Setelah mendapatkan tempat parkir. Aku langsung turun dari mobil. Sekalisekali, aku mengamati daerah perumahan elit ini. Tetap bersikap waspada. Bergegas aku langsung menuju taman Village of Country. Nova masih duduk sendirian, dengan sikap kewaspadaan. Nova terlihat sudah melihatku. Dia mengangkatkan tangannya, seraya memanggilku. Langsung saja aku mendatangi dia. Tetapi, Nova langsung berlari kearahku. Terlihat sangat tergesa-gesa.
Farah. Kita harus cepat keluar dari sini! Ucap Nova. Saat sudah berada didepanku.
Kenapa harus terburu-buru Tanyaku bingung.
Sudah, tidak ada waktu untuk menjelaskannya disini! Ucap Nova. Dengan memegang tanganku.
Ini sebenarnya, ada apa sih Nov
Sudahlah. Ayo kita pergi! Tidak ada waktu, untuk aku jelaskan disini. Nova menarik tanganku.
Dan kita pun bergegas pergi meninggalkan taman itu.
Segera aku tancap gas dengan sedikit cepat. Meninggalkan rona-rona keindahan taman yang ditata rapi oleh para pengembang perumahan. Tetapi, tidak seindah apa yang telah diciptakan Ilahi. Taman-taman surga yang akan membuat kita terlena dan lupa dengan siksa dunia. Taman-taman surga yang akan membuat kita akan lupa dengan beratnya cobaan yang diberikan oleh-Nya. Taman-taman surga, yang memberikan kenikmatan bagi setiap penghuninya. Sungguh keindahan yang tidak akan pernah tercipta oleh manusia. Bahkan untuk memikirkannya sekalipun. Tidak akan mampu untuk menembusnya. Menembus taman-taman surga yang nikmat nian untuk dihuninya. Nikmat yang tidak akan pernah bisa terpikirkan oleh manusia. Nikmat yang tidak akan mampu untuk digapai didunia. Nikmat yang tidak akan mampu dipikirkan dalam otak manusia. Sungguh kenikmatan yang tiadatara. Kenikmatan yang telah dijanjikan oleh-Nya. Jannah-jannah Ilahi. Jannah-jannah untuk para mujahid dan mujahidah. Jannah-jannah untuk para pembela agama-Nya. Jannah-jannah para pemegang syariat-Nya. Pengusung kebenaran yang tak akan luput dari surga Ilahi.
Kita mau kemana sekarang Tanyaku. Sambil menyetir.
Terserah kamu, Far. Pokoknya, ketempat yang menurut kamu aman! Ucap Nova.
Hem. Nggak ada Nov, nggak akan ada tempat yang aman! Ucapku lirih.
Apa Nova sedikit kaget mendengar ucapanku.
Kenapa Tanyaku balik.
Apa benar, nggak ada tempat yang aman
Tidak ada! Jawabku.
Jika kamu, memang benar-benar tidak mempunyai tempat yang aman. Sudah tamatlah riwayatku! Nova berucap sambil terlihat putus asa.
Iya, Nov. Tidak akan ada tempat yang aman. Sesungguhnya, Allah tetap mengawasi kita! Kita tidak akan pernah bisa menemukan tempat yang aman. Bahkan kelubang semut pun. Kita tidak akan pernah bisa aman! Karena Allah mengawasi kita. Tetapi, kalau tempat yang aman. Yang tidak diketahui oleh manusia. Insya Allah, aku ada!
Oh. Aku kira kamu nggak punya tempat yang aman! Ucap Nova. Sudah terlihat sedikit lebih tenang.
Aku hanya tersenyum.
Aku mengemudi dengan kecepatan sedang. Jalan-jalan yang lapang, menjadi sangat menguntungkan. Menguntungkan, karena aku bisa memacu mobilku dengan santai. Tanpa harus terkena macet yang melelahkan. Tetapi sayang, jalan beraspal ini begitu terjal. Terjal, karena banyak lubang-lubang jalan yang tak terurusi. Entah kemana pajak yang setiap hari dibayar oleh para pemakai jalan. Hingga akhirnya, jalan-jalan yang seharusnya mulus dari lubang-lubang aspal yang rusak. Sudah tidak harus dilihat lagi. Hingga akhirnya, para pengendara pun tidak khawatir pada setiap perjalanan mereka. Tidak khawatir dengan rasa was-was, saat mengemudi. Dan terjerembab kedalam lubang aspal, yang akhirnya menyebabkan kecelakaan.
