Aku letakkan mushaf yang sedari tadi aku lafalkan. Setelah itu, aku ambil Hp yang tidak jauh berada disampingku. Akhi Lutfi tulisan yang tertera di LCD Hpku.
Assalamualaikum Ucapku.
Walaikumsalam! Jawabnya.
Iya, Akhi!
Gimana kabarnya, Ukhti hari ini! Tanya Lutfi. Terdengar basa-basi.
Alhamdulillah, baik-baik saja! Kalau antum Jawabku.
Alhamdulillah. Sama, ana juga baik-baik saja!
Sejenak aku diam. Membiarkan, agar Lutfi yang memulai pembicaraan dahulu. Dan memang berhasil.
Ukhti. Gimana keputusannya Tanya Lutfi penasaran.
Insya Allah, ana sekarang sudah mengambil keputusan! Dan semoga ini baik untuk ana dan untuk antum!
Insya Allah, pasti baik! Sela Lutfi.
Sejenak aku menarik nafas dalam-dalam. Dan menghembuskannya pelan. Akhi, dari apa yang ana pertimbangkan. Ana akan menerima..!
Syukron anti, ana tahu jawabannya! Anti pasti penerima ana! Tidak mungkin seorang yang hafidz tidak diterima pinangannya! Sela Lutfi lagi.
Hem. Afwan Akh. Sesungguhnya, Rasulullah itu pantang memotong pembicaraan orang! Ucapku tegas.
Oh, iya maaf Ukhti!
Sebenarnya, ana sudah bertaaruf dengan ikhwan lain! Ikhwan itu tidak lebih kaya daripada antum, tidak lebih bagus hafalan dan tilawahnya daripada antum. Tetapi, Ikhwan itu mempunyai rasa jihad dalam medan dakwah yang sangat tinggi. Ana sudah pernah merasakan gaya kepemimpinannya. Sudah pernah mengetahui corak dakwahnya, dan sudah mengetahui kegigihannya dalam dakwahnya! Ikhwan itu begitu tegar dengan kemiskinannya. Sifat zuhud yang dia terapkan pada dirinya, tidaklah membuat dia lebih rendah dari ikhwan manapun. Ikhwan itu penuh dengan kasih sayang yang melimpah pada setiap saudara seimannya. Apalagi sifat akhlaq dan ikhlasnya. Subhanallah! Dia tidak ingin memperlihatkan keberhasilan dakwahnya kepada setiap saudaranya. Karena takut akan sifat riya, ujub dan takabur yang akan melanda pada dirinya. Dia tidak ingin memperlihatkan sebuah keberhasilan karena jasanya. Tetapi dia lebih memilih, mengatakan keberhasilan itu karena Allah dan hamba-hambanya yang selalu berjuang dimedan dakwah! Ana mengetahui semuanya itu, karena dia adalah ketua ana. Dan benar-benar mengetahui sepak terjang dakwahnya. Meskipun, dia tidak pernah memberitahukannya!
Tapi, apakah benar dia bisa sehebat itu dari ana Apakah dia mempunyai hafalan Al Quran yang lebih banyak dari ana, apakah dia mempunyai hafalan hadits yang lebih banyak dari ana Apakah dia mempunyai pekerjaan yang lebih baik dari ana Apakah dia mempunyai itu semua! Protes Lutfi.
Tidak. Sungguh, hafalan Al Quran dan Hadistnya. Lebih banyak dari Akhi.
Tapi, kenapa anti menerimanya. Sedang anti tidak menerima ana. Toh sudah jelas, ana memiliki kemampuan yang lebih baik darinya! Lutfi terdengar sangat tidak menerima keputusanku.
Akhi. Sesungguhnya ana menerimanya, karena ana sudah lebih dulu melakukan konsistensi kepada Ikhwan itu! Ana tidak bisa, dengan mudah memutuskan seorang ikhwan yang sudah ana istqomahi. Tidak begitu saja ana bisa menerima seorang yang lebih baik darinya! Karena ini menyangkut akhlaq ana. Jawabku serius.
Iya. Tapi ana kan lebih dahulu mengenal anti! Sejak anti masih kecil, kita sudah saling kenal. Dan anti tahu, seberapa besar tingkat keilmuan ana! Ucapnya sengit.
