Sarelgaz dan Cerita-Cerita Lainnya - 12
Tak ada yang tahu dari mana asal gadis yang suka melukis mimpi itu, seakan ia dikirimkan begitu saja oleh Tuhan ke perkampungan kumuh Parco Ducale, menghibur anak-anak berpakaian lusuh yang selalu mencoba untuk melupakan kesedihan akibat sisa perang yang rasanya tak akan pernah hilang.

Awalnya, Parco Ducale adalah desa yang penuh kesuburan, hampir seluruh penduduknya bekerja di ladang gandum. Hamparan g andum itu bisa ditemui di setiap jalanan yang membelah desa menjadi petak-petak kecil, hingga pada siang hari, suara mesin penggiling dan traktor senantiasa terdengar bersama kicau burung-burung.

Namun semuanya berubah ketika invasi perang antara Italia dan Prancis menyentuh batas desa mereka. Entah siapa yang menentukan bahwa Desa Parco Ducale sangat cocok untuk dijadikan lahan pertempuran. Sejak itu, burung-burung seakan migrasi besar-besaran, pergi dari sana, kicaunya berganti suara tembakan dan peluru yang bisa menyambar siapapun. Sebagian besar penduduk desa mengungsi, meninggalkan lahan mereka begitu saja. Sebagian lagi bertahan, bersembunyi di rumahrumah dan gudang penyimpanan gandum, tapi kebanyakan dari mereka akhirnya tertembak dan tewas sia-sia.

Peperangan itu berlangsung hampir setengah tahun. Barulah ketika Parco Ducale berangsur ditinggalkan, penduduk yang tersisa pun mulai kembali ke sana, tapi mereka mendapati bahwa yang d iwariskan dari peperangan hanya lahan gandum yang penuh de ngan aroma darah, lubang-lubang bom, juga selong song peluru ber serakan, mereka sadar bahwa tak ada lagi kesuburan. Namun pe nduduk tetap akan membangun kembali hidup mereka, rumah-rumah diperbaiki, lahan dibersihkan, tanah digemburkan. Anak-anak kecil pun telantar karena orangtua mereka lebih sibuk untuk membuka ladang baru, anak-anak itu berkeliaran di jalan-jalan, bermain begitu saja, sementara kadang masih saja ada patroli pasukan yang melintas, yang membuat mereka lari tunggang-langgang.

Saat itulah gadis tersebut muncul, mengenakan gaun merah muda, membawa kanvas putih bercahaya. Di kemunculan pertamanya, ia tampak berjalan menuruni Bukit Cittadella, menemui salah seorang anak yang sedang melamun sendirian.

Anak manis. Apa kau ingin dilukis mimpinya

Anak itu memandang heran. Kemudian, gadis itu segera melukis sebuah pohon rindang, di mana daun-daunnya sangat lebat sehingga bisa dipakai berteduh dan tidur dengan nyaman.

Setelah lukisan se lesai, ia memberikannya pada anak itu. Tunggu sampai kering. Nanti malam, kamu akan bermimpi tentang pohon ini... ucap gadis itu. Anak itu menerimanya dan berlari pergi dengan perasaan heran.

Keesokan harinya, di sore yang nyaris serupa, muncul lima anak yang berkumpul sambil membicarakan lukisan dan mimpi. Ternyata anak yang kemarin telah memberi tahu kawankawannya. Ia pula yang mengajak mereka mencari gadis itu.

Aku lihat kakak pelukis muncul dari bukit itu, katanya menunjuk ke arah Bukit Cittadella.

Maka segera mereka menuju bukit yang dimaksud, ada jalan s etapak menuju ke sana. Dan ternyata gadis itu memang ada di sana, duduk menghadap kanvas, ia pun berbalik dan menyambut mereka, seakan sudah tahu bahwa ia akan dicari. Kemudian segera gadis itu melukis mimpi anak-anak. Ia sudah menyiapkan cukup banyak kanvas yang telah dibingkai, lantas melukisnya satu demi satu.

Kak, aku ingin naik kereta! kata salah seorang dari anakanak itu.

Maka dilukislah sebuah latar pegunungan, rel membentang, dan gerbong-gerbong yang seakan muncul dari balik cakrawala. Lalu seorang anak lain ingin mandi di pantai. Dilukislah pasirpasir dan ombak, lengkap dengan karang pada beberapa sudut, juga kelepak burung-burung yang seakan tak pernah kelelahan.

Kak, aku ingin berperang! Dor! Dor!

Gadis itu terkejut. Kakak tidak bisa melukis perang. Sesungguhnya perang tak perlu lagi dilukiskan, sebab perang adalah dunia nyata di mana mereka tinggal saat ini. Dunia yang harus segera dilupakan.

Begini saja. Kamu pernah memancing Tanya gadis itu lagi.

Memancing

Ya. Pernah memancing di Laut Sisilia Di sana ada banyak ikan warna-warni yang bisa kamu tangkap untuk dipelihara.

Anak itu mengangguk-angguk setuju. Maka digambar-

kanlah pe rahu di tengah laut, alat pancing, dan ikan-ikan hias yang berlompatan. Tentu itu hanya imajinasi si gadis, sebab Laut Sisilia telah penuh dengan kapal-kapal tempur, meriammeriam yang ditembakkan, tak ada ikan warna-warni, kecuali bangkai-bangkai yang tergenang.