Mobilku tetap melaju dengan kecepatan sedang. Seperti biasanya. Aku tidak mau memacu kendaraanku dengan kecepatan yang tak wajar. Meskipun, mobilku dengan mudah aku pacu sesuai dengan apa yang aku inginkan. Bahkan cepat sekalipun. Mobilku bisa menuruti permintaanku. Tetapi, aku bukanlah pengendara yang tidak mengerti tentang aturan berlalu-lintas yang baik dan benar. Aku adalah orang Islam yang taat menjalankan perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah yang termasuk dengan kemaslahatan bersama. Perintah yang memang dapat menambah pengetahuanku tentang keteraturan dalam kehidupan. Meskipun, perintah lalu-lintas bukan ajaran dari syariatku. Tetapi, bukan berarti peraturan lalu-lintas bukan dari syariatku. Karena sesungguhnya, esensi dari syariat Islam. Juga tertuang dari perintah untuk dapat memberikan kemaslahatan bersama. Karena pada dasarnya. Kemaslahatan bersama dalam mewujudkan sebuah keindahan dalam keteraturan kehidupan. Adalah merupakan, syariat-syariat Islam.
Maka, aku memang harus benar-benar bisa menyadari tentang ini semua. Sadar akan aturan-aturan tentang kemaslahatan yang dimaksud dalam syariat. Hingga akhirnya aku sadar akan kemaslahatan yang memang seharusnya aku lakukan. Karena sesungguhnya, bukanlah sebuah hal yang besar. Jika kita menuruti aturan-aturan yang memang memberikan kemaslahatan bagi setiap orang. Tanpa harus mengorbankan aturan-aturan yang sudah ada dan sudah diterapkan dalam Islam. Hingga, aku harus bisa melakukan dan melaksanakan aplikasi peraturan yang sudah ditentukan. Karena peraturan itu adalah untuk kepentingan kemaslahatan bersama.
Tluuut...Tliit.... Dering Hpku.
Aku langsung menekan tombol handsfree. Ukhti Dewi tertulis di LCD Hpku.
Assalamualaikum Ukh! Ucapku.
Walaikumsalam
Gimana Ukh! Anti baik-baik saja Tanyaku langsung.
Mbak. Ana bisa ketemu Mbak nggak, sekarang! Ucapnya. Seperti memendam sesuatu dihatinya.
Anti sekarang dimana
Ana sekarang di kampus!
Ana jemput sekarang, gimana Tanyaku.
Iya Mbak! Jemput didepan aja.
Iya. Ana langsung kesana! Assalamualaikum
Walaikumsalam!
Setelah itu aku langsung saja aku menuju kampus Dewi. Sejenak, Nova terdiam. Terlihat dia bertanya-tanya.
Ada apa, Nov Tanyaku. Disela-sela menyetir.
Kita mau kemana, Far Nova terlihat agak bingung.
Aku mau jemput adikku dulu! Dia sekarang lagi dikampusnya. Ucapku dengan senyum.
Hem. Kok kelihatannya ada masalah Far
Insya Allah, semoga masalah itu bisa terselesaikan!
Benar. Berarti memang ada masalah! Desak Nova.
Masalahnya, sangat kompleks Nov! Jawabku sekenanya.
Far, apakah setiap muslim itu harus membantu saudaranya Tanya Nova. Seketika itu.
Aku mengangguk.
Apakah, wajib
Aku hanya mengangguk. Sambil tersenyum, aku jelaskan. Nov. Sesungguhnya, wajib bagi seorang muslim membantu saudaranya! Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda. Laa yu minu akhadukum khatta yukhibba ilakiihi maa yukhibbu linafsih yang artinya. Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Jadi, jika ada seorang muslim yang memerlukan bantuan. Maka kewajiban muslim lainnya, adalah membantu!
