Tapi ternyata, nggak ada Dara di sana, sebuah drama baru muncul, dua orang pria tampan berjalan keluar dengan binar bahagia di wajahnya, sedikit aneh karena mereka bergandengan tangan, gue pikir ini lelucon pada awalnya tapi tentu saja bukan, karena ketika kedua orang itu hendak melangkah ke arah pada undangan, seorang pria dengan muka memerah karena marah mendatanginya dan menghadiahkan sebuah tinju pada wajah pria berkacamata, alih-alih si pria tinggi besar bermuka Eropa yang menurut gue lebih pantas dipukul, karena tampangnya bikin gue teringat muka-muka bejat dalam film porno.
Dengan spontan gue mencoba melerai dan menghentikan perkelahian, seenggaknya gue nggak pengen di hari bahagia gadis yang gue sayangi diwarnai kekacauan. Seorang cowok lain menahan si cowok kalap dari sisi lain dan gue menahan di sisi lainnya, si cowok kalap meronta, kelihatan sekali kemarahan sedang menguasainya. Sementara si cowok bule bertampang bejat mencoba melindungi si cowok berkacamata yang gue pikir hidungnya patah, darah mengalir, membasahi tuxedo putihnya, gue menduga-duga apa yang terjadi tapi gue nggak mau terlalu cepat mengambil kesimpulan. Si bule membawa pergi si cowok yang terluka dengan bergegas.
Shit! Lepasin gue! Loe pada kudu bantuin gue buat mukul si brengsek itu! si cowok kalap berteriak serak, dari nafasnya gue mencium bau alkohol.
Patah hati loe sebuah ejeken berasal dari cowok yang melerainya. Parah loe!
Gue perhatikan tampang si cowok, agak kasihan, tampangnya benar-benar kacau, bodynya kurus kayak nggak terurus, matanya cekung dan nanar, menurut gue, dia kayak Mick Jagger, tapi lebih muda, dengan bibir yang lebih bagus daripada bibir dower Mick Jagger, cowok ini keren dan kayaknya memang banyak cewek menyukai tipe ini.
Loe tau katanya meracau brengsek itu yang rebut Dara dari gue!Delapan taon gue pacarin Dara,delapan taon! Loe liat nih, di tangan gue dia menarik dengan kasar lengan kemeja hitamnya, ada tato cewek di sana, gue pasang Dara disini! Nggak bakal ilang sampai gue mati!lalu cowok itu berjalan pergi.
Tawa pahit keluar dari bibir gue, gue menertawai diri sendiri, bahkan ada cowok lain di sana yang juga punya cinta untuk Dara.
Gue mau balik ke tempat gue semula, tapi gue tertarik dengan kerumunan pengamen jalanan dipojokkan yang lagi dibagiin duit lima puluh ribuan oleh seorang cowok berambut dreadlock, ntar, elo pada langsung nyanyiin tuh lagu pas si penganten cewek keluar pintu! Kalo nggak sisanya yang 50-an ribu gue nggak bayar, udah gue susah-susah ngumpulin kalian, belom lagi mesti jebol tembok samping rumah biar kalian bisa masuk sini, kalo ketauan ada kalian beuh bisa ditendang keluar kita, nah ntar satu-satu keluar dan langsung nyanyi, nyanyi pake hati, biar cewek gue terharu trus nggak jadi married, trus married-nya sama gue deh!instruksi si cowok dreadlock.
Bang, katanya cewek loe Tapi kawinnya ma yang lain tanya si bocah paling kecil dengan tampang polos. Dan si cowok dreadlock langsung menjitak kepalanya.
