"Hari ini pulang kerja langsung ke rumah sakit lagi, Ka Lo nginep di sana lagi" tanya Danu, saat mereka menunggu Metromini di halte sepulang sekolah.
Anka mengangguk pelan, matanya tetap menekuri buku paket Kimia yang coba ia pahami di tengah bisingnya suasana jalan raya.
"Sesekali tidur di rumah aja, Ka. Di rumah sakit kan lo nggak bisa istirahat dengan nyaman.
Tambah lagi sekarang lagi musim ulangan, lo mana bisa konsentrasi belajar"
"Gue juga penginnya bisa istirahat di tempat yang nyaman, Nu. Tapi mau gimana lagi, Ibu kan nggak ada yang jaga... Lagian gue juga udah biasa kayak gini." Anka buru-buru memasukkan buku paket Kimia ke ranselnya, lalu bangun dari tempat duduknya saat melihat Metromini di kejauhan. Danu berdiri menjajari Anka.
"Lo mau ke mana, Nu"
"Gue mau... eh, mau ke rumah temen!" jawab Danu asal.
Anka mendengus mendengar jawaban Danu. "Temen yang mana lagi Kemarin waktu lo bareng sama gue juga mau ke rumah temen, masa tiap hari Udah, lo nggak usah cari alesan lagi deh buat nemenin gue ke tempat kerja. Gue udah biasa kok jalan sendiri."
Danu gelagapan, tidak bisa menjawab. Benar kata Anka, ia memang selalu mencari alasan agar bisa mengawal Anka berdesakan di Metromini setiap kali berangkat kerja.
"Nggak usah kayak gitu, Nu. Gue bisa sendiri kok. Gue takut manja kalo lo terus ada baut gue. Selain gue kan lo masih punya banyak temen lain. Mereka mungkin kehilangan lo, karena lo lebih sering sama gue."
Danu membuka mulut, siap memprotes dan menyanggah semua ucapan Anka, tapi Metromini yang akan dinaiki Anka sudah menepi di depan mereka.
"Gue jalan dulu ya, Nu. Lo nggak usah jemput, gue bisa pulang sendiri!" seru Anka.
Sosok Anka hilang di antara penumpang Metromini yang berjejalan, membuat Danu tidak punya kesempatan mengatakan apa pun.
***
"Mar, kamu punya CD kosong nggak Aku mau mindahin data, tapi flashdisc-ku ketinggalan di rumah," tanya Cakka, teman sekantor Damara.
"Ambil aja di laci," jawab Damara tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya.
Cakka menunduk, membuka laci meja kerja Damara.
"Eh, ini bungkusan apa, Mar" tanya Cakka seraya mengeluarkan kotak kecil terbungkus rapi. "Kamu ulang tahun, ya"
"Nggak, ini bukan apa-apa..." Damara segera mengambil kotak tersebut dari tangan Cakka dan memasukkannya kembali ke laci.
"Wah, pasti ada apa-apanya tuh! Kamu sampe salah tingkah begitu... Kado dari cewek ya, Mar Siapa sih, Mar, klien ya Jangan-jangan dari Imelda"
"Udah, udah... balik sana ke ruanganmu. Aku lagi banyak kerjaan nih," sergah Damara.
"Ah, belagu kamu, Mar," cibir Cakka, "mentang-mentang dapet klien cantik!"
"Sirik ya Gara-gara kamu cuma dapat klien ibu-ibu yang ngeributin harta gono-gini sama suaminya melulu" ledek Damara.
"Ya namanya juga nasib, Mar. Kalau wajahku kayak kamu, pasti aku dapat klien model sekelas
Imelda juga," kata Cakka setengah mengeluh. "Aku balik ke ruangan deh, thanks nih CD-nya." Damara mengangguk dan kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya di layar komputer, tapi sedikit interupsi yang dilakukan Cakka tadi sempat mengacaukan konsentrasinya. Damara membiarkan pikirannya sejenak terlepas dari pekerjaannya dan menjatuhkan pandangan ke laci meja. Tangannya terulur menarik laci dan mengambil kotak hadiah yang tadi ia coba sembunyikan dari Cakka.
Seperti tebakan Cakka, kotak hadiah itu memang dari Imelda, tadi siang kurir suruhan Imelda yang mengantarkannya. Damara sendiri kurang paham mengapa Imelda merasa perlu memberikan hadiah dasi bermerek lengkap dengan penjepitnya. Di kartu yang ditemukan Damara di dalam kotak, Imelda hanya menuliskan kalimat singkat, "Terima kasih untuk semuanya."
