SEDUCING CINDERELLA - 13
Reid duduk di atas sofa yang empuk, berbaring ke samping untuk merenggangkan kakinya dan bersandar ke bantal yang ia sisipkan di belakang. Dia baru saja selesai mandi setelah melewati hari yang panjang dan yang ia inginkan sekarang adalah berbaring dan meminum bir dingin yang ia izinkan untuk ia minum malam itu.

Satu minggu sudah terlewati sejak malam menonton yang santai dengan Lucie, tapi bukan hal-hal menyenangkan dan permainan yang mereka mainkan seperti minggu sebelumnya, tujuh hari belakangan sangat membuat stres. Ketika mereka berdua sedang tidak menyembuhkan bahu Reid dan latihan, Reid melakukan publicity junkets (promosi pekerjaan sambil bersenang-senang), dan Lucie di panggil bekerja untuk menangani kasus yang memerlukan bantuan khusus.

Titik terang yang mereka dapatkan hanyalah seks cepat di waktu yang tak tentu. Tapi jika mereka kekurangan durasi, maka sesi latihan digunakan sebagai pembakar gairah. Kapanpun ia dan Lucie merasa panas dan ingin, hal itu seperti reaksi kimia yang berakhir dengan ledakan yang tak terelakkan yang mengguncang mereka hingga kepusatnya.

Di satu waktu mereka menyadari kehabisan kondom, kemudian mendiskusikan secara terbukameskipun terburu-burumengenai proteksi. Sejak mereka berdua bersih dalam catatan medis dan Lucie sudah menanamkan sejenis kontrol kehamilan dilengannya sesuai dengan yang diinginkan mantan suaminya, mereka memutuskan untuk melupakan lateks itu untuk menambah durasi kebersamaan mereka berdua.

Kenangan tentang masuk ke dalam tubuh Lucie untuk pertama kalinya tanpa menggunakan apapun di antara mereka membuat kejantanan Reid nyeri. Intinya yang licin dan panas membuat Reid membara, menyalakan setiap sel di tubuh pria itu ketika terusan dalam tubuh Lucie meremas kejantanannya yang telanjang hingga ia menyembur keluar jauh di dalam tubuh Lucie. Membutuhkan waktu lebih lama daripada biasanya bagi mereka berdua untuk mereda dari persetubuhan itu, tapi ketika mereka berhasil mengendalikan diri, kegembiraan yang dirasakan Reid juga terpancar dari mata Lucie.

Sayangnya, waktu istirahat di siang hari adalah satu-satunya kesempatan yang mereka miliki sepanjang minggu. Ketika mereka berdua sampai rumah di malam hari mereka hanya memiliki energi untuk mandi dan kemudian pergi tidur.

Reid memiliki kecurigaan bahwa Mann meminta Lucie untuk masuk kerja hanya agar ia dapat melihat Lucie. Mungkin Mann ingin memastikan bahwa transformasi Lucie tidak hanya pada satu malam di restoran itu. Mungkin dia hanya menginginkan sebuah alasan untuk melihat Lucie dan memperhatikan lesung pipi Lucie, siapa yang tahu

Apa yang Reid tahu adalah bahwa Reid tak bisa melakukan apapun pada hal itu. Setelah UFC mengetahui dari Butch bahwa Reid sedang di Reno untuk mendapatkan pelatihan khusus dan terapi untuk cedera yang ia alami, mereka menyiapkan konferensi pers dan penandatanganan kontrak di depan publik, dan dia tak memiliki pilihan lain selain melakukan semua itu. Itu adalah bagian dari kontraknya.

Sulit bagi Reid untuk fokus, meskipun ia baru menyadarinya ketika ia menjawab pertanyaan yang sama yang sudah ia jawab lusinan kali, Lucie sedang di goda oleh Ahli Bedah itu. Mungkin dia juga meraba-raba jika Mann memiliki kesempatan. Sialan, Reid tak pernah memikirkan itu sebelumnya. Apakah Mann sudah mencium Lucie Kemudian, itu benar-benar bukan masalah. Lucie sedang bersiap untuk berangkat kencan dengan pria itu saat Reid sedang berbaring di sana, jadi Lucie pasti siap di cium pada akhir malam ini.

Tangan Reid mengencang di botol bir yang sedang ia genggam dan rahangnya mengeras.

Sebuah dentuman dan gemerincing terdengar dari kamar mandi di ujung lorong. "Sialan!"