Akhi. Ana tahu kelebihan yang ada pada antum. Tetapi, karena kelebihan antum itulah menjadi sebuah alasan bagi ana untuk memilih ikhwan itu. Dia tidak mempunyai kelebihan seperti antum. Dia lebih berhak untuk ana kasihi, dari pada antum yang bergelimang kasih! Antum seharusnya mengerti. Ucapku tak kalah sengitnya.
Tidak bisa. Ana tidak akan bisa mengerti! Anti seharusnya tahu, bagaimana cinta ana terhadap anti
Iya, ana mengerti. Ana sangat mengerti! Cinta antum terhadap ana, adalah karena Allah. Dan pasti antum akan menerima apa yang Allah berikan kepada antum. Bahkan penolakan ana pun, antum pasti menerimanya. Karena cinta antum karena Allah! Selaku dengan sengit.
Tidak. Anti tidak mengerti cinta ana terhadap anti! Anti egois.
Akhi. Antum harus ingat. Antum adalah hafidz, seorang yang hafal Al Quran. Antum juga sangat banyak hafal hadits. Antum seharusnya menerapkan itu pada diri antum. Bukan hanya mempelajarinya saja!
Ukhti. Ana tetap tidak akan menerima penolakan anti. Ini merupakan sebuah penghinaan bagi ana! Ana tidak akan pernah mau menerima penghinaan ini.
Akhi. Ini bukan sebuah penghinaan. Tetapi ini keputusan ana! Antum harus mengerti tentang keputusan ana. Ana harap antum harus menerima keputusan ana. Ucapku pelan.
Afwan Ukh. Ana tidak akan pernah menerima keputusan anti. Ini penghinaan, besar buat ana. Ana sudah anti hina! Lihat saja nanti. Setelah mengucapkan itu. Lutfi langsung mematikan Hpnya.
Masya Allah. Jadi, keputusanku memang benar! Gumamku. Hafidz dan Hafal hadits, tidak menjamin seseorang mencerminkan apa yang dihafalkannya. Sudah banyak terbukti. Beberapa kasus korupsi pun, ada juga yang dilakukan oleh seorang yang hafidz. Dan dalam kasusku, sudah sangat nyata. Lutfi sangat tidak mencerminkan seorang yang benar-benar mengetahui Al Quran dan Hadits. Aku jadi teringat hadits innamal amalu binniat wa innamal likuriimmanawwa famankhanats hijratahu Ilallah wa Rasullihi fahijratuhu Ilallah wa Rasullihi famankhanats hijratuhi liddunia yusibukha awimra ataini yankhiquha fahijratuhu ilaih maa hajarah ilaih. Hadits inilah yang seharusnya membuat tujuan hidup hanya untuk Allah dan Rasulnya. Bukan karena harta dan wanita yang ingin dinikahinya.
Alhamdulillah ucapku syukur dalam hati. Aku tidak salah memilih. Aku telah memilih mujahid dalam keistiqomahan perjuangannya. Bukan memilih seorang yang cengeng dengan kata-kata cintanya. Meskipun Lutfi seorang yang melebihi Khalid dalam masalah wujudnya. Melebihi masalah hapalan Al Quran dan Haditsnya, melebihi kekayaan dan pekerjaannya. Tetapi Khalid, adalah Khalid. Seorang aktivis dakwah yang istiqomah dalam perjuangannya. Seorang yang istimewa dalam kezuhudannya. Seorang yang mudah bergaul dengan siapa saja. Seorang yang mampu mengaktualisasikan ajaran-ajaran agama yang diterimanya. Dan Khalid, mampu menerapkan itu semua. Maka tidak salah pilih, aku memilihnya.
Aku bukanlah seorang akhwat yang memilih hanya dengan melihat kepintaran seorang ikhwan. Aku bukanlah akhwat yang suka melihat wujud dari ikhwan. Apalagi aku bukan akhwat yang suka dengan kekayaan seorang ikhwan. Tapi aku adalah seorang akhwat yang istiqomah dengan apa yang aku pilih. Aku adalah akhwat yang lebih suka dengan seorang ikhwan yang memilih jalan dakwahnya dengan ikhlas. Dan aku adalah seorang akhwat, yang memilih ikhwan karena akhlaqnya. Bukan seorang ikhwan yang mudah merampas apa yang dicintai oleh saudaranya sendiri. Apalagi bukan seorang ikhwan, yang menghalalkan cara hanya untuk mendapatkan seorang wanita. Aku bukanlah akhwat seperti itu.
