Alkisah, beberapa saat setelah kejadian tersebut, warga mulai berkumpul...
Ini sudah mayat keempat belas di Serayu.
Mengerikan.
Bahkan Salimen yang tidak pernah macam-macam pun ikut jadi korban!
Tak seperti penemuan mayat-mayat sebelumnya, di mana warga segera mengangkat mayat itu dari sungai, kini mereka hanya berdiri di tepian, melihat dengan raut yang ketakutan. Jelas ini bukan kematian biasa.
Jadi benar yang dikatakan Kiai Subale Salimen mati karena mengintip bidadari yang sedang mandi, seperti yang terjadi pada orang-orang sebelumnya
Begitulah kabar yang beredar di desa tepi Serayu, seorang kiai karismatik bernama Kiai Subale memberi penjelasan perihal ke matian misterius yang terjadi selama beberapa hari terakhir.
Kalau kalian mengintip para bidadari yang sedang mandi di Su ngai Serayu, apalagi mencuri selendangnya, kalian akan dibawa ke langit, dan hanya badan saja yang akan kembali ke bumi, sementara jiwa kalian menjadi tawanan. Percayalah dan ikuti nasihat saya.
Awalnya warga tak begitu percaya dengan ucapan Kiai Subale, tetapi kematian demi kematian yang berurutan membuat penjelasan Kiai Subale terdengar masuk akal. Warga pun mulai bertanya-tanya, sejak kapan para bidadari suka mandi di Serayu
Sungai Serayu yang permukaannya berwarna hijau, luas, dan cantik, memang sangat cocok jika disandingkan dengan sosok bidada ri. Bahkan menurut salah satu riwayat yang dituturkan secara turun-temurun oleh sesepuh desa, nama Serayu berasal dari Sirah Ayu atau Kepala Cantik. Menurut riwayat tersebut, dahulu Sunan Kalijaga pernah menyeberangi sebuah sungai besar, dan beliau terkejut m elihat seorang gadis sedang mandi di tengah sungai. Gadis itu hanya tampak kepala dan wajahnya yang ternyata sangat cantik. Tentu saja, sebagai bentuk penghargaan tertinggi kepada Sunan Kalijaga dan k epada riwayat ini, kita tak perlu bertanya mengapa tak dipastikan dulu tubuh gadis itu seperti apa. Sebab di zaman ketika dongeng m enyerupai kenyataan, banyak gadis yang berkepala manusia tapi bentuk tubuhnya ternyata menyerupai makhluk lain.
Lagipula, peristiwa mengintip bidadari yang sedang mandi sebenarnya bukan hal asing. Sudah banyak daerah yang memiliki hika yat dengan alur utama seperti itu, hanya saja berbeda improvisasi. Di sebagian daerah, ada kisah seorang laki-laki yang mengambil selendang bidadari hingga membuat bidadari itu tak bisa kembali ke la ngit. Namun di Sungai Serayu, alurnya menjadi lain. Kiai Subale mengatakan bahwa, jangankan mengambil selendang, seseorang yang baru mengintip saja maka akan ditangkap, dibawa ke langit, dibunuh, lalu mayatnya diturunkan kembali, dibiarkan mengambang di sungai.
Kabar itu dengan cepat menyebar ke seantero desa, Kiai Subale juga bilang, biasanya bidadari mandi menjelang matahari tenggelam, jadi jangan ada yang berani datang ke dekat sungai menjelang m atahari terbenam. Jika ada keperluan, tunda sampai setelah isya. Sebab bisa jadi kita awalnya tidak ingin mengintip, tapi kalau mendengar suara kecipak air dan suara bidadari, maka kita pun tergoda. Perbuatan mengintip bukan hanya karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan.
Sejak itulah, Sungai Serayu yang sedianya menyajikan pemanda ngan indah, barisan pohon pinus, suara ricik air, anakanak kecil me nyeberangi jembatan bambu, juga perahu-perahu yang ditambatkan, sekarang berbalik sangat mencekam.
Dari sore sampai isya, tak terlihat aktivitas warga. Jalan kampung yang menuju jembatan Serayu menjadi lengang. Namun mereka tahu bahwa ini tidak menuntaskan seluruh masalah. Warga sepanjang tepi Sungai Serayu lalu mengadakan pertemuan di balai desa untuk me n emukan jalan keluar yang konkret. Kepala desa dan semua tokoh masyarakat ikut berkumpul. Mereka berunding cukup alot.
Ini konyol, pembunuhan oleh bidadari itu jelas sebuah konspi rasi dunia gaib. Mana ada bidadari yang seharusnya cantik jelita dan baik, justru menyandera bahkan membunuh Ini melawan teori.
Apa Anda yakin bidadari itu pembunuhnya
Siapa lagi Bukankah Kiai Subale bilang sendiri
Kiai Subale hanya bilang warga kita diangkat ke langit dan d ibunuh, tapi kiai tidak bilang bidadari itu pembunuhnya.
Hm. Begitu, ya. Jadi kau ingin bilang, mungkin saja bidadari hanya umpan, sengaja turun ke Serayu, lalu penduduk kita diangkat ke langit, akhirnya dibantai oleh makhluk lain di sana
Mendengar kata dibantai, beberapa peserta rapat tampak t erkejut dan berbisik satu sama lain. Seharusnya kata semacam itu tidak terucap oleh seorang tokoh masyarakat.
Jadi, mari kita urun rembuk solusi, kita tidak bisa diam, kita harus melawan. Masing-masing silakan menawarkan ide.