Reid memutar kepalanya ke arah keributan itu. "Apakah semua baikbaik saja disana"

"Yeah," kata Lucie kesal. "Dengkulku baru saja terantuk di meja rias ketika terburu-buru memakai pantyhose-ku, dan itu satu-satunya yang aku miliki."

"Kau mau aku pergi ke toko di ujung jalan" Dan kemudian mungkin Reid tidak sengaja salah berbelok ketika kembali ke apartemen, membuat Lucie terlambat dan Mann akan berpikir bahwa Lucie membuatnya kecewa dan kehilangan ketertarikan karena egonya yang rapuh.

"Tidak, terima kasih, tak ada waktu. Aku akan pergi tanpa benda itu."

Tanpa benda itu Pria itu akan mendapatkan akses mudah ke kaki Lucie yang telanjang. Semua yang Mann butuhkan hanyalah sapuan tangan di bawah linen meja dan dia akan bisa melakukan semua hal kreatif meskipun mereka berdua sedang berada di depan umum. Reid tahu; Reid sering melakukan hal itu ketika ia merasa bosan saat makan malam penting dengan eselon tingkat atas di dunia petarung.

"Mengapa kau tidak menggunakan pantsuit saja"

Reid mendengar suara keletak dari tumit sepatu di lantai kayu dan Lucie muncul dari pojok ruang dimana Reid bisa melihatnya. Seketika mulut Reid mulai berliur seperti halnya stroberi paling masak yang pernah ia lihat tergantung tepat di depan wajahnya. Lucie membuatnya ingat akan hal itu.

Merah terang dari dada ke pantat, Lucie mengesankan dalam balutan gaun cocktail yang sederhana. sehelai tali yang sangat tipis seperti tak berada disana, potongan leher yang menyelusup ke area diantara dadanya, dan ujung lipatan gaun yang mengelilingi pahanya, sekitar satu inci dari lengkungan pantatnya.

Lucie mengeriting rambutnya menjadi lingkaran-lingkaran besar yang membuatnya terlihat baru-saja-di-keriting seksi dan riasan wajahnya-nya nampak, namun tipis, dengan pengecualian dari lipstik merah yang serasi dengan gaun yang ia kenakan.

Rasa ketertarikan diantara mereka sebelum Lucie pergi kencan dengan pria lain terasa keliru dan Reid menyadari bahwa lebih baik untuk menghindari perasaan itu dibandingkan menganalisanya, jadi dia berencana untuk membuat perasaan itu menjadi perasaan sayang pada saudara untuk malam ini.

Tapi gambaran dari bibir Lucie yang merekah dan terbungkus di sekitar bagian tertentu dari tubuh Reid meledakan sebuah lubang sebesar RPG tepat di Bendungan Kewajaran yang sudah ia bangun diotaknya.

"Aku tak memiliki setelan celana, Reid. Kau tak pernah memilihkan satupun untuk aku coba."

Tentu Reid tak memilihkannya. Pria mana yang mau melihat seorang gadis mengenakan pantsuit Mata Reid sudah tenggelam pada tiap gaun pendek yang bisa ia temukan. Betapa bodohnya dia.

"Apakah ini terlihat bagus Tidak kah terlalu berlebihan" Lucie bertanya ketika sedang memandangi tubuhnya dengan cara memutar tubuhnya ke segala arah. Kemudian interkomnya berdengung, terdengar seperti klakson di apartemen yang sepi. "Oh, Tuhan, aku benar-benar gugup. Aku tak bisa melakukannya. Aku akan mengatakan padanya bahwa aku tak bisa pergi. Mengatakan bahwa aku keracunan makanan atau mendapat pancreatitis secara tiba-tiba."

Reid hampir saja setuju pada Lucie. Benar-benar hampir menyetujuinya. Tapi akhirnya, ia tak bisa melakukan itu. Hanya karena Reid mengalami kecemburuan yang aneh dan kekanakkanakan pada Lucie, tak berarti bahwa Reid memiliki hak untuk menyabotase kebahagiaan yang akan segera mendatangi Lucie dengan Dr. Lesung Pipi Sempurna.

Menendang pria goa kembali ke dalam goa-nya, Reid berdiri dan berjalan ke arah Lucie. "Ini," katanya sembari menyodorkan botol yang ia genggam pada Lucie. "Minum ini dan tenanglah. Kau tak akan membatalkan kencan ini dan membuang semua usaha yang sudah kulakukan dengan menjadi ibu peri-mu."

