MALAM MERUNJUNG - 13
entah ada entah tiada, diceritakanlah, sebuah planet bernama Zirbad. Dahulu ia memiliki mataharinya sendiri dan memiliki bulannya sendiri. Seperti Bumi, ia mengitari matahari dan dikitari bulan. Berputar-putar, berputar-putar, dan malam dan siang datang silih berganti. Namun karena tingkah alam semesta memang sulit diterka, sebuah benda langit yang jauh lebih besar perlahan memasuki orbitnya. Sebuah meteor raksasa dengan massa dan gravitasi yang jauh lebih besar.

Bulan yang mengitari Zirbad tertarik gravitasi meteor tersebut. Zirbad pun limbung dan tergelincir dari orbitnya. Menggelinding keluar dari tata surya. Terlontar ke alam raya. Ia terus menggelinding ke luar galaksi dan menjadi planet yang dingin. Mengembara sendiri tanpa matahari. Mengarungi laut semesta yang luasnya tak bertepi.

Dalam dunia tanpa matahari, Zirbad hanya dihuni malam. Sepanjang waktu adalah kegelapan. Manusia-manusia yang hidup di dalamnya cuma mendekam di dalam gua. Mereka tak berani keluar karena yang ada di luar gua hanya misteri dan angin ribut. Sepanjang waktu mereka isi dengan membuat api unggun dan melukisi dinding gua. Menggambar alam hayal mereka dan sesekali berdebat soal bayangan yang menerpa dinding.

Lalu di satu masa, ada sosok raja dalam perjalanan pulangnya dari sebuah pesta. Ia melihat planet yang sendirian ini. Yang mengembara tanpa matahari ini. Lalu jatuh kasihan kepadanya. Sang raja memasukkan planet itu ke dalam keranjangnya. Mencari-cari bintang yang baru lahir di alam semesta. Kemudian dengan hati-hati, ia meletakkan Zirbad pada posisi orbit yang aman. Yang jauh dari benda-benda langit lain yang suka iseng mencuri orbit benda langit lainnya.

Orang-orang gua itu terkejut ketika suatu hari menyadari ada yang jauh lebih terang dari api unggun mereka. Berlari keluar, mereka melihat di langit ada bola gas raksasa. Mereka nyaris lupa kalau dahulu di langit mereka pernah punya matahari. Kini mereka memilikinya lagi. Setelah menari-nari sampai pusing di bawah terang, manusia-manusia kerdil pucat ini pun tertidur. Sewaktu terbangun, matahari sedang merayap turun di barat. Langit yang merah membuat mereka terpaku. Tanpa mereka sadari kulit mereka sudah mulai terbakar kecokelatan.

Ketika malam akhirnya membentang, mereka masih saja berbaring. Tak ada lagi angin ribut yang mengusir mereka untuk pulang kembali ke dalam gua. Sekarang mereka bisa tiduran di atas rumput. Mendengar derik serangga sambil merangkai rasi bintang itu sesuka hati. Mereka menamainya de ngan bunyi-bunyi yang terdengar lucu. Misal rasi bintang Muncu, rasi bintang Munyi, rasi bintang Yungi, rasi bintang Dunyu, lalu mengganti nama-nama itu esok hari. Semua dilakukan sekena hati.

Hari-hari berlalu. Waktu berganti. Entah bertahun entah berwindu, mereka tak tahu berapa lama sudah mereka hidup. Setiap waktu adalah selamanya. Raja yang dulu memungut Zirbad yang yatim di alam semesta ini berkunjung lagi. Ia ingin melihat apa saja yang telah dibangun oleh manusia-manusia kerdil yang dulu hidup di dalam gua itu. Betapa terkejutnya ia ketika menghadapi pemandangan yang nyaris sama seperti ketika ia meninggalkannya. Kecuali kulit mereka yang lebih cokelat terbakar, tak ada perubahan apa-apa. Manusia-manusia kerdil itu cuma menghabiskan waktu dengan berbaring di atas rumput. Mengkhayalkan bentuk-bentuk awan yang aneh sebagaimana mereka dulu menggambar di dinding gua. Malamnya mereka kembali berbaring dan memberi nama-nama pada rasi bintang sambil tertawa. Di luar itu, mereka berlarian di bawah hujan. Bermain petak umpet dan gobak sodor.