Far. Aku salut. Aku benar-benar salut dengan semua aturan yang ditetapkan dalam Islam. Apalagi, sepertinya sangat mudah sekali seorang umat Islam menghafal Al Quran. Bahkan perkataan seorang Nabinya pun. Terlihat sangat mudah dihafal! Ucap Nova. Dengan mata yang berbinar-binar.
Nov. Dalam Q.S. Al Hijr. Ayat 9. Allah berfirman. Inna nakhnu najjalnaddzikra wa innalahu lakhafiduun Yang artinya. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya Jadi Al Quran itu, benar-benar dijaga oleh Allah keaslihannya. Karena jaminannya penjagaannya dari Allah. Bagaimana Allah menjaganya Pastilah dengan memudahkan penghafalan Al Quran dan hadits-hadits, dan memudahkan lafal-lafalnya agar terlihat indah dan bermakna! Dengan salah satu cara seperti itulah, Allah memberikan penjagaan kepada Al Quran!
Sungguh, sangat mengesankan! Apakah kamu, bisa mengajari aku Far Tanya Nova. Terlihat berharap.
Insya Allah! Jawabku. Sambil tersenyum.
Kampus Dewi sudah terlihat. Aku tinggal memutar untuk bisa memasuki area depan kampus. Seseorang akhwat terlihat sedang duduk-duduk disalah satu halte bus. Sesegera mungkin aku langsung menghampirinya. Dengan tepat berhenti didepannya. Akhwat itu tersenyum. Dia adalah Dewi. Yang dengan wajah bingungnya setia menungguku.
Assalamualaikum. Ucapnya, sembari langsung membuka belakang mobil. Setelah tahu kalau kursi depan ada sudah berpenghuni.
Walaikumsalam. Jawabku, menyambut.
Afwan Mbak, ana merepotkan Mbak lagi! Ucapnya langsung.
Ukhti. Ana nggak mau anti ngomong seperti itu! Ingat. Ucapku menekankan.
Iya, Mbak. Afwan.
Setelah itu aku langsung menancap gas. Pergi meninggalkan halte bus.
Gimana, Ukh Apakah sudah ada titik terang Ucapku.
Hem. Mbak, ana rasa masih sulit! Masih sangat sulit Mbak. Dewi terlihat bingung.
Yah! Memang sulit, Ukh! Tapi, anti tetap harus bersabar dan tetap memohon kepada Allah. Anti ingatkan...
Dengan seketika itu pun. BERSABAR DAN SHOLAT! Ucapku dan Dewi.
Bersamaan, dan lalu tersenyum.
Insya Allah, Mbak! Pasti. Ucap Dewi.
Eh, iya. Ini kenalin, temanku Nova! Ucapku.
Setelah Nova dan Dewi berkenalan. Tiba-tiba, Nova mengatakan.
Mungkin, alangkah lebih baiknya jika aku duduk di belakang aja deh. Biar Dewi duduk didepan!
Nggak usah! Mbak. Biar Mbak Nova aja yang duduk didepan! Ucap Dewi.
Ah. Nggak enak! Kayaknya, yang pantas duduk didepan adalan Dewi. Ucap Nova, sedikit berharap.
Jangan, gitu Nov! Kamu tetap duduk didepan aja. Jangan ada perasaan seperti itu! Ucapku.
Tapi kelihatannya nggak enak banget, gitu loh! Ucap Nova, dengan tersenyum.
Bukan nggak enak Nov. Hanya kamu risih aja! Dikelilingi oleh para jilbabers kaya kita! Ucapku. bercanda. Kalau kamu duduk dibelakang. Malahan, kesannya kayak kamu itu aku culik! Ucapku lanjut.
Yang akhirnya membuat kami tertawa.
Mbak Farah! Panggil Dewi.
Iya, Ukh!
Mbak, ana kemarin ditelephon sama penjahat-penjahat itu! Ucap Dewi. Terlihat seperti gelisah.
Iya Lalu mereka bilang apa Tanyaku penasaran.
