di antara kembang gugur dan marmer itali
memaklumi jangat yang terbakar matahari.
Kedua lenganku telah sama tua
dengan hapalan pertama seorang pendoa;
Sebagaimana doa-doa itu memanjang ke langit
lenganku pun terbiasa memanjang ke bumi
memisahkan batu dari tanah
memecahkan segala yang tak terpisah.
Dengan gerak tubuhku sendiri
dengan peluh milik jiwaku sendiri
kuciptakan konstelasi baru,
kukarang semesta lainnya
dari delapan buah sudut yang sederhana.
Istirahatku hanya mata
yang sesekali kupejamkan
bagai seorang penyanyi opera
ketika nada-nada yang rendah dan berat
melampaui menara hitam hasrat
dan menyentuh pusat jantungnya yang murung.
Kadangkala kesunyian ini
membuatku berkhayal jadi seorang raja
atas negeri yang tak pernah dijajah, kaum
yang tidak menyerbu; wilayah yang dipertahankan
tanpa para pemanah dan tembok-tembok perbatasan.
Tamuku bukanlah kaisar-kaisar asing
dalam ragam warna, bentuk, dan bahasa;
bukan pula para utusan
pewarta kabar, bujuk, atau ancaman.
Tamuku adalah orang-orang berjubah duka
bicara dalam bahasa duka.
Dan manakala orang-orang itu pergi
kupandangi punggung mereka
sampai tak terlihat lagi, tahu
ia yang tak meninggalkan jejak kaki
berkisar di antaranya.
/2012