Sarelgaz dan Cerita-Cerita Lainnya - 11
Sudah tujuh tahun Sarelgaz, lelaki kurus dari desa Sukacinta, t erperangkap dalam jaring laba-laba raksasa. Di tengah pe gunungan bersalju yang tak tercatat dalam peta, Sarelgaz yang awalnya berniat menyepi untuk mendapat ilmu silat dan kesaktian, justru bertemu seekor ratu laba-laba yang juga telah menunggu si apapun untuk datang ke pegunungan itu sebagai mangsanya. Maka begitulah mereka berhadapan, Sarelgaz merinding, tubuh laba-laba itu sepuluh kali lebih besar darinya, ia melihat perut laba-laba itu bahkan bisa menelan sebuah rumah.

Pertarungan pun berlangsung singkat. Sang Ratu melempar jaringnya, lalu dengan cekatan membungkus Sarelgaz seperti sedang melipat kado. Sarelgaz sama sekali tak berdaya. Saat itu, tak ada yang ia ingat kecuali ucapan Cartesia yang ternyata benar-benar menjadi kenyataan, Bagaimana kalau kita tibatiba dihadang laba-laba raksasa

Semua berawal di Desa Sukacinta. Sarelgaz adalah pemuda pe ngangguran yang suka duduk-duduk di pasar, kadang ia membantu kuli angkut menurunkan sembako dari mobil pick up, kadang membantu ibu-ibu yang kesulitan menaikkan barang belanjaan ke atas sepeda motor. Sarelgaz adalah pemuda yang sama sekali tidak pen ting, tapi karena kebaikannya, ia dicintai banyak orang. Jika jenuh di pasar, Sarelgaz biasa pergi ke stasiun untuk menonton kereta api, sesekali ikut menjadi portir yang bertugas menurunkan kopor dan tas milik penumpang untuk bayaran yang tak seberapa.

Dan setiap kali berjalan dari pasar ke stasiun itulah Sarelgaz rajin bertemu Cartesia, seorang gadis yang membantu ibunya berjualan di warung kopi pinggir jalan. Pandangan demi pandangan yang se-kilas, tatapan demi tatapan yang terlintas, senyuman demi senyuman yang menetas, tiba-tiba menjelma rindu tebal dalam hati Sarelgaz, ia jatuh hati pada gadis itu. Dan sebagaimana keadaan orang yang sedang jatuh hati, Sarelgaz selalu mencari-cari alasan agar bisa sese ring mungkin bertemu Cartesia. Kadang pemuda itu berlama-lama di warung meski hanya memesan secangkir kopi, kadang ia pura-pura membutuhkan sesuatu semacam korek, rokok, tusuk gigi, sampai lap, hingga Cartesia nyaris tak sempat melayani pesanan lainnya. Namun Sarelgaz terlalu lugu, Cartesia langsung menyadari bahwa Sarelgaz tertarik padanya.

Kuberitahu padamu, Sarelgaz. Aku hanya ingin punya kekasih yang sakti dan menguasai ilmu silat yang tinggi, kata Cartesia. Saat itu mereka sedang berdua. Warung sedang sepi, terdengar lagu n ostalgia A Letter from Janelle di radio.

Ilmu silat Apakah itu penting

Tentu saja, Sarelgaz, coba bayangkan, misalnya kau menjadi kekasihku, apa yang akan kau lakukan kalau kita tiba-tiba dihadang laba-laba raksasa

Hm... Kalau begitu, aku akan belajar ilmu silat.

Benarkah Apa kau tidak becermin

Tentu. Kau tunggulah, Cartesia.

Sarelgaz lalu pulang dan becermin. Ilmu silat, orang-orang kekar yang pandai berkelahi, sungguh tak ada jejak semacam itu di tubuhnya. Namun semangat yang menyala membuatnya benar-benar pergi keesokan harinya dengan kereta paling pagi yang berangkat dari stasiun Sukacinta. Ketika beberapa orang bertanya hendak ke mana, Sarelgaz menjawab, Pergi sebentar untuk belajar ilmu silat, tapi saya akan kembali.

Maka, hari itu, 25 April 1657, warga Desa Sukacinta kehilangan Sarelgaz. Sejarah mencatatnya, waktu yang membuktikannya.

Ternyata Sarelgaz tidak kembali, kata seorang warga kepada yang lainnya di pasar.

Sarelgaz pernah bilang ia akan kembali.

Benar. Sarelgaz orang yang jujur.

Orang jujur kadang-kadang juga tak menepati janji.

Mereka sama sekali tak mengetahui kenyataan bahwa Sarel-

gaz terperangkap dalam jaring laba-laba raksasa, jaring itu membungkus tubuh Sarelgaz begitu teliti dan rapi sehingga ia tampak seperti mumi. Siapa yang menyangka, sudah tujuh tahun berlalu, tapi ratu laba-laba itu tak jua memakannya. Kadang ratu laba-laba menambah lilitannya sehingga menjadi tebal, seluruh tubuh Sarelgaz terbungkus jaring di atas jaring, kecuali hidung dan matanya yang masih bisa berfungsi normal.

Sementara itu, Cartesia telah benar-benar menyesali ucapannnya. Ia mengutuk dirinya sendiri, mengapa harus membiarkan Sarelgaz pergi, padahal tak ada lagi lelaki seperti Sarelgaz di desa ini, atau mungkin di dunia ini, lelaki yang berpakaian sederhana, tapi s elalu berusaha mendalami setiap percakapan. Sarelgaz yang lugu, yang matanya teduh, yang tak pernah memaki siapapun meski sering b erada di pasar. Sarelgaz yang jujur, Sarelgaz yang tulus, Sarelgaz yang... Ah, gugus kenangan telah membuka perasaan Cartesia.

