A SHOULDER TO CRY ON - 12
"NU, lo tau nggak bakal dapet berapa kalo lo menang Gue lihat di internet nih ya, pemenang penghargaan ini bakal dapet uang saku lima belas juta!" kata Andro dengan semangat mendekati Danu yang sedang duduk bengong di kursinya menunggu bel masuk berbunyi.

"Itu kan kalo gue menang," timpal Danu datar.

"Iya sih emang, tapi paling tidak lo termotivasi dan lebih semangat sebagai nominator penghargaan kayak gini, Nu!"

"Yaelah! Biasa aja kalee... Ntar kalo gue kelewat seneng dan ternyata nggak menang, gue kan bisa gila."

"Yah elo, Nu... emang susah banget ya diajak punya cita-cita! Eh, lo udah tau belum, malam penghargaannya kan minggu depan di Bandung. Lo dateng, kan"

"Kemarin Pak Kusuma sih udah bilang, tapi nggak tahu deh gue datang atau nggak. Acaranya di hotel bintang lima, malu gue..." jawab Danu.

"Mesti dateng lo! Kapan lagi punya akses ke acara begituan Siapa tau di sana lo ketemu orang penerbitan yang bakal minta lo bikin buku kumpulan puisi."

"Entahlah, Ndro... Lagian gue belum bilang sama Kak Damara."

"Hah! Lo belum bilang sama kakak lo kalau lo mendapat nominasi penghargaan bergengsi kayak gini Wah, kebangetan lo, Nu! Kalo gue jadi lo, gue udah umumin ke orang sekampung!"

"Belum sempet bilang, Ndro. Kak Damara sama Anka pulangnya malem terus," kata Danu, tibatiba lesu saat mengingat tadi malam Anka dan Damara pulang berdua. "Gue belum nemuin waktu yang pas buat bilang ke mereka. Lagian, kayaknya berita soal nominasi penghargaan sastra bukan berita yang hebat-hebat banget deh."

"Ah, terserah lo deh! Ribet ngikutin lo, kebanyakan pertimbangan."

Danu tertawa mendengar ucapan Andro. Benar yang dikatakan Andro, ia memang terlalu banyak pertimbangan. Danu bukannya tidak ingin memberitahukan apa yang bisa disebut sebagai prestasi pada orang-orang terdekatnya, hanya saja... Di tengah kesibukan kakaknya yang menyita waktu bahkan sampai tidak pulang, di tengah perjuangan yang harus dijalani Anka, Danu merasa amat sangat tidak berguna, dan prestasinya tidak berarti apa-apa.

***

Imelda dan manajernya duduk di sofa ruang kerja Damara. Siang ini Damara meminta Imelda datang ke kantornya sebelum besok mereka menghadapi sidang putusan kasus perceraian Imelda.

"Besok mungkin akan jadi persidangan terakhir untuk kasus perceraian Anda, kalau suami Anda tidak naik banding atau melakukan langkah lain yang menghambat putusan perceraian Anda," jelas Damara seraya membuka lembar-lembar berkas perceraian Imelda. "Apakah Anda sudah siap untuk persidangan besok Mungkin wartawan yang datang akan lebih banyak dibanding kemarin-kemarin."

"Imelda pasti..."

"Saya siap!" Imelda lugas memotong ucapan si manajer yang ingin menggantikannya bicara seperti biasa.

Damara tersenyum melihat perubahan Imelda. Imelda pun membalas senyuman Damara, membuat si manajer yang selama ini selalu mendampingi Imelda bingung melihat mereka.

"Oke, kalau begitu tidak ada lagi yang perlu kita bahas. Semua sudah siap untuk besok," kata

Damara akhirnya. "Terima kasih untuk kedatangannya, semoga tidak mengganggu kesibukan Anda."

Damara bangun dari sofa mengulurkan tangannya ke arah Imelda yang langsung dijabat oleh Imelda. "Sampai ketemu besok di pengadilan," ujar Damara mantap.

Imelda kembali tersenyum. Saat Imelda sedang merapikan berkas dan isi tasnya, manajer Imelda keluar lebih dulu dari ruang kerja Damara. Setelahnya Imelda mendekati Damara, pandangannya jatuh ke kerah kemeja yang dipakai Damara.

"Dasi itu cocok sekali untuk Anda," puji Imelda sebelum keluar.