Perundingan semakin alot, satu per satu usul bermunculan, ibu-ibu sibuk menyiapkan kopi dan pisang goreng bagi peserta rapat.
Baiklah. Sejenak kita tinggalkan warga di balai desa. Sambil menunggu perundingan itu selesai, sayasebagai penulis ceritaakan menyajikan beberapa intermeso sebagai berikut:
Alkisah, dalam sudut pandang lain, dalam platform cerita yang berbeda, para bidadari cantik dari dunia dongeng memang rajin t urun ke Sungai Serayu untuk mandi. Bagi mer eka, Sungai Serayu sangat cocok sebagai pemandian, karena meski sungainya cukup l ebar, tapi alirannya begitu tenang dan sabar, di pinggiran sungai ada barisan pohon pinus yang tampak tersenyum, rerumputan yang se perti bernyanyi, batuan sungai yang hitam mengilap, dan permukaan sungai yang hijau jernih, membuat seluruh makhluk dari kalangan manusia dan jin akan mudah tertarik pada kecantikan sungai itu.
Setiap menjelang senja, para bidadari akan turun dari langit, mendarat lembut di tanah basah, meletakkan selendang di atas batu, melepas ikat kepala sehingga rambut mereka akan tergerai, lalu menceburkan diri ke sungai dan mandi sepuasnya sambil tertawa-tawa. Kadang mereka saling mencipratkan air satu sama lain, kadang sebagian dari mereka memanjat sebuah tebing yang cukup tinggi, dari puncak tebing itu mereka melompat ke dalam sungai dengan gerakan salto akrobatik menyerupai atlet lompat indah.
Dan sungguh para bidadari tak pernah tahu perihal manusia yang selalu mengintip mereka, perihal laki-laki yang mengintip dan berharap mencuri selendang agar bisa mewariskan namanya dalam cerita dongeng. Warisan apakah yang lebih berharga dari sebuah dongeng, yang akan diceritakan secara turuntemu run dan tak pernah usang karena terus diperbarui dengan berbagai jenis bahasa dan teknik-teknik penceritaan
Juga satu hal yang penting, bidadari-bidadari itu ternyata tak pernah mempermasalahkan perihal hilangnya selendang, mereka punya banyak koleksi selendang di langit. Kalau mereka tak mendapati selendang ketika selesai mandi, maka mereka akan tetap melesat ke langit, tubuh-tubuh mereka yang serupa cahaya itu akan sangat menyilaukan. Anatomi apakah yang bisa dilihat dalam cahaya selain cahaya
Jadi, sebenarnya bidadari-bidadari itu merasa tak punya hubu ngan apa-apa dengan kasus warga yang mencuri selendang lalu di-temukan mati mengapung di sungai keesokan paginya. Mereka toh tidak bisa mengangkat manusia ke langit, selain tidak bisa, juga tidak penting, mereka hanya ingin mandi. Ketika mendengar kasus mayat mengambang itu, mereka justru ikut bertanya-tanya, siapakah yang telah melakukan pembunuhan dan mencemarkan nama baik bangsa bidadari Adakah makhluk di alam ini yang melakukannya karena cemburu pada kecantikan dan kesempurnaan mereka
Malam di tepi Serayu, bintang-bintang adalah lampion waktu, c ahaya purnama seperti memercik pada daun-daun pepohonan.
Rapat telah selesai setengah jam lalu, warga sudah bubar dan kembali ke rumah masing-masing, ada yang melanjutkan perbinca-ngan di pos ronda atau warung kopi. Hasil perundingan itu menghasilkan keputusan yang kelak akan menjadi titik balik sejarah Sungai Serayu:
Warga memutuskan akan mengotori sungai itu, agar para bidadari tak betah mandi di sana lagi.
Kita harus sering-sering membuang sampah atau melakukan apa saja sampai warna air sungai tidak lagi menjadi hijau, tapi cokelat, kata sang pemimpin rapat.
Keputusan itu langsung dijalankan keesokan harinya, warga yang awalnya sangat mencintai Sungai Serayu dan menjaga keelokannya, tiba-tiba menjadikannya tempat untuk melakukan sebagian aktivitas rumah tangga dan aktivitas tubuh manusia. Para ibu suka mencuci di sungai, warga desa membuat saluran pembuangan yang mengarah ke sungai itu, berbagai macam limbah desa mengalir ke sana.
Waktu demi waktu berlalu, warna sungai pun mulai berubah. Dan mereka ternyata berhasil. Ketika air sungai telah resmi berubah cokelat, tak seorang bidadari pun mau mandi di sungai itu. Menurut cerita beberapa orang, para bidadari itu pindah ke Sungai Porong.
Kiai Subale telah mengonfirmasi bahwa Sungai Serayu kembali aman. Hari itu juga menjelang matahari terbenam, warga berk umpul di tepi sungai untuk merayakan keberhasilan me ngusir bidadari, tak ada lagi rasa takut, anak-anak kecil bergembira, ibu-ibu sibuk me-nyiapkan pesta untuk seluruh desa...
Di Sungai Serayu, tahun 2013, barangkali tak seorang pun penduduk yang tahu dan percaya, bahwa sungai yang airnya kecokelatan itu dulunya sering disebut sungai surga, karena airnya yang berwarna hijau, dan sering disinggahi para bidadari untuk sekadar mandi dan melepas lelah. Namun kini cerita semacam itu hanya akan dianggap dongeng. Adapun akhir kasus pembunuhan berantai yang menewaskan beberapa orang itu telah sepenuhnya terlupakan, tanpa pernah diketahui siapa pelaku sebenarnya.