terlelap dengan pakaian seragam yang belum diganti.
Mataharimu bersinar lagi, mengucapkan salam, lalu
mengajarkanmu menghangatkan rumah dengan rengekmanja.
Seharusnya kau belajar mengucapkan Fiat agar doa
santa pelindungmu tiada lenyap dibekap gelap.
Kemarahanku yang sulung berusaha sekuat tenaga
mengawasi tidur dan jagamu, meski sesekali terdengar
juga denting hati ibu yang jatuh ke lantai dan kau terusik
karenanya.
Aku memungutnya dengan wajah yang datar dan perasaan
yang asing. Kau melesapkannya ke balik dadamu yang
mungil. Tapi ibu senantiasa tabah menyulam
kegembiraanmu, memandangi hatinya yang kian bersinar
di balik dadamu sambil menghadap bulan yang setia
bertengger di dahan kabut depan rumah. Aku mencintaimu
dengan sepasang sayap di sisi sepedamu agar kau tak perlu
bersusah menghafal liuk pedal dan mencari sepatu yang
cocok menemani sore harimu.
Kita sama-sama mencintai ibu dan Tuhan yang baik. Kau
mencium pipiku di samping sakristi sebelum aku
menendang bola harapanmu ke arah Timur. Permainan
sesungguhnya belum dimulai. Lebih baik kita mulai
berlari, katamu dengan binar mata pemberian ayah
yang di ujung Timur sedang menunggu bola pertamamu
mengoyak jalanya. Meskipun, sebenarnya, bagian yang
paling kusukai adalah menggendong lalu
melambungkanmu dengan cinta yang keras kepala.
(Naimata, 2013)