"Sini, ikut aku!" perintah Cakka, seraya menarik tangan Damara masuk ke ruang kerjanya, menjauh dari penghuni ruangan yang siap menyambutnya dengan berbagai pertanyaan. "Kamu gila ya, Mar! Apa-apaan ini"
Cakka menyodorkan tabloid. Di halaman yang dibuka Cakka terpampang foto Damara dipeluk Imelda, satu halaman penuh! Dengan ekspresi tercengang Damara menyentakkan tabloid itu dari tangan Cakka, tidak percaya fotonya dengan headline "Cinta Segitiga Sang Model" dipajang di tabloid gosip terlaris di Indonesia.
"Ini nggak seperti yang kamu pikirkan, Kka!" sanggah Damara.
"Terus sebenarnya kayak apa" tanya Cakka tegas.
Damara tidak langsung menjawab, sulit baginya menceritakan kejadian sebenarnya, sekalipun pada rekan kerja terdekatnya yang sekaligus wakil ketua biro hukum tempatnya bekerja. Alasannya terlalu aneh untuk dijelaskan.
"Mar, kamu tahu kan, aku bukan orang yang suka mencampuri urusan pribadi teman kerja. Kamu bebas punya hubungan spesial dengan siapa saja. Tapi masalahnya, sekarang kamu justru diindikasikan punya skandal sama Imelda, klien yang sedang kamu pegang kasus perceraiannya!"
"Tapi, Kka, aku nggak ada hubungan apa-apa sama Imelda! Ini semua cuma gosip! Imelda memeluk aku spontan karena kelewat senang kasusnya selesai. Wartawan infotainment aja yang kelewatan dan suka melebih-lebihkan."
"Masalahnya bukan cuma benar atau tidaknya berita ini, Mar. Tapi sudah melibatkan reputasi biro hukum kita! Coba kamu bayangkan apa yang dipikirkan calon-calon klien kita saat melihat ini semua Pengacara yang seharusnya membantu klien dalam kasus perceraian malah diindikasikan sebagai penyebab perceraian kliennya!"
Apa yang dikatakan Cakka memang benar. Damara seharusnya memikirkan hal ini sejak awal.
"Oke, Kka, aku ngerti maksud kamu. Aku janji akan menyelesaikan ini semua."
"Ya, aku percaya sama kamu, Mar. Sori kalau tadi aku kelewat keras sama kamu."
"Nggak masalah, aku ngerti kok," ujar Damara.
"Kalau kamu butuh bantuan untuk masalah ini, beritahu aku," kata Cakka menepuk bahu Damara. "Aku balik ke ruangan dulu."
Cakka keluar dari ruang kerja Damara, mengusir beberapa orang yang berdiri di depan pintu ruang kerja Damara yang tampaknya berusaha menguping. Damara mengenyakkan diri di kursi kerjanya, memejamkan mata sesaat untuk menghalau semua pikiran memusingkan di kepalanya.
Handphone Damara berbunyi di atas meja kerjanya, membuyarkan usaha Damara untuk menenangkan pikiran. Nama Anggun muncul di layar LCD handphone-nya. Anggun pasti sudah melihat berita dugaan skandal Damara dengan Imelda di infotainment. Ia jelas menelepon untuk menuntut penjelasan. Mengabaikan dering handphone-nya, Damara bangkit dari kursinya dan melangkah gontai menuju dinding kaca ruang kerjanya. Biasanya dengan menatap ke luar melalui dinding transparan tersebut pikiran Damara lebih tenang dan akan menemukan solusi masalahnya. Tapi sayang, bukannya menemukan solusi, saat menatap ke luar Damara malah menemukan masalah baru. Di bawah gedung ia melihat sekitar sepuluh wartawan infotainment sudah siaga dengan kameranya, berkerumun menunggu sumber berita mereka, yang dapat dipastikan siapa orangnya.
***
Anka menatap dengan serius layar TV 14 inci di ruang karyawan, tercengang ketika wajah
Damara muncul di sebuah acara infotainment bersama model cantik yang dikenali Anka sebagai Imelda Azizah, klien Damara. Ketercengangan Anka bertambah saat melihat adegan Imelda memeluk Damara di ruang persidangan. Entah mengapa jantung Anka berdetak kencang saat menyaksikan itu semua, ditambah lagi narator acara gosip yang menyatakan bahwa Damara diduga sebagai orang ketiga yang memicu perceraian Imelda, semakin membuat perasaan Anka tidak keruan.
"Itu kan pengacara yang sering ke sini," komentar senior wanita Anka yang kebetulan melihat sambil lewat. "Nggak nyangka ya wajah ganteng cuma dipake buat dapetin klien cantik."
