NIKEN DAN PANDU - 13
"Kalau kamu memang siap, aku juga siap, Fei." kata Pandu yakin.

"Sungguh, Ndu Bagaimana kalau kamu diusir lagi sama papa"

"Diusir ya pulang, dong. Itu kan rumahnya dia. Aku bisa apa coba"

"Aku pokoknya bakal belain kamu, Ndu. Aku nggak akan ijinkan papa ngusir kamu lagi. Kamu bakal makan malam di rumahku. That's final. Tapi papaku bisa benar-benar kejam, kata-katanya bisa jadi begitu menyakitkan. Aku takut kamu sakit hati, trus nggak mau ketemu aku lagi."

"Aku nggak akan menyerah kalau selama kamu nggak menyerah, Fei."

"Fei Fei!!" Suara itu terdengar begitu familiar di telinga Niken.

"Mama." Niken terkejut sekali melihat mamanya naik mobil BMW-nya lewat di dekat sekolahnya. "Oh, tentu saja!" seru Niken dalam hati, menyadari kebodohannya. "Salon mama kan dekat sini."

"Masuk ke mobil, sekarang!" bentak mama sambil membuka pintu mobil dari dalam.

"Ma, mobilku di lapangan parkir, tinggal dekat situ." kata Niken menunjuk ke arah lapangan parkir.

"Nanti biar diambil Pak Isyur. Pak Isyur, nanti ambil kunci mobil dari non Niken." kata mama ke Pak Isyur, salah satu sopir keluarganya. "Ayo, masuk." desak mama.

Niken menatap wajah Pandu sekilas sebelum masuk ke mobil. Walaupun wajah itu begitu diliputi ketegangan, tetap saja berusaha tersenyum untuk membesarkan hati Niken tanpa berkata-kata.

Mama langsung membentak Niken begitu pintu mobil ditutup.

"Itu cowok yang diusir papa kapan hari ya"

Niken mengangguk lemah. "Diadili lagi deh," pikirnya.

"Kamu sudah lupa, janji-janji sendiri nggak mau pacaran Kamu apa-apaan boncengan sama cowok dekil itu Nggak tahu malu!" "Namanya Pandu, Ma. Bukan cowok dekil." bela Niken. "Kamu sudah lupa apa yang terjadi pada kakakmu"

"Gimana bisa lupa, sih Ma Tapi mama tau nggak, Edi pacar cici tu sekarang sudah berubah jadi anak baik-baik, sejak cie Tasya meninggal. Dia benar-benar berubah, Ma. Cinta Cie Tasya yang merubah Edi."

"Mau berubah kek, mau mati kek, mama nggak urusan. Penyesalannya nggak bisa mengembalikan Tasya, kan" jawab mama sinis.

"Ma, rasanya sudah waktunya kita maafin Edi. Edi memang salah besar dulu. Tapi aku sangat berterima kasih sama Edi, karena dia sudah membuka mataku, bahwa cinta itu memang ada. Cie Tasya benar-benar cinta sama Edi, dan sekarang cintanya sudah bersemi."

"Sudah mulai bisa ngomong cinta-cintaan kamu sekarang, ya Lantas mau menasehati orang tua"

"Bukan begitu maksud Fei Fei, Ma. Fei sayang banget sama Pandu. Fei cuma pengen mama bisa ngerti. Percaya deh, Ma. Fei nggak akan berbuat kesalahan yang sama seperti cici."

"Mestinya kamu sudah bisa mengerti sekarang, cinta itu nggak ada gunanya. Lihat cicimu, lihat mama. Pokoknya kamu nggak boleh pacaran, apalagi sama anak dekil itu."

"Kenapa memangnya koq terutama Pandu" desak Niken. "Dia bukan dari golongan kita, Fei Fei. Apa kamu tidak sadar Kamu cuma bakal menderita kalau sama dia. Tidak ada bibit, bebet ataupun bobot yang bisa dipandang. Kamu bisa pilih cowok yang lebih baik, yang dari golongan kita." "Golongan kita Golongan apa yang mama maksud Golongan yang mendewakan materi Golongan orang-orang berduit dan berdasi Golongan yang memandang rendah golongan lain karena merasa golongannya yang terbaik Atau cuma semata-mata karena Pandu orang Jawa, Ma" tanya Fei Fei emosi. Sudah lama dia ingin mengungkapkan perasaan muaknya terhadap aksi penggolong-golongan ini.

"Fei Fei! Mama sudah cukup toleran membiarkan kamu bergaul dengan Wulan anak pembantu itu. Seharusnya mama tahu, dia cuma membawa dampak buruk buat kamu. Kamu sekarang berani melawan orang tua, ya!" Mereka terus perang mulut sampai depan garasi. Masuk ke rumah, kebetulan ada Papa di rumah, sedang membaca koran di ruang tengah. Maklum, besok ulang tahun Tasya. Biasanya Papa memang selalu ada di rumah setiap hari ulang tahun Tasya. Tasya itu adalah anak kesayangan Papa. Papa nggak pernah memarahi Tasya. Kesalahan apapun yang Tasya buat, Papa selalu belain. Mama langsung melapor tentang kejadian barusan. Papa langsung naik pitam.

