Anak muda yang sangat dekat dengan orangtua dan sangat ingin membahagiakannya. Tokoh multitalenta yang pandai memasak dan memainkan keyboard ini merasa rugi kalau tidak bisa shalat berjamaah. Ia percaya, doa orangtua termasuk faktor besar penentu kesuksesan seseorang.
Materi beliau juga banyak men-share pengalaman pribadi. Menjadi lebih menarik, karena yang di-share adalah kisah nyata yang pernah terjadi sebelumnya.
Salah satu episode yang saya ikuti adalah kisah dahsyatnya Sholawat Nabi. Pada episode tersebut, banyak cerita tentang orang-orang yang sukses meraih impian dan cita citanya dengan mendawamkan Sholawat Nabi.
Salah satu kisah yang mengetuk hati saya adalah kisahnya Mas Mono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono, yang franchise-nya sudah tersebar di banyak tempat, seperti jamur yang tumbuh di musim penghujan.
Semula, Mas Mono adalah seorang pegawai yang terkena PHK, karena perusahaan tempat dia bekerja bangkrut. Dia yang haqqul yaqin atas kebesaran Allah mendawamkan Sholawat Nabi dibarengi dengan Sholat Dhuha. Hingga akhirnya dia mendapat penghargaan Young Entreprenuer of Year dengan ayam bakarnya.
Ada lagi kisah beberapa orang yang ingin bisa pergi umroh dan haji. Dengan bermodal membeli lukisan Masjidil Haram dan memajang- nya di ruang tamu, lantas apa yang dilakukannya Setiap hari mereka memandang lukisan tersebut sembari bersholawat dan memanjatkan doa agar diberi kemudahan untuk bisa berkunjung ke sana. Subhanallah, doa mereka dikabulkan, sehingga bisa pergi ke Tanah Suci.
Hal ini menggelitik saya dan keluarga adalah pertanyaan, masa sih bisa begitu
Di lain pihak, banyak juga yang beranggapan bahwa bersholawat sama halnya dengan mengagungkan Nabi, dan itu tidak diperbolehkan jika dilakukan secara berlebihan. Tapi bagi kami sekeluarga, itu tidak menjadi masalah, karena toh yang dilakukan itu benar. Bukan datang ke dukun, lantas meminta jampi-jampi.
Biasanya, setelah melihat tayangan Ustad Yusuf Mansur, ibu berlanjut dengan jalan pagi sembari mencari nasi kuning atau gorengan di sekitar rumah. Mencari sehat sekaligus jalan pagi ini saya manfaatkan untuk selalu berkomunikasi dengan ibu saya.
Rute yang kami lewati biasanya di sekitar rumah dengan pemandangan bukit dan gunung yang masih asri, lalu masuk ke kompleks perumahan yang juga asri. Biasanya, jika masuk ke kompleks perumahan tersebut, kami hanya mencari nasi kuning, dan setelah dapat, langsung balik ke rumah.
Hikmah Semesta
Suatu hari, penjual nasi kuning langganan kami tidak berjualan. Kami lantas ditunjukkan oleh seseorang bahwa ada penjual nasi kuning yang berjualan di blok kompleks lain.
Dalam perjalanan menuju blok lain, kami melihat sebuah rumah indah dengan papan tulisan Dijual. Kami sempat berkeliling sejenak untuk sekadar melihat keindahan rumah tersebut.
Tiba tiba ibu saya menyeletuk, Eh, Mas Bayu (nama panggilan saya di rumah), bagaimana kalau kita praktikkan ilmu yang diajarkan oleh Ustad Yusuf Mansur tentang dahsyatnya sholawat
Saya jawab, Ya, Mah. Setuju. Ayo kita buktikan.
311
Kebetulan, saat itu sepi. Jadi, saya dan ibu mendekati rumah tersebut. Tak cukup memandang, kami pun memegang pintu gerbangnya dan mulailah kami berdua bersholawat. Diawali dengan istigfar, lalu mengucapkan hamdalah, berlanjut dengan bersholawat, lalu berdoa.
Doanya simpel, Ya Allah, kami pengin punya rumah ini. Jika Engkau berkehendak, jadikanlah, Ya Allah. Amin.
Sejak saat itu, saya dan ibu merutinkan jalan pagi melewati rumah tersebut. Rutenya bertambah jauh, tapi kami yakin, ini seperti ditunjukkan Allah. Sehabis jalan pagi, kami bersholawat di depan rumah impian, dan kami pun pulang. Kami lanjutkan dengan Sholat Dhuha.
Selang tiga bulan, rumah itu masih tetap ada papan dengan tulisan Dijual. Pada bulan keempat, pagi itu kami melihat seorang bapak yang sedang menyapu halaman depannya. Tulisan Dijual pun sudah tidak ada. Saya dan ibu sedikit kaget. Tapi, ya sudahlah, mungkin belum rezekinya.
Tidak disangka, kami yang sedang mencuri-curi pandang dipangggil oleh bapak yang sedang menyapu halaman tadi. Kami disuruh masuk untuk melihat-lihat keadaan rumah di dalamnya. Saya dan ibu lebih kaget, ternyata bapak itu seseorang yang dipercaya oleh pemilik rumah untuk menjaga kebersihan rumah. Dan yang lebih menggembirakan lagi, rumah tersebut belum terjual.
Pada bulan kelima, kami mengenal empunya rumah. Dengan kun fayakun-nya Allah, pada bulan ketujuh, kami resmi memiliki rumah tersebut. Allah benar-benar menurunkan rezekinya dan mempercayai kami untuk memiliki rumah lagi.
Dahsyatnya sholawat itu bekerja pada kami....
Dari kejadian ini, banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil. Intinya, bukan hanya sholawatnya yang bekerja, tapi keyakinan kita pada Allah jugalah yang bekerja. Sang Maha Pemilik Segalanya membuka kesempatan bagi kita untuk mendapatkan rezekinya. Dengan Sholat Dhuha, Tahajud, bersholawat, dan yang pasti tetap istiqomah.
Jika pun tidak mendapatkan hasil yang sesuai kita inginkan, bukan berarti itu jelek. Tapi, Allah telah menyiapkan yang lebih baik untuk kita.
Sabar, ikhlas, dan tetap berbaik sangka adalah kuncinya.
06 Mei 2014