Ingin rasanya Anka menyumpal mulut seniornya itu dengan lap meja yang dipegangnya agar tidak bicara sembarangan tentang Damara. Anka yakin sepenuhnya ini hanya kesalahpahaman.
Damara tidak mungkin melakukannya. Damara terlalu baik untuk menerima semua tuduhan itu. Terlepas dari seberapa sering Damara mendapat klien wanita cantik, dan terlepas dari seringnya Damara terlihat bersama wanita-wanita cantik, Anka percaya Damara tidak mungkin menempatkan dirinya sebagai perusak rumah tangga orang lain.
***
Tidak jauh berbeda dari yang dialami Damara, apa yang dialami Imelda setelah segala macam pemberitaan itu menyebar, tidak kalah merepotkan. Manajer Imelda duduk di sofa apartemen Imelda dengan wajah stres berat. Ibu Imelda, yang selama ini selalu mengatakan pada semua orang bahwa ia begitu peduli pada anaknya, berdiri dengan muka masam sambil menyilangkan tangan, sesekali menatap ke arah Imelda dengan tatapan menyalahkan.
Tidak banyak yang bisa dikatakan Imelda menanggapi reaksi dari orang-orang yang menganggap diri mereka berjasa dalam perjalanan karier Imelda. Melihat semua reaksi menyalahkan itu, Imelda malah merasa senang. Puas rasanya membuat mereka kerepotan karena ulahnya.
"Kita harus buat press conference! Kita harus menjelaskan pada semua wartawan bahwa tidak ada apa-apa antara kamu dengan pengacara itu," tuntut Gita, wanita ambisius yang memanajeri Imelda sejak awal kariernya. "Kita harus mengundang semua media untuk meluruskan masalah ini. Reputasi kamu harus dikembalikan seperti semula sebelum klien-klien kita membatalkan kontrak mereka."
"Buat apa, Mbak Gosip kayak gini dibiarin aja, nanti juga reda sendiri," sahut Imelda santai.
"Reda sendiri kamu bilang! Perbuatan kamu kemarin bukan cuma menimbulkan gosip biasa, tapi skandal, Imelda!" sergah Gita. "Saat hakim memutuskan perceraianmu dan kamu malah memeluk pengacara di depan semua wartawan, itu seperti sengaja mencari sensasi untuk menutup sidang perceraian kamu..."
"Kamu terlalu gegabah, Mel! Sudah berapa kali Ibu pesan sama kamu untuk selalu menjaga sikap." Ibu Imelda ikut menimpali.
"Cari sensasi! Jaga sikap! Kalian memang nggak pernah ngerti apa yang aku rasain selama ini!"
"Maksud kamu apa sih, Mel Kami semua orang terdekat kamu, kami ingin yang terbaik buat kamu."
"Terbaik buat aku! Termasuk ngehancurin hidup aku dengan menikahkan aku sama laki-laki kayak Septian, begitu, Bu"
"Imelda, jaga mulut kamu!" bentak ibu Imelda. "Berani-beraninya kamu bicara seperti itu sama Ibu."
"Ibu nggak terima aku ngomong kayak gitu sama Ibu, jadi Ibu masih berpikir Septian laki-laki yang paling tepat buat aku, kan"
Imelda bangun dari sofa, menatap sengit ke arah ibu dan manajernya yang seakan tidak percaya dengan ucapan Imelda barusan. Kali ini, untuk pertama kalinya mereka melihat Imelda membantah.
"Besok aku nggak mau menjelaskan apa-apa di depan wartawan!" tandas Imelda, memakai kacamata hitamnya lalu menyambar kunci mobil di atas meja sebelum berjalan menuju pintu apartemen.
"Kamu mau ke mana, Mel Di luar banyak wartawan!" seru Gita putus asa.
Imelda tidak menggubris, kali ini ia tidak ingin mendengar apa pun dari orang-orang yang ia rasa sudah membuatnya lupa rasanya bahagia. Yang diinginkan Imelda sekarang hanyalah menajuh dari segala hal yang membuatnya tidak merasa seperti manusia.
***
Damara mendapati Imelda duduk di salah satu bangku taman yang agak jauh dari penerangan. Tubuhnya dibalut jaket hitam, mengenakan topi yang sengaja dipakai untuk menutupi wajahnya, seakan enggan dikenali siapa pun.
"Anda nggak takut duduk di sini sendirian" tanya Damara, mengumumkan kedatangannya, seraya duduk di samping Imelda.
Imelda menoleh, tersenyum kecil saat melihat Damara duduk di sampingnya.
"Terima kasih, kamu mau datang."
"Saya rasa pasti ada hal yang penting kalau Anda sampai mau menunggu saya di tempat seperti ini..."
