Ketika ia bangun pagi ini Reid sudah memulai latihan peregangannya. Ia sudah ketakutan akan ada rasa canggung diantara mereka, bahwa dengan terangnya cahaya Reid akan menyesali kesalahannya dan berharap ia dapat mengembalikan kondisi menjadi seperti semula. Rencananya untuk menhindari Reid sampai ia siap, untuk memadamkan emosi bodohnya yang membuat dirinya tak bisa menyesali satu malam pun bersama Reid.
Membungkus dirinya dengan selimut lembut dan menyelipkan di bawah lengannya, Lucie menahan nafas dan melakukan gerakan terbaiknya seolah Invisible Man saat ia melewati ruang latihan.
"Sudah waktunya kau bangun, tukang tidur." Lucie membeku dalam keadaan setengah berjinjit saat lengan kuat Reid memeluknya dari belakang. Ia tahu Reid tanpa pakaian saat dadanya menghangatkan punggungnya yang tidak tertutupi selimut. "kenapa kau sepertinya bersembunyi dariku" Reid bertanya sebelum menaruh rambutnya kesamping dengan dagu jadi Reid dapat memberi ciuman basah di sepanjang lehernya.
"Aku...um..." Apa yang ditanyakannya Sialan.
Tiba-tiba tubuh Reid menegang. "Kau menyesali semalam, Luce"
Sebelum bicara Lucie berdoa agar kegugupannya hilang dari suaranya. "Kau"
Reid membaliknya dan mendongakkan dagu Lucie ke atas. Matanya lebih coklat berkilau di pagi yang cerah. "Aku tak akan bohong. Seksnya sangat luar biasa, dan aku tak pernah menyesali seks yang luar biasa bersama wanita yang luar biasa." Reid agak menghela nafas saat ia memperhatikan wajahnya dan menyelipkan rambut Lucie ke telinganya. "tapi aku juga tak akan menodai pertemanan kita sama sekali."
"Tidak, tentu saja tidak." Ia membersihkan tenggorokannya dan mencoba menahan tatapannya berkeliling saat kebohongan terungkap. "Maksudku, sebaiknya kita membuat hal ini terjadi satu kali."
"Benar." Mata Reid tertuju ke bibirnya. Reid menjilat bibir miliknya dengan lidahnya. "Kita tidak mau membuat kecanggungan diantara kita. Bagaimanapun juga, kau sedang dalam proses untuk berkencan dengan doktermu dan aku akan segera pulang ke Vegas."
Kilauan di bibir Reid membuat perhatiannya terpaku dan ritme jantungnya terus meningkat dengan setiap detik berlalu sebelum ia ingat sekarang gilirannya untuk menyangkal gagasan affair seks yang fenomenal tanpa ikatan dengan salah satu pria terseksi di dunia olahraga, belum lagi rasa naksirnya di masa kanak-kanaknya. Tapi ia tidak bisa berpikir satu pun kalimat yang akan diucapkannya.
"Luce," dengan serak, Reid menempatkan tangan di pinggulnya, matanya tak pernah meninggalkan bibir Lucie. "Kita tidak seharusnya...kan"
Ia mencoba merespon, mulutnya terbuka setiap kali untuk mengatakan sesuatu, apapun. Akhirnya ia menyerah dan merengkuh belakang kepala Reid di satu tangan dan menciumnya tanpa ampun.
Reid balas merespon, dengan menyentakkan tubuh Lucie kearahnya dan memegang kendali atas ciumannya dengan menyesuaikan posisi dan memasuki lidahnya. Itu adalah serangan yang terkoordinir dengan baik yang ia tak bisa tahan, bahkan jika ia mau sekalipun.
Reid mendorong punggung Lucie ke tembok, menggesekkan tubuhnya, dengan membuat selimutnya menjadi onggokan berantakan diantara mereka. Reid, menjadi gentlemen seperti biasa, membantu dengan kreatif pada pakaian malangnya dengan mendorongnya ke lantai. Masalah terpecahkan.
Melepaskan ciumannya Reid berpindah ke garis rahangnya, sampai ke belakang titik sensitif dibalik telinganya. Satu tangan menangkup payudaranya, yang lain meremas pantatnya seakan memegangnya agar dirinya tidak terjatuh. Ereksinya yang besar menggesek clitnya melalui celana pendek yang dipakainya menciptakan gesekan nikmat dan membuat Lucie hilang akal.
