Tegapkan langkah-langkahmu
Lantangkan gema suaramu
Dunia Islam memanggilmu
Sambutlah dengan semangatmu
Jangan pernah berkeluh kesah
Meski bersimbah peluh dan darah
Kuatkan kesabaranmu
Jangan pernah kau menyerah
Makar-makar musuh makin bergemuruh Seruan suci telah memanggilmu
Galang persatuan dengan kekuatan iman
Harta dan jiwa kita serahkan Meraih surgah yang dijanjikan Lebih baik dari dunia seisinya.
IZIS Mengumandang dalam kamarku. Jiwa-jiwa pencari syahid pun timbul kembali. Keberanian yang semula luntur. Bangkit dalam keberanian mencari sebuah kemuliaan. Rindu dengan keberanian para mujahidah yang selalu berkorban. Kini aku harus kembali. Menguatkan ruh jihad nan suci. Meskipun aku seorang akhwat. Tapi bukan berarti aku seorang yang lemah. Aku bisa menjadi seorang Ummu kultsum. Yang kuat dalam mempertahankan agama dan teretorialnya. Aku bisa menjadi Fatimah, yang kuat dalam kehidupan kezuhudannya. Aku pun harus bisa menjadi seorang Aisyah, yang bisa memimpin pasukan-pasukannya. Aku harus bisa menjadi seorang mujahidah. Harus.
Tluuut...Tluut.. Sejenak bunyi Hpku, mengagetkanku. Terlihat nomor yang tidak dikenal. Hem. Pasti Lutfi!
Hallo, Assalamualaikum! Ucapku.
Walaikumsalam. Ini Mbak Farah yah Jawab si penelepon. Seorang laki-laki.
Iya, Ini siapa yah Tanyaku penasaran.
Mbak, masih ingat dengan saya nggak Saya Rendra, anak Ibu Inah! Ucap orang itu.
Rendra, anak Ibu Inah! Pemuda yang sopan itu HA! Aku teringat. Wajah Rendra persis dengan seorang penjahat yang berada di mobil Jeep itu. Iya, pasti dia!
Ada apa! Kamu yang waktu itu akan membunuhku kan Ucapku ketus.
Tenang Mbak, tenang! Saya tidak bermaksud membunuh Mbak. Kami saat itu hanya menakut-nakuti Mbak saja. Dan sasaran kami sebenarnya teman Mbak Farah! Jelasnya.
Lalu, apa maumu sekarang Ucapku keras.
Mbak tenang. Saya tidak mau apa-apa dari Mbak dan teman Mbak! Saya hanya ingin mengatakan. Bahwa Mbak dan teman Mbak, harus berhati-hati! Si penyewa kami, menyewa seorang preman yang lainnya. Untuk membunuh Mbak Farah dan teman Mbak. Mbak harus berhati-hati! Ucapnya serius.
Aku tidak percaya dengan kamu!
Mbak harus percaya, dengan apa saya katakan! Ucapnya, mencoba meyakinkanku.
Apa jaminanku, untuk mempercayaimu
Mbak. Jaminan Mbak Farah mempercayai apa yang saya katakan. Adalah, karena Mbak Farah merupakan guru ngaji Ibu saya! Dan saya tidak akan menyakiti seorang yang berhubungan dengan Ibu saya. Mbak bisa pegang kata-kata saya! Dan saya termasuk orang-orang pengajiannya Bang Jamal. Yang seorang Ustadnya, adalah dari teman kuliah Mbak Farah juga. Khalid nama Ustadnya. Dan saya adalah seorang Muslim Jelasnya, serius.
Apa benar
Mbak, saya tidak akan mengatakan ini jika Mbak Farah tidak ada hubungan apa-apa dengan Ibu saya!
Baik, Insya Allah aku percaya! Tetapi aku ingin tahu banyak tetang masalah ini. Bisa
Iya, silakan!
Siapa yang menyuruh kamu untuk menakut-nakuti kami Dan apa yang kalian cari sebenarnya Tanyaku serius.