Lucie meletakkan sebelah tangannya di atas perutnya seakan mencoba untuk menenangkan rasa gugup yang berputar-putar didalamnya sementara tangannya yang lain menerima bir dan menghabiskannya dalam waktu kurang dari lima detik. Begitu cepat untuk ukuran sebotol bir.

Sembari menyerahkan botol kosong pada Reid, Lucie berkata, "Terima kasih, aku perlu mendengar itu."

"Karena kau suka membayangkan aku dengan sayap dan sebuah tongkat sihir" Reid berkata dengan seringaian.

Gadis itu tertawa, terlihat lebih santai kali ini. "Tidak, kau bodoh, karena aku perlu dorongan untuk melakukan semua ini."

Dorongan Reid berpikir dan mempelajari wajah Lucie, mencoba untuk melihat apakah ada sesuatuapapun ituyang mungkin ia lewati. Interkom berdengung lagi dan meskipun suaranya terdengar mirip dengan dengungan yang pertama, Reid bersumpah bahwa ketidaksabaran pria yang berada dua lantai di bawah itu mulai memuncak.

Jengkel dengan interupsi itu, Reid mengambil dua langkah besar ke arah pintu, menekan tombol interkom dan menghardik, "Kami mendengarmu, tunggulah," sebelum kembali ke arah Lucie.

Ketika Reid berbicara, suasana hening, tenang. "Kau tak memerlukan dorongan, Lu, karena inilah yang kau inginkan selama ini. Semua yang kau lakukan untuk hal ini... benar kan"

Lucie membalas tatapan Reid, matanya mencari di antara kedua mata Reid, bibirnya terbuka perlahan seakan siap merespon secepat otaknya bisa membungkus jawaban yang ada. Rendahnya tensi dari keberanian Lucie dan ke-masa-bodoh-an Reid dengan perlahan mulai naik hingga mencekik jarak di antara mereka berdua.

Dengan tangannya yang kosong, Reid merengkuh dan mengambil segelintir rambut keriting Lucie yang terjatuh menutupi matanya dan meletakkannya kembali bergabung dengan rambut lainnya ke tempat di mana mereka seharusnya berada. Pandangan mata Lucie terjatuh ke bibir Reid; itu adalah isyarat yang tidak Reid lewati. Reid mulai berpikir serius bahwa perannya sebagai seorang gentleman terlalu berlebihan. Tapi jika Reid akan melangkah lebih jauh, ia harus lebih dulu meyakinkan diri.

"Lucie Apakah kau ingin pergi berkencan dengannya"

"Aku"

Lucie terhenti karena mendengar theme song Rocky yang datang dari arah dapur. Memerlukan waktu satu detik bagi Reid untuk menyadari bahwa suara itu berasal dari telepon genggamnya. Lucie bersikeras untuk memberikan semua kontak di speed dial Reid nada dering personal dan mereka tertawa terbahak dan bercanda ketika memilihkan lagu yang tepat untuk masing-masing dari mereka. Lucie memilihkan theme song Rocky untuk Butch juga.

Reid merasakan otot dirahangnya mulai bekerja. Waktu yang tepat, orang tua. Apakah seluruh jagat raya melakukan suatu konspirasi untuk melawan mereka berdua

Kemudian hal itu menerjangnya seperti halnya sebuah pukulan hook mendarat dipelipisnya: yeah, tentu saja. Jagat raya berusaha mengingatkan Reid bahwa ia tak punya hak untuk mengikatnya dengan suatu fantasi dari sesuatu hal yang tak mungkin jadi kenyataan. Reid berprilaku layaknya bajingan yang egois. Ingin memiliki Lucie di sepanjang waktunya untuk dirinya sendiri.

Hingga saat Reid pergi dari Lucie.

Reid merasa ia perlu ditendang di bagian bokong. "Kau sebaiknya berangkat," katanya ketika ia beranjak dari pusaran pikirannya sendiri. Bergerak ke arah dapur dan teleponnya, Reid melirik dari bahunya ke arah Lucie. "Bersenang-senanglah pada kencanmu, Lubert. Jangan lupa untuk sedikit genit pada pelayannya."

Ketika Reid menekan tombol untuk menelpon kembali Butch, dia mendengar pintu terbuka dan kembali menutup dan tiba-tiba dia merasa sakit di bagian perutnya.