"Seingat Papa, Papa sudah memperingatkan kamu untuk tidak dekat-dekat sama cowok berandal itu." kata Papa. "Kamu sengaja mau melawan orang tua ya!" Papa membentak. Niken tersentak kaget.

"Dia bukan cowok berandal, Pa. Bukan juga cowok dekil, Ma. Namanya Pandu. Fei sayang sama dia, Pa, Ma."

"Sayang,.. sayang. Memangnya anak sehijau kamu tahu arti kata sayang" tanya Papa sinis.

Niken jengkel sekali diperlakukan seperti ini. Seperti anak kecil saja.

Niken lalu menjawab, "Tentu saja tahu. Fei sudah besar, Pa. Tahu mana yang benar, mana yang salah. Apapun arti kata sayang atau cinta itu, Fei nggak pernah dapat dari Papa. Rasanya Papa yang perlu bertanya pada diri sendiri, apa arti cinta itu. Cinta itu personal. Cinta berarti setia. Nggak mungkin bisa yang tadinya cinta terus lama-lama nggak cinta. Apalagi mencintai orang lain dan membuat orang yang dicintai luka. Fei yakin itu bukan cinta, ya kan Pa"

Papa geram. Ditamparnya pipi Niken.

"Kamu sudah berani mengkuliahi orang-tua, ya!"

"Berani karena aku tahu aku benar. Selama ini aku diam saja, tidak pernah berkomentar apalagi protes tentang Tante Mia, simpanan papa yang sering kemari itu. Diam bukan berarti aku nggak bisa menilai. Karena Papa nggak tahu apa artinya cinta, Papa nggak berhak melarang atau menceramahi aku untuk nggak pacaran sama Pandu." kata Niken sambil menangis lalu lari masuk kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Perih sekali pipinya. Dia masuk kamar bukan cuma karena ingin menangis, tapi juga karena mendengar sayup-sayup bunyi telepon di kamarnya. "Fei" Sudah bisa ditebaknya, Pandu.

Niken tidak bisa menjawab karena sibuk mengatur napasnya. Pandu bisa mendengar isak tangis Niken lewat telepon.

"Sudah. cup. jangan menangis, sayang. Seperti habis digebukin saja, Fei." kata Pandu berusaha bercanda untuk membuat Niken tertawa. Tapi Niken malah tambah kencang menangisnya.

"Hey, Fei Kamu nggak diapa-apain kan sama Mama kamu" tanya Pandu heran. Dia belum pernah mendengar Niken menangis seperti ini.

"Nggak." "Sungguh"

"Hmm... Cuma ditampar sama Papa. Sekali."

"Ya ampun..." Pandu mengelus dadanya. Kasihan sekali Fei Fei, katanya dalam hati.

"Fei,. kalau kamu nggak kuat, kapan saja kamu boleh menyerah. Kamu tinggal bilang terus terang. Aku sangat mengerti koq."

Niken menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba dia sadar, dengan menggelengkan kepalanya, bagaimana Pandu bisa tahu Dia lalu tertawa sendiri.

"Koq ketawa sih" Pandu jadi tambah bingung.

"Nggak. Aku barusan geleng-geleng. Trus aku mikir, bagaimana kamu bisa tahu kalo aku gelenggeleng, kalo aku nggak sambil ngomong" katanya geli. "Aku belum mau menyerah koq, Ndu. Doain semoga aku bisa kuat ya, Ndu. Aku nggak ingin menyerah sampai kapanpun. Ingat nggak, Ndu, aku pernah bilang, mau hepi itu susah buat aku. Butuh banyak pengorbanan. Kamu juga mesti sabar, yah"

"Fei, kamu pernah tanya, seperti apa sih tipe cewek idamanku. Sekarang aku tahu. Yang persis seperti kamu, Fei. Semuanya yang ada di dalam dirimu aku suka. Aku sanggup menunggu kamu selama apapun. Untuk mendapatkan yang terbaik, orang mesti sabar." Niken tersenyum puas. Lega sekali rasanya.

"Ndu, kamu tetap datang besok sore, yah Aku belum sempat telepon Edi, sih. Setelah ini nanti aku telfon dia." "Kamu yang undang, aku pasti datang."

"Aku cuma pesan sekali lagi, kamu mesti ekstra sabar. Tadi saja di depanku mama sudah ceramah tentang golongan. Besok sore bisa tambah ganas, Ndu." "Aku heran gimana cewek sebaik kamu bisa lahir dari lingkungan rasialis seperti itu. Kamu pasti anak pungut, Fei." goda Pandu.

"Iya. Anak keluarga Pandu."

"Huh. Kamu nggak mirip papa-mamaku sama sekali. Nggak mungkin, lah. Lagipula, kalo kamu anak keluarga Pandu, berarti kita saudara, dong. Mana boleh pacaran. Ngaco kamu, Fei!"

"Ya sudah deh. Aku mau telepon Edi. Jangan lupa berdoa malam ini. Kalo perlu berdoa novena."