Damara langsung menunduk, melihat dasi yang dipakainya. Tanpa disadarinya, hari ini ia memakai dasi pemberian Imelda. Pantas saja dari tadi ia merasa ada yang tidak beres dengan cara Imelda menatapnya, rupanya dasi ini penyebabnya.

***

Seperti biasa, di tengah sedikit waktu luangnya, Anka duduk di samping tubuh koma ibunya, menceritakan apa saja yang dialaminya sepanjang hari ini. Memang terkesan sia-sia bicara dengan orang yang sedang koma, tapi Anka yakin ibunya mendengar semua hal yang diceritakannya.

"Hari ini Anka dapet gaji pertama, Bu." Anka memulai ceritanya. "Uang pertama yang Anka dapet dari kerja keras dan keringat Anka sendiri."

Anka membelai lembut rambut ibunya, berharap rambut itu kembali tertata indah seperti dulu. "Anka pengin traktir Ibu dengan gaji pertama Anka, Bu..." Anka tersenyum getir, lagi-lagi tidak dapat menahan air mata di depan ibunya, meski sebenarnya ia tidak ingin menangis. "Tapi Anka baik-baik aja, Bu, Anka akan jadi anak yang kuat selama nunggu Ibu sembuh... Ibu nggak usah khawatir ya." Anka menghela napas pelan, menyeka air matanya, dan kembali tersenyum pada ibunya.

***

Anka masuk ke kamar Danu setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, berjalan menghampiri Danu yang sedang duduk di depan meja belajarnya dengan earphone terpasang di telinga. Anka melambaikan tangan di depan wajah Danu, mengumumkan kehadirannya.

"Eh, Ka, sori... gue nggak tahu lo masuk," kata Danu setelah melepas earphone-nya. "Ada apa, tumben ke kamar gue"

"Nih..." Anka meletakkan kotak kecil berbungkus rapi di atas meja belajar, di depan Danu.

"Apaan nih" tanya Danu heran. "Ulang tahun gue kan satu bulan lagi."

"Itu hadiah buat lo, gue baru terima gaji pertama," jawab Anka tersenyum.

"Ya ampun, Anka, lo nggak usah kasih apa-apa buat gue. Mending duitnya buat yang lebih penting."

"Kasih hadiah buat lo penting buat gue. Lo udah sering banget bantuin gue, nggak salah kan kalo gue pengin kasih ucapan terima kasih."

"Tapi kebutuhan lo..."

"Udahlah... nggak ada salahnya kan kalo gue beliin sesuatu buat lo sama Kak Damara, karena gue juga pengin ada orang-orang yang bisa gue ajak berbagi. Lagian itu bukan barang mahal kok."

Danu berhenti berdebat. Bukan karena ia sudah menerima argumen Anka, tapi lebih karena Anka mengatakan bahwa ia juga membeli hadiah untuk Damara. Tadinya Danu sudah merasa istimewa saat Anka membelikan hadiah dengan gaji pertamanya, tapi ternyata bukan ia satusatunya orang yang mendapat hadiah.

"Lo nggak pengin tahu isinya, Nu" tegur Anka, setelah beberapa saat Danu terdiam.

Danu tersentak, kembali menatap kotak di tangannya. "Emang lo ngasih apa buat gue"

"Lo buka aja."

Dengan antusias Danu membuka kertas pembungkusnya sambil bertanya-tanya dalam hati hadiah apa gerangan yang diberikan Anka padanya. Senyum Danu merekah saat melihat jam tangan berwarna hitam di dalam kotak hadiah tersebut.

"Wah, lo tahu aja jam tangan gue pecah pas olahraga kemarin."

"Tapi bukan jam mahal, Nu. Cuma jam harga tiga puluh ribuan. Jam lo yang pecah kan mahal, oleh-oleh Kak Damara dari Batam."

Danu mengabaikan kata-kata Anka, ia langsung memakai jam pemberian Anka.

"Gue lebih seneng pake yang ini. Keren! Selera lo lebih oke daripada Kak Damara," kata Danu tersenyum lebar. "Thanks ya, Ka."

"Sama-sama, Nu. Gue seneng lo suka hadiah dari gue. Kalo gitu gue balik ke kamar dulu, masih ada tugas yang belum gue kerjain."

