SEDUCING CINDERELLA - 11
Lucie menatap pintu apartemen 3C nya, mempelajari setiap nuansa kuningan yang memudar dan lubang intip di bawahnya...Dan mengulur-ulur waktu seperti gadis perawan pada malam prom yang akan berlangsung lima menit lagi.

Pada awalnya dia tak tahu kenapa dia begitu gugup. Dia jelas tidak gugup saat Reid menyentuhnya. Tidak, tapi itu seperti api murni, hasrat tak terkendali yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Jadi yang harus dilakukan olehnya hanyalah berada dalam pelukan Reid, dan dia akan baik-baik saja.

Dia memutar handle pintu dan memasuki apartemennya. Sebuah lampu kecil dengan bayangan berwarna keunguan di atas meja di dekat pintu memberikan kehangatan dan kesan sensual ke dalam sebuah ruangan kecil di sebelah kanan. Dia baru menyadari iPodnya terhubung ke satu set speaker kecil di ujung meja, memainkan lagu pelan dan seksi yang tidak diragukan lagi bahwa seluruh lagu yang dimainkannya akan seperti itu.

"Disini, Lu."

Dia meluncur dari sandalnya dan selanjutnya berjalan ke dalam sebuah ruangan, mencari Reid. Suaranya, lebih kecil daripada biasanya, berasal dari ruang tamu, tapi dia tidak melihatnya dimanapun. Perutnya menegang menjadi sebuah simpul yang mungkin akan mencekik sesuatu yang beterbangan di dalam sana. Persetan kupu-kupu (sensasi gelisah di dalam perut seseorang yang dirasakan ketika bersama orang yang menakjubkan). Ini pasti burung kolibri. Terbang dengan kecepatan penuh.

Memutari sofa, dia akhirnya menemukan Reid duduk di atas lantai tanpa berpakaian tapi hanya mengenakan celana pendek atletik putih, satu kaki terentang di depannya dan lainnya dilipat dengan lengannya bertumpu di lututnya. Dia meletakkan bantal lantai besar yang biasanya ditumpuk di sudut dan melengkapinya dengan bantal dekorasi dari sofa dan dari tempat tidur. Itu terlihat seperti lantai seorang sheik dengan selera yang buruk dalam design interior, namun, itu juga penyusunan terseksi yang pernah ada.

Dalam satu gerakan yang mulus dia berdiri dan mengulurkan tangannya. Lucie menelan ludah dan menyeka tangannya pada pahanya jikalau tangannya mengeluarkan keringat yang fantastis, dan kemudian menempatkan jari-jarinya ke dalam tangan Reid. Dia menarik Lucie ke bagian tengah bersamanya tapi tidak menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Jarak diantar mereka tidak lebih dari dua inci, tapi itu terasa seperti di Grand Canyon.

Diangkatnya kepalanya, matanya bertatapan langsung dengan mata pria itu yang sedang menunduk untuk beradu pandang dengannya. Barulah Lucie menyadari, mungkin Reid menunggunya untuk mengambil langkah pertama, seperti bagaimana Lucie melakukannya di ruang fitness. Okay, tidak masalah. Yang perlu kau lakukan hanyalah memulai sesuatu, Lucie. Dia memejamkan matanya dan wajahnya lebih dinaikkan, menunggu saat bibirnya akan bertemu dengan bibir Reid, antisipasi mengalir melalu urat nadinya seperti obat bius...

Tapi tidak ada yang terjadi.

Membuka matanya, dia bertanya-tanya jika waktu entah bagaimana caranya telah berhenti. Reid tidak menggerakkan satu otot pun Otot-otot rahang Reid mengencang. Ya Tuhan, itu sangat seksi. Mengapa itu begitu seksi Dia bertanya-tanya apa artinya Reid melakukan itu. Jakcson selalu melakukannya ketika dia sedang murka. Apakah dia sedang murka

"Reid"

Pada awalnya dia tidak mengatakan apa-apa, tapi perlahan jarijarinya dinaikkan di atas bibirnya sekali, seakan menyatakan Reid tidak ingin Lucie bicara, lalu menarik jarinya pergi. Lucie mengerutkan dahinya. Dia tidak memahaminya.