Kalau mau tidur, taruh lukisan ini di sebelah kalian, pandangi sampai kalian benar-benar mengantuk dan tertidur. Begitu pesan si gadis pelukis mimpi setelah menyerahkan lima lukisan pada me reka. Dan malam harinya, anak-anak itu pun mengalami mimpi se perti yang telah digambarkan. Seorang anak bermimpi naik kereta, melintasi pegunungan yang memutih karena salju. Anak lainnya bermimpi naik perahu, memancing di tengah lautan Sisilia yang telah digambarkan sangat tenang, ia bahkan mendapatkan terlalu banyak ikan sehingga perahunya seperti akan tenggelam tetapi tentu tak tenggelam karena itu hanya terjadi di dalam mimpi.

Anak-anak itu merasa senang karena dalam hidup mereka masih ada kesempatan untuk bermimpi indah setiap malam, tanpa perlu melihat betapa mereka sering kelaparan, betapa mereka ditimpa ketakutan karena sewaktu-waktu bisa saja ada pasukan yang datang ke rumah mereka dan mengusir untuk kedua kalinya.

Gadis pelukis mimpi itu pun seperti seorang bidadari. Semakin hari semakin banyak yang minta lukisan. Terkadang sejak pagi hari gadis itu sibuk menggerakkan kuas pada kanvas. Ia melukis dan memberikannya begitu saja. Setelah semua lukisan selesai dan anak-anak pergi dengan canda tawa mereka, gadis itu pun akan me rapikan cat dan sisa kanvasnya. Dan setiap kali malam tiba, gadis itu selalu me ngunjungi jalanan di Parco Ducale, ia sengaja ingin melihat bagaimana anak-anak di beberapa rumah sedang memandangi lukisannya, bagaimana anak-anak itu berharap segera tidur untuk memasuki dunia mimpi.

Begitulah yang dilakukannya setiap hari. Hingga pada suatu malam, ketika gadis itu sedang berjalan-jalan seperti biasa untuk melihat anak-anak yang bahagia, tiba-tiba langkahnya dihadang oleh seorang anak kecil berambut lebat, anak itu mungkin berusia sekitar enam tahun, tatapannya tajam menusuk, wajahnya kotor entah ka rena noda apa. Dan gadis itu terkejut melihat anak kecil itu ternyata membawa kanvas yang terbungkus kain. Ada apa, Anak manis tanya gadis itu.

Tak ada jawaban. Anak itu menjulurkan bungkusan kanvasnya.

Apa kamu ingin dilukis mimpinya juga

Anak itu menggeleng. Ia hanya memberikan kanvas tersebut kepadanya. Lalu gadis itu pun membuka bungkusnya. Ternyata itu bukan kanvas kosong, melainkan lukisan sebuah kamar, di mana seorang lelaki duduk mendampingi seorang gadis kecil yang sedang tertidur lelap di balik selimut.

Ayah gumam gadis itu. Ia benar-benar mengenali lelaki dalam lukisan tersebut. Dan segera ia memandangi lekat-lekat anak lelaki di hadapannya.

Siapa yang melukis ini Siapa yang memberikannya untukmu

Anak itu belum juga mengucapkan sepatah kata pun.

Dari mana kamu dapat lukisan ini

Gadis itu benar-benar takjub. Lukisan itu sangat detail, kamar tidur, jam dinding, lemari, pakaian yang digantung, juga lampu yang remang-remang, semua warna menyatu dan seakan hidup. Seakan dibuat dalam waktu yang lama.

Jawab. Siapa yang memberimu lukisan ini!

Gadis itu sedikit meninggikan suaranya. Anak itu pun ketakutan, ia lari ke arah Bukit Cittadella.

Hei! panggilnya. Namun anak itu begitu cepat menghilang. Saat itulah, tubuh gadis itu seperti diguncang sesuatu.

Bangun Kunnaila, bangun!

Ia merasa ada lelaki sedang memanggil-manggilnya. Suara itu diikuti guncangan yang semakin keras. Dan akhirnya, seperti kekuatan magis, gadis itu pun terseret pada dunia yang serba berbeda.

Kunnaila! Kunnaila! Cepat bangun!

Baru saja gadis itu membuka matanya. Ternyata ia sedang berada di dalam kamar, dan segera telinganya menangkap suara tembakan bertubi-tubi. Rumahnya ditembaki. Gadis itu bangkit dan langsung ditarik ayahnya menuju pintu belakang.

Sebentar Ayah, lukisannya ketinggalan!

Namun seperti tak ada waktu lagi, ayahnya terus menariknya menuju kebun belakang. Dan saat keduanya melintasi pagar, mendadak ayahnya terjungkal karena sebuah peluru berhasil me nembus tubuhnya, ada darah yang muncrat seketika.

Lari! Lari, Kunnaila! Gadis itu menoleh, tampak perut sang ayah terluka, darah mengenai pakaiannya. Gadis itu menjerit keras, tapi langkahnya seakan refleks, ia berbalik dan terus melewati pagar belakang rumah.

Gadis itu terus berlari, menghilang di padang rumput yang lebih tinggi dari tubuhnya. Lukisan itu pun akhirnya tertinggal di sudut tempat tidurnya. Karya terakhir sang ayah. Lukisan bergambar seorang gadis yang duduk di sebuah bukit, mengenakan gaun merah muda, menghadap kanvas putih bercahaya.