"Ya, Tuhan, Reid," Lucie terengah. "Apa yang kita lakukan Ini gila."
"Tidak," bantahnya, menggigiti daun telinganya dan membuat Lucie terkesiap karena kenikmatan/nyeri tak dikenal yang baru ia pelajari. "Ini namanya foreplay." Reid menghisap daun telinga Lucie ke dalam mulutnya dalam momen singkat yang panas, dan berkata, "Faktanya bahwa tanganku tak tahan untuk menyentuhmu itu baru gila."
"Itu juga." Sesaat mereka hampir kehilangan akal mereka, ponselnya memainkan lagu "Jackson" oleh Johnny Cash. "Sial! itu kakakku."
Reid menarik diri dan memberinya tatapan kau-pasti-bercandapadaku, tapi Lucie mengambil selimut dari lantai dan menyelipkannya saat ia mengangkat ponsel. Kakaknya lebih parah dari induk ayam dan jika ia tidak menjawabnya, ia akan memanggil nenek-nenek tetangga untuk datang dan memeriksanya.
Membuka ponsel ia katanya," Hei, Jackson. Apa kabar"
"Sejak kapan sesuatu seperti terserah padaku untuk menelpon adik perempuanku Dan kenapa kau terdengar buru-buru di telpon" "Eh, karena memang begitu. Aku melupa meninggalkannya di kamarku jadi aku berlari untuk mengambilnya karena aku tahu kau seperti apa. Aku tidak mau kau memanggil pasukan kavaleri tanpa alasan yang jelas."
"Aku tak akan menyebut Mrs. Egan seorang pasukan kavaleri," jawabnya masam. "Selain itu terakhir kali aku memintanya untuk memeriksamu dia membawakanmu kue brownies lezat. Aku bisa lihat itu bisa jadi beban berat yang harus ditanggung demi ketenangan kakakmu."
"Baiklah, kurasa kau benarah!" Tangan besar Reid benar-benar mengejutkannya ketika mencapai bawah selimut ke perutnya, dan sekarang menjalar ke payudaranya.
"Kau baik-baik saja"
Ia menampar tangan Reid dan menyingkirkannya. Ketika Reid terkekeh terhibur Lucie melotot memperingatkan, tapi itu tidak menyurutkan Reid sama sekali. "Tidak ada apa-apa, Jax, aku hanya um.." berpikir, girl, berpikir. "... kakiku menyandung meja ruang tamu."
Senyum Jackson terdengar dari ponsel. "Tetap kikuk seperti biasanya, hah Senang mendengar beberapa hal tidak berubah."
Rambutnya berpindah kesamping sebelum mulut panas memanggang lehernya dengan ciuman-ciuman basah dan sesekali menggigit. Denyut di dalam intinya mengirim gelombang kejut menggelenyar ke seluruh tubuh disetiap detak jantungnya. Kakinya melemah. Tangannya tidak mau memegang ponsel ke telinganya dan kakinya tidak bisa membuatnya tegak sama sekali. Dan apa yang ia katakan Ceroboh! Itu dia. "Ya, well, akan menyenangkan...kau tahu...ah, sesuatu...bisa berubah, eh...terserah."
"Hei, apa kau baik-baik saja" Jackson bertanya. "Kau terdengar aneh."
Reid menjilat tulang di telinganya dan berbisik, " Putuskan teleponnya, atau aku yang akan menutupnya."
Gagasan bermain-main sementara mendengar suara kakaknya seperti berdiri di bawah seember air dingin yang di seimbangkan dipinggiran dengan tali yang bertuliskan Tarik Di sini. Tidaaaaaak terima kasih.
"Sebenarnya, Jackson, bisakah aku balik menelponmu nanti Aku benar-benar harus mengurus kakiku dan aku butuh es dan yang lainnya." Ia memberi jeda dan bersuara "uh-huh" saat ia mendengar saran kakaknya bagaimana merawat kaki yang terkilir dan bagaimana mengetahui kalau patah, bla bla bla. Akhirnya, Jax mengakhirinya, dan ia menarik ponsel dari telinganya sebelum ia selesai dengan cepat, "okeakujugamenyayangimu."
