Mahkota Cinta - 11
Waktu terus berjalan, menghasilkan pergantian jam. Menghasilkan siang dan malam. Menghasilkan sejarah kehidupan dan kematian. Sejarah orang-orang yang gagal dan sejarah orang-orang yang berhasil. Sejarah orang-orang yang malang dan sejarah orang-orang yang beruntung.

Waktu terus berjalan. Setiap detik selalu ada perubahan. Ya, waktu terus berjalan tanpa henti.

Zul termenung di kamarnya memikirkan waktu yang ia lalui dan perubahan-perubahan yang ia alami. Alangkah cepat waktu berjalan. Dan alangkah cepat umur berkurang. Ia merasa seperti baru kemarin ia lulus SD, terus SMP, terus SMA. Kenangan-kenangan saat di SMA terbayang di depan mata. Ia seolah ada di dalamnya. Perubahan terasa sangat cepat. Ia menyadari bahwa ia ternyata sudah dua tahun lebih di Malaysia. Ia sudah selesai S.2.

Sepertinya baru kemarin ia masuk flat itu diantar oleh

Pak Rusli. Lalu berkenalan dengan Sugeng, Yahya, Arif, Rizal dan Pak Muslim. Sekarang mereka sudah tidak ada lagi di flat itu bersamanya. Sugeng sudah selesai setengah tahun yang lalu dan kini mengajar di STAIN Kendari. Yahya sedang menempuh program Ph.D., ia kini tinggal di Sigambut bersama isterinya. Arif sudah selesai masternya dan kini bekerja di sebuah Bank Syariah di Semarang. Rizal juga sudah selesai, ia mendirikan penerbitan di Bandung. Pak Muslim sudah menyelesaikan doktornya dan telah kembali mengajar di UNY.

Orang yang dulu satu rumah dengannya telah

meninggalkannya. Kini ia tinggal bersama adik-adik yang lebih muda yang baru datang. Tak terasa. Ia sudah mulai merasa semakin tua. Umurnya sudah mendekati kepala tiga. Sugeng, Yahya, Arif dan Rizal semuanya sudah berkeluarga. Hanya dirinya yang belum. Semua sudah mengamalkan dan membagi ilmunya. Hanya ia seorang yang ia rasa belum. Ia masih saja seperti dulu. Bekerja di cafe dan restoran. Ia masih memikirkan tentang nasibnya yang ia rasa belum mengalami perubahan. Ia gelisah. Akan ia bawa ke mana gelar M.Ed.nya Apakah hanya untuk memperpanjang namanya saja. Biar tampak ada gelar di belakangnya

Hari itu jam tiga siang ia merasa harus silaturrahmi ke rumah Yahya. Ia ingin mendiskusikan kegelisahannya. Ia harus mengakui terkadang ia merasa sangat jauh dari dewasa. Ia merasa belum bisa berpikir tenang dan jauh ke depan seperti Yahya. Ia juga sering bertanya pada dirinya sendiri apakah kegelisahannya seperti itu termasuk tanda-tanda tidak menyukuri nikmat Tuhan Bukankah Tuhan telah banyak merubah dirinya. Dari orang jalanan yang terbuang dari kota ke kota menjadi orang yang hidup tenang. Dari orang yang pernah nyaris binasa karena dibelenggu oleh syahwat cinta menjadi orang yang merdeka.

Ketika ia sampai di rumah Yahya ia langsung menyampaikan kegelisahannya. Yahya menjawab,

"Bersabar dan bersyukurlah Saudaraku. Jangan tergesa-gesa. Tetaplah sabar dan istiqamah dalam berusaha. Syukurilah apa pun karunia yang dilimpahkan oleh Allah. Jangan kau mendikte Allah. Jangan kau berprasangka buruk pada Allah. Allah-lah yang Mahatahu yang terbaik untuk kita. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah. Dan apa yang menurut kita tidak baik belum tentu tidak baik menurut Allah. Apa yang kita sukai belum tentu itu baik bagi kita. Dan apa yang kita benci belum tentu tidak baik bagi kita.

