Sumpah Fa merasa malu setengah mati. Ke-geer-an Fa selama ini
terhadap Marco ternyata hancur dalam hitungan detik.
Sore tadi, after office, Marco ngajakin ketemuan. Dia juga minta
ketemu sama Matt. Hehehe ... Matt emang lagi di Jakarta, jadwal
tiga bulanannya kunjungi Fa. Tanpa ada curiga atau apa, ya
akhirnya kita janjian ketemuan di Epicentrum. Marco kemudian
memperkenalkan kepada Fa dan Matt teman barunya, Rio.
Rio, sosok yang awalnya Fa pikir bisa Fa jodohin sama Via yang
emang lagi cari-cari jodoh. Rio dengan badannya juga seatletis
Marco. Pastinya dibilang ganteng, emang dia ganteng. Dibilang
smart, yes definitely. And his body scent Mmmhhh ... really really
nice, as nice as Matt.
Sampai juga terbesit dalam benak Fa untuk sedikit flirting. LoL.
Anyway, kami pun dinner .... Matt juga ada bersama kami. Well, kami terbuai dengan percakapan yang seru-seru sampai tibatiba Marco dengan muka seriusnya berkata:
Gue gak mau kehilangan temen-temen, Fa. Temen SD, SMP, SMA, kuliah, komunitas. Kegalauan terbesar gue kalo temen-temen ninggalin gue, Fa.
You know who I am, Fa Seorang Marco yang yah loe tau Fa. Just transformed into a Gay. Yeah I said it. Dan ini Rio, partner baru gue. What Seolah ada durian jatuh di kepala Fa.
Jadi ini yang mau dibicarakan ke Fa dari email itu. Jadi ini juga kenapa Marco mau bicarain ini di depan Matt.
Ternyata Marco tahu Matt sedang di Jakarta sejak kemarin.
Fa bilang ke Marco, kalau Fa sangat kecewa.
Bukan karena Marco sebagai gay, melainkan karena Marco menyembunyikan hal itu selama lima tahun. Belum lagi perasaan campur aduk ini terhadap Marco sampai Fa sempat berpikir akan meninggalkan Matt.
Fa gak pernah ikut pusing urusan being gay or straight. Fa punya banyak temen juga yang sudah memantapkan hati terhadap pilihannya. Tapi, seriously ... this time, Fa is furious.
Fa menangis. Marco juga menangis karena dia gak pernah merasa Fa akan sekecewa ini. Marco bilang alasannya karena gak mau Fa menjauhi dirinya. Thats simple. Dia juga bilang perlu keberanian luar biasa untuk mengatakan ini kepada Fa. Apalagi sejak Fa mulai sering mengatakan LOVE ke Marco. Semakin berat dirinya untuk berterus terang.
Matt di situasi ini menjadi orang yang paling berempati. Dipeluknya Fa. Dinetralkan situasi ini dengan memberikan pengertian ke Fa.
Honey, it happens. You should be proud of having Marco as your best friend. He has a big heart. Thinking about how hard he has to deal with his courage to talk about this matter to you just because he didnt want to dissapoint you. Whatever happens, hell always be your best and beloved friend. I know it, Fa. And thing for sure, I love you and will always love you.
Dari kejadian ini, Fa belajar untuk lebih menerima setiap perubahan. Lebih menghargai hubungan persahabatan. Dan yang paling berharga, ternyata having an LDR is not that bad. No regret, ever.
Semakin teryakinkan keseriusan Matt.