Untuk kesekian kalinya Anka menghela napas berat. Angka-angka di surat tagihan yang dipegangnya membuatnya serasa sesak. Anka mengusap keringat dingin di dahinya, sejak pagi tadi ia sudah merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya, dan semakin tidak beres setelah ia mellihat jumlah tagihan yang harus dibayar.
"Ka, dicariin Mas Abner tuh," tegur Ourel, teman kerja part time Anka saat memasuki ruang karyawan. "Kayaknya dia butuh orang buat di depan."
Dengan sisa tenaganya, Anka menegakkan tubuhnya dan kembali menyeka keringat dingin di dahinya.
"Lo sakit ya, Ka Muka lo pucat banget." Ourel memperhatikan wajah Anka. "Kalo sakit izin pulang aja ke Pak Rio..."
"Nggak apa-apa kok, gue cuma kurang tidur doang." Anka tersenyum kaku pada Ourel, meyakinkan temannya bahwa ia baik-baik saja. "Gue ke depan dulu ya."
Anka beranjak dari kursi yang didudukinya sambil melipat surat tagihan rumah sakit dan memasukkannya ke saku kemeja kerjanya. Kaki lemasnya melangkah, kembali ke rutinitas yang membuatnya tidak punya waktu untuk mengeluhkan rasa sakitnya.
***
Danu kembali menatap Anka cemas. Sejak keluar dari kafe, wajah Anka terlihat begitu pucat. Langkahnya lunglai dan sempoyongan terkesan memaksakan diri untuk tetap melangkah.
"Ka, lo nggak apa-apa... Kita naik taksi dari sini aja ya, nggak usah jalan ke halte bus," kata Danu, semakin cemas melihat keadaan Anka.
"Nggak usah, Nu, gue masih kuat jalan ke halte kok. Lagian dari sini ke rumah sakit lumayan jauh, kalo naik taksi bisa berapa ongkosnya."
"Gue yang bayar, Ka. Tenang aja, gue baru dapet uang jajan bulanan dari Kak Damara."
Anka mengulas senyum lemah. Terus berjalan pelan menyusuri trotoar menuju halte. Danu sadar, jika Anka tidak mengatakan apa-apa seperti ini, tandanya Anka menolak usulnya. Mau tidak mau Danu terpaksa menyerah, mengikuti Anka sambil mengamati langkah Anka dari belakang. Untuk beberapa saat Danu bisa melihat Anka berhasil membuat dirinya berjalan layaknya orang normal, tapi itu tidak berlangsung lama, baru beberapa meter saja langkah Anka sudah mulai limbung.
"Tuh, kan! Gue bilang juga apa. Lo tuh sakit, Ka... Kenapa sih nggak mau dengerin gue Kita naik taksi aja, biar lo cepet sampe terus bisa istirahat. Lagian ini juga udah malam banget," tegas Danu, seraya memapah Anka.
"Halte kan tinggal dikit lagi, Nu. Jalan sebentar juga nyampe, entar di bus gue baru tidur."
Lagi-lagi tanpa bantahan Danu mengikuti keinginan Anka. Kini ia berjalan di samping Anka, memegang erat lengan Anka untuk menguatkan langkah limbungnya. Selangkah lagi dari halte, Danu merasakan beban tubuh Anka semakin berat, Danu segera mendudukkan Anka di bangku halte yang kebetulan kosong.
"Ka... lo kenapa, Ka" tanya Danu panik, terlebih saat Anka tidak merespons pertanyaannya dan kepalanya malah terkulai ke bahu Danu. Danu menepuk pelan pipi Anka, berharap dengan cara ini Anka bisa bereaksi. "Ka, lo masih bisa denger gue, kan"
"Masih..." sahut Anka lemah. "Nanti nggak usah panik kalo gue nggak jawab omongan lo ya, biarin aja gue begitu sebentar..."
Usai berkata-kata, tangan Anka yang berada di genggaman Danu melemah, kepala Anka semakin terkulai di bahu Danu dengan keringat dingin membasahi dahinya. Wajah Anka terlihat begitu pucat, gadis ini jelas tidak sadarkan diri sekarang. Fisik Anka rupanya sudah tidak kuat dipaksa menanggung beban yang seharusnya belum ia pikul.