Reid berjalan mengelilingi punggung Lucie, lagi sangat dekat tapi tidak menyentuhnya. Dia merasakan nafasnya di samping wajahnya ketika dia mencodongkan tubuhnya. Dan ketika sebuah jarinya menyusuri lengannya, dia bersumpah sebuah aliran listrik telah membakarnya. "Rayuan bukan tentang tindakan," kata Reid, menelusuri jarinya kembali menuju bahunya. "Ini tentang kendali. Aku dapat membuatmu melakukan semua tindakan itukau menanggalkan pakaianku, melakukan striptis, bahkan dapat membuatmu berlutut di depankudan selama aku yang memegang kendali situasinya, kamulah sebenarnya yang sedang dirayu."

Reid menyibakkan rambutnya hingga jatuh ke depan di satu sisi. Ya

Tuhan, Lucie ingin Reid menarik dirinya ke dalam tubuhnya, untuk merasakan dadanya yang menempel di bahu atasnya dan ereksinya terjepit disela-sela pantatnya.

"Buka kemeja, Lucie."

Meraih keliman kemejanya dengan kedua tangan, Lucie mengangkat tangannya, menarik melewati kepalanya, dan dilemparkannya ke sofa.

"Sekarang celananya."

Kancingnya dibuka dengan jarinya yang gemetar, menurunkan resleting ke bawah, dan membiarkan celananya jatuh ke lantai sebelum menendangnya. Yang tersisa di tubuhnya adalah bra berenda putih dan celana dalam thong yang sesuai.

Akhirnya Reid meletakkan lebih dari satu jari padanya dan merasakan ciuman yang ditempatkan pada tengkuknya setelah membuatnya berada di tepian dalam waktu lama, itu seperti sentakan nafsu yang ditembak langsung ke dalam dirinya. Ia tersentak sebagai bentuk respon dan mungkin sudah mengeluarkan erangan, dia tidak begitu yakin. Tubuhnya, otaknya, semuanya terasa sangat sadar, mengalami hubungan arus pendek yang semuanya terjadi dalam waktu yang sama.

Lututnya lunglai, tapi tangan yang kuat meraih pinggulnya, dan dia menarik punggungnya untuk menahannya stabil. "Shhh. Aku memegangmu. Aku ingin kau berbaring telungkup. Gunakan bantalbantal semaumu untuk membuat dirimu sendiri nyaman."

Dia membantu Lucie rebah dan ketika sudah beres, bergabung dengannya dengan merentangkan tubuh disamping dirinya. Dengan wajahnya berpaling kearah Reid ia belajar tentang intensitas yang ada di wajahnya saat Reid menggerakkan tangannya di punggung, pinggang, di atas gundukan dari pantatnya. Rahangnya menegang, membuat pipinya melekuk dengan setiap gerakan ototnya, dan mata cokelatnya di bawah lampu merah-biruan mengingatkannya akan warna menyala dari musim gugur.

"Sialan, Lu. Kapan kau mendapatkan pantat seperti ini"

Apakah ia harus menjawab pertanyaannya Dia tadi tidak ingin agar dirinya bicara jadi dia hanya mengartikan itu hanya pertanyaan retoris. Disamping itu, dia tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan yang diberikan padanya mengingat bagaimana otaknya telah berhenti begitu Reid menyentuhnya.

Lagipula semua pertanyaan dan jawaban menguap ketika jarinya yang besar menelusuri garis thongnya diantara pantat hingga mencapai segitiga tipis yang menutupi seksnya. Secara naluriah Lucie mengangkat pinggulnya, memberi Reid akses yang lebih baik. Ternyata tubuhnya mempunyai pikiran sendiri. Syukurlah mereka mempunyai pikiran yang sama dengannya.

"Persetan kau begitu basah." Sekarang dua jarinya mengelus kembali ke depan dan ke belakang lagi. Kemudian Reid memposisikan tubuh bagian atasnya diantara kedua kaki Lucie, yang menempatkan wajahnya di

Lucie terkesiap ketika Reid menggigit pantat kirinya. Tidak terlalu keras untuk menyakitinya, tapi cukup menyebabkan kejutan singkat sebelum Reid menciumnya agar lebih baik.

"Aku tak pernah melakukan itu sebelumnya," Kata Reid, "tapi ada sesuatu tentang pantatmu yang membuatku perlu untuk melahapnya. Apakah itu menganggumu"

"Tidak," kata Lucie, mengangkat pinggulnya dari bantal di bawahnya, permohonan tanpa kata untuk meminta lebih.

