Namanya H. Irwan Suryanto. Dia adalah Direktur Utama PT Triple S asal Majalengka Jawa Barat. Dilihat dari tampangnya, tidak kelihatan kalau ia seorang produsen bola sepak kelas dunia. Untuk perhelatan Piala Dunia di Brazil dia mengirimkan 2 juta buah bola.
Walau pendidikannya hanya S2 alias SD dan SMP, Irwan kenyang pengalaman bisnis. Saat ini, bisnisnya tidak hanya memproduksi bola, tapi hampir seluruh alat olahraga. Namun, semua tidak diproduksinya sendiri. Sebagian besar diimpor dari Tiongkok. Kliennya sekarang adalah sekolah, mulai dari SD hingga SLTA di 500 kabupaten kota di seluruh Indonesia. Luar biasa.
Salah satu kunci sukses adalah keikhlasan. Kalau sudah ikhlas, Allah akan membukakan jalannya dan dipermudah, kata Irwan.
Bekerja itu Ibadah
Masa kecil Irwan tidaklah mulus seperti sekarang. Ia menikah saat usianya masih 23 tahun dan istrinya 15 tahun. Saat menikah Irwan muda masih menganggur. Lama menganggur lantas dia berpikir, sebentar lagi akan jadi ayah, masa tidak bekerja.
Akhirnya, Irwan bekerja sebagai kuli pasar, kenek angkot, sampai akhirnya naik pangkat menjadi sopir angkot di Jakarta. Saat jadi sopir inilah Irwan bisa menabung dan mempunyai modal.
Irwan terpaksa kembali ke Majalengka karena orangtuanya meninggal dunia. Selanjutnya, paman dan bibinyalah yang menjadi orangtua pengganti. Di Majalengka, Irwan membuka 2 toko alat olahraga, namun tahun 1981 dia bangkrut, karena ditipu oleh karyawannya sendiri. Hal itu terjadi karena dia terlalu percaya kepada karyawannya dan kurangnya pengawasan.
295
Akibat bangkrut ini dia pun banyak utang. Pernah dia ditodong akan dibunuh karena belum mampu membayar utangnya. Namun, Irwan tidak takut sama sekali. Baginya, dia tidak pernah ada niat untuk tidak membayar. Saat itu, semua benda sudah disita, namun Irwan meminta untuk tidak menyita etalase yang dimilinya. Alasannya, jika disita, dia sudah tidak bisa bekerja dan tidak bisa membayar utangnya.
Akhirnya, Irwan bertemu dengan seorang pengusaha asal Korea, Mr. Kim. Mr. Kim bilang, kalau mau maju, ia harus membuat bola sepak berstandar internasional. Ajakan kerja sama ini disambutnya dengan gembira. Cita-citanya membuat usaha agar orang Majalengka tidak urbanisasi ke Jakarta terlaksana.
Rupanya, bekerja sama dengan orang Korea merupakan kerugian besar kedua sepanjang bisnisnya. Tahun 1994 dia mulai, dua tahun berselang, Irwan mengalami kerugian sebesar Rp100 juta. Angka yang sangat besar untuk ukuran waktu itu.
Di saat yang sulit, akhirnya Irwan memutuskan untuk pergi haji. Dia banyak berdoa di Tanah Suci.
Ya Allah, apabila usaha bola ini bukan rezekiku, mohon Kauhentikan dengan baik. Apabila itu memang jalan rezeki bagiku, mohon Kau beri jalan untuk berusaha.
Tiga hari sepulang haji Irwan menjumpai pabriknya sudah tutup, karena semua tenaga kerjanya tidak dibayar oleh rekannya dari Korea. Luar biasanya, Irwan menerima semua itu dengan ikhlas. Dia mengira itu adalah doanya yang didengar oleh Allah.
Akhirnya, Irwan memulai usaha sendiri benar-benar dari nol. Dia menawarkan bola sepak buatannya menggunakan becak. Pelan tapi pasti, akhirnya ia bisa mengirim bola ke Jakarta.
Tahun 1998, Irwan di-support Dirjen Pengembangan Ekspor untuk mengikuti pameran di Belanda. Di sanalah dia bertemu dengan buyer yang memiliki 200 supermarket dan mengantongi lisensi dari FIFA. Rupanya, order besar dari Belanda ini tidak menghasilkan untung. Namun, Irwan tetap mengerjakan order tersebut dengan mengambil keuntungan dari sisi lain, yakni promosi. Di sinilah kejelian Irwan. Bola buatannya makin dikenal di seluruh dunia.
Dalam kurun waktu 10 tahun Irwan menekuni usaha ekspor, dia tidak mendapatkan hasil secara finansial. Akhirnya dia bisa merasakan manisnya usaha produksi bola ketika mendapat order lokal. Dari sinilah dia bisa bertemu dengan semua presiden, mulai dari Soeharto hingga SBY.
Kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang, menurut pengusaha berumur 63 tahun ini, dia bisa memberi lapangan pekerjaan bagi orang banyak, khususnya orang Majalengka. Dan yang kedua, bola telah menjadi ikon Majalengka maupun Indonesia.
Ayah 3 anak dan kakek dari 6 cucu ini menandaskan bahwa tidak perlu takut berbuat baik untuk orang lain. Jika berbuat baik, Allah pasti akan membukakan jalan dan mempermudahnya.
24 Desember 2013