"Bisa jadi, sampai saat ini kau masih bekerja di cafe, karena itu memang yang terbaik. Bisa jadi setelah itu

akan ada hikmah yang luar biasa bagimu. Yang paling penting bersabar dan bersyukurlah. Optimislah. Dan berprasangka baiklah kepada Allah."

Zul merenungkan perkataan sahabatnya itu.

Yahya mempersilakannya untuk mencicipi agar-agar buatan isterinya. Zul mengambil satu dan memuji,

"Agaragarnya

enak."

Spontan Yahya menjawab, "Makanya segera menikah, biar ada yang membuatkan agar-agar." "Kalau kau ada calon untukku boleh Ya. Aku merasa sudah tiba saatnya. Orang satu rumah kita dulu sudah menikah semua. Hanya aku saja yang belum."

"Kau serius Zul."

"Serius."

"Kalau orang Malaysia bagaimana"

"Kalau salehah kenapa tidak"

"Ini serius lho Zul."

"Ya pasti seriuslah Ya. Masak aku main-main."

"Baik. Ini ada calon. Orangnya baik. Aku berani

jamin. Dulu dia teman isteriku waktu kuliah di Birmingham. Dia Muslimah yang taat. Tidak pernah menanggalkan jilbab. Bagaimana"

"Boleh saja. Cuma aku kuatir kalau aku mau dan dianya tidak mau."

"Bagaimana kalau sebaliknya. Ternyata dianya mau malah kau yang tidak mau."

"Kayaknya itu kemungkinan kecil Zul. Kalau kau sudah berani menjamin baik, masak sih aku tidak mau.

Siapa namanya kalau boleh tahu"

"Laila Abdurrahman."

"Kau mau ta'aruf serius dengannya Zul."

"Wualah tho Ya, Yahya. Berapa kali lagi kau akan tanya tentang keseriusanku. Baiklah, aku serius Ya."

"Kalau begitu kau besok datanglah ke masjid kampus

UKM15 Bangi jam 3 sore. Kau akan aku temukan dengannya insya Allah."

"Baik."

* * *

Hari berikutnya Zul berangkat ke Bangi naik KTM dari Pantai Dalam sampai UKM lalu naik bus mini kuning ke masjid kampus UKM. Yahya ternyata sudah menunggu di masjid. Begitu ia sampai ia langsung diajak ke Fakulti Ekonomi. Ia dibawa ke auditorium. Di sana ada seminar membahas dua judul proposal disertasi doktor. Dua orang mahasiswa program doktor dari Malaysia mempresentasikan judul proposal disertasi mereka di hadapan dosen dan guru besar.

Zul dan Yahya duduk agak di belakang. Satu per satu kandidat doktor itu mempresentasikan kajiannya. Ada empat profesor yang menilai dan mengkritisi. Di antara empat profesor itu ada profesor madya perempuan yang tampak masih muda dan cantik. Dialah yang menjadi artis di ruangan itu. Zul diam-diam tersihir oleh keanggunan dan kecerdasan profesor itu.

"Ya, perempuan Malaysia ada yang hebat juga ya.

Itu yang di depan itu. Masih muda sudah profesor madya. Canggih betul."

" Kau tahu itu siapa"

15 Universiti Kebangsaan Malaysia.

"Siapa Ya"

"Itulah orang yang akan aku kenalkan denganmu." Zul kaget bagai disambar petir.

"Weh, yang benar Zul. Kau jangan bercanda Zul.