Baru saja menyelesaikan ocehan tak jelasnya dan menaruh ponsel di sofanya, tangan Reid menyelip di kemaluannya. Tanpa jeda Reid langsung memasukkan dua jari ke dalamnya sementara tangan satunya yang bebas mengklaim satu payudaranya. Banyak sensasi berhamburan menjadi satu dalam dirinya. Telapak tangannya yang kasar menggores putingnya yang tegang dan jarinya membuat ujung kakinya melengkung bergairah dalam dirinya saat mereka mendorong lagi dan lagi ke tubuhnya.
Kepalanya menekan dada Reid saat ia melengkungkan punggungnya dan meletakkan tangan ke kepalanya untuk menancapkan kukunya ke bahu Reid. Nafas Reid mendesis di telinganya. Ia tahu Reid menyukai sengatan dari kuku dan giginya dan ia tidak lagi malu memberikannya pada Reid. Reid membalas dengan mencubit dan menarik putingnya, sensasinya seperti kembang api di dadanya.
"Ah, ya!"
"Begitu sayang. Ya Tuhan, kau terasa panas. Klimaks lah untukku. Aku ingin merasakan tubuhmu menelan jariku jauh ke dalam dirimu."
Kata-katanya adalah pemicu api gairah yang membakar dirinya, membuatnya cepat terbakar. Dengan satu dorongan tangannya dan giginya yang menusuk di bagian lehernya yang mengencang, Lucie terbelah, benar-benar hancur sampai ia tak dapat berdiri normal dalam eksistensinya di dunia.
Saat Lucie akhirnya berbalik, ia dengan rakus menggesek milik Reid melalui celana pendeknya, tapi dengan cepat Reid merenggut pinggul dan menyingkirkan tangannya.
"Tahan."
"Kenapa"
"Aku sebenarnya sangat senang menyelesaikan ini, tapi jika aku membawamu di ranjangatau sofa, lantai, meja dapur, atau yang lainnyaaku akan menahan kita berdua disana sepanjang hari dan kita tidak akan mengerjakan apapun."
Lucie merasa dirinya menganguk-angguk meskipun tubuhnya menyuruhnya menerjang. "Kau benar, kita punya...uh, sesuatu, seperti..."
Sudut mulut Reid terangkat. "Olahraga, latihan, hal-hal yang membosankan seperti itu."
"Benar, terima kasih."
"Sama-sama. Kenapa kau tidak pergi melakukan apapun yang biasa kau lakukan setiap pagi dan kau bisa menemuiku di ruang latihan saat kau siap."
Ia tidak yakin dengan semua yang Reid katakan. Ia masih merasakan seperti turun dari kondisi mabuk yang menakjubkan, tapi ia tahu mungkin aman untuk menyetujui apapun yang disarankannya. "Ide cemerlang. Aku akan melakukan...itu."
Reid terkekeh rendah di dalam dadanyaketelanjangannya yang menakjubkan, kekar dengan otot-otot dadadan menuntunnya kearah kamar tidurnya. Lalu dengan sedikit tamparan di pantatnya, Reid menyuruhnya pergi.
Entah bagaimana mereka mampu untuk tidak meraba satu sama lain ketika Reid selesai latihan PT dan olah raga reguler mereka. Kemudian mereka seharian memikirkan bagaimana caranya mengubah latihan keras yang biasa dia lakukan untuk mengakomodasi penyembuhan cedera sehingga Reid bisa tetap dalam kondisi siap bertarung.
Setelah ia mandi, lalu duduk di sofa menunggu Reid menyelesaikan latihannya jadi mereka bisa santai bersama dan menonton film sepanjang hari. Ia menfokuskan diri dengan membaca, tapi yang ada dalam benaknya saat itu adalah Reid Andrews telanjang yang mempesona dengan air yang membasahi seluruh tubuhnya. Saat tubuhnya mendorong rasa panas dari atas, ia menaruh bukunya kesamping dan menyalakan kipas angin. Setidaknya aku menggunakannya untuk sesuatu.
Saat ia mendengar pintu kamar mandi terbuka ia cepat-cepat mengambil bukunya kembali ke depan wajahnya dan berpura-pura melihat seolah-olah ia tidak sedikitpun membayangkan melakukan hal nakal pada Reid di bawah air panas: Tidak, tidak ada yang kotor dengan benaknya. Ia hanya membaca sesuatu yang ringan. Sepenuhnya. Polos.