"Harusnya lebih tahu bahwa tidak baik meminum bir ketika sedang berusaha menurunkan berat badan." Reid memposisikan telepon ketelinganya dan mengejek. Reid pikir dengan mengatakannya dengan lantang akan terdengar lebih meyakinkan dibandingkan dengan hanya sekedar memikirkannya. "Itulah yang kau dapatkan karena berpikir, bodoh."

"Andrews" Suara Butch yang serak terdengar melalui telepon menurunkan suhu tubuhnya ke angka satu derajat. Pria ini lebih dari sekedar ayah baginya daripada ayah yang sebenarnya. Ironis, mengingat bahwa pelatihnya dan ayahnya bisa secara esensial berganti peran dalam hidupnya dan lebih akurat dibandingkan dengan peran mereka yang sebenarnya.

"Hey, Butch. Maaf aku tak mengangkat teleponnya lebih awal. Ada apa Bagaimana keadaan yang lain"

"Yang lain masih sama seperti biasanya. Tapi aku tak meneleponmu untuk berbincang tentang yang lain. Aku memiliki beberapa berita baik."

Reid mengambil sebtol air dari kulkas dan kembali berjalan ke arah ruang tamu untuk melanjutkan posisi santainya di sofa. "Bagus, karena aku hanya bisa mendengar berita baik sekarang."

"Scotty akan kembali. Beberapa urusan untuk bisa kembali ke rumah lebih cepat daripada yang kita antisipasi dan dia akan sampai di Vegas dalam waktu satu minggu."

Reid bersandar di sofa. Dia tak memiliki petunjuk apapun mengenai kabar baik yang akan disampaikan oleh Butch, tapi bisa kembali ke rumah sebulan lebih cepat daripada yang mereka antisipasi tak pernah terlintas dalam pikirannya sedikitpun.

"Jadi kau bisa pergi dari sana dan kembali ke rumah. Berlatih dengan rekan satu timmu dan bersiap untuk pertandingan perebutan gelarmu di-gym-mu sendiri. Tuhan, jika aku tahu dirimu, kau mungkin akan menjadi gila jika terlalu lama di sana."

Butch tak sepenuhnya salah. Reid sudah beristirahat akhir-akhir ini. Benar-benar beristirahat. Tapi ia tak berpikir hal itu terjadi karena ia

sedang tidak berada dilingkungannya sendiri dan sedang mendapatkan kebebasan untuk melakukan apa yang ia senangi sebanyak mendapatkan waktu berkualitas dengan Lucie. Dalam waktu singkat mereka berdua sudah bersama dan Reid mulai berpikir ke depan untuk hidup bersama Lucie. Apakah itu duduk bersama di meja di pagi hari ketika ia meminum protein shake-nya dan Lucie menyesap kopinya, ataukah berargumen mengenai siapa yang berhak memegang remote berdasarkan siapa pemiliknya versus siapa yang lebih tua.

"Nak, apakah kau mendengar apa yang baru saja aku katakan"

Reid membersihkan tenggorokannya dan menyapu wajah dengan tangannya. "Yeah, Butch, aku mendengarmu. Bagus sekali Scotty akan segera kembali. Aku yakin beberapa pria lain bisa menggunakannya juga."

"Well, yeah, tapi dia masih memiliki waktu terbesarnya di jadwal untuk bekerja bersamamu. Dia tahu apa arti dari pertandingan itu untuk karirmu."

"Dan aku sangat menghargai hal itu, tapi kau tahu, Luce sudah menggunakan waktu liburannya untuk membantuku"

"Luce Siapa dia Apa yang terjadi dengan nona Miller"

"Dialah yang sedang kubicarakan. Namanya Lucie. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku rasa akan menjadi tidak professional jika aku mencabut kesediaannya dan kepercayaannya lebih cepat daripada apa yang direncanakan."

Keadaan menjadi hening. Sial. Butch adalah seorang pria yang memiliki sopan santun...hingga kau mengatakan atau melakukan sesuatu yang melawan keinginan melatihnya, dan keheningan itu adalah ketenangan yang terjadi sebelum badai. Ini adalah satusatunya kesamaan Butch dengan Ayah Reid, tapi bahkan Butch tak bisa menyamai kekejaman dari seorang Stan Andrews.

"Apakah kau sedang bercanda denganku! Apakah aku sedang dikerjai atau semecamnya Karena aku sedang mengalami waktu yang sulit untuk memahami mengapa bintang petarung-ku menolak bantuan dari pelatih professionalnya dan dokter professionalnya untuk membantunya mempersiapkan pertandingan terbesar dalam karirnya!"