Masak jauh-jauh datang kemari hanya untuk bercanda"

"Aku tidak bercanda Zul. Aku serius. Dia itu namanya Prof. Madya Datin Laila Abdul Majid, Ph.D. Dia menyelesaikan S.2 dan S.3-nya di Birmingham. Satu

kelas dengan isteriku saat S.2. Hanya saja isteriku pulang ke Indonesia setelah selesai S.2-nya, sedangkan dia langsung lanjut S.3. Kata isteriku, ketika di Birmingham dia termasuk mahasiswi yang disanjung banyak dosen karena kecerdasannya. Itulah kelebihan yang dia miliki. Bagaimana Zul, mau dilanjutkan apa tidak Terus terang aku tidak bilang apa-apa padanya. Kalau mau nanti kita

datangi dia dan kita ngobrol santai saja. Bagaimana"

"Lanjut Ya."

"Okay, kau juga harus tahu kekurangannya, kalau

ini dibilang kekurangan, dia itu sudah janda. Sudah pernah mau punya anak tapi keguguran. Dia janda karena suaminya meninggal dunia. Bagaimana Zul Dilanjutkan apa tidak"

Zul berpikir sejenak. Lalu menjawab,

"Dilanjutkan."

"Baik." Jawab Yahya sambil tersenyum.

Setelah seminar selesai Yahya bangkit. Isteri Yahya

ternyata juga ada di ruangan itu. Isteri Yahya menyalami Prof. Datin Laila. Keduanya berangkulan mesra. Lalu Yahya menyapa seraya memperkenalkan Zul. Mereka berempat lalu berbincang-bincang sambil berdiri beberapa saat. Prof. Darin Laila sangat ramah dan murah senyum. Zul terpesona dengan aura kemelayuannya.

Mereka berbincang tidak lama, sebab waktu shalat Ashar tiba. Prof. Datin Laila minta diri ke ruangannya. Yahya dan isterinya serta Zul bergegas ke masjid dengan mobil Yahya. Di perjalanan isteri Yahya menjelaskan bahwa Laila adalah teman akrabnya saat di Birmingham. Beberapa bulan lalu Laila meminta padanya kalau punya calon yang sesuai untuknya. Orang Indonesia tidak apa-apa. Hari itu Zul seperti mimpi. la seperti tidak percaya kalau calon yang dikenalkan dengannya adalah seorang Datin Laila yang ia rasakan lebih dari seorang bidadari.

"Tapi Datin Laila belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu

kalau ada orang Indonesia yang melihatnya dan berniat ta'aruf dengannya. Besok baru aku akan jelaskan padanya. Apa kira-kira reaksi dan tanggapan dia. Semoga seperti yang kita harapkan. Kalau melihat suami dia dahulu juga dari kalangan orang biasa. Bukan dari kalanganbangsawan," kata isteri Yahya.

"Insya Allah, kalau ini jodohmu tidak akan lari ke mana-mana Zul." Sambung Yahya.

Zul mengamini dalam hari berharap semoga surga itu telah ia rasakan di dunia.

Setelah shalat Ashar mereka pulang meninggalkan kampus UKM. Yahya dan isterinya membawa mobil. Zul naik bus kuning. Yahya menawarkan padanya untuk satu mobil, tapi Zul ingin berkunjung ke rumah seorang kenalannya bernama Ardan di Hentian Kajang.

Zul naik bus mini kuning ke Hentian Kajang. Ongkosnya cuma tujuh puluh sen. Sepuluh menit kemudian bus itu sudah sampai di Hentian Kajang. Zul berjalan ke kanan menuju tempat duduk para penumpang. Ketika ia melewati tempat itu, sekonyong-konyong ada seorang wanita berjilbab yang memanggilnya dengan keras.

"Zul! Mas Zul!"

Ia menghentikan langkah dan menoleh ke arah suara. Seorang wanita berjilbab dengan wajah gembira melangkah ke arahnya. Ia mengamati dengan seksama, mencoba mengingat-ingat.

"Lupa ya sama saya Pasti lupa" kata wanita itu sambil tersenyum.

"Siapa ya Agak lupa-lupa, ingat," jawab Zul. "Sudah terlalu sibuk dan sudah lama sekali tidak bertemu jadi kau lupa. Sangat wajar. Apalagi penampilan saya dulu dengan sekarang berbeda. Pasti kau susah menerka."