"Wow. Buku itu pasti ada beberapa adegan panasnya."
Matanya menatap Reid saat ia duduk di sofa sebelahnya. "Apa yang membuatmu berkata begitu"
"Karena pipimu bersemu merah dan bibir bawahmu mengerut karena kau gigit." Reid menangkup pipinya dengan tangan dan menggunakan ibu jarinya untuk menelusuri bibirnya yang bengkak. "Yang sekarang aku tahu adalah sesuatu yang kau lakukan saat kau terangsang. Apakah kau terangsang, Lucie"
Benar-benar susah berpura-pura polos.
***
"Aku sudah menunggu untuk menonton Warrior."
Reid melepaskan tangannya dan tersenyum dengan perubahan topiknya. Ia tidak bisa menahan. Satu malam dari hubungan seks yang menakjubkan dan satu orgasme di ruang tamunya berikutnya dan Lucie masih malu kepadanya.
Lucie meletakkan bukunya di ujung meja dan bergerak-gerak gelisah dengan bantal sofa. "Ini tentang dua orang saudara yang masuk kompetisi MMA yang sama dan harus bertarung satu sama lain."
"Aku tahu. Aku sudah melihatnya."
"Oh." Katanya, merengut.
"Tapi aku ingin menontonnya lagi. Aku melihatnya dengan beberapa teman di gym dan mereka cukup menjengkelkan, jadi aku tidak melihat semuanya." Itu tidak semuanya benar, tapi sedikit kebohongan untuk meringankan kerutan di dahinya adalah sepadan. Senyum Lucie adalah bonusnya.
"Baguslah. Oke, kau menyiapkannya dan aku akan membuat popcorn."
Lucie bangkit dari sofa dengan rasa senang. Satu detik ia melewati dirinya saat berjalan ke dapur, dan selanjutnya ia mendengar gedebuk dan ooh saat dia terjerembab di lantai dibawahnya.
"Woa, Lubert." Ia menariknya dan mendudukkan di sampingnya dengan kaki Lucie berada diatas pangkuannya. "kau tidak memperhatikan meja tamu, atau apa"
Lucie menatapnya saat ia menelan udara melalui rahangnya yang menegang dan mengepalkan tangannya ke depan. "oh, man, kenapa tersandung di ujung jarimu sungguh menyakitkan Aw, aw, aw."
"Sini, biar aku tahan untukmu," dengan hati-hati ia taruh ujung kaki kanannya diantara telapak tangan dan menekannya untuk memberikan sedikit tekanan pada kakinya. Ketika Reid sadar mereka duduk pada posisi itu beberapa saat, ia mendongak lalu melihat Lucie sedang memperhatikan tangannya, mata berkaca-kaca. "Hei," katanya lembut, menangkup pipinya. "Sangat sakitkah Mungkin kau mematahkan sesuatu."
Lucie memberikan gelengan yang hampir tak terlihat. "Itu yang selalu mamaku katakan saat kami meningkatkan diri kami. 'Tahan.' Aku selalu berpikir itu hal konyol untuk dikatakan, tapi selalu membantu."
"Kau bercanda Itu adalah hal yang cemerlang untuk dikatakan. Kau tahu berapa kali aku 'tahan' setelah dihajar saat latihan bergulat Ratusan, kalau tidak ribuan. Dan itu selalu membantu." Dengan setengah menyeringai ia menambahkan, "semacam itu atau kompres air es. Susah dikatakan mana yang lebih baik, sungguh. Mengingat berapa lama waktu yang kupunya."
Lucie mendengus pada pernyataan yang aneh dan tertawa gugup dan tangannya menutupi wajahnya. Reid menarik tangannya. "Aku suka saat kau mendengus."
"Oh, diamlah," katanya sambil memberi dorongan main-main sebelum mengayunkan kakinya ke lantai. "Aku tidak bermaksud melakukannya, kau tahu."
"Aku tahu, itulah kenapa sangat menggemaskan."
Berhenti di pinggiran sofa Lucie berbalik dan menyipitkan mata abuabu mungilnya kearah Reid. "Tak ada orang yang berpikir dengusan seorang gadis itu menggemaskan."