Sebenarnya ini etika pekerjaan Mbak! Kita tidak boleh mengatakan klien yang menyewa kita. Tetapi saya akan mengatakan. Kalau sebenarnya yang menyuruh kami adalah orang-orang dari perusahaan Bapak teman Mbak Farah sendiri. Mereka ingin mencari data-data perusahaan yang membahayakan posisi mereka diperusahaan. Jadi Mbak Farah dan teman Mbak Farah, harus sangat berhati-hati. Karena mereka menyewa, orang-orang yang lebih kejam daripada kami! Mereka tidak segan-segan membunuh dengan sadis. Saya sarankan, Mbak Farah menyewa bodyguard yang profesional untuk menjaga diri! Rendra terdengar sangat serius.
Hem. Insya Allah, sudah ada bodyguard yang akan menjagaku. Ucapku enteng.
Bagus Mbak. Bodyguard itu darimana Mbak
Bodyguardku adalah seorang pencipta bodyguard. Yang sangat lebih profesional dari ciptaannya! Bodyguardku adalah Allah. Sang pemilik dan pencipta semua yang ada! Aku tidak butuh bodyguard manusia, karena sebenarnya tentara Allah lebih tersebar disetiap tempat! Kataku tegas.
Mbak, saya yakin. Mbak Farah bisa menghadapi mereka! Insya Allah, jika saya melihat mereka menyakiti Mbak Farah. Maka saya akan membantu Mbak Farah!
Hem. Terima kasih!
Baik. Hanya itu yang ingin saya bicarakan. Maaf telah menganggu waktu Mbak Farah!
Oh, tidak apa-apa. Terima kasih atas informasinya. Ini merupakan sebuah informasi yang sangat berharga! Ucapku.
Baik. Kalau gitu, Assalamualaikum Ucap Rendra, mengakhiri pembicaraan.
Iya, Walaikumsalam.
Pertempuran akan dimulai. Mereka sedang mencariku. Mereka mencari Dewi dan mencariku. Mereka telah menantang jundi-jundi Allah yang selalu bersiap siaga. Aku harus menelephon Abi sekarang. Secepatnya, aku langsung menekan nomor Hp Abiku.
Assalamualaikum! Salamku.
Walaikumsalam. Putriku! Jawab Abi lembut.
Bi. Kabarnya gimana Zah kangen!
Alhamdulillah, Abi baik-baik aja. Insya Allah dalam beberapa hari, urusan Abi sudah selesai!
Bi. Cepat pulang! Ucapku. Manja.
Iya. Insya Allah Abi akan pulang cepat! Ada apa Zah Ummi baik-baik saja kan Tanya Abi. Terlihat cemas.
Alhamdulillah Ummi baik-baik aja! Zah ada masalah Bi!
Masalah! Apa masalahnya
Bi. Ceritanya panjang. Pokoknya, ada yang ngincer Zah dan teman Zah. Mereka ingin membunuh kami berdua!
HA! SIAPA MEREKA Abi terlihat sangat kaget.
Mereka orang-orang suruhan. Mereka ingin mengambil sebuah bukti berupa data. Tentang kasus korupsi disebuah perusahaan! Bi, Zah harus gimana
Anti, tidak boleh takut! Zah, adalah mujahidah yang tidak boleh takut dengan ancaman siapa pun! Ucap Abi, tegas.
Tapi, Bi. Apakah Zah sanggup menghadapi mereka Ucapku. Sangsi.
Anti, pasti bisa! Insya Allah, Abi akan telphone para mujahid-mujahid. Insya Allah, mereka yang akan melindungi Zah dan teman Zah! Zah, nggak boleh takut. Mujahidah tidak boleh takut menghadapi kezhaliman. Ini jihad! Katakanlah kebenaran, meskipun anti harus melawan mereka sendirian. Pokoknya anti tidak boleh takut! Jelas Abi tegas.
Iya, Bi!