"Aduh langsung saja. Siapa ya" katanya sambil melihat jam. Ia memang tidak punya waktu terlalu

longgar untuk hal yang kurang penting.

"Baik Mas. Saya Sumi Mas. Saya Sumiyati. Kita dulu ketemu di Subang Jaya. Ingat Saya dulu tidak jilbaban seperti sekarang."

Seketika Zul terkaget dan langsung tersenyum bahagia.

"O Mbak Sumi. Ya Allah, saya benar-benar susah mengingat-ingat tadi. Saya sepertinya pernah bertemu.

Tapi di mana saya tak ada bayangan. Iya Mbak benarbenar beda setelah pakai Jilbab. Tambah anggun." Sumi tersenyum mendengar pujian.

"Alhamdulillah Mas. Saya bahagia berjalan dalam hidayah ini."

"O ya Mbak cerita teman-teman yang lain bagaimana ya Saya pernah ke sana ternyata kalian sudah tidak di sana" Zul pura-pura bertanya tidak tahu. la tidak bisa melupakan berita koran tentang penangkapan penghuni rumah itu.

"Mas belum tahu beritanya ya"

"Berita yang mana"

"Ah baiklah. Aku ceritakan biar nanti kalau suatu saat Mas dengar berita itu tidak salah faham. Begini Mas.

Kami pergi tepatnya terusir dari rumah itu ada sebabnya.

Sebabnya adalah ulah Linda dan Watik yang keterlaluan. Maksiatnya sudah terang-terangan. Aku yakin kau tahu apa pekerjaan Linda. Melacurkan diri. Biasanya ia dijemput dan berbuat maksiat itu di hotel. Kami mengingatkan tidak mempan. Mbak Mari sering bertengkar dengannya. Apalagi setelah kejadian Mbak Mari mau diperkosa sama mantan suaminya. Mbak Mari curiga Lindalah yang memberitahu keberadaan dirinya pada mantan suaminya. Linda semakin nekat seolah menantang penghuni rumah yang lain. Ia maksiat di kamarnya. Beberapa teman lelaki Linda datang ke rumah. Hal itu dicium oleh masyarakat. Akhirnya rumah itu digrebek. Kami semua dianggap pelacur semua.

Padahal pelacurnya cuma Linda sama Watik. Kami diinterogasi habis-habisan. Kami difoto dan masuk koran.

Yang paling sabar dan tabah menghadapi ujian ini adalah Mbak Mari. Mbak Mari berusaha sekuat tenaga berdialog dan menjelaskan bahwa tidak semua yang ditangkap adalah pelacur. Akhirnya Mbak Mari bisa menelpon seorang kenalannya. la anak seorang pejabat penting. Dengan jaminan temannya Mbak Mari, kami, selain

Linda dan Watik dibebaskan. Sejak itu saya memakai jilbab. Saya ingin lebih berarti menjalani hidup ini. Begitu ceritanya Mas."

Zul mengucapkan syukur berkali-kali dalam hati mendengar penjelasan itu. la merasa berdosa telah berprasangka buruk pada semua penghuni rumah, termasuk pada Mari dan Sumi. Sekarang ia tahu Mari bersih. Ia jadi tidak sabar untuk menanyakan keberadaan Mari. Walau bagaimanapun nama itu pernah tertanam dalam hatinya.

"Lha Mbak Mari sekarang di mana"

"Dia sudah di Indonesia."

"Ada alamarnya"

"Sayang tidak ada. Buku catatanku yang ada alamat dan kontak Mbak Mari hilang di bus. Mungkin jatuh.

Saya dengar dia sekarang hidup di Semarang."

"Mmm di Semarang. Dia sudah menikah"

"Saya juga tidak tahu. Tapi dia pernah ngobrol dengan saya. Maaf lho Mas Zul ya kalau tidak berkenan.

Ia pernah cerita kalau dia diam-diam suka sama Mas

Zul."