"Tidak," Reid setuju, meremas pantatnya yang lain telapak tangannya yang kasar. "Kurasa kau malah menikmatinya, bukankah begitu" Jari-jarinya dari salah satu tangannya kembali memijat lipatan bengkak saat tangan yang lain terus membelai dan meremas pantatnya dan yang Lucie inginkan adalah lebih banyak lagi.

Plak!

Jeritan tertahan muncul di udara sesaat setelah tangan Reid meninggalkan pantat Lucie. Sekali lagi, reaksi Lucie lebih kepada shock daripada sakit.

"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Lu." Menjawabnya Dia bahkan tidak dapat mengingat namanya sendiri pada saat ini, apalagi pertanyaan itu. Untunglah Reid mengulanginya. "Apakah kau suka apa yang kulakukan pada pantat indahmu ini"

"Ya," dia berseru diantara gigitan yang lain, yang satu ini lebih dekat ke lipatan pahanya. "Semua yang kau lakukan terasa sangat nikmat."

"Ini sesuatu yang sangat bagus, aku benar-benar menggigitmu cukup dalam untuk melihat tandaku di kulitmu, sayang."

Sebelum Lucie memiliki kesempatan memberi tanggapan, Reid memegang tali tipis yang mengikat pinggangnya di kedua tangan dan menariknya ke arah yang berlawanan, menghancurkan sutra itu menjadi dua. "Aku akan membelikanmu lebih banyak lagi." Dia tidak tahu mengapa, tapi ide bahwa Reid perlu mengganti celana dalamnya setiap kali dia merobek dari tubuhnya terlihat lucu. Dia terkikik. Sampai lidah Reid menyapu seksnya dalam alur yang hangat dan basah.

"Ohmigod."

Sekarang giliran Reid yang senang dan getaran dari bibirnya menggelitik kulit Lucie yang kaya saraf hingga dan memeras lebih banyak cairan saat organ dalamnya mengejang. "Berbaliklah jadi aku bisa melakukan ini dengan benar (senonoh)."

Lucie berguling ke belakang dan menatap ke atas seperti dia memegang dirinya sendiri. "Aku tak tahu kalau kata dengan 'benar' berfungsi dalam konteks ini. Kupikir kata keterangan yang kau cari adalah 'terlarang'."

"Kau benar. Terlarang jelas menggambarkan rencanaku untukmu. Tapi kau juga salah."

"Tentang apa"

"Masih ada cara yang tepat untuk melakukan tindakan terlarang." Dengan seringai nakal dan kilatan jahat di matanya Reid mengatakan. "Dan aku akan menunjukkan padamu dengan tepat apa yang kumaksud."

***

Reid meyerap reaksi polosnya seperti gurun yang lama menunggu hujan. Dia belum pernah bersama dengan siapa pun yang menyerupai Lucie. Dia selalu berkencan dengan gadis yang bersedia dan siap dan tahu apa yang mereka lakukan dan apa yang dia lakukan tentang: seks tanpa ikatan.

Lucie sangat menyegarkan dan begitu responsif. Dia sangat suka membuat Lucie tetap berada di tepian, selalu bertanya-tanya apa yang akan dilakukan selanjutnya, dan kemudian mengejutkannya dan bahkan kadang mengejutkan dirinya sendiridengan langkah selanjutnya.

Reid menurunkan dirinya sehingga sebagian tubuhnya menutupi tubuh Lucie, tapi masih cukup menahan diri hingga dia tidak meremukkan tubuhnya dengan berat badannya. Lucie seakan makhluk kecil mungil, halus dan lembut dan benar-benar cantik. Dia tidak bisa mengerti mengapa Lucie berpikir dirinya biasa saja.

Mata abu-abunya melembut diliputi oleh lingkaran berwarna arang menatapnya dengan pandangan nafsu tak terfokus yang merangsangnya. Dia menyisir pinggiran poninya ke samping dan melihat bintik kecil berbentuk hati. Dia menundukkan kepalanya dan menciumnya dan matanya menutup saat mendesah kemudian ciumannya bergeser ke arah mulutnya.