Ya Tuhan, sang raja menepuk jidatnya. Makhluk-makhluk kerdil ini perlu belajar. Mereka perlu dilatih disiplin. Mereka harus punya mimpi dan bekerja untuk mewujudkannya. Mereka tak bisa dibiarkan bermain terus tanpa menghasilkan apaapa yang berarti!

Maka raja ini mulai menyusun apa saja yang perlu diajarkan kepada mereka. Setelah berpikir lama dan berjalan mondar-mandir dengan gelisah, ia pun tersadar kalau mereka belum mengenal angka! Ya, angka! Jika mereka mengenal angka, mereka akan mengenal waktu. Mereka pun bisa memberi nilai pada apa yang mereka kerjakan nanti. Tanpa adanya angka, mustahil mereka bisa mencapai apaapa. Bila perlu tiap diri mereka dinamai den gan angka. Agar hitungan benar-benar merasuk ke dalam diri mereka.

Raja ini lalu menghampiri manusia-manusia kerdil cokelat itu. Dengan kesabaran seorang guru TK, ia mengajari tiap-tiap dari mereka berhitung dan menulisi kantung baju mereka dengan angkaangka. Mulai sekarang, kalian akan saling memanggil dengan angka-angka ini, katanya. Manusia-manusia kerdil itu mengira ini hanyalah bagian dari sebuah permainan baru yang seru. Mereka menerima angka-angka tersebut dengan suka cita dan dengan cepat mereka pun belajar berhitung.

Sekarang, mulailah membangun sesuatu, kata si raja dengan sabar. Seratus tahun dari sekarang aku akan kembali dan melihat apa yang telah kalian hasilkan, katanya. Kemudian ia menaiki keretanya yang meninggalkan gumpalan-gumpalan awan biru.

Satu abad berlalu, raja itu kembali. Apa yang ia dapati adalah kekacauan. Bangunan-bangunan dibangun tapi tak selesai. Jembatan berdiri tanpa sungai. Bendungan dibangun di tengah laut. Lalu tangga-tangga beton disusun untuk memanjati pohon pisang. Apa ini Migrainnya langsung kambuh. Sambil memijit keningnya, raja itu mengumpulkan kembali manusia-manusia kecil yang kini tak lagi berwajah gembira. Muka-muka mereka tersungut dan pada satu sama lain ada kemarahan yang tersulut.

Kalian harus belajar kerja sama, sergah si raja. Atau mungkin untuk sementara, aku saja yang memimpin mereka, pikirnya. Panggil aku Tuan Raja! katanya kemudian. Untuk pertama kalinya dan untuk seterusnya, ia pun menjadi raja bagi mereka. Ia menetapkan aturan-aturan agar manusia-manusia kecil itu bisa berdisiplin. Ia mengajari mereka apa itu hormat. Apa itu patuh. Apa itu fokus. Apa itu visi.

Apa itu misi. Dan sebagainya dan seterusnya.

Dengan cepat mereka belajar. Mereka membangun kebun-kebun. Membangun istana untuk Tuan Raja. Membangun rumah-rumah untuk diri mereka sendiri. Hasil pertanian berlimpah jauh melampui kebutuhan-kebutuhan mereka. Kelebihan-kelebihan ini menumpuk dan Tuan Raja khawatir ini akan menjadi sumber kemalasan baru bagi manusia-menusia kecil itu. Jika melihat hasil yang menumpuk, bisa-bisa mereka akan berhenti bekerja. Mereka membutuhkan pasar, pikirnya. Mereka akan menjual hasil kerja keras mereka dan belajar menabung.