Reid membeku di ruangan kecil layaknya seekor singa di depan pria yang memegang cambuk. "Sialan, Butch, jangan membentakku seperti itu, oke Aku hanya bilang"

"Aku dengar apa yang kau katakan. Yang aku khawatirkan adalah, boy, yang tidak kau katakan."

"Apa maksud dari kalimat itu"

"Itu berarti bahwa Reid yang aku kenal akan mengambil setiap kesempatan yang ada untuk kembali ke camp dan fokus untuk merebut kembali sabuknya. Itu berarti aku berpikir bahwa kemungkinan kau sedang berpikir dengan kemaluanmu bukan dengan kepalamu."

Reid membeku. Pelatih menebak hampir tepat seperti apa yang sebenarnya sedang terjadi. "Hanya karena aku tak ingin menjadi seorang bajingan yang tak punya hati, bukan berarti aku memiliki maksud di balik semua itu, pria tua."

"Bagus. Senang mendengarnya." Desahan berat terdengar dari ujung sambungan telepon. "Dengar, nak, kau tahu aku tak ingin iri akan kebahagiaanmu. Tapi inilah saatnya. Kau sudah semakin tua. Jika kau kalah pada pertarungan ini, bukan berarti ini akhir dari karirmu. Tapi hal itu bisa berarti adalah awal dari kehancuranmu. Dan anak baru akan lebih muda dan lebih buas daripada dirimu. Kemudian ketika kau mendapat beberapa kelemahan di bawah sabukmu, mereka akan berhenti bertarung melawanmu."

"Aku tahu." Reid terjatuh kembali ke sofa dan membiarkan kepalanya bersandar. Apa yang membuatnya khawatir adalah bahwa ide dari akhir karirnya tak lagi membuatnya takut seperti sebelumnya.

"Maka tetaplah seperti ini minggu depan. Tapi kemudian kau harus kembali ke camp dan kita akan pastikan bahwa kau siap melakukan pertandingan itu."

Reid masih benci akan ide mengakhiri waktunya dengan Lucie, tapi semakin ia memikirkan tentang hal ini semakin ia menyadari bahwa akan lebih baik seperti ini. Lucie sudah mencapai tujuannya, dan dengan bantuan gadis itu Lucie hampir mencapai tujuannya. Lucie membuat keajaiban pada bahunya; hampir sembuh seratus persen. Dan jika Reid merasa sedekat ini dengan Lucie setelah hampir dua minggu, ikatan ini akan menjadi lebih buruk lima atau enam minggu ke depan. Yeah. Ini adalah saatnya untuk pergi.

"Sampai bertemu satu minggu lagi."

***

"Sejujurnya, aku tidak seharusnya memberi tip pada pria itu," Stephen menggerutu. "Dia sibuk memperhatikanmu hingga ia sulit melakukan pekerjaannya dengan benar di sepanjang malam ini."

Lucie melangkah melewati pintu yang dibukakan oleh Stephen, senang merasakan hangatnya udara malam yang menyelimutinya dan menghapuskan rasa dingin dari air-conditioner. Tak perduli berapa kalipun dia membeku dalam restaurant, Lucie tak pernah ingat untuk membawa sweater.

"Aku rasa kau terlalu keras padanya. Aku yakin pria itu adalah pelayan baru dan masih kikuk pada pekerjaannya. Hal itu benarbenar tak ada hubungannya denganku."

"Well, sudahlah. Meskipun makan malamnya kurang menyenangkan, tapi yang menemaniku makan malam patut mendapatkan bintang lima," katanya sembari mengangkat tangan Lucie untuk menanamkan kecupan di buku jarinya.

Itu adalah kalimat membosankan dengan gesture yang membosankan bergaya lama dan semua hal itu membuatnya tertawa terbahak-bahak.

Dan mendengus.

Mata Stephen melebar dan membeku untuk melepaskan tangan

Lucie seperti halnya ia tak yakin apa yang ia dengar itu benar terjadi. Lucie merasakan warna mulai naik kepipinya hingga ia yakin wajahnya kini benar-benar pas dengan gaunnya.

"Maaf, aku, uh," Berpikir, Lucie, berpikir! "Aku mengalami sinus akhir-akhir ini."

Akhirnya Stephen bergerak, melepaskan tangan Lucie dan memberi isyarat bagi Lucie untuk mulai berjalan kembali keapartemennya. Ketika Lucie mulai melangkah, pria itu berkata, "Kau harus segera memeriksanya. Kau tak akan mau hal itu berubah menjadi sinusitis."