Menggunakan tekanan dia mendorongnya untuk membuka bibirnya dan menyapukan lidahnya untuk menemukan miliknya. Merasakan lidahnya menggeser dengannya, bergerak di atas dan di sekitar bibirnya saat mereka mengklaim satu sama lain adalah perasaan yang memabukkan. Tangan Lucie naik untuk membingkai tulang rusuknya dan ketika Reid menggoyangkan pinggangnya, menumbukkan kemaluannya terhadap tubuhnya, jari-jari Lucie menekan lebih dalam. Sengatan tajam dari kuku yang menggores kulitnya membangkitkan sesuatu yang sengit.

Bra Lucie yang berenda menekan puting susunya yang sensitif dan Reid mengerang saat mereka menegang oleh sensasinya. Meskipun begitu nikmat, Reid lebih memilih agar sensasi itu pergi. Mencapai punggung Lucie dengan satu tangan Reid ahli melepaskan kaitnya, menariknya dari depan, dan melucutinya di suatu tempat di belakang Reid saat Reid pertama kali melihat payudara telanjang Lucie.

"Luar biasa," Reid serak. Dan memang benar.

Payudaranya berukuran sempurna untuk tangannya; cukup kecil tapi kencang dan cukup besar untuk membentuk lengkungan yang membengkak pada bagian bawah karena beratnya. Hal pertama yang Reid pikirkan adalah perlu untuk membuat pahatan tentangnya. Reid telah menghabiskan banyak waktu untuk membuat segala sesuatunya menjadi tepat. Puting merah kehitaman yang mengkerut ketika Reid melingkarinya dengan ujung jarinya. Lekukan lembut dari tulang selangkanya yang halus ke ujung putingnya. kesempurnaan di bawahnya semakin bertambah dibawah tatapan Reid yang panas.

Tidak menyia-nyiakan sedetik pun Reid membungkuk untuk menempatkan ciuman basah di dasar payudaranya. Lucie melengkungkan punggungnya dan nafasnya semakin cepat. Dengan lidahnya Reid membuat gambar dengan pola malas, tapi berhati-hati menjauh dari pusatnya, membuat Lucie lebih dekat ke tepian sekali lagi. Setelah satu menit atau lebih Reid beringsut lebih dekat, sekarang menelusuri garis luar areola milik Lucie.

Lucie membuat suara frustasi dan mencengkram kepala Reid, mencoba mengarahkan Reid ke putingnya, tapi lagi-lagi Reid membuat Lucie menunggu. Meskipun Lucie tak pernah percaya padanya, menahan diri untuk mengambil payudaranya hampir sama menyiksa baginya. Akhirnya Reid membuka lebar dan menariknya sebanyak yang Reid bisa ke dalam mulutnya. Reid menyerang puting Lucie dengan lidahnya dan menghisapnya seperti milik Lucie adalah permen kesukaannya. Lucie menjerit dan melengkung ke arah Reid sampai punggungnya membungkuk. Akhirnya Reid menarik kepalanya mundur sampai puting Lucie dibebaskan dari bibir Reid dengan suara pop yang basah. Pucuk memerahnya yang mengencang memberikan Reid sensasi sama tingginya dengan memenangkan satu ronde di salah satu pertandingan dan memberinya motivasi yang sama untuk melakukannya lagi.

Reid mengulangi seluruh prosesnya di sisi yang lain, memuja payudara Lucie dengan mulutnya sementara tangannya berkeliaran di atas kulit selembut satinnya. Ketika Reid yakin memenangkan ronde kedua juga, Reid melepaskan payudara Lucie dan menuju ke lokasi penaklukan berikutnya.

Menegakkan tubuh di atas lututnya, Reid menggunakan tangannya untuk mendorong kaki Lucie terpisah. Daerah kewanitaannya yang merah muda berkilau oleh cairannya. Reid tak mampu menahan diri untuk memisahkan mereka dengan ibu jarinya untuk menatap sumbernya. Dia tidak pernah mempelajari seorang wanita seperti ini sebelumnya dan terkejut Reid benar-benar dapat melihat dindingdinding bagian dalam milik Lucie mengetat, sangat ingin menggenggam sesuatu di sana.

Menyeret tatapannya menjauh Reid melihat ada ekspresi malu di mata Lucie. "Kau sangat cantik. Tapi kau terlihat terlalu kosong." Menahan tatapannya Reid menyelipkan ibu jarinya ke dalam lubang kewanitaannya. "Ingin sesuatu untuk mengisimu"

Segera setelah Lucie memberikannya anggukan Reid menenggelamkan kedua ibu jarinya sedalam-dalamnya. Lucie menjerit saat pinggulnya terangkat dari bantal, tangannya mencengkram salah satu bantal dibawahnya. Respon Lucie mendorong api dari dalam diri Reid hingga intinya terasa mencair. Ketika Lucie menurunkan pinggulnya sekali lagi Reid menghadiahi Lucie dengan mendorong ibu jarinya, memberikan tekanan pada dinding-dinding bagian dalamnya dengan setiap gerakan mundurnya.

