Terhadap kehadiran tamu istimewa ini saya termasuk orang yang paling tidak bisa berkata tidak. Saya tetap berusaha, bagaimana caranya membantu mereka, tanpa meninggalkan tujuan mendidik mereka.
Kali ini, tamu istimewa saya adalah seorang anak muda, tetangga desa saya. Namanya, Tarto. Usianya, 21 tahun. Saya tahu persis seperti apa masa kecil Tarto, hingga dewasanya. Dia lahir dari keluarga yang tidak mampu. Ayahnya meninggal sejak dia masih bayi.
Tarto tinggal bersama ibu dan satu kakaknya. Sudah lama ibunya jatuh sakit dan harus rutin berobat ke rumah sakit. Kakaknya bekerja di pabrik yang hasilnya hanya cutup untuk makan dia sendiri dan ibunya.
Bisa dikatakan, Tarto bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Kini, ia berjualan angkringan di Juwiring Klaten. Dia menyewa tempat di sana.
Belum lama ini, Tarto mendapat ujian. Sepulang bekerja, dia ditabrak orang dan pelakunya kabur. Dia sempat pingsan beberapa saat lalu dirawat di rumah sakit selama sehari semalam. Untungnya, hasil rontgen dan CT Scan menyatakan bahwa Tarto tidak apa-apa. Namun, motornya rusak lumayan parah.
Tarto langsung mengutarakan maksud dan tujuan dia datang ke rumah saya.
Saya mau pinjam uang ke Njenengan, Pak, kata Tarto.
Langsung saya tanya, Berapa, Le
Di kampung, saya sering menggunakan sebutan thole untuk anakanak muda yang umurnya jauh di bawah saya. Dan ternyata mereka senang jika saya memanggil mereka begitu, karena merasa disayang oleh orang yang lebih senior.
Saya mau pinjam Rp2 juta, Pak, lanjut Tarto.
Segera saya tanya, Kok banyak banget. Untuk apa tanya saya.
Rupanya, uang sebanyak itu akan ia gunakan untuk keperluan menikah, dan sebagian lagi untuk memperbaiki motornya yang rusak.
Saya mau menikah, Pak. Besok, tanggal 31 Desember. Uang tersebut akan saya gunakan untuk membeli perlengkapan nikah dan biaya lainnya. Saya juga butuh uang untuk servis motor saya yang rusak akibat tabrak lari kemarin. Karena motor rusak, saya sekarang tidak
Ibadah Itu Gampang
bisa bekerja untuk belanja kebutuhan warung saya. Habis tahun baru akan saya kembalikan, Pak, tutur Tarto.
Mendengar penuturan Tarto ini, saya menghela napas panjang.
Ya Allah, anak ini yatim sejak bayi. Saya tahu persis, seperti apa masa kecilnya. Sekarang, dia mau menyempurnakan Islamnya, tapi tidak punya uang. Ibu, satu-satunya orangtua yang dia punya, sekarang sakit dan sudah tidak bisa bekerja. Kakaknya tidak bisa membantu. Anak ini harus ditolong. Saya tahu benar, dia anak yang tidak neka-neka (anehaneh), batin saya.
39
Saya tanyakan ke Tarto, apakah niat menikah sudah disampaikan kepada keluarga lainnya. Ia menjawab, sudah. Keluarga yang ia punya tinggal Bude atau kakak dari ibunya. Budenya itu pun tidak bisa membantu, karena keadaannya setali tiga uang dengan ibu Tarto. Bude hanya bisa mendoakan, semoga proses pernikahan lancar.
Besok, tanggal 31 Desember, saya minta tolong Bapak antar saya ke Klaten. Saya tidak mengundang banyak orang. Dari sini, hanya sekitar 10 orang. Di keluarga calon istri saya juga tidak ada resepsi besarbesaran. Hanya mengundang 1 RT saja. Habis ijab-kabul dilanjut acara sederhana, sudah cukup, terang Tarto dengan suara terbata-bata, kurang lancar.
Saya mengiyakan undangan Tarto. Belum terlaksana saja saya sudah merasa sangat bahagia bisa mengiyakan permintaan Tarto. Saya lihat, dia merasa lega dengan jawaban yang saya berikan.
Ya, Le. Insya Allah besok tanggal 31 Desember aku bisa antar kamu ke Klaten, jawab saya mengakhiri pertemuan malam itu.
Dalam hati saya berdoa, Ya Allah, lancarkanlah acaranya Tarto. Jadikanlah keluarganya bahagia di dunia, lebih-lebih di Akhirat kelak. Barakallahu laka wa baraka alaika wa jamaa bainakuma fi khair. Amin.
20 Desember 2013