Bersyukurlah diriku. Karena semuanya sudah ditampakkan oleh Allah. Tidaklah semua seorang yang pintar atau hafal Al Quran dan hadits. Mampu memahami isi-isi yang terkandung didalamnya. Tidaklah semua seorang yang hafal Al Quran dan hadits. Mampu mengamalkan apa yang ada didalamnya. Karena semuanya berujung pada sifat keikhlasann kita. Akhlaq yang baik adalah ciri khas seseorang yang ikhlas dalam berjuang. Sungguh mulia seseorang. Manakalah dirinya mendapatkan rasa itu. Sungguh mulia seseorang yang selalu dalam kezuhudannya. Sungguh mulia seseorang yang tidak menginginkan dunia dan isinya. Tetapi dia lebih memilih Allah dan Rasul-Nya. Sungguh, alangkah mulianya orang itu. Tidak akan lagi ada rasa takabur, riya atau bahkan ujub. Karena sesungguhnya apa yang dia harapkan bukan pada penghargaan manusia. Tetapi lebih memilih dihargai oleh Allah, hingga Allah memberikan seberkas kasih sayang yang indah didalam diri seseorang itu. Tidak lagi seesorang itu menginginkan apa yang memang tidak diridhoi oleh Allah. Tidaklah seseorang itu melakukan sesuatu apa yang memang tidak diridhoi oleh Allah. Apalagi melakukan cara-cara yang dihinakan oleh Allah. Maka seseorang itu akan menjadi orang-orang dambaan Rasulullah. Dan itulah kenikmatan sejati. Kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah dalam diri manusia yang ikhlas dan barakhlaq mulia.
Tok..Tok...Tok... Zah! Anti sudah tidur Ketukan dan panggilan Ummi. Mengagetkanku.
Belum, Mi. Silahkan masuk Mi! Jawabku.
Setelah membuka pintu kamar. Dengan senyum lembutnya, Ummi mendatangiku.
Gimana, Zah Sudah diambil keputusannya Tanya Ummi.
Sudah, Mi! Jawabku. Sambil menganggukkan kepala.
Lalu, anti milih siapa! Tanya Ummi lagi. Terlihat penasaran.
Dengan sedikit mendesah pelan. Aku mengatakan Mi. Zah tidak memilih Lutfi! Zah lebih memilih Ikhwan yang lebih dulu Zah istiqomahi! Ucapku, sedikit berhati-hati agar Ummi tidak tersinggung.
Ummi tersenyum. Lalu tangan lembutnya membelai rambutku. Zah. Ummi tidak akan ikut campur urusan Zah dalam memilih calon teman sejati Zah! Apa yang Zah pilih, Ummi akan ikut mendukung dengan pilihan Zah! Lutfi memang kita kenal baik dikeluarga kita. Tetapi bukan berarti Lutfi harus menjadi suami Zah bukan! Ummi hanya suka melihat kelakuan dia kepada Ummi dan kepintaran dia! Hanya itu saja. Meskipun begitu, Ummi tidak akan memaksa Zah untuk menikah dengan Lutfi! Zah pilih sendiri, Ikhwan mana yang membuat Zah terjatuh dalam lembah cinta. Dan membuat Zah bergelimang akan cintanya. Dan selalu akan bersama-sama, dalam menggapai cinta-Nya! Itulah yang terpenting Zah.
Mi. Tetapi Zah, telah memilih seorang ikhwan. Yang dia tidak memiliki kepintaran dan kekayaan seperti Akhi Lutfi! Ikhwan ini, tidak lebih banyak hafalannya dibanding Zah. Ikhwan ini tidak mempunyai kekayaan yang sebanyak Akhi Lutfi. Dan Ikhwan ini tidak begitu besar penghasilan pekerjaanya dibanding Akhi Lutfi. Tetapi dia, adalah seorang Ikhwan yang istiqomah dalam medan dakwahnya! Ucapku.
Zah. Kepintaran dan kekayaan itu ada pada setiap orang. Mungkin Ikhwan itu tidak sepintar Akhi Lutfi, karena dia tidak melakukan apa yang dilakukan Akhi Lutfi. Tetapi pasti Ikhwan itu, mempunyai kepintaran tersendiri yang Akhi Lutfi tidak mempunyai kepintaran itu! Dan kekayaan, adalah materi yang bisa dicari. Tetapi Zah harus ingat, bahwa seorang yang kaya akan dihisab lebih banyak diakhirat nanti. Ketimbang orang yang tidak mempunyai kelebihan materi! Maka, jika Zah sudah mantap dengan pilihan Zah sendiri. Ummi berpesan, Janganlah ragu-ragu untuk menapaki hari depan dengan kepastian. Karena sesungguhnya kepastian didunia itu adalah ketidakpastian itu sendiri. Maka jadilah orang-orang yang sudah pasti, karena sesungguhnya Sang Maha Pasti sudah memberikan kepastian kepada kita!