Mereka tetap mengancam, Mbak! Ana takut. Tadi ana bilang sama nenek, kalau ana mau nginep dirumah teman. Ana, takut kalau para penjahat itu tahu rumah nenek. Ana nggak mau ada apa-apa dengan nenek, jika ana tetap tinggal dirumah nenek!
Kalau begitu, anti ikut ana! Kita sembunyi, ditempat yang Insya Allah tidak akan diketahui oleh mereka!
Baik!
Nanti anti, tinggal sama Nova! Biaya hidup, semua ana yang tanggung. Ucapku tegas.
Mbak, ana terlalu merepotkan! Ucap Dewi.
Iya. Far. Aku kayaknya sudah terlalu merepotkan kamu! Sahut Nova.
Kalian jangan ngomong begitu! Semua ini hanya karena Allah! Ucapku.
Sejenak, suasana menjadi didalam mobil. Terhenyak. Kata-kata Rabb muncul dengan sendirinya. Dengan mudahnya, dan dengan kekuatan hati yang tulur untuk menyebutnya. Hingga, setiap yang mendengar pun. Harus tertunduk mengagumi-Nya.
Tapi. Tetap ada syaratnya! Ucapku, memecahkan keheningan.
Apa, Far Tanya Nova.
Iya, apa Mbak Sahut Dewi juga.
Harus sering-sering, bersihin genteng and nguras sumur yah! Ucapku, bercanda.
Yee..... serentak, jawaban yang tidak dikomando meluncur dari Nova dan Dewi.
Suasana pun kembali ceriah. Meskipun, terdapat aral-aral yang melintang didalam setiap diri Nova dan Dewi. Nova sendiri, sampai sekarang aku masih belum tahu. Masalah apa yang sedang menggelayuti hatinya. Hingga-hingga, dia harus lari dari rumahnya dengan kegalauan yang terpendam. Dan Dewi, entah bagaiaman perasaan hatinya sekarang. Masalah-masalah yang sangat berat, masih bercokol dalam hatinya.
Mobilku pun terus melaju. Menuju tempat yang harus dituju. Tempat yang nyaman untuk dihuni. Yang dapat memberikan perasaan tenang para penghuninya. Yang dapat memberikan ketentraman, pada jiwa-jiwa yang berada didalamnya. Tempat yang akan membuat setiap manusia rindu untuk memilikinya. Tetapi, rumah itu bukan tempat tinggal. Hanya rumah yang akan membina menjadi tempat tinggal idaman yang lainnya. Rumah yang akan memberikan keindahan kepada rumah-rumah berikutnya. Membuahkan rumah yang berisi kedamaian dan ketentraman dalam sebuah kehidupan. Karena rumah itu adalah, rumah yang memang diperuntukkan untuk berkhalwat dengan Yang Maha Memberi ketenangan. Allah SWT.
Saat-saat mobilku melaju dengan nyaman. Di jalan tol yang sedikit bergelombang. Menuju area puncak pegunungan. Indah, karena didepan adalah sebuah gunung berdiri dengan gagahnya. Tetapi tetap terasa panas. Tak disangka, aku melihat sebuah mobil sedan dari arah belakang. Melaju dengan sangat kencang. Sering kali mobil itu membunyikan klakson. Seraya mengingatkanku untuk untuk minggir, memberi jalan untuk dia lewat. Aku pun, meminggirkan sedikit mobilku.
Mempersilahkan mobil yang terburu-buru itu untuk melewatiku. Dengan cepat, mobil itu sudah sampai disamping mobilku. Kita pun melaju dengan kecepatan yang sama. Aku sedikit bingung dengan ulah pemudi itu.
Kaca cendela pintu mobil pun terbuka. Terlihat seseorang berkacamata hitam, mengacungkan sebuah benda. Dan berteriak-teriak CEPAT MINGGIR KAMU!
Dengan sangat tercengang, aku melihat benda yang diacung-acungkan kepadaku. HA! PISTOL. Teriakku dalam hati
MBAK, DIA BAWA PISTOL! Teriak Dewi keras.
Dengan cepat, aku pun menancap pedal gas lebih dalam lagi. Seketika itu pun, aku melesat cepat. Mobilku pun dengan cepatnya mendahului mereka. Terlihat dikaca spion belakang. Mereka pun, menancap gasnya. Berusaha mengejarku. Kejar-kejaran antara dua mobil pun berlangsung. Dewi terlihat sangat panik. Nova juga terlihat panik, tetapi masih terlihat bisa mengontrol diri.