Damara kembali memasukkan kotak hadiah itu ke laci. Bangun dari tempat duduknya dan melangkah ke arah dinding kaca di ruang kerjanya, Damara mendongak menatap langit, seakan ingin mengalihkan semua kelelahannya.
***
"Maaf, saya tidak bisa menerimanya. Hadiah ini terlalu mahal bagi saya." Damara menyodorkan paper bag yang diletakkannya di atas meja kafe ke arah Imelda yang duduk di depannya. Paper bag itu berisi hadiah yang dikirimkan Imelda. Damara memutuskan mengembalikannya pada Imelda.
"Kenapa bisa begitu Ini semata-mata tanda terima kasih karena Anda sudah membantu saya malam itu. Harganya tidak seberapa dibanding bantuan Anda," sanggah Imelda.
Damara tersenyum kecil mendengar ucapan Imelda, dan sepenuhnya bisa memahami pemikiran wanita itu. "Saya sangat menghargai niat baik Anda, tapi saya tidak mengharapkan imbalan apa pun untuk semua yang saya lakukan."
"Intinya Anda nggak mau terima niat baik saya, kan"
"Bukan begitu, saya hanya tidak bisa menerima barang-barang berharga ini."
Imelda mengambil kotak dari dalam paper bag dan mengeluarkan isinya. Di luar dugaan, ia berjalan mendekati Damara dan melepaskan dasi yang sedang dipakai Damara. Dengan cekatan, Imelda memasangkan dasi yang dihadiahkannya ke kerah kemeja Damara.
"Nah, begini kan terlihat labih baik dari yang tadi," kata Imelda seraya tersenyum lebar, lalu ia memasangkan penjepit pada dasi yang baru dipakaikannya pada Damara. "Sempurna..."
Damara menatap heran pada Imelda, terkejut akan aksi Imelda yang tiba-tiba. Damara berniat melepaskan dasi yang baru saja dipakaikan Imelda, tapi Imelda mencekal tangannya.
"Memakai dasi itu tidak akan mengusik harga diri Anda di depan saya," kata Imelda.
Damara tidak lagi membantah, senyum sempurna yang menghiasi wajah Imelda membuatnya menurut seakan terhipnotis.
"Terima kasih, Anda bersedia menerima maksud baik saya," pungkas Imelda sebelum kembali ke kursinya.
***
"Nu, lo dipanggil Pak Kusuma," beritahu Andro, saat baru saja kembali dari kantin.
"Ngapain Pak Kusuma manggil gue ya" tanya Danu heran, seraya menutup buku paket bahasa Prancis yang sedang dibacanya.
"Mana gue tau... Lo samperin aja sono," jawab Andro tak acuh. "Eh, pinjem PR bahasa Jepang lo ya, gue lupa ngerjain nih." Tanpa menunggu persetujuan Danu, Andro mengeluarkan sendiri buku PR dari tas Danu. Sementara Danu masih bertanya-tanya dalam hati, ada apa guru bahasa Indonesia memanggilnya.
***
Danu keluar dari ruangan Pak Kusuma. Banyak hal yang dipikirkannya setelah pembicaraan yang lumayan panjang dengan guru bahasa itu. Ulah Andro yang membuat puisinya tayang di mading sekolah membawa cerita baru. Dan apa yang didengarnya dari Pak Kusuma, guru bahasa Indonesia, entah dengan cara ajaib macam apa puisinya dinobatkan sebagai salah satu nominasi penghargaan sastra.
Tanpa sepengetahuan Danu, Pak Kusuma mendaftarkan puisinya untuk mengikuti ajang tahunan tersebut. Dengan tak terduga, puisi karya Danu bertahan dalam 10 Nominasi Puisi Terbaik karya Penulis Muda. Ini jelas di luar dugaan dan sangat mencengangkan sebenarnya untuk Danu, sebab saat menulis puisi itu ia tidak punya pikiran bahkan harapan untuk mendapat pencapaian setinggi ini.
"Kenapa Pak Kusuma manggil lo, Nu Nilai lo turun ya" Andro memberondong dengan pertanyaan saat Danu kembali ke kelas.
Danu tidak menjawab. Ia mendudukkan diri di bangkunya, bingung harus mulai menjelaskan dari mana.
"Kok malah jadi diem Lo nggak ada masalah apa-apa, kan"
Setelah menghela napas, pelan-pelan Danu mulai menceritakan kabar yang barusan didengarnya dari Pak Kusuma.