Ummi, sudah tahu masalah Zah
Belum, Bi! Ucapku.
Jangan, memberitahu Ummi! Nanti Ummi jadi khawatir!
Iya, Bi! Makanya Zah, bilang ke Abi aja Ucapku. Manja.
Iya, bagus! Kalau meereka mencoba menantang tentara-tentara Allah! Dengan mengincar para mujahidah-mujahidah. Kita umat Islam, tidak boleh sekalipun takut dengan ancaman mereka. Kebathilan harus kita lawan, sampai syahid yang akan kita dapatkan! Zah, Abi, akan sangat bangga sekali jika Zah dapat mengungkap semua ini.
Insya Allah, Bi! Zah akan berusaha
Alhamdulillah. Itu baru putri Abi! Kata Abi. Terdengar bangga.
Abi, bisa aja! Ujarku.
Eh. Zah! Gimana, sudah ada calon pengganti Abi belum Goda Abi.
Abi! Ucapku manja.
Hem. Soalnya, ada yang beritahu Abi! Putri Abi lagi taaruf dengan ikhwan! Berani juga Zah. Mendahului taaruf! Abi dukung aja, kalau memang Ikhwan itu benar-benar baik. Dan bisa menggantikan Abi kelak! Ucap Abi. Terlihat menyemangati.
Ya. Ana minta doanya aja Bi! Bisa memilih yang terbaik.
Insya Allah, pasti Abi doain! Ucap Abi bijak.
Ya. Sudah Bi! Nanti kalau ada apa-apa, Zah akan telphon Abi!
Iya. Nanti kalau ada apa-apa, Zah telphone Abi aja! Jangan sampai masalah ini diketahui Ummi.
Ya, Udah Bi! Assalamualaikum Ucapku, mengakhiri pembicaraa.
Walaikumsalam.
Jiwa yang semula luluh. Kini bangkit kembali. Sorak sorai kesyahidan mengalun indah dalam angan-angan. Nikmat. Jalan juang kembali tertanam. Satu dalam tujuan kini telah kembali. Rasa takut pun kian lama kian lari. Bergantikan dengan semangat perjuangan yang sangat tinggi. IZIS pun mengalunkan semangatnya.
Sabarlah wahai saudaraku tuk menggapai cita
Jalan yang engkau tempuh sangat panjang
Tak sekedar bongkah batu karang
Yakinlah wahai saudaraku
Kemenangan kan menjelang
Walau tak kita hadapi masanya
Tetaplah Al Haq pasti menang
Tanam dihati benih iman sejati
Berpadu dengan jiwa Rabbani
Tempatnya satu jadi pahlawan sejati
Tuk tegakkan kalimat ilahi
Pancang tekadmu jangan mudah mengeluh
Pastikan asamu semakin meninggi
Kejayaan Islam bukanlah sekedar mimpi
Namun janji Allah yang akan pasti
***
Tluut...Tluut.. Dering Hpku membangunkanku dari tidur.
Hallo! Ucapku setelah mengangkat Hp.
Hallo, Assalamualaikum Ukhti!
Ini, siapa yah Tanyaku.
Ukhti. Anti tidak menyimpan no Hp ana yah! Ini Lutfi.
Oh. Iya, Afwan. Ada apa Akh
Bagaimana, keputusannya
Ha Keputusan apa Tanyaku bingung.
Hem. Anti kok lupa. Itu loh, keputusan untuk menerima ana! Ucapnya. Terdengar sebal.
Oh. Iya Afwan! Ana belum memikirkannya Akh! Afwan. Insya Allah, nanti malam antum telphon lagi. Semoga keputusannya sudah ana dapatkan nanti malam!
Kenapa anti tidak memutuskannya sekarang saja Ukh! Ucap Lutfi. Terdengar seperti protes.
Insya Allah nanti malam, Akh! Tegasku.
Ya sudah, nanti malam ana telphon anti!
Iya. Afwan ya Akh! Assalamualaikum
Walaikumsalam. Jawabnya. Terdengar seperti memendam rasa sebal.
