"Nah, aku juga ada basket jam tiga di lapangan luar. Kita kumpul di rumahku, sekalian makan siang, jam setengah tiga semuanya harus sudah kelar. Kamu pulang, aku sama Niken kembali ke sekolah. Gimana"
"Ide jelek." kata Niken.
"Lho Jelek gimana" tanya Pandu.
"Aku harus pulang dulu." kata Niken. Aku kan nggak bisa latihan badminton pake baju begini.
Lagipula, raketku juga di rumah. Mau main badminton pakai tangan kosong" tanya Niken geli.
"Tuh, kan. Niken nggak bisa. Kamu saja, Ndu. Yaaa" bujuk Ratna.
"Tunggu. Nik, kamu abis badminton ngapain" tanya Pandu.
"Pulang." jawab Niken singkat.
"Ya tau, pulang. Maksudku ada acara apa gitu"
"Gak ada acara apa-apa."
"Sama dong. Mau nge-date sama aku, Neng" tanya Pandu becanda. Niken tertawa kecil. Dasar Pandu usil.
Pandu melanjutkan, "Begini,... maksudku, Ratna bisa ke sekolah atau ke rumahku, terserah dia, sesudah jam setengah enam. Kamu selesai badminton jam 5 kan, Nik"
Niken mengangguk. "Iya."
"Setuju, Ratna" tawar Pandu.
"Baiklah. Aku nggak punya pilihan lain, kan" tanya Ratna.
Pandu mengangguk. "Bu Lidya." Pandu lalu ketawa. Gimana nggak ketawa melihat wajah Ratna seperti habis menggigit cabe rawit.
"Jadi nanti sore jam setengah enam aku ke rumahmu yah. Makasih Pandu." kata Ratna manja sambil nyelonong pergi.
Setelah Ratna berlalu, Niken memukul bahu Pandu.
"Apa-apaan sih, Ndu, mengajak aku ikut-ikutan mengajari si cengeng itu" tanya Niken.
"Aku capek mengajari dia, Fei. Aku harus terus-menerus mengulang yang aku ajarkan mingguminggu sebelumnya. Begitu terus. Lumayan kalo dia lantas mendapat nilai bagus, gitu, paling tidak kan aku jadi merasa berjasa. Ini nggak. Jadi aku merasa buang-buang waktu saja." "Sudah tahu begitu koq malah ajak-ajak aku." Niken merengut. "Memangnya kamu nggak cemburu ngeliat Ratna seminggu sekali datang ke rumahku Frekuensinya lebih pasti dan lebih sering daripada kamu ke rumahku lho." goda Pandu.
"Nggak tuh." jawab Niken sambil mengambil segelas es teh manis di meja kantin, lalu menyerahkan uang dua ratus perak ke ibu kantin sambil tersenyum. "Masa nggak, sih Gimana kalau nanti kamu nggak usah ikut ke rumahku, nanti aku mau boncengin Ratna ke toko buku, beli buku matematika, trus pulangnya beli es krim" goda Pandu lagi. Masih kurang puas dia rupanya. "Berani!" ancam Niken sambil melotot.
"Sarana transportku cuma sepeda, jadi mau nggak mau aku harus boncengin dia kalau mau ke toko buku. Beli es krim kan karena ada toko es krim di sebelah toko buku."
Niken merengut lagi. "Kamu sungguh-sungguh mau ke toko buku" tanya Niken kemudian.
Pandu tidak tahan lagi menahan tertawanya. "Nggak dong. Aku cuma becanda, Fei. Kamu lucu deh." Niken tambah cemberut.
"Sorry. sorry." kata Pandu masih menebar senyum-senyum nakalnya. "Sebagai permintaan maaf, nanti sore setelah pulang badminton kita mampir beli es krim sebelum pulang. Aku boncengin. Mau" Niken tersenyum lebar. Tentu saja dia mau.
"Bagaimana tadi latihan badmintonnya" tanya Pandu sambil menuntun sepedanya.
"Aku single lawan Yeni, menang. Double sama Jeremy, kalah tipis sama Septi dan Komang. Aku emang nggak pernah sukses kalo suruh main double. Apalagi kalo lawan cowoknya cepat kayak Komang. Komang jago di double." keluh Niken.