Reid mengangkat bahu dan meyandarkan tangannya di belakang sofa. "Aku akan setuju dengan pernyataan itu sampai aku mendengarmu melakukannya seminggu yang lalu."
Lucie mengelangkan kepalanya dan tertawa sambil berjalan ke dapur, jelas tidak percaya padanya, tapi tak apalah. Ia akan mempercayainya suatu hari nanti. Suatu hari nanti yang segera akan Lucie ketahui ketidak sia-siaannya dan nyaman dengan semua hal tentang dirinya, termasuk kecenderungannya mendengus dan menabrak benda-benda mati.
Saat lucie membuat popcorn dan membawakan minuman mereka Reid menyalakan film, memilih Warrior, dan menghentikan saat akan mulai. "Hei," panggilnya. "kau tahu sebutan untuk orang yang kakinya tersandung"
"Sebutan yang sama saat aku melakukan sesuatu semacam itu: kecanggungan."
"Bukan, kali ini namanya karma. Ketika kau berbohong pada kakakmu soal kakimu yang tersandung."
Lucie menjulurkan kepalanya di pintu masuk, mata melebar. "Ya ampun, kau benar! Well, benar-benar menjengkelkan." Menghilang kembali ke dapur, katanya, "Ingatkan aku untuk tidak berbohong dengan alasan melukai tubuhku kedepannya."
Reid masih tertawa saat Lucie berjalan kembali membawa semangkuk besar popcorn dan dua botol air. "Kau hanya perlu menyesuaikan kebohonganmu sedemikian rupa jadi ketika karma datang padamu, saat mengatakannya, itu adalah sesuatu yang kau nikmati."
Lucie menaruh mangkuk di meja di depannya dan duduk di sofa tanpa mengalami kemalangan lebih lanjut. Saat sudah nyaman ia berkata, "Oh, ya Seperti apa"
Menghadap padanya, Reid mendekat. "seperti misalnya, Maaf, aku tak bisa bicara sekarang karena Reid sedang menjilat payudaraku seperti sedang menjilati ice cream cone miliknya sendiri." Ia tak pernah melihat pipi seseorang demikian cepat meronanya.
Membangkitkan Lucie adalah menjadi salah satu kesukaannya akhirakhir ini dan ia tidak kuasa untuk meneruskannya. "Walaupun, aku tak yakin kalau itu termasuk dalam karma karena tidak memberi kontribusi dalam kotak saran alam semesta." Ia menunduk ke titik di kedua pahanya yang tersembunyi oleh celana pendek hitam piyama milik Lucie. "Bicara soal kotak"
Itulah yang bisa dikatakannya sebelum Lucie mendiamkannya dengan tangannya yang menutupi mulut Reid. Lucie melakukan yang terbaik saat terlihat ragu, ia sulit menahan senyumnya. "Reid Michael Andrews! Apa yang merasukimu"
Reid menarik tangan Lucie lalu tertawa. "Pastinya karenamu, sebab aku tak pernah segembira ini dengan seorang wanita dalam waktu yang sangat lama."
Lucie memiringkan kepalanya pura-pura malu-malu dan menatapnya dengan pandangan seksi. "Lalu, secara teknis, kurasa milikmu yang merasuk ke dalam diriku." Reid tidak sadar bahwa mulutnya ternganga sampai Lucie menutupnya dengan ujung jarinya dan berkata, "kau terus buka mulutmu seperti itu dan kau akan menangkap seekor lalat." Kemudian dengan seringai seperti kucingbaru-sajamakan-burung-kenari (tersenyum puas) ia menarik mangkuk popcorn ke pangkuannya.
Reid tertawa terbahak-bahak cukup lama, tawa keras saat ia merangkul Lucie dan menempel padanya. Reid menyalakan filmnya dan mereka diam dengan nyaman, makan popcorn dan bersantai satu sama lain. Perhatiannya lebih fokus pada Lucie daripada drama di layar. Reid perhatikan saat adegan bertarung tubuh Lucie menegang. Jika sesuatu mengejutkannya ia sedikit melenguh. Dan saat melihat adegan ciuman di layar, ujung jarinya menyentuh bibirnya sendiri seperti ia bisa merasakan ciuman itu sama seperti tokoh di dalam film.
