MEMORIA - 127
Aku meletakkan pagimu di bawah meja sebelum kau

terlelap dengan pakaian seragam yang belum diganti.

Mataharimu bersinar lagi, mengucapkan salam, lalu

mengajarkanmu menghangatkan rumah dengan rengekmanja.

Seharusnya kau belajar mengucapkan Fiat agar doa

santa pelindungmu tiada lenyap dibekap gelap.

Kemarahanku yang sulung berusaha sekuat tenaga

mengawasi tidur dan jagamu, meski sesekali terdengar

juga denting hati ibu yang jatuh ke lantai dan kau terusik

karenanya.

Aku memungutnya dengan wajah yang datar dan perasaan

yang asing. Kau melesapkannya ke balik dadamu yang

mungil. Tapi ibu senantiasa tabah menyulam

kegembiraanmu, memandangi hatinya yang kian bersinar

di balik dadamu sambil menghadap bulan yang setia

bertengger di dahan kabut depan rumah. Aku mencintaimu

dengan sepasang sayap di sisi sepedamu agar kau tak perlu

bersusah menghafal liuk pedal dan mencari sepatu yang

cocok menemani sore harimu.

Kita sama-sama mencintai ibu dan Tuhan yang baik. Kau

mencium pipiku di samping sakristi sebelum aku

menendang bola harapanmu ke arah Timur. Permainan

sesungguhnya belum dimulai. Lebih baik kita mulai

berlari, katamu dengan binar mata pemberian ayah

yang di ujung Timur sedang menunggu bola pertamamu

mengoyak jalanya. Meskipun, sebenarnya, bagian yang

paling kusukai adalah menggendong lalu

melambungkanmu dengan cinta yang keras kepala.

(Naimata, 2013)