NIKEN DAN PANDU - 11
Surat pembatalan skors Pandu sudah ada di tangannya. Nanti siang dia akan menyampaikannya sendiri ke rumah Pandu.

Seharian ini dia sama sekali tidak bisa konsentrasi ke pelajaran. Apalagi kalau menyadari bangku kosong Pandu di sebelahnya. Jadi kangen sama Pandu. Kangen celotehnya, candanya yang ceplas-ceplos. Baru sehari Pandu tidak masuk sudah kangen. Bagaimana jadinya kalau sampai seminggu. Bu Tanti yang lagi menjelaskan 'Mitosis' nggak menarik lagi buatnya. Lagu "Fallen" yang didengarnya tadi pagi di radio terngiang-ngiang terus di telinganya.

I can't believe it...

You're a dream coming true

I can't believe how

I have fallen for you And I was not looking, was content to remain

And it's ironic

To be back in the game

You are the one who's led me to the sun

How could I know that I was lost without you

And I want to tell you

You control my brain

And you should know that

You are life in my veins

"Niken!" suara Bu Tanti mengagetkannya.

"Ya Bu"

"Kamu belum menjawab pertanyaan saya."

"Mati aku!" seru Niken dalam hati. "Tanya apa sih dia, aku koq nggak denger sama sekali" bisik Niken ke Memed, yang duduk di depannya. Memed nggak dengar-dengar.

"Maaf, Bu, saya tadi tidak mendengar, mohon diulangi lagi pertanyaannya." akhirnya Niken harus mengakui ketuliannya.

"Saya tadi tanya, kamu sedang memikirkan sebelah kamu yang hilang ya" tanya Bu Tanti sambil tersenyum geli.

Sekelas langsung riuh-rendah. Waktu Bu Tanti tanya pertama kali tadi, mereka sudah cekikikan. Eh, Niken malah pakai acara tanya lagi. Dua kali ketawa, deh. Niken memang konyol.

Biarkan saja. Baru kali ini jatuh cinta, sih. Mohon maklum, saudara-saudara. Pandu sedang suntuk sendirian di kamarnya. Acara radio tidak ada yang menarik. Lagu-lagu yang diputar lagu cengeng semua. "Talk show murahan yang sering diadakan beberapa stasiun radio benar-benar membuat perut mulas",

gerutu Pandu sambil mematikan radionya. Kamar dikuncinya dari dalam. Ibunya sudah memanggil-manggil sejak setengah jam yang lalu untuk makan siang, tapi dia selalu menjawab belum lapar. Memang belum lapar, koq. Di ranjangnya tersebar foto-foto Niken. Iya. Foto Niken waktu acara ulang tahun ibunya. Baru saja diafdruk, selesai kemarin sore. Ditatapnya sekali lagi salah satu foto di mana Niken terlihat jelas. Niken dengan senyumnya yang manis. Dia kelihatan feminin sekali. Semakin lama melihat fotonya, dia semakin suka. Semakin batinnya tersiksa. "Aaaah, Fei Fei. kenapa kamu begini mempesona"

"Hey, suara apa itu" pikir Pandu dalam hati. Ada yang bermain piano. Seingat Pandu, di rumah ini tidak ada yang bisa main piano selain dirinya sendiri. "Siapa pula yang main piano" Tertarik, dia lalu keluar kamar, menuju ke ruang tengah.

Alangkah terkejutnya Pandu melihat Niken sedang asyik memainkan jari-jemarinya yang lentik di piano usang miliknya. Niken pun mulai menyanyi.

I only see things black and white, never shades of grey

My eyes don't work that way, no.

I can't imagine fantasies, they never cross my mind

Could be why I'm lonely time to time

Only you, if only you could reach me now

Can you teach me how

Teach me how to dream, help me make a wish If I wish for you, will you make my wish come true I'm a stranger here, stranger than it may seem Take me by the heart. Teach me how to dream

You lift me up and give me hope every single day I never dream that I could feel this way When I'm down I know where I'm gonna turn Oh, I've got so much to learn...

When I turn out the light, I turn to you for my inspiration

As long as we're together, you and me, we're gonna dream forever...

Pandu menunggu dengan sabar sampai Niken selesai memainkan seluruh lagu, baru dia mendekatinya. "Kamu. ngapain sih ke mari Katanya nggak boleh ke sini lagi"

"Aku bilang mau ke rumah Wulan." jawab Niken. "Aku ada hal penting yang harus aku katakan langsung padamu." Niken lalu menelan ludahnya. "Pandu,... rasanya... aku.. juga sayang kamu...

"

Pandu tidak semudah itu percaya kata-kata Niken. Dia tersenyum, lalu menggeleng-geleng.