Gue berjalan lagi, menatap kesegala arah, ini pasti mimpi Dara, menjalani pernikahan seperti di negeri antah berantah yang indah, tapi takkan lagi indah, bila perusuh-perusuh semacam cowok-cowok tadi mulai beraksi. Seandainya gue bisa mengacaukan pernikahan Dara, membawanya pergi dari sini, harusnya gue melatih otak gue untuk memikirkan hal-hal keji, supaya gue bisa mengatur penculikan untuk si pengantin wanita menyekapnya dalam menara gading yang indah yang dijaga sihir jahat, seperti dalam kisah Rapunzel dan gue bakal berpurapura jadi seorang ksatria yang menyelamatkannya. Terlalu terlambat, sebentar lagi kontrak sehidup sematinya akan diikrarkan. Seandainya ada keajaiban gue meminta dalam hati, hahaha sejak kapan Tuhan dengerin doa gue Nama gue doank Win, tapi gue nggak pernah menang, selalu jadi pecundang! Tapi kayaknya gue sedikit lebih beruntung walau gue merasa kayak pecundang, nggak kayak si cowok dreadlock, yang baru aja diamankan security beserta anakanak jalanan bawaannya.
***
Gue nyaris menabrak photo mozaik raksasa bergambar Dara yang dibawa oleh seorang cowok yang entah siapa, sempat berpikir mungkin ini juga orang yang mencintai Dara, tapi sebuah tangan menarik gue tiba-tiba, ternyata Poppy! Ada bayi dalam gendongannya, ada antusiasme berlebihan di wajahnya. Poppy memelukku tiba-tiba!
Ini darurat, pokoknya lo jangan protes, jangan banyak tanya, dan jangan make mikir! Kalo loe bener-bener cinta sama Dara, loe berdiri di altar sekarang nunggu Dara di sana, yang paling Dara butuhkan sekarang adalah cowok yang mencintainya, karena gue tau loe cinta mati sama dia, jadi gue udah bilang ke Dara tentang elo selama ini. Dara terlalu putus asa, bahkan nyaris kawinin cowok homo, cuma untuk menghadiahkan gadis kecil malang ini sebuah keluargadan Poppy mencium bayi perempuan cantik dalam gendongannya. Calon suami Dara udah pergi sama pasangan hombreng-nya, jadi ini satu-satunya kesempatan buat loe untuk nikahin Dara, kalo loe mau, kalo nggak gue nggak habis pikir kalo Dara balik lagi ke mantan pacarnya yang laindengan gaya khasnya Poppy memutar bola matanya,
Gue berpikir sejenak dan ada rasa nggak percaya, ini kayak halusinasi, ini nggak lebih dari sebuah mimpi tapi ketika gue edarkan pandangan sekali lagi, gue mulai mengerti. Gue punya cinta, dangue hanya punya satu kesempatan ini.
Well, pernikahan sipilnya boleh nyusul, yang penting pemberkatan.huh! harusnya di dunia ini lebih banyak cinta bukannya administrasi! Dibawah paksaan yang menggoda ini gue pun menurut, dan gue mengikuti Poppy berjalan ke altar, gue sedikit bingung dan ragu, tapi sebuah bisikkan bikin gue melangkahkan kaki dengan pasti kesempatan hanya akan datang sekali dan ketika gue berada di ujung altar dan memandangi wajah rupawan Dara, gue bisa mengartikan bisikan dibibirnya terima kasih, seharusnya gue yang berterima kasih buat akhir kisah ini.
Pops, cubit gue!gue masih ngerasa kalo ini cuma mimpi
Bukannya nyubit, Poppy malah menendang tulang kering gue, bikin gue meringis kesakitan dan nyaris berteriak, tapi gue cepat-cepat ngontrol diri dan mengerti, karena rasa sakit ini yakinin gue kalo ini bukanlah mimpi, dan semuanya terasa begitu nyata ketika ayahnya Dara melepaskan gandengannya dan menyerahkan Dara ke gue, itu hal paling indah dalam hidup gue, sejujurnya gue bukan pemimpi yang mengkhayalkan tentang datangnya hari ini, tapi apapun yang terjadi gue sudah siap untuk berjanji untuk menikahi, menjadi suami yang menjaga istrinya dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Berjanji untuk mendampingi sampai ajal menjemput.