"Pak Mahmud tadi melatih three-on-three. Lebih asyik daripada main basket biasa. Lebih cepat." kata Pandu sambil mengelap keringatnya. "Mobilku aku tinggal di sini saja yah" tanya Niken.
"Iya. Nanti aku anterin kamu balik ke sini lagi dari rumahku. Paling jam tujuh udah selesai." kata Pandu.
Sepanjang perjalanan dari sekolah ke kedai es krim mereka terus mengobrol.
"Kamu masih sering bikin puisi, Fei" tanya Pandu.
"Iya. Tiap malam sebelum tidur."
"Memangnya kalau nggak bikin puisi nggak bisa tidur"
"Bisa. Cuma seringnya belum mengantuk, jadi daripada nganggur ya bikin puisi."
"Kamu koq bisa yah bikin puisi gitu. Bagus-bagus lagi puisimu. Setidaknya satu yang pernah aku baca itu. Aku dulu waktu di SMP pernah disuruh bikin puisi sebagai salah satu tugas untuk pelajaran bahasa Indonesia. Gagal total. Aku disuruh bikin puisi tentang pemandangan. Berhubung waktu itu aku sedang di rumah saja, dan rumahku itu dekat pasar, jadi
pemandangan yang aku lihat ya pemandangan pasar. Seperti ini nih kira-kira." "Pasar Bringharjo yang bau Banyak sapi-sapi bau Daging-daging bau
Laler hinggap di tempat-tempat bau Tak heran rumahku jadi ikut bau"
Niken ketawa. Lucu sekali Pandu berteriak-teriak bau.
"Aku masih ingat betul ekspresi guru bahasa Indonesia-ku waktu itu. Bu Rosiana. Aku langsung dikasih nilai lima. Untungnya cuma sekali itu aku disuruh bikin puisi. Benar-benar perjuangan berat deh bikin satu puisi seperti itu saja." "Aku bikin puisi tu cuma menulis apa yang terlintas di otak. Nggak harus dengan kata-kata yang indah. Yang penting bermakna dalam." kata Niken. "Fei, apa sih yang kamu nggak bisa Kamu tuh apa-apa bisa. Aku nggak bisa bikin puisi, nggak bisa njahit, nggak bisa masak. Kayaknya kamu tuh segala bisa."
"Hmm. apa yah yang aku nggak bisa Tadinya aku kirain aku nggak bisa pacaran. Tapi kamu udah buktiin bahwa aku salah. Aku cuma nggak mau nyoba aja." Niken berpikir sejenak. "Kamu bisa berenang" tanya Pandu.
"Bisa. Waktu kecil aku les berenang. Di rumah ada kolam renang. Harus bisa renang, dong.
Gimana kalau nggak sengaja kecebur" "Kamu bisa menggambar"
"Nggak ahli kayak Pablo Picasso, tapi kalo cuma bikin wajah orang gitu aja sih bisa."
"Bisa masak"
"Masak yang dimasak pembantuku, aku bisa semua, karena kalo liburan aku sering nganggur, jadi terus ke dapur, ngeliat mereka masak, terus ikut bantu-bantuin. Masakan favoritku, sup bakso soun."
"Menjahit"
"Waktu SMP kan ada pelajaran menjahit. Tadinya ya nggak bisa. Terus gara-gara harus bisa pas SMP itu, aku akhirnya bisa juga. Wulan yang ngajari." "Ah. aku tahu yang kamu nggak bisa.
Kamu bisa ngomong Jawa" Niken tersenyum. "Ampun ngenyek nggih, Mas. Kulo laer ing tanah Jawa, kudu saged ngomong Jawa. Panjenengan saged nulis ngangge aksara Jawa (=Aku lahirnya di Jawa, harus bisa ngomong Jawa. Kamu bisa nulis pakai huruf Jawa)" Aksen bahasa Jawa Niken pun walaupun agak kaku tapi nggak begitu jelek.
Pandu tercengang.
"Kamu bisa nulis Jawa juga Trus apa dong yang nggak bisa" "Oh, ya. Aku nggak bisa ngganti ban serep mobilku. Pernah ban mobilku bocor di sekolah, aku harus minta tolong bapak tukang parkir untuk bantuin aku ganti ban serep."