Danu merangkul tubuh Anka, mengeratkan genggamannya ke tangan dingin Anka, berharap ia bisa melakukan lebih dari ini. Tanpa tertahan air mata Danu mengalir pelan di pipinya. Sakit rasanya melihat Anka harus menjalani hidup seperti ini, sementara dirinya sebagai orang terdekat Anka sekarang ini hanya mampu duduk diam tanpa melakukan apa pun untuk gadis yang sekarang benar-benar membutuhkan pertolongan. Padahal selama ini selalu ia katakan dalam hati, bahwa Anka gadis yang sangat berarti baginya. Danu sangat menyesal, tidak bisa menjadi sosok dewasa yang bisa melakukan sesuatu untuk membantu dan melindungi orang yang ia sayangi.
***
Hampir lima belas menit Danu membiarkan Anka tak sadarkan diri, terkulai di bahunya. Lima belas menit terlama yang pernah dilalui Danu dalam hidupnya. Kepanikan mulai menjalari Danu. Ia jelas tidak bisa tetap di sini, ia harus membawa Anka ke tempat yang lebih baik. Seakan menjawab kepanikan Danu, tiba-tiba Honda CR-V silver berhenti di depan halte.
"Nu, kamu lagi ngapain di situ" tegur Damara masih di belakang kemudinya.
Danu mendongak cepat saat mendengar suara Damara.
"Kak, tolong... Anka pingsan!"
"Pingsan" Damara segera turun dari mobil dan berlari menghampiri Danu. "Kenapa Anka bisa pingsan di sini" tanya Damara seraya meraih Anka dari sandaran Danu, membopong gadis itu, lalu membaringkannya di jok belakang.
"Anka sakit, Kak. Tadi kami lagi jalan ke halte bus, mau pulang. Trus dia tiba-tiba pingsan."
"Kenapa nggak telepon Kakak sih, Nu Kan bisa jemput kalian, kalau kayak gini sakit Anka bisa makin parah!"
Danu tidak menginterupsi kata-kata Damara, ia sadar apa yang dikatakan Damara benar, andai saja tadi ia menelepon Damara, tidak perlu membiarkan Anka menderita terlalu lama.
"Kita bawa Anka ke rumah aja. Nanti Kakak telepon Dokter Arman untuk periksa Anka."
Danu hanya mengangguk menanggapi ucapan Damara. Apa pun yang akan dilakukan Damara untuk kebaikan Anka, ia hanya bisa mengiyakannya.
***
Danu duduk di sisi tempat tidurnya, menatap Anka yang masih terbaring lemah. Damara dan Dokter Arman baru saja keluar dari kamarnya. Danu bersyukur, setidaknya kali ini ia bisa menjadi sahabat yang berguna buat Anka. Saat Danu merapikan selimut yang menutupi tubuh Anka, ia melihat ada lipatan kertas menyembul dari saku kemeja Anka. Hati-hati Danu mengambil kertas itu dan membukanya. Tagihan rumah sakit, Danu jelas mengenali kertas tersebut, karena pernah melihatnya. Tapi ini bukan tagihan rumah sakit yang dulu pernah dilihatnya, ini tagihan yang baru, tampak dari tanggal yang tertera di pojok atas.
Danu menghela napas panjang, kembali menatap wajah Anka yang pucat. Sedikit-banyak surat tagihan ini pasti membebani pikiran Anka. Danu membelai lembut rambut Anka, seraya berkata lirih, "Gue emang nggak bisa bantu lo apa-apa untuk soal ini, tapi gue bakal selalu ada untuk lo, Ka..."
***
Keesokan harinya saat Anka membuka matanya, ia melihat Danu tertidur di lantai karpet, kepalanya menelungkup ke sisi tempat tidur yang ia tiduri. Anka menatap ke sekeliling, ia tahu sedang berada di kamar Danu. Rupanya tadi malam Danu membawanya ke sini. Anka menghela napas pelan, ia pasti sudah menyusahkan Danu. Anka menyibakkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya, bergerak hendak bangun dari tempat tidur.
"Lo udah bangun, Ka" Danu tersentak. "Udah baikan"
Anka tersenyum menanggapi rentetan pertanyaan dari sahabatnya.