Maka, Tuan Raja pun membangun pasar untuk menjual hasil-hasil panen tersebut kepada makhlukmakhluk lain dari planet lain.

Hasil kerja mereka amat digemari. Bahkan permintaan melampaui kelebihan panen mereka. Kalau begini, pikir Tuan Raja, mereka mesti bekerja lebih keras lagi. Semakin banyak yang mereka tabung, semakin banyak modal mereka untuk membangun Zirbad yang terbelakang ini. Maka Tuan Raja menga jak rakyatnya itu untuk bekerja lebih giat lagi. Memperpanjang jam kerja mereka dan mengurangi jatah makan. Inilah kerja keras! teriaknya lantang. Sementara itu, kas keuangan istana terus membengkak. Kelak ketika waktunya tepat, ia akan me nyerahk an semuanya kepada mereka. Ketika mereka sudah cukup pintar dan bisa mengurus diri sendiri, tabungan itu akan dikembalikan kepada mereka.

Ketika malam, dan manusia-manusia kecil itu berbaring menatap langit sambil mendengarkan serangga, Tuan Raja mondar-mandir gelisah di dalam istananya. Itu kebiasaan buruk, ia menggerutu. Ia tahu watak mereka yang suka bermain dan larut dalam tawa.

Mungkin sebaiknya mereka bekerja sepanjang waktu. Mungkin, mungkin sebaiknya malam digulung. Mungkin malam sebaiknya merunjung.

Maka malam pun digulung. Ditancapkan di bukit-bukit sebagai monumen yang gelap dan runjung.

Aku berjanji akan kembali membentangkan malam ini jika waktunya sudah tepat, hibur Tuan Raja melihat wajah-wajah mereka yang murung. Untuk sementara, kuhadiahkan kalian sebuah buku cerita, katanya. Buku cerita berjudul seribu satu malam itu mereka baca pada jam-jam istirahat. Sambil menatap penuh kerinduan pada malam merunjung di bukit-bukit.

Belum semuanya, kata Tuan Raja lirih. Sisa ceritanya ada di sana, ia tersenyum berusaha mene nangkan rakyatnya.

Lewat cerita-cerita itulah mereka memelihara ingatan tentang malam. Kelak jika waktunya sudah tepat, malam akan kembali membentang. Dan cerita-cerita yang tak selesai itu akan mereka jumpai kembali. Namun tak seorang pun tahu kapan waktu yang tepat itu.

Ketika raja meninggal, ia diberi gelar sebagai Raja Yang Pertama. Ia lupa mengenai tabungan yang sudah membengkak dan menitahkan penerusnya untuk mengembalikannya kepada manusiamanusia kecil itu. Kalaupun dititahkan, penerusnya itu tak akan mengembalikannya. Ia punya mimpimimpi sendiri yang tak akan terbeli walau tabungan itu menyamai jumlah bintang sekalipun. Tapi ia berharap bisa menyicilnya. Menyicil membeli apa saja yang ia mimpikan sendiri.

Sementara itu, malam harus tetap merunjung. Buku-buku tentang malam itu harus dimusnahkan. Dan manusia-manusia kerdil itu, harus tetap bekerja.

Laki-laki aneh yang menyebut dirinya Tuan Raja itu nyengir memamerkan giginya yang kuning. Bibirnya hitam berlepot kulit ubi gosong.

Tapi Tuan Raja, kataku memberanikan diri. Jika malam masih merunjung, mengapa semalam aku masih melihat bintang

Aaaah, ia terkekeh sambil menunjuk-nunjuk. Seakan pertanyaanku sudah ia duga sebelumnya. Untuk mengetahui mengapa malam memben-

tang, ujarnya, kalian harus mendengar Hikayat Bintang!

Ia mengeluarkan sekuncup kembang dari saku bajunya yang bertuliskan 757 itu. Kemudian menghirupnya dalam-dalam.