"Jebakan apa lagi nih" tanyanya.

"Lho Bagaimana sih Nih, aku bawa surat dari kepala sekolah. Surat pembatalan skorsmu. Aku berhasil buktikan bahwa Jimmy biang keladinya. Dia diskors tiga minggu, Ndu. Tiga minggu!" kata Niken jingkrak-jingkrak kegirangan.

"Koq bisa" Pandu masih terheran-heran sambil membaca surat yang dibawa Niken.

"Nikeeenn. detektif ulung" kata Niken bangga. "Makasih Fei." kata Pandu kemudian. "Tapi aku tidak mengharapkan terima kasih. Aku pengen kamu minta maaf." kata Niken pasang tampang serius.

"Salah apa lagi aku sekarang" tanya Pandu.

"Kamu sudah berikan perasaan asing yang aneh yang aku nggak pernah rasakan sebelumnya.

Aku nggak tau cara mengontrolnya."

"Kalau kamu bilang itu kesalahan, rasanya itu kesalahan bersama, Fei. Kamu juga berikan perasaan yang sama duluan ke aku. Jadi aku nggak perlu minta maaf, kecuali kamu minta maaf dulu ke aku." kata Pandu tersenyum.

"Aku takut, Ndu." kata Niken sambil menundukkan kepalanya.

Pandu lalu lebih mendekat sampai bisa memegang dagu mungil Niken.

Diangkatnya wajah Niken pelan-pelan dengan tangannya.

"Yang kamu bilang tadi.. kamu... serius mencintaiku, Fei"

Niken mengangguk pelan, berusaha menunduk lagi. Pandu cepat-cepat mengangkat wajah Niken lagi.

"Kalau begitu kamu nggak perlu takut, Fei. Yang kita rasakan ini sesuatu yang teramat indah. Aku nggak takut. Fei, apapun yang terjadi, aku nggak akan pernah berhenti mencintaimu. Aku nggak akan pernah menyerah. Percayalah." Niken menatap mata elang Pandu yang menyorot tegas. Ada keteduhan di sana. Dia yakin, seandainya dia ditakdirkan untuk mencintai satu orang saja di dunia ini, dia tidak akan pernah menyesal memilih Pandu.

"Aku percaya koq. Kalo nggak percaya, aku nggak mungkin datang kemari hari ini. Oh iya, Ndu. Berhubung aku belum pernah jatuh cinta, bahkan tadinya aku tidak pernah bermaksud untuk jatuh cinta, ini semua terjadi begitu saja di luar kendaliku, pasti aku bakal berbuat banyak kesalahan. Aku mungkin orang yang paling bodoh tentang hal-hal yang berkaitan dengan perasaan. Kalo aku salah, tolong jangan marah, ya."

Pandu tersenyum lebar. "Gadis bodoh. Aku juga belum pernah jatuh cinta. Kita belajar samasama. Cuma satu langkah awal yang harus kamu ingat. Jangan tutup pintu hatimu. Maka segalanya akan berjalan dengan natural, asal kamu mengikuti kata hatimu."

"Ndu, kamu bisa jelasin, bagaimana aku bisa jatuh cinta sama kamu" tanya Niken.

"Koq kamu malah tanya aku Aku juga heran. Masuk akal buat aku untuk jatuh cinta sama kamu. Tapi kamu jatuh cinta sama aku Suatu hal yang aku pikir tadinya impossible. Aku seperti mimpi saja."

"Hey Kenapa masuk akal buat kamu untuk jatuh cinta sama aku, tapi nggak buat aku" tanya Niken heran.

"Karena kamu punya pendirian yang kukuh, bahwa seumur idup kamu gak bakal jatuh cinta. Rasanya itu sudah harga mati yang gak bisa ditawar-tawar lagi. Sedangkan aku memang dari kecil punya impian untuk menemukan cinta sejatiku. Seperti Sang Pangeran di cerita Cinderella." "Yep. Salah satu cerita yang aku paling benci." kata Niken.

"Lho Semua orang suka Cinderella. Baru kali ini aku denger ada orang benci Cinderella.

Emangnya kenapa" Pandu menyatakan keheranannya. "Keenakan pangerannya. Masa' dia boleh milih dari sekian banyak cewek se-kerajaannya untuk dijadiin istri Wah, kalo aku hidup di jaman itu, pasti aku boikot nggak mau datang. Enak saja. Kayak mau beli baju aja. Dicobacoba dulu, dansa-dansa dulu. Makanya aku gak suka cerita model-model seperti itu. Kayak cerita Ande-ande lumut. Wah. Itu juga pelanggaran hak asasi wanita tuh!" Niken protes.