Insya Allah, Mi! Ana sudah sangat yakin dengan pilihan Zah.
Baik, kapan dia akan mengkhitbah anti Tanya Ummi bersemangat.
Ana nggak tahu Mi! Jawabku Bingung.
Zah, nggak usah bingung. Pokoknya, jika Abi sudah pulang. Langsung beritahu Ikhwan itu. Bahwa waktu itulah yang paling tepat untuk mengkhitbah Zah. Insya Allah! Dan mungkin bisa saja, Zah langsung dinikahkan oleh Abi! Ucap Ummi. Sambil sedikit menggoda.
Ummi..! Ucapku manja. Sambil memeluk tubuh Ummi.
Ya. Sudah Ummi mau tidur dulu! Ucap Ummi sambil melepaskan pelukanku.
Iya Mi!
Setelah itu, Ummi pun melangkah keluar dari kamarku.
Aku kini sendiri dalam ruang kamarku. Rasa senang yang aku dapatkan, serasa melambungkan hatiku. Aku benar-benar bersyukur, karena telah diberikan seorang Ibu yang begitu perhatian terhadapku. Seorang Ibu yang bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan. Tidak berdasarkan egoisme keibuan. Aku jadi ingat dengan salah satu Akhwat. Yang dia tidak bisa mengambil sebuah keputusan, lantaran ibunya terlalu mengekang dengan keputusannya. Tetapi, semua itu berdasar pada keputusan akhwat itu sendiri. Jika akhwat itu memang seorang akhwat yang bisa mengkondisikan ruhiyahnya. Maka dia pasti bisa mengkondisikan keluarganya. Tetapi jika ruhiyahnya masih gamang dengan keyakinan dalam dien-Nya. Atau karena ketidakpahaman yang kuat dalam agamanya. Maka, dipastikan akhwat itu tidak bisa mengkondisikan keluarganya. Dan tidak mungkin, dia mengambil sebuah keputusan pada keluarganya. Jika dia tidak memiliki pemahaman agama yang kuat.
***
Pagi hari yang indah. Mentari bersinar dengan kehangatan pagi yang menyenangkan. Setelah selesai berolahraga di sekeliling rumah. Aku nikmati sinar mentari dan dinginnya pagi. Nikmatnya hidup dalam rasa syukur yang teramat dalam. Nikmatnya hidup jika semua karena Allah yang mengatur hidup. Ingatanku pun kembali. Sejenak, aku memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh Lutfi. Afwan Ukh. Ana tidak akan pernah menerima keputusan anti. Ini penghinaan, besar buat ana. Ana sudah anti hina! Lihat saja nanti. Entahlah, kenapa kata-kata itu harus muncul pada sosok seorang Lutfi. Seorang yang tidak pantas mengucapkan kata-kata itu, karena dia merupakan seorang yang sudah mengatahui seluk beluk dari Dien ini. Kenapa harus ucapan yang begitu tidak ikhlas dengan sebuah keputusan yang telah diambil oleh seseorang orang. Memang, sakit jika kita apa yang kita menginginkan sesuatu. Tetapi kita tidak mendapatkan sesuatu itu. Tetapi bukankah keinginan itu tidak harus terpenuhi seterusnya! Adakalanya keinginin kita, tidak harus terpenuhi. Jika apa yang kita inginkan itu karena Allah. Maka apapun yang kita dapatkan pun, pasti karena Allah. Tetapi jika kita menginginkan sesuatu karena sifat egoisme diri kita. Maka, jika keinginan itu tidak terpenuhi. Kita akan benar-benar merasakan rasa sakit yang sangat dalam. Dan serasa tidak ada obat penyembuh bagi diri kita.