Lucie pada dasarnya adalah wanita pendiam. Ia hidup dengan mandiri, membiarkan orang-orang disekitarnya berada atas di panggung utama. Tapi bukan berarti ia tidak punya gairah dari pada yang berada di panggung utama. Lucie mencintai pekerjaan dan teman-temannya, yang tulus berdedikasi dan setia, dan mempunyai jiwa romantis.
Reid tahu ia tidak bisa menetap dan memiliki keluarga. Ia tidak memiliki "gen pria berkeluarga" seperti kebanyakan orang, selain itu, ia tidak menjalani gaya hidup seperti keluarga umumnya kembangkan.
Ayahnya adalah Stan Andrews, satu dari petinju top profesional saat itu. Ia bertarung dengan banyak petinju besar bahkan mengalahkan beberapa dari mereka. Ibunya adalah salah satu ring bunnies yang sering berada disekitar gym, berada di semua pertarungan dan dan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan seorang petarung. Orang tua Reid selalu bahagia sampai umurnya lima tahun. Hingga suatu ketika San Andrew yang hebat mendapatkan pukulan terlalu banyak di kepalanya, dan itu adalah akhir dari karirnya. Setelah itu ia mulai minum, istrinya jijik hidup dengan mantan petarung yang tak berguna sebagai suaminya. Sensasi untuk berada di sisi ring dan memberi semangat untuknya sudah hilang. Lalu ibunya pergi.
Ibunya meninggalkan anaknya dengan pria yang tak tahu apa-apa soal merawat anak. Nyatanya, ayahnya tak tahu bagaimana melakukan apapun kecuali minum dan bertarung. Bukannya merawat anaknya, ia malah mendidiknya menjadi petarung.
Reid tak dapat membenci pelatihan yang ayahnya berikan padanya. Ia menjadi kuat, kadang menjadi terlalu ekstrem, tapi akhirnya itu semua terbayar. Ia menjadi salah satu petarung terbaik kelas berat ringan MMA di dunia dan mendapat ketenaran dan kekayaan. Ia hidup dengan sangat nyaman di Vegas, melakukan salah satu hal yang dicintainya.
Tapi bagian dari dirinya yang bukan petarungbagian dari dirinya yang ingin menjadi pematung, yang ingin menjadi seorang anakitu adalah bagian yang di benci ayahnya dan semua yang telah ia bangun. Hanya bagian itu tidak memberikan kebaikan untuk memberontak. Ia sudah belajar sejak kecil bahwa meminta untuk apapun lebih dari hubungannya sebagai seorang petarung/pelatih dengan ayahnya tidak ada harapan. Dan sebagai remaja ia belajar bahwa mengejar hobby apapun yang mengambil waktu jadwal latihannya tidaklah penting.
Jadi, tidak, Reid tak punya kesempatan sebagai seorang yang bisa menjalin hubungan asmara, apalagi menjalin hubungan keluarga. Ia hanya melihat masa depan sama jauhnya dengan pertarungan berikutnya. Sampai tangan seseorang terangkat di ring, ia makan, tidur, menghirup semua yang ia butuhkan untuk mempersiapkannya menghadapi lawannya. Dan setelah itu, ia mulai lagi untuk pertarungannya selanjutnya. Selalu menjadi petarung. Tak pernah menjadi penonton.
Ketika Lucie tersentak dan dengan terengah melihat pukulan yang berdarah, Reid menempatkan mangkuk popcorn kesamping dan menyesuaikan posisi duduknya sampai ia duduk di sisi sofa dan Lucie bergelung di sisinya di antara kaki Reid dengan kepala di dadanya. Reid mencoba sangat keras untuk tidak memperhatikan betapa sukanya dia dengan cara Lucie merapat pada tubuhnya, menggesekkan pipi ke T-shirtnya untuk mendapatkan kenyamanan yang ia inginkan.
Tersenyum, Reid memainkan rambutnya, memilin dan mengelus sepanjang rambutnya, menyukai kelembutannya dan wangi bunga yang sekarang hanya ada padanya.
Ia tidak yakin berapa lama waktu berlalu, tapi sebelum film berakhir nafas Lucie menjadi dalam bahkan tertidur. Mengambil selimut yang ada di belakang sofa ia bungkus di sekeliling tubuhnya dan menempatkan di ujungnya supaya lebih nyaman.
"Mimpi indah, Lu." Ia mencium ubun-ubunnya dan bahkan tak ingat sudah menutup matanya.