Seperti ada setetes embun membasahi hatinya. Wajah Mari hadir dalam pikirannya. Kenangan lama perlahan muncul ke permukaan. Tapi cepat-cepat ia tepis kuatkuat. Ia tidak boleh menghadirkan kenangan itu. Ia telah siap berta'aruf dengan Datin Laila.

"Maaf Mas bus saya sudah datang, saya harus pergi. Say a sekarang tinggal di sekitar sini. Mari Mas. Sukses ya." Sumi minta diri.

Zul terpaku di tempatnya beberapa saat lamanya.

Kemudian ia teringat hari sudah sore. Ia harus sudah ada di Pantai Dalam sebelum Maghrib. Keinginannya untuk menemui Ardan terpaksa ia urungkan. Ia langsung bergegas mencari bus ke KL Sentral. Dari KL Sentral ia akan nyambung dengan KTM.

* * *

Hari berikutnya, pagi-pagi sekali Yahya datang ke Pantai Dalam. Yahya menyampaikan hasil komunikasi antara isterinya dan Datin Laila. Zul tidak sabar menunggu berita gembira itu.

"Bagaimana, sesuai harapan" tanya Zul.

"Pada dasarnya Datin Laila menerima dan tidak

masalah...." jawab Yahya tenang.

"Alhamdulillah," potong Zul.

"E dengarkan dulu sampai aku selesai bicara!"

"O masih ada lanjutannya tho. Apa lanjutannya"

"Ya pada dasarnya Datin Laila menerima dan tidak

ada masalah. Yang jadi masalah adalah kakak sulungnya, yang sekarang jadi walinya telah membawa seorang calon untuknya. Datin Laila belum mengambil keputusan. Tapi agaknya Datin Laila merasa berat jika harus berseberangan dengan kakak sulungnya."

"Artinya ia cenderung mengiyakan calon dari kakaknya kan"

"Begitulah.".

Zul menunduk kecewa.

"Kenapa dalam masalah seperti ini aku selalu menuai kecewa ya. Dulu mau serius menikahi Mari tak jadi. Apa ya dosaku ini"

"Lha mulai berprasangka tidak baik pada Yang

Mahakuasa! Sabarlah Zul. Selain membawa kabar

menyedihkan itu aku juga membawa kabar menggembirakan untukmu."

'Apa itu Ya"

"Aku kemarin dibel Pak Muslim. Di UNY ada lowongan dosen. Yang dicari S.2 jurusan Psikologi Pendidikan dan jurusan Sosiologi Pendidikan. Ini mungkin rejekimu. Coba kau masukkan lamaran ke sana."

"Wah boleh ini Ya." Zul semangat.

"Caranya bagaimana Ya"

"Sebaiknya kau pulang ke Indonesia. Masukkan langsung lamaranmu ke UNY. Sekalian bersilaturrahmi ke rumah Pak Muslim. Siapa tahu Pak Muslim juga

mencarikan jodoh untukmu. Mahasiswinya yang jilbaberjilbaber kan banyak."

"Wah saranmu brilian sekali Ya. Dunia ini sejatinya luas ya Ya. Wanita di dunia ini pun miliaran jumlahnya. Tidak cuma Mari atau Laila ya."

"Lha iya lah."

"Kenapa aku baru menyadarinya sekarang ya." "Karena kamu selalu menyempitkan ruang berpikirmu selama ini Zul. Cobalah kau buka lebar-lebar. Hidup ini akan terasa mudah, menyenangkan, dan menggairahkan."

"Ya sudah saatnya aku meluaskan ruang hati dan pikiran Ya."

"Di antara caranya adalah dengan selalu berprasangka baik kepada Allah."

"Terima kasih Ya. Bisa bantu aku lagi"

"Apaitu"

"Pinjami uang untuk beli tiket pesawat," kata Zul tersenyum. "Tentu bisa."

"Kau memang sebaik-baik teman Ya."

"Kau juga Zul"

"Alhamdulillah."