Keputusan yang harus aku ambil kini benar-benar sangat sulit. Aku kini harus benar-benar mengambil sebuah keputusan. Aku tidak ingin Ummi tersakiti dengan keputusannku. Tetapi aku juga tidak ingin dipaksa dalam menentukan sebuah pilihan. Rasa penat menghampiriku. Bingung berkecambuk dalam diri. Tak menentu dalam sebuah pilihan yang sama-sama memiliki kelebihan. Sejenak aku bangkit dari kasur. Aku harus membicarakan dengan Ummi! Gumamku dalam hati.
Aku langkahkan kakiku. Menuju kamar Ummi. Dengan degup jantung yang tak beraturan. Aku benar-benar takut mengecewakan Ummi. Pintu kamar sudah berada dihadapan. Sedikit aku mengatur nafas untuk menetralkan degup jantung terus berdegup tak beraturan.
Ummi... Panggilku. Sambil mengetuk pintu kamar.
Iya, Zah. Masuk aja! Jawab Ummi didalam kamar.
Aku buka pintu kamar. Ummi terlihat asyik menyulam diteras kamar.
Ada, apa putriku Tanya Ummi. Sambil melihatku, sembari tetap merajutkan benang-benang dan kain sulaman itu.
Mi. Zah ingin bicara! Bisa
Tafadhol. Tapi afwan, Ummi sambil menyulam yah! Kata Ummi, dengan senyum lembutnya.
Iya. Nggak apa-apa Mi! Mi. Ini masalah Lutfi.
Kenapa Tanya Ummi heran.
Mi. Zah sudah punya calon! Ucapku pelan.
Ummi menghentikan sulamannya. Setelah itu melihatku. Entah apa yang tercermin dalam tatapan Ummiku. Sepertinya terlihat kekecewaan yang sangat dalam.
Zah. Sudah bertaaruf dengan salah satu Ikhwan lebih dahulu! Ucapku hati-hati.
Ummi sedikit mendesah. Setelah itu kembali memfokuskan menyulam. Terlihat raut muka yang sangat kecewa. Zah. Kok nggak bilang Ummi dulu sih! Ucap Ummi.
Terlihat protes.
Afwan Mi. Sesalku.
Zah. Ummi menyerahkan semua keputusan kepada Zah! Yang menjalani kehidupan adalah Zah sendiri. Tetapi Ummi ingatkan, bahwa apa yang Zah pilih harus mantap dalam hati Zah. Ummi sebenarnya sudah tahu, saat Zah bertaaruf dengan ikhwan! Tapi, tolong. Beritahu Ummi dulu lain kali! Minimal Ummi lebih dulu tahu. Kata Ummi. Sambil melihatku dan tersenyum. Tangan lembut Ummi membelai pipiku. Sudah. Sekarang Zah pikiran siapa yang harus Zah pilih. Kalau belum bisa, sholat istikharah saja! Ucap lanjut Ummi.
Hatiku yang semula jatuh. Takut Ummi tidak setuju dengan pilihanku. Atau bahkan sakit hati karena aku memilih seorang ikhwan yang bukan dari pilihan Ummi. Kini sudah sirna. Sungguh nikmat mempunyai keluarga yang benar-benar menerapkan aturan-aturan Islam. Bukan ego yang dipakai. Tetapi syariat yang diterapkan, menjadikan kesahajaan dalam semua urusan rumah. Termasuk dalam urusan memilih pasangan hidup.
Iya. Mi! Terima kasih Ucapku. Sambil mencium tangan Ummi. Dan langsung memeluk Ummi. Entah apa, kata terima kasih yang pantas untuk diucapkan kepada Ummi. Seorang wanita yang benar-benar mengerti tentang apa yang memang diinginkan oleh putrinya.
Iya. Sudah, sekarang Zah renungi. Pilih yang menurut Zah paling terbaik menjadi pasangan Zah!
Baik. Mi! Ucapku.