Entahlah, apakah Lutfi sudah tertarbiyah dengan bagus. Ataukah dia sudah mendapatkan materi tarbiyah. Seharusnya, kalau memang dia sudah mendapatkan tarbiyah yang benar-benar baik. Maka Lutfi tidak akan seperti itu. Pasti Lutfi akan ikhlas menerima keputusan yang sudah aku pikirkan. Ataukah, dia bukan dari orangorang yang tertarbiyah. Lalu kalau seandainya, jika Lutfi bukan dari orang-orang yang menerima pelajaran tarbiyah. Apakah aku bisa hidup berdampingan dengan seorang yang berbeda pola pandang dan pola pikir. Pastilah sifat jalan dakwah kami akan benar-benar saling terhambat. Disalah satu pihak ingin jalan kearah A dan di satu pihak ingin jalan kearah B. Pasti akan menjadi sebuah penghambat bagi langkah dakwah dengan satu sama lainnya. Dan menjadikan tidak terfokus dalam salah satu jalan yang akan ditempuhnya. Ya. Inilah yang harus menjadi sebuah pemikiran ulang bagi kita semua.
Tluutt... Tluutt.. Lagi-lagi bunyi Hpku berdering. Hingga mengagetkanku.
Halo. Ucapku.
Halo. Ini Farah Tanya si penelphon.
Iya benar. Ini siapa yah Tanyaku penasaran.
Far, ini aku. Nova!
Oh. Hai, apakabar
Aku baik-baik saja sekarang. Tapi entah nanti! Jawabnya sedikit cemas.
Oh. Ada apa sebenarnya Nov Tanyaku bingung
Far. Apakah kamu bisa menolong aku! Ucap Nova. Terlihat sangat bingung.
Insya Allah. Jika memang aku sanggup!
Tapi. Apakah benar kamu sanggup Tanya Nova.
Insya Allah. Makanya beritahu masalahnya! Ucapku sedikit penasaran.
Far. Bisa nggak kamu menolongku lari dari rumah!
HA! Aku bingung.
Aku ingin lari dari rumahku Far! Apakah kamu bisa menolong Tanyanya sekali lagi.
Sebentar-sebantar. Permasalahannya apa, hingga kamu harus lari dari rumah segala
Ceritanya panjang, Far! Sekarang aku harus lari dari rumah. Nanti setelah kita pergi, aku akan ceritakan semuanya kepadamu! Jawabnya.
Apakah memang harus lari dari rumah Tanyaku heran.
Iya. Pokoknya harus! Ucapnya tegas.
Baik-baik! Aku akan membantumu. Tetapi, kamu harus menceritakan masalahmu kepadaku nanti!
Iya. Pasti aku akan menceritakannya!
Baik. Kita bertemu dimana
Kamu jemput aku digerbang Village of Country. Jam 10 pagi, bisa
Ok. Insya Allah, aku akan jemput kamu!
Baik. Terima kasih! Aku akan menunggumu disana. Udah yah! Seketika itu pun, Nova langsung memutuskan pembicaraan.
Entah ada apa lagi ini. Apakah ini juga merupakan cobaan bagiku. Aku tak tahu. Biarlah aku menjalani hidup ini dengan apa yang telah diatur oleh Allah. Jika memang Allah mengatur hidupku harus seperti ini. Maka aku harus bisa menjalani kehidupanku. Aku tidak boleh mengeluh atas apa yang diberikan oleh Allah kepadaku. Mungkin ini adalah sebuah ujian bagiku. Entahlah, tapi aku harap ini ujian bukan azab. Tetapi. Apakah ini bukan jebakan! Selintas pikirku. Iya benar, apakah ini bukan jebakan orang-orang kafir yang akan menculikku! Beberapa hari aku mendapatkan banyak rintangan dalam kehidupan. Aku pun tidak harus langsung mempercayai apa yang Nova katakan, seharusnya. Aku seharusnya menyelidiki dulu tentang Nova. Bukan langsung percaya. Kalau memang ini benar-benar jebakan penculikan. Sudahlah, aku pasrahkan sebuah kepada Allah. Khasbiallah! Ucapku lirih dalam hati.
Aku tidak dapat menolak permintaan seorang yang meminta perlindungan kepadaku. Tidaklah seorang muslim, mengacuhkan permintaan perlindungan orang lain. Bahkan kafir sekalipun, aku harus melindunginya jika dia meminta perlindungan kepadaku. Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. QS. At Taubah 6. Jika seandainya ada rencana jahat kepadaku, aku pun tidak usah khawatir. Allah sudah pasti melindungi hamba-hambanya yang bertakwa. Tidaklah aku harus khawatir, jika harus terjadi apa-apa kepadaku. Karena Allah pasti melindungi setiap hamba-hambanya yang memperjuangkan agama-Nya. Allah pasti melindungi, setiap hamba-hambanya yang memang memilih bermujahadah dalam perjuangan-Nya. Tidak ada sebuah alasan untuk takut terhadap musuh-musuh Allah.
