Lewat bahasa yang gagap
Diutarakan: perkenankanlah
Ia penuh dalam igau.
Seumpama derita,
Melalui suara yang kalap
Diteriakkan: biarkanlah
Ia tenang dalam derau.
Seumpama kita,
Dalam ketiadaan yang lengkap
Dipertemukan: jadikanlah
Aku ada dalam kau.
(Naimata, 2013)