aku seperti terbangun dari tidur.
dan rasa kantuk itu
masih sedemikian hebat menyerangku.
beri aku tamparan
agar benar-benar kupahami
bahwa rasa sakit ini
tak sepenuhnya aku miliki.
tak ada cerita yang sepenuhnya jadi
semua menguap di kepala kita.
tak ada tempat berpulang bagi ingatan
kita hanya menumpang di sini
singgah sebentar lantas pergi lagi.
begitulah kita
berjalan di antara dua kemungkinan
dan berhenti di tempat yang tak kita inginkan.
kita adalah kutukan bagi diri sendiri
malam yang enggan melepaskanmu dari sihir dosa
dan siang yang menelanjangimu habis-habisan.
begitulah puisi menangisi dirinya sendiri
sepertimu yang terbaring dalam ingatan yang mati.