sebuah nama pada kulit trembesi
atau sebaris
frasa di atas bangku taman ini
akankah kita abadi
dan kulihat kau meringis
sedikit kernyit di pelipis.
bangku ini dulu tak ada, katamu,
dan siul belibis
yang dulu ada, punah
sejak taman-taman diciptakan oleh bahasa.
dan kulihat kau mengulurkan tangan
seperti hendak menyentuhku
pada paras. lalu:
barangkali akan selalu ada cemas,
seperti aku,
memang tak selalu bisa meyakinkanmu.
dan kusentuhkan bibir pada ruas-ruas
jemari tangan itu.
anggaplah ini sebuah aforisma, ujarku
jawaban bagi kecemasan, atau
mungkin rasa takutmu.
bagaimanakah... bisikmu
sembari menumpangkan dagu pada bahuku
jika akhirnya justru
kitalah yang saling mengkhianati
kusaksikan daun trembesi
perlahan terlepas
tetapi aku hanya mengerti:
airmata begitu panas.
/2012