MISA ARWAH & PUISI-PUISI LAINNYA - 11
Seperti yang kau tahu, di sinilah aku bertahan

di antara kembang gugur dan marmer itali

memaklumi jangat yang terbakar matahari.

Kedua lenganku telah sama tua

dengan hapalan pertama seorang pendoa;

Sebagaimana doa-doa itu memanjang ke langit

lenganku pun terbiasa memanjang ke bumi

memisahkan batu dari tanah

memecahkan segala yang tak terpisah.

Dengan gerak tubuhku sendiri

dengan peluh milik jiwaku sendiri

kuciptakan konstelasi baru,

kukarang semesta lainnya

dari delapan buah sudut yang sederhana.

Istirahatku hanya mata

yang sesekali kupejamkan

bagai seorang penyanyi opera

ketika nada-nada yang rendah dan berat

melampaui menara hitam hasrat

dan menyentuh pusat jantungnya yang murung.

Kadangkala kesunyian ini

membuatku berkhayal jadi seorang raja

atas negeri yang tak pernah dijajah, kaum

yang tidak menyerbu; wilayah yang dipertahankan

tanpa para pemanah dan tembok-tembok perbatasan.

Tamuku bukanlah kaisar-kaisar asing

dalam ragam warna, bentuk, dan bahasa;

bukan pula para utusan

pewarta kabar, bujuk, atau ancaman.

Tamuku adalah orang-orang berjubah duka

bicara dalam bahasa duka.

Dan manakala orang-orang itu pergi

kupandangi punggung mereka

sampai tak terlihat lagi, tahu

ia yang tak meninggalkan jejak kaki

berkisar di antaranya.

/2012