Setelah itu aku langsung masuk kedalam kamarku. Dan duduk dalam kursi malasku. Biasanya aku selalu melakukan itu jika sedang pusing memikirkan sesuatu. Sejenak aku merenung dengan pikiran yang tak kunjung dapat menemukan titik jawaban yang benar. Sejenak aku mengambil mushaf kecil yang berada disamping meja dekat kursi. Aku membuka dan membacanya. Untuk lebih menentramkan diri, dan menjadikan obat dalam penentuan sebuah keputusan. Tak lama. Pikiranku pun kembali mengingat sesuatu. Aku hentikan, tilawahku. Sejenak aku menerawang tentang sebuah keputusan.
Akh Lutfi, merupakan temanku sejak kecil. Keluarganya kaya. Dan dia sudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan sangat bagus. Pasti aku tidak akan kekurangan dalam materi jika aku menikahinya kelak. Bacaan Al Qurannya pun bagus. Dan dia merupakan hafidz. Sungguh hebat wanita yang akan menikahinya! Kalau Akh Khalid. Merupakan seorang ikhwan yang baru aku kenal dari bangku kuliah. Sepak terjang dakwahnya tidak diragukan lagi. Gaya kepemimpinannya sangat elegan. Kharismatik, meskipun dalam harta dia sangat terlihat kekurangan. Hapalan Al Qurannya memang tidak banyak. Tetapi, terlihat dia lebih mengamalkan Al Quran yang dia sudah tahu dan hafal. Kalau untuk membaca dengan tartil, Akh Khalid lumayan bagus. Meskipun tidak bagus-bagus amat sih! PUSING!
Sejenak penat kembali melanda relung jiwaku yang bingung. Entah sepertinya memang aku harus shalat istikharah. Tapi, tunggu dulu! Sebuah ingatan melintas dalam pikirku. Affan. Satu nama mengingatkanku. Iya Affan benar. Affan. Saudaraku. Dia pernah mengalami hal seperti ini. Oh iya, dan dia pernah cerita kepadaku. Sebuah ilmu telah aku dapatkan. Saudaraku Affan. Pernah mengalami hal kejadian seperti ini. Tetapi dia lebih seperti Akhi Khalid. Aku ingat. Bahwa Affan pernah mengenal seorang Akhwat. Dan mereka pernah saling mengikat tali khitbah. Tetapi sayang, orang tua si Akhwat tidak merestui Affan menjadi menantunya. Tetapi, Affan dan si Akhwat istiqomah dalam meyakinkn orang tua si Akhwat. Hanya sayang, seorang ikhwan lain datang di kehidupan si Akhawat. Si Akhwat melihat ikhwan yang lebih baik dari Affan. Sangat jauh lebih baik.
Si Akhwat akhirnya ragu berhubungan dengan Affan. Si Ikhwan yang terbaik ini sudah mendapatkan restu dari orang tua Si Akhwat. Dengan cara-cara yang seharusnya tidak dipakai oleh seorang muslim. Si Ikhwan akhirnya dapat meluluhkan hati orang tua Si Akhwat. Dan Si Akhwat jadi pindah kelain hati. Berpindah kepada yang lebih baik lagi. Tapi sayang, itu adalah sebuah cara yang hina. Aku mengatakan kepada Affan. Bahwa cara yang dilakukan oleh Si Ikhwan adalah Hina, dan jika Si Akhwat menerima Si Ikhwan itu. Maka keduanya merupakan seorang yang hina. Bagaimana anti bisa mengatakan itu! protes Affan, Saat itu.