"Eh, Ka, gue pengin ngomong bentar sama lo, bisa"

Akhirnya Danu punya kesempatan menceritakan soal puisinya pada Anka setelah menyimpan berita ini cukup lama.

"Ya ampun, Nu! Itu keren banget!" seru Anka takjub. Danu tersenyum malu, karena tersanjung dengan pujian Anka. "Gue nggak nyangka kalo selama ini lo punya bakat menulis puisi."

"Bakat nggak sengaja, Ka." Danu merendah.

"Lo nggak sengaja aja udah mau dapat penghargaan, gimana kalo lo bikinnya serius!"

"Cuma jadi nominasi doang," sanggah Danu. "Belum tentu menang juga. Lagian, gue jadi nominasi di kategori tambahan yang kelihatannya nggak penting dibanding lima kategori yang lain."

Anka merangkul bahu Danu seraya tersenyum lembut dan berkata, "Buat anak SMA yang baru sekali menulis puisi, itu termasuk prestasi yang hebat banget, Nu. Semangat dong!"

"Iya sih, tapi..."

"Udahlah, nggak ada salahnya menghargai dan bangga sama pencapaian yang lo raih. Masalah lo bakal menang atau nggak, itu urusan belakang. O ya, Pak Kusuma bilang nggak acaranya kapan"

"Minggu depan, di Bandung," jawab Danu.

"Acaranya di Bandung!"

Danu mengangguk lesu, seakan dengan anggukannya ia menyatakan Bandung salah satu alasan mengapa ia malas datang ke acara penghargaan itu.

"Lo udah bilang sama Kak Damara soal ini" tanya Anka lagi.

"Belum. Gue takut reaksi Kak Damara kayak lo sama Andro. Gue nggak mau ngasih kebanggaan yang belum jelas buat Kak Damara."

"Tapi lo harus bilang, Nu! Kak Damara orang yang paling seneng kalo tahu soal ini."

"Makanya gue takut cerita, gue nggak mau bikin Kak Damara kecewa kalo ternyata gue nggak menang dan dapat penghargaan itu."

"Kak Damara nggak bakal kayak gitulah... Dia terlalu bijak untuk ngerasa kecewa kalau lo nggak menang."

Danu menatap Anka lekat-lekat, bukan karena pernyataan Anka yang dirasa benar olehnya, tapi lebih karena kata-kata Anka mengenai kakaknya, terasa terlalu aneh di telinganya.

***

Ketukan palu hakim terdengar di ruang persidangan agama, menyertai putusan cerai yang ditetapkan hakim untuk kasus perceraian Imelda. Damara yang duduk mendampingi Imelda menghela napas lega, akhirnya proses hukum yang alot ini berujung juga.

Suami Imelda, eh bukan, mantan suami Imelda, kali ini bersedia hadir di persidangan setelah sekian lama hanya mewakilkan segala hal pada pengacaranya. Lelaki itu terlihat tidak begitu senang dengan keputusan hakim. Setelah membisikkan sesuatu pada pengacaranya, ia bergegas pergi meninggalkan ruang persidangan dikawal beberapa pria kekar berseragam safari untuk menghalau para wartawan infotainment yang berusaha mewawancarainya.

Damara sempat melihatnya menjatuhkan pandangan sinis penuh ancaman ke arahnya dan Imelda sebelum berlalu. Untungnya Imelda tidak sempat melihatnya.

"Selamat ya, Mbak Imelda... Eh, maaf, seharusnya perceraian bukan hal yang pantas untuk diberi ucapan selamat," kata Damara serbasalah.

Imelda tersenyum mendengar perkataan Damara.

"Selamat adalah kata terbaik yang bisa Anda sampaikan sekarang," kata Imelda, nyaris tidak terdengar karena keriuhan wartawan mulai memenuhi ruang persidangan.

"Oke kalau begitu, selamat!" seru Damara seraya mengulurkan tangannya pada Imelda.

Imelda kembali mengulas senyum yang terlihat lega dan puas, seperti senyum yang biasa ia tampilkan di sampul-sampul majalah, menyambut uluran tangan Damara dengan kedua tangannya yang lembut. Dan di luar dugaan, tiba-tiba Imelda memeluk Damara. Seketika, semua sorot kamera para wartawan yang ada di ruang persidangan mengarah pada mereka, membuat Damara kelabakan. Di tengah sorotan dan jepretan kamera, Damara berusaha membuat Imelda melepaskan pelukannya, tapi tangan Imelda terlalu kuat merangkul pinggangnya.