"Gue udah nggak apa-apa. Sori ya, semalem gue pasti ngerepotin lo," kata Anka, seraya merapikan tempat tidur. Setelahnya, Anka meraih tasnya yang semalam diletakkan Danu di atas meja belajar.
"Lo mau ke mana, Ka" tanya Danu melihat apa yang dilakukan Anka. "Jangan bilang lo mau pergi."
"Gue harus ke rumah sakit, kasihan Ibu. Semalam seharusnya gue di sana nemenin dia."
"Tapi lo kan masih sakit," kata Danu, dengan sigap mendekati Anka. "Paling nggak, lo harus sarapan dan minum obat dulu, baru pergi. Nanti gimana kalo lo pingsan kayak semalam"
"Jangan lebay deh. Udah ya, Nu... Gue jalan dulu." Anka melangkah menuju pintu, tangannya sudah meraih tangkai pintu saat Danu tiba-tiba bicara.
"Anka, ini surat tagihan rumah sakit dari kantong lo. Sori, gue nggak sengaja lihat."
Anka membalikkan tubuhnya, kembali melangkah mendekati Danu dengan wajah murung.
"Gue tahu, lo nggak cerita soal tagihan ini sama gue karena lo yakin gue nggak bakal bisa bantu, kan" Danu menolak memberikan surat tagihan itu pada Anka.
"Bukan gitu, Nu, gue nggak mau bikin lo ikut pusing sama urusan kayak gini. Gue udah terlalu banyak nyusahin lo."
"Gue kan udah pernah bilang, kalo gue bakal selalu ada buat bantuin lo. Lagian kan kita udah sepakat buat cerita apa aja, termasuk soal beginian," tuntut Danu, menatap tegas ke arah Anka. "Tapi sekarang lo malah sok kuat, nggak mau gue tahu masalah lo."
Anka sudah membuka mulut siap membantah semua ucapan Danu, saat terdengar suara ketukan di pintu kamar disusul kemunculan Damara.
"Sori, Kakak nggak bermaksud ganggu kalian, tapi Kakak telanjur dengar apa yang kalian ributkan. Keberatan kalau Kakak bantu cariin jalan keluar"
Maka di sinilah mereka sekarang, duduk bertiga mengelilingi meja bundar di beranda belakang rumah. Untuk beberapa saat, baik Danu maupun Anka lebih banyak diam, masing-masing sepertinya memiliki pikiran sendiri yang membenarkan sikap mereka. Hanya Damara yang duduk menempatkan dirinya sebagai penyelesai masalah.
"Semalam, Kakak sudah dengar masalah tagihan rumah sakit ibu kamu dari Danu..." ujar Damara membuka pembicaraan serius mereka. Anka menatap marah ke arah Danu, tidak habis pikir Danu bisa menceritakan semua ini pada kakaknya. "Dan kalau kamu nggak keberatan, Kakak bisa bantu cariin solusinya..." lanjut Damara yang langsung dipotong Anka.
"Nggak perlu, Kak... Saya nggak mau ngerepotin. Kakak sama Danu udah terlalu banyak bantu saya."
"Kalau memang kita berdua udah banyak bantu kamu, apa itu berarti kita sudah nggak boleh bantu kamu lagi" tanya Damara santai.
"Bukan begitu, Kak..." sanggah Anka, salah tingkah. "Saya nggak enak kalau terus-terusan bikin repot Kak Damara sama Danu."
Damara mendekati kursi yang diduduki Anka, meraih tangan Anka dan tersenyum lembut, membuat Danu yang melihatnya entah mengapa jadi merasa tidak nyaman. "Buat Kakak dan Danu, Anka bukan orang lain. Kamu sudah kami anggap seperti keluarga sendiri," ujar Damara, lagi-lagi dengan kelembutannya.
"Tapi, Kak... saya..."
"Oke, sekarang dengar dulu jalan keluar yang Kakak tawarkan, setelahnya kamu boleh memutuskan menerimanya atau tidak." Damara kembali ke posisi semula, ke posisi yang membuat hati Danu mendesah lega. "Kakak punya cara agar kamu bisa mendapatkan uang sendiri untuk membayar tagihan rumah sakit ibumu."
"Cara apa, Kak" tanya Anka mulai terdengar antusias, menyuarakan pertanyaan yang hampir sama di kepala Danu.
