MALAM MERUNJUNG - 11
syahrazad melihat ayam istana mengepakkan say apnya sekali lagi. Melompat ke dahan delima yang mengayun turun di atas kolam dan berkokok. Pagi tiba dan ia selamat untuk yang keseribu kali. Raja masih bergeming di tempatnya. Syahrazad pun perlahan turun dari tempat tidur.

Algojo yang sudah berdiri di depan pintu kamar tak pernah berhenti mengagumi lehernya. Leher itu mungkin akan menjadi leher paling indah yang akan ia penggal seumur hidupnya. Seribu malam sudah berlalu. Ia ikut berhitung dan menyaksikan bagaimana dengan tenang, leher putih yang pucat seperti porselen itu menopang kepala Syahrazad malam demi malam.

Satu per satu pelayan mematikan lampu. Menyingk ap tirai dan membiarkan cahaya pagi perlahan menjalar dari kisi-kisi jendela. Mengingatkan Syahrazad pada istana si tukang cerita. Ia mungkin tak akan muncul lagi. Mungkin ia kini telah sampai di matahari.

Kamar yang disediakan raja untuk Syahrazad terletak di sudut paling terpencil istana. Di atas ketinggian, dengan jendela besar tempat Syahrazad bisa melihat negerinya, dengan atap-atapnya, dan gang-gang kecil yang bertemu dengan jalan-jalan besar, seperti anak-anak sungai yang menyatu dengan sungai besar. Istana raja seperti pulau kecil di tengah muara. Orang-orang yang lalu lalang di sana, seperti hewan-hewan air yang berenang. Sebagian menjemur diri di tepi jalan seperti hewan-hewan melata yang menghangatkan diri di tepi sungai. Ia pernah berlarian di jalan-jalan itu. Mejadi ikan kecil yang berenang dari satu arus sungai ke arus lain.

Ia menyentak tirai dan membiarkan kamar itu lebih redup. Kemudian beranjak ke tempat tidur untuk mengganti tidur malamnya. Ini mungkin akan menjadi tidur siang terakhir. Setiap hari adalah tidur siang terakhirnya. Namun kali ini ia mendapat perasaan yang lebih kuat kalau esok ia tak akan memasuki kamar ini lagi. Seribu malam itu waktu yang lama sekali, ia menghibur diri dan menarik selimut sampai ke dagu.

Mungkin kematian akan terasa seperti tidur panjang. Semua orang berkata begitu. Ia tak menemukan alasan untuk khawatir lagi. Mungkin dari dulu sebaiknya memang seperti ini. Seribu malam yang telah ia lalui jauh lebih mengerikan daripada kematian. Seperti menjalani sekarat yang kelewat panjang. Tapi besok, semuanya akan berakhir.

Sebelum ia jatuh ke alam mimpi, terdengar ketukan di pintu. Siapa pun tahu ia tak menerima tamu pada jam-jam ini. Ketukan itu terdengar sekali lagi dan kali ini disertai panggilan, Yang Mulia.

Syahrazad tak mengenali suara itu. Ia bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu dan mendapati algojo itu berdiri di sana.

Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia. Suaranya seberat dan sekejam tampangnya. Namun gerak tubuhnya di hadapan Syahrazad penuh kesant unan. Hamba ingin bicara tentang tukang cerita itu.

Apa yang kamu ketahui tentangnya suara Syahrazad seketika meninggi mengandung gusar.

Hamba tidak tahu apa-apa. Hanya saja hamba pernah mengikutinya saat ia pergi ke sebuah gua di seberang sungai kering itu.

Semua rasa lelah dan mengantuk pada Syahrazad seketika menguap.

Dan mata air itu, hamba melihat diri hamba di sana. Kedua matanya meneliti leher putih Syahrazad. Urat merah kebiruan yang menjalar di antara tenggorokannya. Ia teringat pada sebuah guci yang pecah dan abu yang berterbangan di udara. Hamba melihat seseorang berlari. Hamba juga melihat Yang Mulia berlari. Sendiri. Ketika hamba memenggal sebuah kepala, yang menggelinding kemudian adalah kepala Yang Mulia Raja, suara si algojo tercekat. Ia kini menatap kedua tangannya, seakan tangan itu telah berlumur darah raja.