Berbagai ekspresi terkejut, takjub, dan tidak percaya ditunjukkan Andro saat mendengar cerita
Danu. "Gila! Lo hoki banget tuh, Nu... Lo harus terima kasih tuh sama gue!"
"Hoki apaan Gue aja belum tahu itu termasuk hoki apa bukan," kata Danu datar.
"Ya hokilah! Bego banget sih lo. Kalau tuh puisi udah jadi nominasi di ajang penghargaan sastra, berarti puisi lo oke banget... Gila nih, nggak kebayang temen gue bakal jadi pujangga..." Pandangan Andro tiba-tiba menerawang, seakan ia sedang membayangkan Danu duduk di padang rumput hijau dengan penampilan khas seniman klasik sedang mencoba merangkai kata menjadi puisi indah.
Danu menoyor kepala Andro, membuyarkan apa saja yang mungkin dibayangkan otak udang itu. "Kebanyakan mengkhayal lo. Mana buku PR gue, udah selesai nyontek belum"
"Sialan lo, noyor-noyor kepala gue. Emak gue aja yang ngasih makan gue nggak pernah noyor, songong lo sama yang lebih tua..."
"Alah, cuma lebih tua tiga bulan aja ribet lo."
"Biar cuma tiga bulan, tetap aja gue lebih tua dari lo," gerutu Andro.
Seraya menertawakan Andro, Danu kembali memikirkan ajang penghargaan yang disebut-sebut bergengsi oleh gurunya. Masih terlalu bingung untuk mengartikan apakah kabar yang didengarnya akan membawa sesuatu yang baik atau tidak untuknya.
***
Imelda duduk menghadap kaca besar di ruang makeup, bersiap-siap melakukan peragaan busana di sebuah hotel bintang lima ternama di Jakarta. Wajahnya dalam pantulan cermin tak henti-hentinya mengguratkan senyum.
"Kenapa sih, cin, dari tadi akika perhatiin yey mesem-mesem mulu" tanya makeup artis yang biasa memoles wajah Imelda sebelum berjalan di catwalk.
"Mau tahu aja deh," jawab Imelda masih dengan wajah semringah.
"Segitunya... oke deh ditelen sendiri aja bahagianya kalo nggak mau bagi-bagi!"
Si makeup artis nyentrik yang lebih suka dipanggil Ferra meski nama aslinya Ferry manyun seraya melanjutkan pekerjaannya. Sementara Imelda, yang seperti kata Ferra, menyimpan sendiri alasan yang membuatnya begitu bahagia kembali mengulas senyum. Bayangan ekspresi wajah Damara saat ia memakaikan dasi pemberiannya menambah lebar senyum yang tersungging di wajah cantiknya.
***
"Ka, sebelum pulang kamu bisa tolong antar delivery order buat kantor atas, kan" tanya Rio, saat Anka keluar dari ruang karyawan bersiap untuk pulang.
"Oh, bisa, Mas... diantar ke kantor mana"
"Ke kantor Damara, dia pesan cappucino sama tuna sandwich."
"Kak Damara masih ada di kantor" tanya Anka heran sambil melihat jam tangan yang dipakainya.
"Katanya dia lembur malam ini... kamu cepat antar pesanannya, kasihan dia udah nunggu lama."
"Iya, Mas." Anka menenteng pesanan Damara yang diberikan Rio padanya, berjalan keluar kafe menuju kantor Damara.
Kantor Damara sudah sepi saat Anka tiba di lantai tiga. Hanya ada seorang security yang duduk di balik meja resepsionis. Setelah permisi dan menanyakan letak ruang kerja Damara pada sang security, Anka masuk ke kantor Damara. Sudah tidak ada siapa-siapa di dalam, hampir semua lampu di ruang kerja sudah dipadamkan. Hanya ada satu lampu ruang kerja yang masih menyala. Yakin bahwa ruangan itu adalah ruang kerja Damara, Anka mempercepat langkahnya.
Damara terlihat serius di depan laptop-nya, pandangannya fokus tertuju ke layar laptop yang entah menampilkan apa.
Anka mengetuk pintu ruang kerja Damara yang memang terbuka, menginterupsi Damara dari keseriusannya.
"Permisi, Kak, saya ke sini mau antar pesanan Kakak."
"Hai, Anka... Masuk, Ka..." Damara bangun dari kursinya dan berjalan menghampiri Anka. "Kamu belum pulang"
"Ini baru mau pulang, Kak. Tadi Mas Rio minta tolong saya untuk antar pesanan Kakak sebelum pulang."