"Begini... salah satu klien Kakak, warga negara asing asal Italia, sedang mencari rumah sewaan yang akan ditempatinya selama mengurus perceraian dan hak asuh anak di Indonesia. Kalau kamu mau, kamu bisa sewain rumahmu dan uangnya bisa digunakan untuk biaya rumah sakit ibu kamu."
"Sewain rumah, Kak! Lalu... saya tinggal di mana kalo rumah disewain" tanya Anka bingung mendengar usulan Damara. Danu pun berpikiran sama.
"Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di sini," kata Damara santai, tersenyum saat melihat ekspresi tercengang Anka dan Danu.
"Maksud Kakak, Anka tinggal sama kita!" gantian Danu yang menyangsikan ucapan kakaknya.
Damara mengangguk, seolah-olah apa yang baru ia katakan memang tidak perlu mendapat reaksi yang berlebihan.
"Kakak rasa ini solusi paling bagus untuk masalah Anka. Anka bisa dapat uang untuk bayar tagihan rumah sakit ibunya dan dia bisa aman tinggal di sini sama kita."
Baik Anka maupun Danu, sama-sama terdiam. Keduanya tampak tidak tahu harus berpendapat apa tentang usul Damara. Anka berpikir apa yang dikatakan Damara memang merupakan penyelesaian terbaik untuk masalahnya, terlepas dari perasaan tidak enaknya, terlepas dari segala hal yang mengganjal pada dirinya.
"Kamu nggak keberatan kan, Ka, tinggal di sini sama kami"
Anka tidak menjawab, untuk sepersekian detik Danu mengira Anka akan mengatakan keberatan, tapi ternyata jawaban Anka mengejutkan. "Saya setuju, Kak. Saya mau tinggal di sini selama rumah saya disewakan, tapi sebagai kompensasinya izinkan saya ngerjain semua pekerjaan di rumah ini ya, Kak," pinta Anka.
"Sebenarnya kamu tidak perlu melakukan itu semua, tapi untuk kenyamanan dan segala pertimbangan yang kamu buat sendiri, kamu boleh melakukan apa saja di rumah ini," jelas Damara. "Jadi, hari ini Kakak akan menemui klien itu dan mengurus semuanya. Kalau semua berjalan lancar, mungkin beberapa hari lagi kamu sudah harus siap-siap pindah ke rumah ini."
Anka mengangguk menanggapi perkataan Damara, sepertinya di antara mereka berdua sudah terjadi kesepahaman yang tidak melibatkan Danu di dalamnya.
"Oke, kalau begitu Kakak jalan dulu. Nanti selesai sarapan, dan kalau kamu sudah cukup kuat, kamu bisa bantu Danu ngerapiin kamar tengah yang akan jadi kamar kamu."
"Iya, Kak. Terima kasih banyak."
Damara berjalan meninggalkan beranda belakang, meninggalkan Danu yang masih tercengang dengan keputusan yang diambil kakaknya dan Anka.
"Ka, beneran lo mau tinggal di sini!" tanya Danu, ingin lebih memastikan.
"Iya, beneran. Lo nggak keberatan, kan"
"Nggak, sama sekali nggak! Gue cuma nggak nyangka aja lo mau terima usul Kak Damara."
Anka menghela napas lelah, menyunggingkan senyum getir di wajahnya.
"Ini jalan keluar terbaik yang bisa gue dapatkan, Nu. Gue bisa bayar tagihan rumah sakit dari uang sewa rumah, itu lebih baik daripada gue harus jual semua barang yang ada di rumah," jelas Anka. "Ditambah lagi gue ngerasa dapet bonus waktu Kak Damara nawarin gue tinggal di sini. Gue nggak harus ngeluarin uang buat tempat tinggal dan makan. Apa lagi yang lebih baik dari semua ini"
Danu tidak tahu harus senang atau harus bagaimana menanggapi rencana kepindahan Anka ke rumah mereka dan tinggal bersama. Ia sadar keputusan yang diambil kakaknya jelas sangat baik, hanya saja... ada sesuatu yang mengusik perasaannya. Sesuatu yang dengan segera akan ia hilangkan.
* * *
"Memakai dasi itu tidak akan mengusik harga diri Anda di depan saya," - Imelda