Untuk apa kamu memberitahuku semua ini

Algojo itu tak menjawab. Melainkan menatap kedua bola mata Syahrazad dan melihat apa yang ia lihat pada mata-mata para perempuan itu di menit-menit terakhir kehidupan mereka. Ia tak tahu mengapa ia menyampaikannya. Ia merasa harus menyampaikannya kali ini. Seperti takdir, dan apa yang ia lihat di mata air yang berpendar itu seperti potongan-potongan dari masa depan yang menghampirinya.

Apa yang hamba lihat di mata air itu, juga apa yang sudah lama hamba lihat di mata-mata perempuan itu.

Kamu pernah mencoba melompat Syahrazad masih terdengar gusar. Ia tak tahu apakah algojo ini ingin mencelakakannya atau ingin menyelamatkannya.

Tidak, Yang Mulia. Saat itu seekor gagak raksasa datang dan mencakar kening hamba. Mungkin kelak hamba akan menjaga mata air itu dari siapa pun yang mengejar Yang Mulia. Salah satunya raja. Ia melihat kepala itu menggelinding. Darah merah memadamkan cahaya yang berpijar di dasar mata air itu. Membuatnya pekat sesaat. Kemudian ia melihat sebuah ledakan yang teramat indah yang membuatnya menggigil. Saat ia keluar dari gua itu, ia bukan lagi orang yang sama.

Syahrazad meneliti kedua mata algojo itu yang seperti bersinar. Seakan ia tengah terkenang pada sesuatu yang teramat jauh dan sudah lama ia lupakan.

Beri aku satu malam lagi, ujar Syahrazad kemudian menutup pintu. Ia masih belum yakin apa yang direncanakan algojo itu. Mungkin ini salah satu siasat raja untuk menghukumnya. Mungkin ia akan tertangkap saat berusaha melarikan diri, kemudian dipermalukan dan dipenggal di alun-alun istana. Tapi bukankah ajalnya sudah pasti Tanpa siasat dari raja pun ia sudah memutuskan untuk mati. Jika raja memang ingin memenggalnya, ia bisa melakukannya saat ini juga tanpa alasan apa pun.

Akan tetapi, tertangkap saat melarikan diri mungkin akan jauh lebih baik. Perempuan-perempuan setelahnya setidaknya akan tahu kalau mereka bisa melakukan sesuatu. Syahrazad menghirup napas dalam-dalam. Ini siasat atau bukan, ia akan mengikuti permainan yang disodorkan algojo itu.

Siang itu menjadi tidur siang paling nyenyak seumur hidupnya. Ketika terbangun, matahari sedang beranjak turun. Ia pun keluar dari kamar dan menyusuri koridor yang berpendar di bawah lampu-lampu yang tengah dinyalakan oleh para pelayan satu per satu..

Ayam istana itu tengah meringkuk di bawah pohon delima. Ketika langit mulai gelap, satu per satu bintang mulai menampakkan diri. Ia pun teringat pada si tukang cerita dan kisahnya mengenai Estar. Tentang mimpi-mimpinya yang membakar diri bermiliar-miliar tahun. Di hadapan yang tak terhingga itu, tak ada artinya semua ini. Semua ketakutannya bukanlah apa-apa. Dari satu sudut di luar sana, ini semua cuma debu.

Si algojo yang berdiri di depan kamar raja menatapnya. Ia memberikan tatapan yang diberikan anak laki-laki bernomor 19 itu kepadanya. Apa yang mereka lakukan setelah si tukang cerita meninggalkan mereka Ia tahu, si tukang cerita tak cukup murah hati untuk memberi mereka tempat dalam keretanya dan membawa mereka ke matahari.

Tepat di depan pintu, Syahrazad menghentikan langkah. Ia teringat pada salah satu kisah tentang mengapa malam-malam itu digulung. Tentang mengapa istana itu memiliki celah yang terbuka menghadap langit. Seseorang harus memberitahu anak-anak itu, cara membuka gulungan malam. Membiarkan malam-malam yang runjung itu kembali membentang.

Salah satu pelayan membukakan pintu kamar bagi Syahrazad. Di samping tempat tidur, raja duduk di atas kursi. Dalam kamar beraroma kesturi, ia bersiap menyimak cerita dari Syahrazad, yang ke seribu satu.