"Sori ya bikin kamu repot," kata Damara sambil menyambut pesanannya dari tangan Anka.
"Kak Damara lembur ya" tanya Anka.
"Sebenarnya nggak lembur sih, cuma ada sedikit pekerjaan yang belum selesai, sebentar lagi juga beres."
Anka mengangguk mengerti, matanya menebarkan pandangan ke seluruh ruang kerja Damara. Ruang kerja yang menurut Danu menjadi rumah kedua bagi Damara, karena Damara lebih sering tidur di kantor ketimbang di rumah.
"Kamu pulang ke rumah atau ke rumah sakit, Ka" tanya Damara sambil menyeruput cappucino-nya.
"Saya pulang ke rumah, Kak. Kelupaan bawa seragam sekolah," jelas Anka.
"Kalau gitu kita pulang bareng aja. Sebentar lagi kerjaan Kakak selesai kok."
"Saya bisa pulang sendiri, Kak, kalau Kakak masih banyak kerjaan."
"Nggak, nggak... sebentar lagi selesai kok. Lagi pula ini sudah terlalu malam kalau kamu pulang sendiri. Pokoknya kamu tunggu di sini aja, kita pulang sama-sama," tandas Damara.
Mengabaikan rasa tidak enaknya, Anka duduk di sofa yang tersedia di ruang kerja Damara, sementara Damara kembali ke meja kerjanya. Anka menyandarkan tubuh lelahnya ke sofa empuk yang didudukinya, melepas lelah sesaat selama menunggu Damara.
***
Damara menutup laptop-nya, sudah selesai menuntaskan pekerjaannya. Ia memasukkan beberapa barang ke tas kerjanya sebelum beranjak. Damara tersenyum melihat Anka yang duduk tertidur di sofa. Ia menghampiri Anka dan duduk di samping gadis yang sepertinya tertidur begitu nyenyak. Gadis ini pasti sangat lelah menjalani semuanya. Ia masih terlalu muda untuk menanggung semua hal berat dalam kehidupannya. Wajahnya yang begitu polos harusnya masih diliputi senyum ceria khas remaja tanpa harus terbebani cobaan yang begitu berat.
"Anka... Bangun, Ka, kita harus pulang," kata Damara membangunkan Anka hati-hati.
Anka menggeliat, membuka matanya, lalu tersentak kaget saat melihat Damara duduk di sampingnya.
"Ma-maaf, Kak... saya ketiduran," kata Anka segera menegakkan posisi duduknya.
"Nggak apa-apa. Kamu pasti kecapekan. Ya sudah, kita pulang sekarang supaya kamu bisa segera istirahat."
Mereka sampai rumah tepat pukul sebelas malam. Danu keluar dari kamarnya saat mendengar suara pintu terbuka dan langsung menghampiri mereka berdua dengan tatapan heran.
"Kok lo bisa bareng Kak Damara, Ka" Sedetik kemudian berpaling pada Damara menanyakan hal yang sama. "Kak Damara kenapa bisa pulang bareng Anka"
"Tadi Anka nemenin Kakak lembur, jadi kita pulang sama-sama," jawab Damara santai.
"Nemenin lembur gimana maksudnya"
"Tadi gue nganter pesanan ke kantor Kak Damara, terus sekalian nungguin Kak Damara lembur biar sekalian nebeng pulang," jelas Anka ekspresi ngantuk berat.
"Oh, gitu... Tadi lo SMS bilang sama gue mau pulang ke rumah sakit, kan"
"Nggak jadi," jawab Anka sekenanya, mulai jengah dengan pertanyaan Danu.
"Udahlah, Nu, nggak usah banyak nanya, kasihan Anka tuh, dia udah ngantuk berat. Biar dia masuk kamar supaya bisa istirahat."
Danu diam. Kata-kata Damara menghentikan keingintahuannya.
"Saya masuk kamar dulu ya, Kak. Nu, gue tidur dulu ya, besok gue baru cerita sama lo," pamit Anka sebelum berjalan meninggalkan Damara dan Danu.
Anka sebenarnya tidak bermaksud mengabaikan Danu, ia hanya terlalu lelah untuk menjawab semua hal sepele yang ditanyakan Danu barusan. Ia harus segera tidur agar punya cukup tenaga untuk kembali menjalani aktivitas yang begitu menguras tenaganya.
* * *
"Lo nggak sengaja aja udah mau dapat penghargaan, gimana kalo lo bikinnya serius!" - Anka