"Bisa saya minta tolong sekali lagi..." bisik Imelda.

Damara menghentikan usahanya, sepenuhnya pasrah dengan semua rencana Imelda kali ini. Menggantikan usaha Damara, manajer Imelda mulai berusaha menarik lengan Imelda agar melepaskan pelukannya dari Damara, tapi tidak berhasil juga. Para wartawan semakin kalap mengabadikan momen berharga itu. Berita tentang Imelda yang memeluk erat pengacaranya di sidang putusan kasus perceraiannya pasti akan menjadi top news yang akan meningkatkan rating program acara mereka. Suasana di ruang pengadilan semakin kacau.

Jengah dengan suara jepretan kamera dan berondongan pertanyaan dari wartawan yang seketika mengerubungi mereka, Damara menarik Imelda keluar dari kerumunan wartawan. Berjalan secepat yang ia bisa dan keluar dari ruang persidangan bersama Imelda.

***

"Kelakuan Anda tadi seperti anak kecil." Damara menatap kesal pada Imelda di taman yang dulu pernah mereka singgahi saat Imelda pingsan di ruang sidang. "Anda tahu dampak seperti apa yang akan muncul setelah ini"

Imelda tidak menjawab, wajahnya menunduk menatap dedaunan kering di ujung kakinya yang terjuntai di bawah kursi taman yang didudukinya.

"Maaf... saat itu yang ada di pikiran saya hanya ingin membuat dia merasa kalah melihat apa yang saya lakukan tadi..."

"Dengan mengorbankan saya!" sergah Damara, tidak percaya dengan alasan Imelda.

"Bukan seperti itu maksud saya... Saya hanya..."

"Hanya apa Memanfaatkan saya agar mantan suami Anda cemburu dengan membuat sensasi murahan di depan semua wartawan" potong Damara semakin kesal. Damara bangun dari duduknya dan berdiri membelakangi Imelda. Sekali lagi menghela napas panjang seakan dengan begitu ia bisa mengurangi rasa kesalnya.

"Saya antar Anda pulang sekarang. Saya tidak mau keadaan semakin sulit dengan membiarkan Anda terus berada bersama saya."

Damara berjalan menuju mobilnya, mengabaikan Imelda yang masih duduk di kursi taman.

"Apakah salah, kalau saya ingin membalas sakit hati pada orang yang begitu menyakiti saya" Ucapan Imelda menahan langkah Damara.

"Salah, kalau melibatkan orang lain," sahut Damara setelah memutar tubuhnya menghadap Imelda.

Menatap Imelda yang tampak begitu nelangsa dengan berbagai hal yang berputar di kepalanya, dengan berat hati Damara melangkah kembali menghampiri Imelda, duduk di sebelah wanita itu, sementara hari berangsur gelap.

"Saya memang salah... Seharusnya saya mempertimbangkan reputasi Anda sebagai pengacara juga kehidupan pribadi Anda. Mungkin akan ada wanita yang menangis jika melihat saya memeluk Anda di tayangan infotainment... Saya benar-benar lupa mempertimbangkan hal itu," kata Imelda menampilkan wajah penuh penyesalan.

Wanita ini memang mahir sekali mengubah suasana hati lawan bicaranya. Tadi Damara begitu kesal dengan perbuatan Imelda, tapi sekarang, setelah melihat raut wajah memelas Imelda, Damara luluh, tidak tega.

"Sudahlah, hal itu nggak perlu dibahas sekarang. Kita lihat saja nanti," kata Damara melunak. "Sebaiknya saya antar Anda pulang, manajer dan keluarga Anda pasti khawatir dan sudah menunggu." Damara berdiri, sedikit mengulas senyum agar Imelda bersedia menuruti permintaannya.

Alih-alih mengikuti saran Damara untuk pulang, Imelda malah tetap duduk, bergeming. "Bisakah sekali lagi Anda membantu membuat jeda sesaat dalam hidup saya..." pinta Imelda lirih, seraya memandang Damara dengan tatapan penuh permohonan.

Damara terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjawab permintaan Imelda. Entah mengapa, tatapan Imelda membuatnya tidak sanggup mengatakan "tidak".