Bagaimana, ini Apa yang harus kita lakukan Ucap Dewi. Bingung.
Ukh. Telephon polisi! Barangkali, polisi nanti bisa menghadang mereka dipos tol selanjutnya! Ucapku. Sedikit lebih memerintah.
Jangan! Jangan lapor polisi. Aku nanti bisa celaka. Ucap Nova.
Lalu, sekarang apa yang harus kita lakukan Ucapku bingung. Sambil berkonsentrasi menyetir.
Far, aku mohon. Jangan telephon polisi! Kamu harus bisa, lolos dari mereka. Kalau kita lapor polisi, maka aku akan kembali kerumah. Dan imanku taruhannya! Ucapnya serius.
Aku sontak kaget dengan ucapan Nova. Apa maksudmu, Nov Tanyaku.
Far, pokoknya kamu harus bisa lolos dari mereka! Tekadku sudah bulat, aku mau menjadi seorang muslim. Mungkin mereka anak buah papaku, yang ingin membawaku kembali! Ucap Nova.
Aku bagaikan mendengar sebuah guntur yang menggelegar. Perasaanku sangat tidak karuan. Rasa senang bercampur dengan kekalutan, kebingungan dan bahkan ketakutan. Tetapi, semua itu telah dikalahkan oleh rasa senangku yang mendalam. Aku harus bisa lolos dari mereka! Kataku dalam hati.
Seketika itu pun aku langsung menancap gas lebih dalam lagi. Mobilku pun melaju cepat. Penjahat-penjahat itu pun, mengikutiku dengan kecepatan yang sama cepatnya denganku. Tak ayal, kejar-kejaran dalam kecepatan tinggi pun berlangsung. Beberapa kali, aku berkelit dari mobil para penjahat itu. Mereka, terlihat sangat terlatih dalam menjalankan rencana mereka. Sesekali, mereka hampir bisa memaksaku untuk keluar dari jalur tol. Tetapi, aku pun dengan sekuat tenaga. Dan dengan bantuan Allah, bisa menghindar dari sergapan mereka.
DUA.....AAAAR Tetapi, sebuah suara letusan pistol pun terdengar.
Aku panik. APA ADA YANG TERKENA TEMBAKAN Teriakku. Kepada Nova dan Dewi.
Aku nggak apa-apa Far! Ucap Nova.
Tenang, Mbak. Pelurunya hanya mengenai jok belakang. Ana nggak apa-apa! Ucap Dewi.
Hem. Kalian ingin mencoba merasakan kekuatan para mujahidah Allah yah! Gumamku dalam hati. Seraya mencengkramkan tanganku distir mobil. Dan dengan lebih dalam lagi, aku injak pedal gas mobil. Mobilku pun melaju dengan kecepatan yang tinggi. Para penjahat itu hanya bisa mengikutiku dari belakang. Dengan mendahului mobil-mobil yang ada didepanku. Aku pun, melesat cepat. Klakson pun, tidak lupa untuk aku kumandangkan. Memberitahukan tentang, kuatnya mujahidah Allah. Mobilku terus melesat cepat.
Tetapi, saat aku sedang berada dijalur kanan. Sebuah truk menghalangi jalanku. Aku tidak bisa berbelok kekiri, karena ada sebuah bis. Kini aku diantara kedua kendaraan yang besar-besar itu. Aku terpojok. Dari kaca spion belakang. Aku pun melihat para penjahat itu dengan cepat menuju kearahku. Klakson pun aku bunyikan terus-terusan. Entahlah, mungkin supir bus jengkel. Hingga, dia pun mengklakson balik. Suara klakson yang memekakan telinga. Tetapi, dengan cepat pun. Bus itu melaju mendahului truk. Hingga akhirnya aku bisa langsung berbelok kearah kiri. Suasana begitu sangat menegangkan. Dari arah belakang, terlihat seorang penjahat yang berada dimobil sedan itu. Memempersiapkan tembakan berikutnya. Aku tidak bisa langsung melaju cepat. Karena, aku kini terhalang oleh sebuah mobil jeep yang berada didepan. Ingin aku langsung membelokkan kearah kanan. Tetapi, sedan para penjahat itu pun. Melesat cepat. Langsung berada disamping kanan mobilku. Tepat disampingku, seorang penjahat menodongkan pistolnya kearahku.