Dia melihat cairan kewanitaan Lucie keluar, menetes ke celah pantatnya dan sebuah rasa dahaga yang mendalam akan diri Lucie tiba-tiba membajirinya. Memposisikan tubuhnya lebih rendah, Reid mulai mencium paha bagian dalam Lucie.

"Jangan, kau tak perlu melakukan"

"Ya, aku perlu," jika Reid tidak menempatkan mulutnya pada kewanitaan Lucie pada menit berikutnya dia akan menjadi gila. "Aku harus melakukannya."

Sesaat sebelum Reid akan turun, tangan Lucie menangkup dagunya untuk mencegah Reid bergerak kemana-mana. "Jangan, maksudku adalah, itu tidak memberikan efek apapun untukku, jadi kau tak perlu melakukannya."

Reid butuh beberapa waktu untuk memproses apa yang Lucie katakan. Tidak memberikan efek apapun untuknya Entah mantan suaminya begitu buruk dalam urusan oral atautidak, Reid bahkan tidak akan menyelesaikan itu. Reid berani mempertaruhkan kontrak UFC-nya, bahwa pria itu memang begitu buruk.

Reid melingkari pergelangan tangan Lucie, menarik tangan Lucie dari wajahnya, memberikan ciuman di pergelangan tangan Lucie saat Reid menatap matanya. Reid membutuhkan Lucie untuk melihat kejujurannya ketika ia bicara. "Aku perlu merasakan milikmu, Lucie. Aku sangat ingin merasakan memilikimu ada di lidahku, di dalam mulutku. Dan aku jamin apa yang aku lakukan, aku berpengaruh besar untukmu."

Reid tidak memberikan kesempatan Lucie untuk berdebat dengannya. Reid membenamkan dan menjilat dari bawah sampai ke atas, menambahkan sedikit tekanan ketika Reid tiba di clit Lucie. Lucie menjerit dan pinggulnya mencoba melengkung, tapi Reid menahannya ditempat sehingga Lucie tak bisa mengacukan apa yang sudah jadi sasarannya. Miliknya terasa manis seperti madu. Reid merasa senang bisa menghabiskan waktunya diantara kedua kaki Lucie.

Di atas, mengelilingi dan langsung ke tengah, Reid mempertahankan lidahnya dalam gerakan konstan, menyelesaikannya dengan ciuman dan gigitan kecil. Reid memperhatikan setiap erangan, setiap rintihan, mempelajari apa yang Lucie suka dan apa yang mendorongnya jadi menggila.

Keringat menutupi tubuh Lucie, payudara Lucie naik turun dengan nafas pendeknya, Lucie melemparkan kepalanya ke belakang dan matanya erat tertutup. Lucie adalah sebuah pemandangan yang tak ada duanya, menggeliat dalam sebuah pergolakan gairah. Tapi ada sesuatu yang akan membuatnya menjadi lebih baik. Untuk mereka berdua.

"Lucie, sayang." Reid menunggu agar suara yang seraknya untuk menembus pikiran Lucie yang berkabut nafsu. Sesaat kemudian bulu matanya bergetar dan iris perak Lucie menatap ke arah Reid. "Angkat dirimu menyangga dengan sikumu. Aku ingin kau melihat apa yang ku lakukan pada vaginamu yang manis ini."

Perlahan Lucie melakukan apa yang Reid minta hingga Lucie menyangga tubuhnya. Dengan kakinya melengkung dan terbuka lebar dan pantatnya di atas bantal besar Lucie memiliki sudut pandang yang sempurna. Lucie telah dekat dengan tepian sebelum Reid menghentikannya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk membawa Lucie tepat disana dan menahannya tetap disana sampai Lucie memohon pada Reid untuk membawa Lucie ke sisi yang lain. Senyum nakal menjulang di sudut bibir Reid saat Reid sekali lagi tenggelam diantara dua kaki Lucie.