Tok...Tok...! Sebuah ketukan pintu kamar terdengar.
Siapa Ummi Bi Iyem tanyaku. Tiada jawaban dari si pengetuk kamar.
Dengan malas aku pun menghampiri pintu kamar. Aku buka pintu kamar dengan perlahan-lahan. Saat pintu kamar sudah terbuka. Terlihat sosok pria yang tersenyum kepadaku.
ABI....! ucapku sambil mencium tangan Abi. Aku senang dengan kedatangan Abi. Serasa semua beban beratku pun sirnah.
Ummi yang berada disamping Abi, melihat dengan senyuman.
Assalamualaikum! Ucap Abi.
Walaikumsalam! Jawabku. Masih dengan mencium tangan Abi.
Bi. Waktu ditelphon, Abi bilang masih agak lama pulangnya! tanyaku dengan manja.
Sebenarnya sih, masih ada beberapa urusan yang masih belum diselesaikan. Tetapi, Abi sudah kangen masakan Ummi nih! Ucap Abi. Sambil melirik Ummi.
Kangan apa Kangen....! Kataku.
Ih. Zah. Genit! Ucap Ummi.
Yang Akhirnya diselingi tawa oleh Abi dan Ummi.
Abi, udah datang! Tinggal proses pengkhitbahannya aja nih. Yang dilanjutkan Ucap Ummi. Dengan menggodaku.
Ummi! Zah kan, malu
Ih. Emang Zah punya malu! Ucap Abi.
Abi. Kataku manja.
Tidak ada yang perlu kita merasa malu. Selama perbuatan kita masih dalam koridorkoridor syariat! Ucap Abi. Sambil tersenyum dengan kewibawaan.
Tentunya, dengan mantap bahwa apa yang kita lakukan adalah memang hal yang benar. Benar menurut hati nurani kita dan benar menurut syariat tentunya! Sahut Ummi.
Nah. Zah sudah mengikuti itu semua. Tinggal aplikasi syariatnya yang harus dilakukan! Ucapku.
Siipp! Putri kita memang sudah layak untuk menikah. Ucap Abi.
Iya. Ummi sudah pengen gendong cucu nih! Sahut Ummi.
Iya. Zah juga bosen tidur sendirian! Ucapku sambil nyengir.
Yeee..... Genit! Ucap Ummi.
Tawa pun kembali merekah dalam kebahagian yang hadir. Abi kini kembali pulang. Waktu yang cukup lama buatku, untuk menghadapi sebuah masalah dengan keputusanku sendiri. Bisanya aku selalu meminta pertimbangan Abi untuk memutuskan suatu masalah yang berat. Tetapi, kepergian Abi. Adalah pelajaran baru buatku. Pelajaran yang diberikan oleh Allah kepadaku. Untuk bisa lebih mandiri dalam hidup. Tidak menggantungkan sesuatu hal kepada mahluk. Meskipun itu adalah Abiku sendiri. Karena sesungguhnya, apa-apa yang kita gantungkan kepada mahluk. Pasti tidak akan kekal. Karena sesungguhnya apapun yang ingin kita gantungkan. Adalah hanya kepada Sang Maha Pemilik Kekuasaan. Yang memberikan naungan kepada seluruh alam. Dan yang memberikan kebaikan pada setiap apa-apa yang diciptakan.
Seiring dengan keriangan dari larutnya kebahagiaan. Aku masih saja mengingat tentang masalah-masalah yang sedang melanda para saudaraku. Terutama Dewi. Semoga Dewi baik-baik saja. Sesungguhnya, apa-apa yang akan kita lakukan. Jika berujung pada hanya penghambaan. Penghambaan kepada Sang pemilik kehidupan. Maka tidak ada yang perlu ditakutkan. Karena sesungguhnya, ketakutan kita adalah manakalah Sang Pemilik Kehidupan. Mengacuhkan kita dari masalahmasalah yang diberikan-Nya. Karena sesungguhnya setiap permasalahan, ujian ataupun cobaan. Adalah rasa kasih sayang yang ditunjukkan oleh Rabb kita kepada setiap hambanya. Jika kita sabar. Insya Allah, akan ada berita gembira kepada orangorang yang sabar.