Usai bermain di sungai, berenam kami berlarian ke gedung kosong bekas pabrik es itu. Pada sulur-sulur yang menjulur turun, tergantung batu-batu. Juga berbagai kantong plastik dan bungkus sabun cuci. Sekilas seperti sebuah tempat untuk berpesta. Pesta yang kumuh. Bau pesing dan makanan basi berbaur. Kami mengitari pohon namun tak juga mendapati laki-laki aneh itu. Lalu terasa ada yang hangat dan basah menjalari leher dan punggung kami. Ketika mendongak, ternyata laki-laki itu bertengger di dahan dan mengencingi kami. Bangsat!
Kami memungut batu-batu dan melemparinya. Sementara ia seperti simpanse nakal yang dengan gesit memanjat dari satu dahan ke dahan lain, menghindari lemparan kami.
Mau kalian apa teriaknya.
Kami berhenti melemparinya sejenak. Kami ingin bermain! teriak temanku.
Kalau mau bermain denganku, panggil aku Tuan Raja! ujarnya sombong.
Mendengarnya kami semua tertawa. Mendengar kami tertawa, ia juga ikut tertawa.
Tapi tadi kamu mengencingi kami! teriak Umar. Kami pun teringat akan kemarahan kami dan kembali melemparinya. Sementara ia terus mengelak, melompat dari satu dahan ke dahan lain sambil menertawakan kami. Sampai sore tiba, cuma satu batu yang mengenainya. Tepat di kening, darah mengucur dari bekas lukanya. Melihat darahnya kami semua berhenti. Kita impas, lolongnya menyerupai lolong anjing yang terluka. Datang lagi besok dan akan kuceritakan sebuah kisah kepada kalian.
Dan panggil aku Tuan Raja! teriaknya ketika kami mulai berjalan keluar dari halaman gedung kosong itu. Kami pun pulang ke rumah sambil ketawa.
Dia tengah melahap ubi bakar ketika kami menghampirinya esok hari. Tak jauh dari tempatnya masih ada bara bekasnya membakar ubi. Bau pesing dan makanan basi masih saja membaur di udara. Bercampur dengan bau gosong dari kayukayu dan ranting.
Panggil aku Tuan Raja, katanya sambil mengunyah ubi.
Sambil cekikikan kami pun memanggilnya
Tuan Raja.
Tuan Raja, Tuan bilang akan menceritakan sebuah kisah kepada kami.
Ia meraih botol minuman bekas dan meminum air kecokelatan di dalamnya. Katakan man, katanya.
Maaan, kata kami serempak.
Kan man kan bidna nihki willa innam.