Kali ini Reid memastikan untuk menjaga kepalanya miring ke samping sehingga dia tidak menghalangi pandangan Lucie. Dengan ujung lidahnya, Reid menggoda bibir luar Lucie dengan beberapa belaian sebelum akhirnya membenamkan diri untuk menemukan inti yang bengkak yang telah Reid sapu dalam nafas yang tajam pada sentuhan pertama.

Menambahkan sensasinya Reid memasukkan jari telunjuk ke dalam vagina Lucie dan memompanya masuk dan keluar bersamaan saat lidahnya bergantian berputar-putar dan menjentik di atas klitoris Lucie. Mata Lucie seperti cairan perak di atas api. Nafas Lucie menjadi terengah melalui bibirnya yang terpisah.

"Oh, Tuhan...Reid." Lucie mulai menggoyangkan kepalanya. "Aku tidak bisaKau harus"

Hampir disana. Sangat dekat. Reid menambahkan jari yang lain dan mengerutkan bibir di atas clit-nya, memberikan denyut dalam hisapannya.

"Ah!" Pinggul Lucie bergerak, menggesekkan vaginanya terhadap wajah Reid, dan Reid tahu Lucie berada pada titik dimana dirinya tidak bisa mengendalikannya walaupun dia menginginkannya. Dia berada di tepi dari klimaks, tepat dimana Reid menginginkannya.

"Klimaks lah untukku, Lucie," perintah Reid. "Biarkan aku meminum madumu."

Reid meningkatkan kecepatan tangannya dengan mendorong jarijarinya, menikmati cairan yang melapisi jarinya. Mengunci bibirnya di atas sekumpulan saraf Reid memulai lagi dengan lidahnya. Beberapa detik kemudian, pada saat yang tepat, Reid perlahan menutup giginya di atasnya, akhirnya menarik Lucie masuk ke dalam jurang dimana tubuh Lucie hancur dan ia meneriakkan nama Reid ke surga.

Dinding dari selubungnya mencengkeram jari Reid saat Lucie turun dari klimaksnya, bersamaan menurunkan dirinya untuk berbaring di atas bantal. Sayangnya Reid sama sekali belum selesai dengan Lucie. Kejantanan Reid keras seperti palu dan Reid telah berniat menemukan pembebasannya di dalam tubuh Lucie. Dengan cepat menggapai ke sisi atas tubuhnya dan mengambil kondom yang sudah disiapkan dan menyelubungi miliknya sebelum Lucie bahkan tahu Reid telah bergerak.

"Lucie"

Lucie tetap menutup matanya dan ekspresi puas terlihat di wajahnya. Reid tersenyum ketika berpikir bagaimana singkatnya kepuasan Lucie saat Reid membuatnya terangsang lagi.

"Hmm"

"Aku hanya ingin tahu apa itu memberikan suatu efek untukmu."

Matanya tiba-tiba terbuka. "Tidak juga, tidak. Apalagi yang kau punya, jagoan"

Reid menyempitkan matanya kearah Lucie ketika Reid mengaitkan lengan bawah di salah satu lututnya dan diangkat untuk membuka Lucie lebar-lebar pada Reid. "Kau sadar bahwa kau ada posisi yang sangat berbahaya, kan Tidak hanya kau menghina kemampuan seksualku, kau juga menantang seorang atlet yang sangat kompetitif."

Lucie memberikan senyuman paling mempesonanya dan berkata,

"Kalau begitu akan lebih baik jika kau membuktikan dirimu."

"Oh, baiklah aku akan buktikan. Anggap saja kau sudah diperingatkan, sayang. Kau yang memintanya."

Tetap mengangkat satu kaki Lucie ke atas dan ke samping tubuhnya, Reid mengarahkan kejantanannya yang berdenyut kearah vagina ketatnya yang basah dan menenggelamkan miliknya sedalam mungkin dalam satu kali dorongan dari pinggulnya. Sebuah geraman bercampur erangan mengoyak udara.

"Astaga, kau begitu besar."

Reid tidak menyombong diri ketika berurusan dengan kejantanannya, tapi ini bukan pertama kalinya dia mendengarkan seorang wanita mengatakan itu. Bagaimanapun, keluar dari mulut Lucie tiba-tiba merasa dirinya seperti He-Man, tanpa pakaian berbulu. Reid juga merasa besar seperti yang Lucie nyatakan. Reid tak pernah berada di dalam seorang wanita yang begitu ketat, sangat sempurna untuknya. Tak dapat menahannya lebih lama lagi Reid menarik diri hampir keluar sepenuhnya, mendorong semuanya masuk ke dalam, dan kemudian mengatur irama lambat dan stabil untuk membawa mereka ke puncak secara bertahap.