Aku menjawabnya dengan mengibaratkan sebuah air minum yang sudah dihadapan Affan. Tetapi sayang, Affan dilarang meminum air itu. Meskipun, Affan terlihat sangat kehausan sekali. Lalu tiba-tiba datang seorang Ikhwan, yang dengan berbagai cara. Merayu si pemilik air minum itu, untuk mau diminum oleh Si Ikhwan. Padahal didepan Si Ikhwan ada seorang Ikhwan lain yang sangat lama membutuhkan air minum itu. Dan air minum itu pun sudah dihadapan Affan. Akhirnya dengan serta merta air minum itu pun diperbolehkan untuk diminum oleh Si Ikhwan. Berarti dalam kata lain, bahwa air minum itu telah dirampas oleh Si Ikhwan. Dihadapan saudaranya yang memang membutuhkan air minum itu. Dan air minum itu pun dengan suka cita mau diminum oleh Si Ikhwan. Bagaimana bukan Hina, seorang yang merampas air minum yang sudah dihadapan orang yang sangat membutuhkan. Dan bagaimana bukan air minum yang hina, saat air minum itu bersuka cita diminum oleh orang yang hina. Hingga seorang yang kehausan itu harus akhirnya menanggung sakit yang teramat dalam.
Apakah itu, bukan sebuah kehinaan yang sangat hina! Jelasku kepada Affan waktu itu. Seburuk-buruk seorang Ikhwan, tidak akan menyengsarakan saudara Ikhwan yang lainnya. Atau bahkan merampas sesuatu yang sudah diidam-idamkan seorang ikhwan. Tidaklah seorang Ikhwan yang terbaik, kalau dihatinya tertanam benih-benih cara yang hina. Meskipun seorang ikhwan itu bagus akhidahnya, bagus hafalan Al Qurannya. Tetapi jika dia melakukan cara yang kotor dan hina. Maka akhlaqnya tidak lebih rendah dari binatang yang saling berebut dalam mencari makanan. Tetapi aku salut dengan Affan. Aku benar-benar mengagumi salah satu saudaraku itu. Dengan santai, meskipun terlihat pedih dimatanya dan terlihat sakit yang mendalam dihatinya. Dia hanya mengatakan Sungguh, ana relakan seorang wanita yang ana inginkan. Untuk dijadikan istri oleh seorang ikhwan yang memang membutuhkan. Mungkin saja, Ikhwan itu tidak mempunyai kemampuan, untuk mencari seorang wanita lain! Insya Allah ana akan mendapatkan yang lebih baik lagi. Itu janji Allah! Aku saat itu benar-benar kagum dengan ucapan Affan. Benar. Antum, tidak akan diberikan oleh Allah air yang hina untuk antum minum! Kataku keras waktu itu. Karena, aku sangat jengkel dengan seorang akhwat yang telah menjadi pengkhianat cinta. Kalaulah cinta Si Akhwat karena Allah. Maka tiada yang hadir selain keistiqomaan dan berjuang untuk meyakinkan orang tuanya. Dan tidaklah menjadikan seorang Akhwat malah berlenggang mencari yang terbaik bagi dirinya. Saat yang terbaik itu adalah sebuah ketidakpastian. Seharusnya Si Akhwat sudah dari dulu memutuskan hubungan dengan Affan. Kalaulah dia ingin mencari Ikhwan yang terbaik. Bukan malah mengikat Affan terus menerus dalam hubungan yang tidak pasti. Hingga Affan benar-benar memperjuangkannya. Tetapi sayang, perjuangan Affan tidak menuai hasil yang baik. Bukan hasil yang kita cari. Tetapi keridhoan yang kita harapkan dari Allah! itulah ucapan Affan waktu lalu. Akhwat mana yang rela dan tega meninggalkan seorang Ikhwan yang benar-benar memperjuangankannya. Kecuali seorang akhwat yang memang dirinya mencari kehinaan. Kalaulah memang Si Akhwat bukan seorang yang Hina. Seharusnya Si Akhwat sudah memutuskan Affan sejak ketidaksetujuan orang tua Si Akhwat. Bukan malah menjadikan Affan sebagai pemain pengganti jika tidak ada yang lebih baik dari Affan. Dan kalau ada, Affan dilepaskan begitu saja. Karena sebenarnya ini bisa dikatakan sebuah kekejaman. Dan sangat zhalim.
