Rumah tua yang ditempati Mahmud ternyata adalah rumah tempat Hafshah dulu dilahirkan.
Rumah itu telah direnovasi. Dicat kembali. Kamar pengantin dihias indah dan wangi. Malam usai shalat Isya Mahmud masuk kamar. Sang isteri telah menanti. Kali ini tidak berjilbab. Mahmud terhenyak ketika melihat kalung permata yang dipakai Hafshah. Kalung emas permata dengan bandul permata mulia berwarna merah tua yang sangat indah. Ia memandangi kalung itu lama sekali.
Hafshah heran dan bertnya,
Ada apa denganmu, Suamiku Kenapa wajahmu pucat dan matamu berkaca-kacaa saat kau melihat kalung permata ini
Mahmud berkaca-kaca, dan berkata,
Jika mataku tidak silap. Aku pernah melihat kalung mutiara ini dua tahun yang lalu. Pemiliknya mengatakan kalung ini dibeli dari Madrid untuk hadiah putri semata wayangnya yang baru hafal Al-Quran.
Mendengar hal itu Hafshah terisak. Ia teringat cerita ayahnya almarhum. Terbata- bata ia berkata, Jadi kaukah yang menemukan tas hitam lusuh di kamar kecil masjid Al Fath itu Kaukah yang menolak pemberian tanda terima kasih dari pemiliknya itu
Mahmud kaget, Kau tahu peristiwa itu Dari mana kau tahu peristiwa itu
Kau ingat nama Ragab Ali Ridhwan Hamid Ghazali.
Ya. Itu pemilik tas itu
Beliau adalah ayahku.
Ayahmu
Ya.
Subhanallah. Ketika namamu disebut dalam akad nikah Hafshah binti Ragab Ali Ridhwan Hamid Ghazali. Aku tidak pernah berpikiran nama pemilik tas hitam lusuh itu. Sebab betapa banyak nama Ragab di Mesir ini.
Hari itu aku datang ke masjid El Fath bersama ayah. Aku asyik melihat buku-buku. Ayah yang bertanya ke pengurus masjid. Ketika ayah bilang tasnya telah ditemukan masih utuh aku sangat bahagia. Sementara ayah menunggu di masjid bakda shalat Isya, aku memilih langsung istirahat ke hotel. Setengah sepuluh ayah masuk hotel sambil menangis. Aku bertanya pada ayah ada apa. Ayah menjawab, Yang menemukan tas ayah yang sangat berharga ini adalah seorang pemuda yang sangat menjaga keikhlasan dan sangat menjaga amanah. Aku akan merasa bahgia jika Allah berkenan menjodohkan dirimu dengannya. Suamiku, apakah kautahu apa yang kulakukan saat mendengar perkataan ayah itu
Aku tak tahu Apa yang kaulakukan
Dalam hati aku berdoa kepada Allah, jika pemuda itu memang benar-benar saleh dan menjaga amanah semoga kelak ia benar-benar menjadi jodohku. Dan Allahu akbar! Allah mengabulkan doaku.
Allahu akbar. Saat itu aku menolak amplop pemberian ayahmu. Dan ternyata Allah menyiapkan yang lebih berharga dari itu.
Ya. Aku dan segala yang kumiliki sekarang ada dalam kuasamu.
Aku merasa musim semi ini benar-benar penuh barakah.
Hafshah mendekat dan meletakkan kepalanya dalam dada Mahmud. Sesaat, suasana haru dan indah memenuhi kamar pengantin. Kedua makhluk Allah itu larut dalam rasa syukur yang dalam dan panjang. * * *
4 Kapten, maaf, berapa harga kaset ini
5 Tujuh pound. 3 Mahal sekali.
6 Tidak nona, ini baru.
7 Empat, mungkin.
8 Tidak mungkin, afwan.
9 Lima (pound), tak akan aku tambah.
10 Okay.
11 Semoga Allah selalu menjagamu, memberimu keberhasilan hidup wahai anakku.