Kini aku tepat berada disamping pistol, yang diarahkan kepadaku. Dzikir pun selalu terucap dalam hati dan mulutku. Jantungku berdetak hebat. Tiada yang dapat aku lakukan lagi. Kini tinggal menunggu waktu yang tak pasti. Kematian yang akan aku hadapi. Hingga semoga, kesyahidan yang akan aku raih. Bukan, ini bukan syahid! Syahid bukanlah putus asa. Aku tidak boleh berputus asa, masih banyak jalan untuk bisa selamat dari cobaan ini! Aku harus bisa. Selama aku masih bisa melawan, maka aku harus melawan. Syahid bukan berarti berdiam diri menunggu ajal. TIDAK, AKU HARUS MELAWAN Teriakku dihati. Dan seketika itu pun,
CEPAT, PASANG SABUK PANGAMAN! Teriakku. Pada Nova dan Dewi.
Entah, sepersekian detik. Aku langsung menginjak pedal rem dan mengaktifkan rem tangan dengan sangat keras. Mobilku pun berhenti seketika. Dan seketika itu pun, kami hampir terpelanting kedepan. Beruntung, Allah masih menyelamatkan kami, dan kami memakai sabuk pengaman. Alhamdulillah! Untung juga, tidak ada mobil yang persis berada dibelakangku. Para mobil penjahat itu pun, nyelonong mendahului mobilku. Sekilas, mereka menembakkan pistolnya. Dan Alhamdulillah, peluru itu tidak mengenai kami. Melesat entah kemana.
Dengan jantung yang masih berdegup keras. Aku langsung mengemudikan mobilku dengan kecepatan normal. Dan melaju dilajur kiri. Tetapi, tak disangka. Sedan penjahat itu melaju dengan cepat. Dari yang sebaliknya. Mereka menantang arus jalan. Mereka tepat dibagian kiri jalan. Tepat berada didepan kami. Aku sangat gugup. Mereka terlihat akan menabrakkan mobilnya. AKU HARUS BISA! Teriakku keras dalam hati. Dengan cepat pula, aku tancap pedal gas. Dan kami pun melesat cepat. Searah dengan para penjahat itu, mobilku pun terlihat siap untuk menantang mereka. Jarak kami pun sudah semakin dekat. Kami hampir akan bertabrakan. Jika para penjahat itu tidak membelokkan kesamping kiri jalan. Hem. Segitu saja nyali kalian! Kalian takut akan kematian. Sedangkan kami, memang mencari kematian itu! Kematian yang kami cari, adalah kematian berlandaskan perjuangan. Bukan bunuh diri, atau kekonyolan dalam kematian.
Terlihat dari kaca spion. Para penjahat itu membelokkan mobil mereka. Dan mereka pun langsung melesat menyusul kami. Pedal gas pun aku tancap. Dengan dzikir dan keberanian. Aku pun tidak takut akan maut yang akan menjemput. Jika memang waktunya menjemput. Tetapi, aku tidak akan pernah menyerah. Kejarkejaran pun terjadi lagi. Dengan cepat, kami melesat. Diantara mobil-mobil yang lainnya. Begitu pula para penjahat. Mereka terlihat sangat berambisi untuk menghabisi kami. Entah, mereka sudah dibayar berapa. Sepertinya, bayaran mereka sama artinya dengan menebus nyawa mereka. Mereka tidak berfikir tentang neraka yang akan menghanguskan mereka. Mereka hanya memikirkan dunia, yang padahal hanya menipu mereka.