"Kalau itu wajar lah karena kamu perempuan. Yang kamu nggak bisa, tapi nggak membutuhkan tenaga cowok, apa dong"
"Oh. Aku tahu. Tapi jangan diketawain yah. Aku nggak bisa dandan. Sama sekali nggak bisa. Aku tahu hasil akhirnya harus seperti bagaimana, tapi aku nggak tahu gimana caranya menuju ke hasil akhir itu. Pernah aku coba iseng-iseng, waktu pesta ulang tahun mama, sekitar 2 tahun yang lalu. Pakai segala macam peralatan make-up mama. Coreng-moreng persis pemain opera Cina. Putus asa, aku nggak pernah berusaha mencoba lagi. Aku bahkan nggak punya satupun peralatan make-up sendiri. Lipstik sekalipun." "Memangnya Mama kamu nggak pernah ngajarin"
"Nggak. Tapi Mama punya ide bagus. Tiap kali mau ke pesta yang butuh make-up, aku ke salon.
Masalah selesai, kan"
"Wah. Aku nggak bisa bantuin kamu, deh. Aku bahkan nggak punya kakak perempuan yang bisa aku tanyain. Ibu juga nggak pernah pake make-up. Sorry deh."
"Nggak masalah. Aku nggak merasa rendah diri koq. Seperti yang aku bilang, aku sudah punya solusinya."
"Bagaimana kalau kamu nggak punya banyak duit, jadi nggak bisa ke salon tiap kali mau ke pesta"
"Nggak tiap pesta aku ke salon koq. Cuma kalau pesta besar-besaran. Paling setahun satu-dua kali. Kalo aku emang dilahirkan di keluarga yang lain, yang nggak punya banyak duit, pasti sekarang ini aku bisa dandan. Memang nasibku harus begini, Ndu."
"Kamu koq kesannya merana karena punya banyak duit. Orang tu biasanya sedih karena nggak punya duit. Kamu yang punya banyak duit malah sedih." "Kenyataannya, aku selalu bisa menemukan jawaban dari "tapi seandainya aku tidak kaya" setiap aku menemukan keberuntunganku karena jadi anak orang kaya." "Misalnya"
"Oke. Sebutkan keuntungan jadi orang kaya. Apa saja lah yang terlintas di otakmu sekarang."
"Kamu punya rumah besar dengan fasilitas yang komplit"
"Rumah besar bener-bener bikin aku merasa kesepian. Fasilitas yang komplit, itu memang membantu aku untuk melepaskan diri dari kesepian. Kembali ke pertanyaan semula, seandainya, sendainya saja aku tidak kaya, aku nggak butuh rumah besar, apalagi fasilitas yang komplit itu, karena aku nggak bakal kesepian."
"Oke, oke. Kamu jadi sedih kan Aku nggak pengen bikin kamu jadi sedih." "Aku nggak sedih koq. Karena sekarang aku sudah ada kamu." kata Niken sambil memeluk pinggang Pandu dari boncengannya.
Kebetulan dua detik kemudian, mereka pas sampai di depan rumah Pandu. Ratna sudah menunggu di teras depan. Melihat Pandu dan Niken berboncengan, apalagi pegangan Niken di pinggang Pandu begitu kencang, hati Ratna terbakar api cemburu. Rupanya dia belum sempat mendengar berita bahwa Pandu sudah jadian sama Niken. Cepat-cepat dia keluar lagi, ke arah mobilnya, bermaksud ingin pulang.
"Lho, lho, lho. Ratna, kamu mau ke mana" tanya Pandu heran. "Pulang." jawab Ratna singkat.
"Sorry kita dateng terlambat. Tapi cuma telat lima menit saja koq." kata Pandu bingung sambil melirik jam tangannya.
"Jadi kamu sekarang pacaran sama Niken" tuding Ratna tanpa basa-basi. Walaupun heran akan reaksi Ratna, Pandu mengangguk-angguk.
"Niken, kamu tuh nggak boleh pacaran kan sama papa-mama kamu Mereka tahu kamu pacaran" Ratna berbalik menuding Niken. Gosip yang didengarnya cukup up-to-date juga ternyata.