Sarelgaz tak seharusnya pergi untuk belajar ilmu silat. Dia telah memiliki ilmu yang jauh lebih berharga, ilmu tentang ketu lusan. B egitu kata Cartesia, yang semakin hari semakin melankolis. C artesia yang awalnya adalah wanita beriklim tropis, sekarang menjadi sedi ngin Atlantis.

Untuk membayar rasa bersalahnya, sejak sore hari, 14 Juni 1657, Cartesia memutuskan untuk duduk di stasiun Sukacinta, menunggu Sarelgaz kembali.

Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan ratu laba-laba Siang dan malam Sarelgaz hanya bergoyang-goyang seperti bayi dalam ayunan. Sarelgaz terbungkus dalam keadaan lulutnya tertekuk, tangannya memeluk kakinya, tapi tak sampai sesak napas. Setiap hari Sarelgaz melihat ratu laba-laba itu mondarmandir, kadang pergi sebentar, lalu muncul lagi entah dari mana membawa makanan untuk dibagi berdua.

Hai, Ratu laba-laba, mengapa kau tidak memakanku Sudah bertahun-tahun kau menangkapku, kata Sarelgaz. Tentu ratu laba-laba mengerti ucapan Sarelgaz, tapi tak bisa menjawabnya, sebab dalam cerita pendek ini, laba-laba tak diberi izin berbicara dalam bahasa manusia.

Sarelgaz tentu menyesal, kalau saja ia mengabaikan keinginan Cartesia, ia tidak akan seperti ini. Seharusnya ia tahu bahwa menur uti permintaan wanita adalah sumber penderitaan. Kalau saja Sarelgaz membaca buku dongeng atau legenda-le genda seperti Roro Jonggrang atau yang sejenisnya, tentu ia bisa lebih hati-hati. Di saat-saat putus asa, terkadang Sarelgaz membayangkan Cartesia telah menika h dengan lelaki lain. Sarelgaz tentu tak menyadari bahwa Cartesia m asih setia menunggunya. Pegawai kereta bahkan mengizinkan Cartesia menempati sebuah rumah kecil di ujung stasiun, sebab gadis itu toh tidak pernah beranjak, duduk menghadap ke arah barat sambil berkata, Sarelgaz, aku tahu kau akan kembali.

Lama-kelamaan, keadaan Cartesia menjadi tidak menarik bagi warga Desa Sukacinta.

Wanita yang menunggu di stasiun, itu sudah klise, kata mereka.

Benar juga. Cartesia kurang improvisasi.

Namun lain halnya dengan direktur perusahaan kereta api yang kebetulan suka membaca cerita-cerita romantis. Ketika kisah penantian Cartesia sampai ke telinganya, ia pun terpukau dan berkunjung ke stasiun untuk berkenalan secara langsung dengan Cartesia. S e bagai bentuk penghargaan tertinggi, sang direktur lantas mengganti nama stasiun Sukacinta menjadi stasiun Sarelgaz. Apabila ada kereta tiba, maka akan terdengar pengumuman, Selamat datang bagi para penumpang, perjalan an Anda telah sampai di stasiun Sarelgaz, stasiun yang selalu menunggu Anda kembali.

Dan Cartesia selalu senang mendengar nama itu, seolaholah l elaki pujaannya akan segera kembali...

Beberapa waktu setelah tujuh tahun...

Di suatu siang yang cerah, Desa Sukacinta digemparkan oleh kabar seekor laba-laba raksasa berwarna biru legam berbintik yang berlari dengan cepat dari arah kota. Tak seorang pun tahu dari mana laba-laba itu berasal, tiba-tiba saja laba-laba itu sudah muncul di alun-alun dan berlari menyusuri rel kereta.

Laba-laba itu setinggi atap rumah, tiga kakinya patah dan badannya penuh luka karena tembakan polisi yang berusaha melumpuhkannya sepanjang perjalanan. Namun laba-laba itu tetap bertahan, entah kekuatan apa yang membuatnya tetap hidup. Ia bahkan dengan lincah melompati rumah-rumah dengan sisa kaki yang ada, menghindari kereta api yang sedang melaju, dan juga melintasi jembatan panjang. Luka-luka yang terus bertambah itu dibiarkannya seakan tak pernah ada.

Dan setelah bermil-mil jauhnya, laba-laba raksasa itu berhenti di stasiun Sarelgaz, tepat di depan Cartesia yang tampak semakin kusut dan tua.

Sarelgaz, apa kau Sarelgaz Tanya wanita itu, yang pikirannya mulai dikuasai halusinasi.

Laba-laba itu terdiam, tubuhnya berdenyut, matanya mulai re dup.

Apa kau Sarelgaz Di mana Sarelgaz Cartesia bertanya lagi.

Laba-laba besar itu ambruk, sisa kakinya tak lagi bisa menopang tubuhnya.

Cepat bilang! Kau kelihatan sudah berjalan jauh, pasti kau punya kabar tentang Sarelgaz!

Tentu saja, laba-laba besar itu memiliki sesuatu yang harus di sampaikan kepada Cartesia, kabar sangat penting yang membuatnya sampai harus turun ke kota. Akan tetapi, hingga labalaba itu mengembuskan napas terakhirnya, Cartesia dan kita semua tetap tak akan pernah tahu. Sebab, seperti yang telah tertulis sebelumnya, dalam cerita pendek ini, seekor laba-laba tak diizinkan berbicara dalam bahasa manusia.

Sayang sekali.