang ada teka-teki! ia nyaris memohon. Kalaupun ia tak bisa menjawab teka-teki itu nanti, setidaknya ia punya kesempatan untuk menghantam kepala gagak itu nanti. Mungkin dia tak akan menang, tapi ia akan melakukannya.

Seseorang terbangun dari tidurnya. Memutuskan untuk melakukan perjalanan jauh. Untuk membunuh musuhnya. Mimpinya memberitahu-

nya, kalau musuhnya berdiri di titik terjauh ketika ia berdiri. Beritahu aku, di mana titik terjauh ketika seseorang berdiri

Ia merasakan cakar Nonius mulai menyentuh tulangnya. Tepat di belakang tumitnya!

Kau tidak sebodoh yang kaukira, Nonius melepas cengkeraman dan membiarkannya terempas di tepi mata air. Kemudian menyepak kotak hitam itu ke pangkuannya. Jalan keluarnya ada di dalam mata air itu. Melompatlah. Kamu akan bertemu dengan banyak pintu. Pintu yang tak terkunci akan membawamu kembali. Tapi dengan senjata yang dititipkan kekasihmu, kamu bisa membuka pintu mana pun.

Dia bukan kekasihku! ia berteriak ke arah Nonius yang mulai mengepakkan sayap. Cahaya yang masuk mulai beranjak merah. Senja segera tiba. Ia melihat gagak itu mengepakkan sayap sekali lagi, kemudian terbang berputar di langit yang kian merah.