"Ratna, kami belum lama pacaran koq. Baru dua minggu. Papa-mama Niken belum tahu tentang ini. Ratna, tolong jangan bikin gara-gara." Pandu yang menjawab.
"Aku nggak akan bikin gara-gara. Tapi lambat laun mereka pasti tahu. Lagipula mereka berhak untuk tahu. Tapi sekarang aku mau pulang. Aku nggak peduli mau dapet berapa ulangan matematika besok, tapi aku mau pulang sekarang." Pandu cuma bisa mendesah menatap mobil Ratna yang melaju terburu-buru. Dia lalu menggenggam jemari Niken. "Kamu nggak papa kan,
Fei" Niken menggeleng. "Aku juga mau pulang, Ndu. Capek. Karena aku nggak perlu ngelesin si Ratna, anterin aku balik ke sekolah dong."
"Oke. Yuk naik." ajak Pandu. Dari suaranya sama sekali tidak terdengar nada keberatan karena harus bolak-balik dari sekolah, ke rumahnya, lalu balik lagi ke sekolah lagi tanpa istirahat.
"Kamu suka es krim vanilla ya, Fei" tanya Pandu memecah kesunyian. Niken dari rumahnya tadi sudah lima menit tak melontarkan sepatah kata pun. "Nggak juga. Aku suka es krim apa aja kecuali strawberry. Cie Tasya cuma suka mocha. Sampe bosan aku melihat es krim mocha di lemari es. Besok hari ulang tahun Cie Tasya. Tadi pagi mama sudah beli es krim mocha satu dus. Bunga matahari kesukaan cie Tasya juga sudah dipesan. Aku yakin rumahku pasti sore ini sudah penuh bunga matahari. Terutama kamar cie Tasya." "Ulang tahun yang keberapa, Fei" "Dua puluh satu."
Setelah diam lagi sejenak, Niken tiba-tiba berseru, "Oh, aku ingin mengundang Edi, bekas pacar kak Tasya itu untuk datang ke rumah besok!"
"Hah" Pandu jadi kaget. "Gila kamu, Fei Kamu bercanda kan"
"Nggak. Aku yakin sekali Edi sudah berubah, berubah menjadi cowok yang diinginkan kak Tasya. Nanti sampai di rumah aku akan telepon dia."
Pandu menggeleng-gelengkan kepalanya. Cewek yang satu ini kalo sudah ada maunya, susah diberitahu. Tapi kekeras-kepalaannya inilah salah satu di antara jutaan sisi menarik Niken.
"Kalo terjadi perang gimana" tanya Pandu berusaha menakut-nakuti.
"Ya biar aja. Sudah lama nggak ada perang di rumah. Biar ramai." ujar Niken cuek.
"Terserah kamu, lah. Asal kamu jangan undang aku aja."
"Kenapa Takut nih ye... Mana bisa praktek siasat perang Sun Tzu kalo nggak pernah maju ke medan perang" ejek Niken.
"Tapi yang bakal terjadi besok di rumahmu itu bukan perang beneran. Perang mulut. Idih! Aku nggak mau ikut campur lah."
"Bagaimana kalo aku undang Masa' kamu menolak undanganku Kamu kan belum pernah masuk ke rumahku" ledek Niken. Dia sebetulnya juga tidak sungguh-sungguh berniat mengundang Pandu. Cari maut namanya. "Aku akan datang kalau kamu undang. Kapan aja aku siap. Kamu kan yang belum siap mengenalkan aku sebagai pacar ke keluargamu" Sebenarnya Pandu gentar juga, sih. Tapi nggak mau kalah, dong.
"Oke. You're officially invited. Besok datang jam tujuh malam. Aku akan suruh Edi jemput kamu."
Pandu langsung menghentikan sepedanya.
"Serius nih" tanyanya sambil memegang bahu Niken.
Niken mengangguk ragu. Pandu langsung menjitak kepalanya pelan. "Jangan ngomong sesuatu yang kamu tahu bakal kamu sesali di kemudian hari, Fei." "Ndu, yang dibilang Ratna tadi benar juga. Cepat atau lambat papa-mama pasti tahu. Teman-temannya banyak. Lebih baik tahu dari aku langsung, daripada dari gosip orang lain." kata Niken.