Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 10
kulupakan ini, bunyi jam dinding yang sekarat sekerat roti di atas meja

juga semut-semut yang mengerubuninya

aku tidak paham yang kutunggu, aku sungguh menginginkan kabut di puncak mantar dan awan yang bergumpal-gumpal sebelum pagi adalah yang kudekap sebelum sepasukan ingatan berderap, menodongkan senjatanya

aku takut terbunuh ingatanku sendiri

kejahanaman dimulai dari kata rindu

yang kala diucapkan menjadi batu-batu

sesepi itulah pengakuanku, tak lagi ada telinga-telinga

yang berbondong-bondong telah memilih

dilahirkan sebagai bayi