Tapi Subhanallah. Aku saat itu baru melihat sifat itsar yang selalu didengungdengungkan dalam sejarah umat Islam. Benar-benar hebat. Memang, kenapa Itsar dikatakan sebagai tingkatan iman yang paling tinggi. Karena memang, melakukan itsar itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sangat berat memberikan sesuatu yang kita inginkan kepada orang lain. Kalau bukan seorang yang beriman. Mana mungkin
Perasaan yang semula kalut kini menjadi lebih tenang. Setelah mengingat seorang ikhwan yang bernama Affan. Memang, tidak ada dalam kepastian dalam sebuah kehidupan. Karena sesungguhnya kepastian itu hanya milik Allah. Maka, jika kita melakukan sebuah hubungan. Kepastian itu adalah rasa kepercayaan seseorang.
Sejenak aku memikirkan dampak jika aku menikah dengan salah satu dari ikhwan itu. Lutfi dan Khalid. Hem, jika aku akan menikah dengan Akhi Lutfi. Insya Allah aku mendapatkan materi yang berkecukupan. Mungkin jika aku menikahi Akhi Lutfi, hafalanku juga akan bertambah. Sejenak aku berfikir lagi. Lalu, jika aku menikahi Akhi Khalid, apakah kami berdua tidak bisa berusaha mendapatkan materi Lalu apakah jika aku menikah dengan Akhi Khalid hafalanku tidak bisa bertambah juga Tapi, siapa yang bisa menjamin Bukankah Allah mudah untuk melenyapkan segala sesuatu! Benar-benar pikiranku kembali penat. Dari relungrelung pikirku yang semula hampir jernih. AKHLAQ! Satu kata yang terlintas dibenakku. Iya benar, akhlaq. Sekarang aku sudah tidak pusing lagi untuk mengambil sebuah keputusan. Karena semuanya sudah jelas. Siapa yang harus aku pilih.
Sejenak ucap syukurku kepada Allah. Aku bukanlah akhwat yang mencari kehinaan dalam keridhoan Allah. Apalagi aku bukan akhwat yang tega, meninggalkan seorang Ikhwan yang memang sudah serius untuk menjalin tali pernikahan kepadaku. Apalagi aku bukan seorang akhwat yang hanya mencari seorang ikhwan yang dikatakan terbaik. Aku bukan mencari ikhwan terbaik dalam wujudnya saja. Tetapi aku mencari ikhwan yang terbaik dalam segala hal. Dalam akhidah, dakwah dan yang tidak kalah pentingnya adalah Akhlaq. Akhidah bisa dibangun dengan pelajaran pengetahuan tentang Rabb. Dakwah bisa dibangun dengan pondasi-pondasi akhidah. Tetapi akhlaq, akhlaq tidaklah semudah mempelajari akhidah dan dakwah. Karena akhlaq adalah mencerminkan jiwa yang suci dan bersih. Yang selalu mencerminkan keindahan dakwah Rasulullah. Akhlaq adalah harga yang paling tinggi untuk dimiliki. Karena untuk menjalankan kata yang dinamakan akhlaq. Harus benar-benar mencerminkan kepribadian Rasulullah. Yaitu ikhlas. Dan itu sangat sulit.
Seorang yang mempelajari Akhidah. Dia hanya mempelajari pondasi-pondasi dakwah. Tetapi jika seorang yang mempunyai akhlaq Islam yang tinggi. Maka dia adalah seorang muslim yang sempurna. Karena pasti, perilaku-perilakunya adalah menurut apa yang dikatakan dalam Al Quran dan Sunnah. Bukan hanya keyakinan semata. Dan ciri seorang yang berakhlaq adalah, tidak melakukan sesuatu hal yang bisa menyakitkan orang lain. Tidak melakukan sesuatu perbuatan yang hina. Tidak merampas apa yang dipunyai atau yang diharapkan oleh orang lain. Selalu bersifat lemah lembut. Dan keras jika menantang kezhaliman. Ikhwan seperti inilah yang aku cari.