"Hmm... kalo aku pangerannya, dan kamu Cinderella-nya, biar kamu boikot nggak mau datang pun aku akan cari kamu sampe dapat." kata Pandu sambil ketawa. Mau tak mau Niken jadi tersipu-sipu mendengar kalimat Pandu barusan.

Lalu dia meneruskan, "Gini lho, moral cerita Cinderella itu, dari sekian banyak cewek cantik yang bisa saja dipilih Pangeran, Pangeran cuma milih Cinderella, atas dasar cinta. Hampir sama moral ceritanya dengan Ande-ande Lumut." Pandu mencoba menjelaskan. Dia tidak terima begitu saja cerita Cinderella-nya diprotes oleh Niken.

Niken masih kurang puas. "Ya, tapi kan nggak perlu pake cara seperti itu. Lihat cerita Putri Salju. Pangerannya yang datang ke hutan, mencari-cari Putri Salju, mencari cintanya. Itu baru namanya cinta sejati." "Hmm. tapi kayaknya kamu lebih cocok jadi Cinderella." kata Pandu.

"Kenapa"

"Karena ukuran kaki kamu kecil sekali. Pangeran jadi mudah mencarimu." kata Pandu sambil tertawa lepas.

"Tapi kamu nggak cocok tuh jadi pangerannya."

"Kenapa" Pandu curiga, Niken pasti bermaksud membalas ejekannya.

"Karena kamu lebih cocok jadi tikus dapur. Nakal, usil, licik, bau lagi!" Niken gantian yang tertawa terbahak-bahak.

"Tertawanya berhenti dulu... " Ibu Pandu menengahi. "Pandu belum makan siang tuh. Dari tadi disuruh makan jawabannya 'ogaaah' melulu" lanjut Ibu Pandu.

"Oh iya. Sampe lupa nggak tanya. Kalo belum makan, makan di sini saja, Fei." kata Pandu menawarkan.

"Tapi Ibu cuma masak kering tempe lho." Ibu Pandu setengah berbisik.

"Niken juga belum makan, sih. Niken tapi belum pernah makan kering tempe. Sering dengar, tapi belum pernah makan."

"Kalau lapar ya makan saja dulu. Siapa tau suka." kata Ibu Pandu.

"Wah, Bu. Mestinya jangan ditawari. Niken itu apa-apa suka. Ngabis-ngabisi malah, kalo udah suka." ledek Pandu.

"Nggak papa diabisin kalo suka ya malah bagus" kata Ibu Pandu. Niken cuma mesam-mesem sambil bilang terima kasih.

Setelah secicip, ternyata Niken suka sekali kering tempe. Entah karena Ibu Pandu yang jago masak, atau karena memang pada dasarnya Niken rakus, pokoknya yang jelas siang itu Niken makan kenyang.

"Pandu. tunggu dong!" teriak Ratna menyusul Pandu yang sedang berjalan membarengi Niken ke kantin saat istirahat pertama.

Mereka berdua berhenti dan menoleh.

"Ada apa, Ratna" tanya Pandu setelah dekat.

"Besok aku ada ulangan matematika lagi. Ulangan yang lalu aku dapet jelek. Tolong dong, Pandu." rengek Ratna manja.

"Sudah dua kali ulangan matematika ini kamu dapat jelek, Ratna. Aku bukannya nggak mau menolong, tapi apa gunanya pertolonganku kalo kamu tetap saja dapat nilai jelek" tanya Pandu.

"Aku nggak punya orang lain yang sanggup membantu aku. Please." "Ratna, tujuan kamu minta tolong aku kan supaya dapet bagus, ya kan Aku sudah berusaha semampuku untuk mengajari kamu, tapi nyatanya nggak ada hasilnya koq. Ini mungkin salahku, aku yang nggak sanggup mengajari kamu, Ratna." jawab Pandu.

"Ayo, dong. Aku berjanji akan lebih berkonsentrasi. Bagaimana" "Kamu minta tolong Bu Lidya, guru matematika-mu, deh. Mungkin dia punya solusi yang lebih baik buat kamu. Siapa tahu dia mau meluangkan waktu untuk mengajari kamu" saran Pandu.

"Nggak mau. Bu Lidya galak dan benci sama aku. Dia kasih nilai jelek terus. Tolong aku, dong Pandu." rengek Ratna lagi.

"Tolongin dia, lah, Ndu." jawab Niken yang jadi jengah melihat Ratna merengek melulu.

"Aku bukannya nggak mau menolong, Niken. Tapi aku merasa usahaku bantuin dia selama ini nggak ada hasilnya." keluh Pandu.

Setelah diam sesaat, Pandu berkata lagi, "Aku ada jalan lain. Niken juga pandai matematika. Siang ini kamu ada acara apa, Niken" tanya Pandu.