"Iya deh, nanti aku minta ibuku ikut berdoa. Biasanya doa ibuku tu selalu terkabul."

Niken lalu menutup teleponnya. Lalu menelepon Edi. Edi senang sekali Niken mau mengundangnya datang untuk merayakan hari ulang tahun Tasya. Niken sudah memperingatkan bahwa orangtuanya masih menyimpan dendam kesumat padanya, dan Niken tidak akan menyalahkan kalau Edi tidak bersedia datang. Edi sepertinya tidak perduli. Dia berjanji datang besok sore, setelah menjemput Pandu.

Seraya meletakkan gagang telepon, Niken menatap cermin di hadapannya. Pipinya masih merah. Dipegangnya pelan-pelan. "Aduh!" Dia lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuknya.

Kelelahan, Niken ketiduran.

Niken terbangun karena teleponnya berbunyi lagi.

"Hallo" kata Niken sambil menoleh ke arah jam weker di sebelah tempat tidurnya. Jam setengah dua belas malam.

"Fei!" Suara Pandu masih kedengaran segar-bugar.

"Ini sudah hampir tengah malam, yo. Kamu nggak bobok" tanya Niken.

"Kangen. Aku lagi dengerin radio, dengerin lagu trus jadi inget kamu. Sampe aku rekam di kaset lagunya. Nih dengerin."

My heart is filled with so much love

And I need someone I can call my own

To fall in love that's what everyone's dreaming of

I hold this feeling, oh so strong

Life is too short to live alone without someone to call my own

I will care for you, you will care for me

Our love will live forever

Shower me with your love...

I close my eyes and pray all my wishes come true

Every night I go to sleep

Until you're mine I'll wait for you endlessly

Can't you see

Fairy tales, they do sometimes come true If you believe, it could happen to you Like the stars that shine, way up in the sky Our love will live forever

"Fei, karena aku, kamu ditampar papa kamu. Aku janji, aku nggak akan pernah sakitin kamu." "Yah nggak sakitin tapi bangunin orang lagi tidur nyenyak." gerutu Niken. "Aku gak bisa bobok.

Inget kamu." "Lha aku udah bobok, nih." "Mimpiin aku nggak"

"Nggak."

"Makanya aku telfon. Aku harus memastikan kamu mimpiin aku."

"Iya. iya. lagipula kamu koq tumben senang dengerin lagu melankolis begini sih"

"Gara-gara kamu."

"Koq"

"Semenjak kenal kamu aku jadi suka dengerin lagu-lagu cengeng begini. Cocok sama suasana hati. Nggak tau kenapa."

Niken cekikikan.

"Sudah berdoa" tanya Pandu.

"Oh, iya belum. Aku ketiduran setelah telepon Edi tadi. Besok sore kamu bakal dijemput dia.

Jadi siap-siap saja."

"Tuh kan.. untung kan aku telepon, mengingatkan kamu untuk berdoa. Udah berdoa sana, trus bobok. Met bobok, sayang."

"Centil ah sayang-sayangan segala." Niken tersipu malu. "Memang sayang koq."

Dari pulang sekolah sampai sore ini, Pandu sibuk membongkar lemari pakaiannya. Tidak puas, dia mengobrak-abrik lemari bapaknya juga. Tujuannya cuma satu. Menemukan pakaian yang pantas untuk dipakai ke rumah Niken malam ini. Sebetulnya banyak pilihan. Cuma karena bingung dan senewen, rasanya dari tadi tidak ada yang pas. Ibunya sampai ikut-ikutan pusing memilihkan ini-itu. Lebih pusing lagi melihat kamarnya yang ikut berantakan. Kakak-kakaknya selama ini jatuh cinta ya jatuh cinta, tapi tidak pakai acara membongkar seisi rumah seperti ini.

"Pras, ini bagus nih." kata ibu menunjuk hem biru muda lengan panjang dari timbunan celanacelana panjang. "Nggak... jelek ah, Bu." Pandu menolak. "Bagaimaina dengan yang ini"

Pandu menoleh lagi. Hem batik biru lengan panjang yang ada di tangan ibu itu keren juga. Tapi apakah cukup keren untuk acara malam ini Pandu menggeleng ragu.

"Pras, sudahlah. Capek sudah ibu melihat kamu bongkar-bongkar begini. Nanti pasti ibu juga yang beres-beres. Lagipula, Niken juga pasti tidak menginginkan kamu datang sebagai orang lain. Tunjukkan jati dirimu, Pras, jati diri yang dicintai Niken. Supaya papa-mamanya Niken bisa melihat seperti apa Pandu yang diidolakan anaknya itu."

"Begitu ya, Bu Jadi batik ini bagus ya, Bu" tanya Pandu masih bingung. Ibunya tersenyum.

"Tentu saja. Itu yang ibu berusaha bilang dari satu jam yang lalu." Lalu ibu meneruskan, "Ini sudah jam lima, lho. Kamu lebih baik mandi dulu. Percuma pakai baju bagus-bagus kalo bau kecut."