Lucie dengan terampil menggoyangkan pinggulnya untuk menyeimbangi setiap dorongan Reid, menambahkan gelombang sensasi yang berasal dari kemaluan Reid yang berputar-putar di bolanya dan menetap di dasar tulang punggungnya.

"Sialan kau terasa nikmat." Melihat ke bawah dimana tubuh mereka bergabung Reid memperoleh pemandangan yang paling panas yang pernah dilihatnya. Bibir Lucie licin mengisap di kemaluan Reid setiap Reid menarik dan melapisinya dengan cairan manis miliknya setiap kali Reid bergoyang ke depan.

Reid tidak menyadari bahwa Lucie juga menatap pada pemandangan yang sama sampai Reid mendengar Lucie berkata, "Itu sangat panas."

"Hell yeah, itu sangat panas." Bahkan jadi lebih sekarang saat Reid tahu bahwa Lucie senang melihat Reid bergerak di dalam dirinya. Perlu mengambil dari Lucie sebanyak yang Reid bisa, Reid melepaskan kaki Lucie untuk memposisikan dirinya di atas tubuh Lucie dengan lengannya. Reid menambah kecepatan saat Reid menangkap mulut Lucie dengannya, bercinta dengan mulut Lucie menggunakan lidahnya bersamaan dengan gerakan tubuh bagian bawahnya.

Keringat tubuh mereka basah meluncur satu sama lain, suara daging bertemu daging di beberapa tempat dan nafas berat dengan disertai erangan memenuhi udara. Lucie merengut mulutnya dari Reid, Lucie mengangkat dagunya dan meyakinkan Reid untuk pindah ke lehernya untuk melanjutkan tujuan Reid melahap Lucie seluruhnya.

"Aku sangat dekat. Aku tak percaya aku akanuhnlagi."

Reid tersenyum terhadap tenggorokan Lucie ketika Lucie mendengus menggantikan kata "orgasme" ketika Reid menambahkan puntiran dari pinggulnya dalam dorongannya. Mengambil isyarat darinya, Reid melakukannya lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai Lucie memanggil nama Reid berulang-ulang antara memohon untuk berhenti dan jangan pernah berhenti.

Menyelinapkan satu tangan diantara tubuh mereka Reid dengan mudah menemukan clit bengkak Lucie dengan jempolnya menyeretnya dari atas dengan satu dorongan keras terakhir. Reid tidak biasanya mengeluarkan suara selama berhubungan seks, tapi dia tidak dapat menahan erangannya seakan hidupnya terancam ketika mereka klimaks bersama, vagina Lucie kejang-kejang di sekitar kejantanan Reid saat dia menghabiskan dirinya dalam semburan yang kuat.

Ketika mereka kembali satu sama lain selama beberapa menit berikutnya diantara nafas berat dan otot-ototnya yang lemas, Reid menyadari bahwa seks dengan Lucie mengalahkan semua pengalamannya yang pernah dialaminya. Tak terkecuali saat Reid mendapatkan seks yang liar, seks yang panjang, seks yang menyimpang dari apa yang baru saja mereka lakukan. Ada perbedaan besar. Jauh sekali perbedaan. Reid tak dapat menunjukkan alasannya mengapa, Reid terlalu lelah untuk coba memikirkannya.

Dengan hati-hati, Reid menarik keluar darinya, dan membungkus kondom dengan tisu dan menempatkan ke samping untuk membuangnya di pagi hari. Kemudian Reid duduk di tempat tidur di atas bantal, menarik selimut ke atas mereka, dan membungkus Lucie kedalam pelukannya. Kepala Lucie secara alami turun ke dalam lekukan diantara dada dan bahunya dan tangannya melingkar di sekitar perut Reid. Dalam hitungan detik Reid mendengar suara dengkuran lembut dan merasakan tubuh Lucie kehilangan semua ketegangan saat Lucie tertidur. Dan dengan senyum di wajah Reid oleh kebahagiaan dirinya tak sepenuhnya mengerti, Reid tidak tertinggal jauh di belakangnya.