"Kita tidak berada di ruang persidangan, atau sedang bicara soal kasus di kantor, kan Bisakah kata Anda diganti dengan sapaan yang lebih santai"
"Oke, bisa saya coba," jawab Damara mengangguk sopan. "An... maksud saya, kamu... ada apa meminta saya untuk nemuin kamu di sini"
Imelda melepas topi hitam yang dipakainya, hingga rambut hitam sebahunya tergerai indah. Imelda menghela napas berat sebelum menoleh menatap ke arah Damara. "Kamu pasti melewati hari yang luar biasa merepotkan hari ini," Imelda mulai bicara. "Maaf, karena sikap saya kemarin semua jadi kacau, terutama untuk kamu yang biasa hidup tenang." Imelda menunduk. Dari raut wajahnya terlihat bahwa ia baru saja melewati hal yang begitu menyusahkan.
"Lumayan... sesekali ngerasain jadi selebriti menyenangkan juga, walaupun harus dapat teguran keras dari bos," kata Damara santai. "Kamu sendiri juga pasti melewati hari yang luar biasa."
Imelda mengulas senyum kaku, seakan apa yang diduga Damara memang benar adanya.
"Saya sudah terbiasa menjadi bahan berita. Dibilang cewek matre sampai diberitakan sebagai model yang bisa dibawa ke hotel, sudah pernah saya alami. Gosip ini terbilang ringan untuk ukuran saya," jelas Imelda, terdengar getir di telinga Damara. "Saya sudah mati rasa untuk ini semua, terlalu lelah... sampai saya sendiri lupa untuk merasa lelah."
Damara menatap Imelda prihatin, tidak pernah disangkanya akan seperti ini kehidupan seorang model terkenal.
"Tampil sempurna di depan publik adalah hal yang selalu mereka tuntut dari saya, tidak peduli apa yang sedang saya rasakan." Imelda memalingkan wajahnya dari Damara, berusaha menyembunyikan air mata yang terlihat sudah menggenang di matanya.
Damara tidak tahu bagaimana harus menghadapi situasi seperti ini, dengan ragu Damara mengeluarkan saputangan dari saku kemejanya, mengulurkannya pada Imelda. "Ini..." katanya pelan.
Imelda mengambil saputangan yang diberikan Damara, menyeka air matanya. "Terima kasih, maaf bikin kamu harus lihat saya seperti ini," kata Imelda sengau. "Kamu mungkin mikir saya wanita cengeng, yang langsung terpuruk saat dapat cobaan kayak gini. Saya sebenarnya malu terlihat seperti ini di depan kamu, kamu sudah terlalu sering melihat saya terpuruk..."
"Kenapa harus malu Semua orang pernah melewati masa-masa sulit, itu sangat manusiawi," kata Damara, berusaha membesarkan hati Imelda. "Walaupun kamu model terkenal yang selama ini selalu tampil sempurna, kamu tetap manusia biasa yang akan sakit dan terpuruk jika terluka terlalu dalam."
Imelda menatap Damara lekat-lekat, membuat Damara merasa sedikit jengah dan tidak nyaman.
"Kamu orang baik," kata Imelda akhirnya. "Terlalu baik untuk saya jadikan partner yang muncul di skandal infotainment... sekali lagi maaf untuk itu."
"Saya bukan orang baik. Kalau kamu tahu siapa saya sebenarnya, kamu tidak akan begitu merasa bersalah," kata Damara dengan nada suara yang entah kenapa terasa menyesal.
Damara menatap wajah Imelda yang diterpa angin malam. Ada yang salah pada dirinya kali ini. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bekerja tidak normal saat menatap Imelda. Taman ini terlalu sepi hingga Damara takut apa yang dirasakannya bisa tergambar jelas di mata Imelda.
"Saya tidak begitu peduli seperti apa kamu sebenarnya, bagi saya kamu satu-satunya orang yang paling mengerti saya. Satu-satunya orang yang mau menemani saya saat saya butuh seseorang," lanjut Imelda. "Andai orang yang saya nikahi itu kamu..."
Apa yang bisa dilakukan Damara setelah mendengar kata-kata Imelda untuknya Wajah Imelda yang begitu dekat dari jangkauannya, embusan angin malam yang terasa menyegarkan membuat otak Damara bekerja di luar kebiasaannya. Tanpa alasan yang jelas Damara mencium bibir Imelda, membiarkan semuanya berlangsung begitu saja dengan Imelda yang tidak sedikit pun menunjukkan reaksi menolak. Rasanya bukan kesalahan untuk menuruti stimulus dari otaknya.
* * *
"Dia bukan orang seperti kamu," - Damara