Suara mesin mobil sedan para penjahat begitu keras. Tidak seperti suara mesin mobilku yang tidak begitu terdengar. Meskipun kecepatan yang aku gunakan sangat cepat. Beberapa kali, para penjahat-penjahat itu hampir berada disampingku. Tetapi, jika aku menambah kecepatan. Mereka pasti tertinggal. Banyaknya mobil-mobil sering menguntungkan kami. Tetapi juga, tidak sedikit yang merugikan kami. Karena hampir-hampir, para penjahat itu mendapatkan kami.
Sebuah mobil, berada didepanku. Dan disamping kiri pun ada sebuah mobil yang menghalangi jalanku. Kini aku terpojok lagi. Klakson, aku bunyikan berulangulang. Tetapi, mereka masih saja tidak bergeming. Mobil-mobil itu tidak menghiraukan klakson yang aku bunyikan. Dan seketika itu pun, sedan para penjahat itu sudah berada disamping kiriku. Setelah membuka cedela pintu mobil. Mereka tersenyum. Ada rasa kemenangan yang mereka rasakan. Kemenangan yang mereka kira akan membuat mereka menjadi seorang yang menang. Dari arah cendela pintu mobil yang ada dibelakang. Terlihat, seseorang menodongkan senjata laras panjang. HA, itu adalah M16. Senjata yang telah membunuh para mujahid dan mujahidah. Senjata yang dipakai oleh orang-orang yang bengis. Dan haus akan dara!. Senjata yang telah memberondongkan pelurusnya, hanya untuk kesenangan belaka. Untuk menujukkan kekuatan mereka. Padahal, mereka tak ubahnya senjata murahan yang akan tetap kami lawan. AKU BISA MENGHADAPI KALIAN!
Para penjahat itu, tertawa. Terlihat rasa kemenangan didiri-diri mereka. Mereka tak tahu akan kepastian kemenangan para tentara Allah. Hingga wajah-wajah mereka pun terlihat bengis dalam tatapan yang sangat haus akan kematian. Aku tanamkan dalam hati, AKU TIDAK TAKUT! ALLAH HUAKBAR. Mereka sudah mengarahkan senjata laknat itu kepada kami. Hingga jika diberondongkan pelurupeluru itu. Paling tidak, ada satu peluru yang bisa mengenai kami. Aku ingin menghentikam mobilku. Tetapi, dibelakang pun ada sebuah mobil. Jika aku menghentikan mobilku, pasti aku akan tertabrak dari belakang dengan keras. Kini aku hanya berharap kepada Allah. Tanpa usaha apapun. Karena semua usaha yang aku lakukan pun, sudah sangat maksimal. Tinggal menunggu pertolongan, atau kesyahidan.
Saat mereka sudah siap akan menembakkan senjata itu. Dari arah tengah, muncul sebuah mobil Jeep yang besar. Langsung saja mobil itu, menghalangi bidikan mereka kepada kami. Ucapku syukur atas pertolongan-Nya. Tetapi yang aku herankan. Jeep itu dengan cepat dan keras. Membelokkan kemudinya kearah kiri. Kearah para penjahat itu.
BRUUUAAAAKKK... Langsung saja, mobil sedan para penjahat itu terpelanting kekiri.
Sedan para penjahat itu pun berhenti seketika dijalur kiri. Mereka terlihat tidak dapat meneruskan pengejaran untuk menangkapku. Jeep itu akhirnya berjalan pelan. Terlihat seperti melindungiku. Ucapku syukur berkali-kali. Tiada kata yang pantas diucapkan selain pujian dan rasa syukur yang teramat dalam kepada Sang Maha Pelindung. Yang melindungi kami dari segala marabahaya. Yang dapat membinasakan kita karena kecongkakan dan kesombongan. Tetapi, sungguh Allah telah membuktikan janjinya. Janji untuk menolong para mujahid dan mujahidah. Para pejuang yang menegakkan ajaran agamanya. Menegakkan dan mengagungkan syariat-Nya. Janji memberikan pertolongan, yang tak akan pernah kita duga. Sungguh pertolongan yang tak terduga.
Aku pun dengan cepat meninggalkan arena pertempuranku. Arena yang membuat degup jantungku tak beraturan. Arena yang telah membuatku mengingat Allah dengan kepastian janjinya. Yang akan selalu aku rindukan kembali. Medan pertempuran dalam jihad abadi.