Lucie tak yakin bagaimana harus merespon hal itu, jadi dia memilih untuk merubah subjeknya. "Setelah beberapa tahun bekerja bersama secara profesional, senang akhirnya aku bisa menghabiskan beberapa waktu denganmu dalam level yang lebih pribadi, Stephen."

"Aku sangat setuju denganmu. Meskipun kita tak banyak melakukan

hal 'personal' ketika makan malam, benarkan Kita terus membicarakan pekerjaan sepanjang waktu."

Lucie menyeringai, senang dia sudah berhasil mengarahkan pembicaraan ke arah yang ia inginkan. "Ya, aku rasa kita melakukannya."

"Jadi, ceritakan padaku soal Lucie. Apa tujuan jangka pendek dan jangka panjangmu, Miss Miller" Stephen menyingkirkan gelas slushie kosong dengan kakinya ke dekat tempat sampah dan lanjut berjalan.

Berhenti cukup lama untuk mengambil benda itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah, Lucie mengambil beberapa langkah cepat untuk menyamai posisi pria itu karena tak menyadari bahwa Lucie tertinggal dibelakangnya.

"Um, well, aku rasa tujuan jangka pendekku adalah beberapa hal seperti mendapat peralatan baru untuk ruang terapi, mengambil beberapa kelas untuk beberapa teknik baru, dan melakukan beberapa usaha untuk keluar lebih sering lagi."

Pria itu melihat ke arah Lucie. "Keluar lebih sering"

"Yeah, kau tahu, keluar." Ketika semua yang Stephen lakukan adalah mengangkat alisnya dalam gerakan tubuh bertanya, Lucie melihat ke trotoar dan mencoba untuk menyembunyikan senyum malumalunya. "Seperti berkencan."

Mengaitkan kedua tangannya ke belakang, Stephen berkata, "Ah, aku mengerti. Well, aku harap kau akan memberiku kesempatan untuk mengecek tujuan khusus itu keluar dari daftarmu."

Lucie melirik cepat pada pria itu dari bawah bulu matanya sebelum kembali fokus ke jalan yang sedang ia lalui. "Aku suka itu."

"Bagus. Okay, lalu bagaimana dengan tujuan jangka panjangmu Dimana kau membayangkan dirimu sendiri, katakanlah, dalam lima tahun lagi"

Lucie merasa seperti sedang melakukan wawancara, meskipun ia merasa itu lah yang harus dilakukan pada kencan pertama. Mengingat ia tak pernah benar-benar melakukan kencan-dengan satu-satunya hubungan serius yang pernah ia lalui adalah kencan stereotip yaitu berkumpul dengan teman-teman dari pacarnya-Lucie tak bisa memutuskan apakah itu normal atau aneh.

"Secara professional aku tak melihat diriku melakukan hal yang berbeda. Aku senang dengan keberadaanku sekarang."

"Benarkah, kau tak punya keinginan untuk naik pangkat Bagaimana dengan menjadi direktur klinik daripada sekedar menjadi seorang terapis"

"Maksudmu dengan menyingkirkan Annie" Lucie tertawa ketika membayangkan skenario itu. "Wanita itu menjalankan kapal dengan lebih ketat dibandingkan dengan kapten angkatan laut kebanyakan. Kau sudah melihat bagaimana kantorku. Jika aku mengambil posisinya, maka kita akan tenggelam lebih cepat daripada Titanic."

Stephen tertawa kecil bersama Lucie untuk beberapa detik, tapi kemudian dia berkata, "Seriuslah, mengapa kau tak ingin lebih maju daripada posisimu sekarang Aku tak bisa membayangkan puas hingga aku dapat melaju sejauh yang aku bisa dibidangku. Maksudku, mengapa kau berpikir aku menghabiskan begitu banyak malam untuk memecahkan kasus Itu bukanlah untuk rasa hangat dan halus yang aku dapatkan karena menolong pasien."

Lucie menggedikkan kepalanya ke samping. "Kau tak mengatakan padaku bahwa kau tak begitu peduli pada pasienmu, kan"

"Tentu saja tidak," katanya, menaruh tangannya ke dalam katong. "Aku peduli pada mereka. Tapi aku peduli pada mereka ketika waktu bekerjaku tanpa perlu bekerja lembur. Aku melakukan hal itu karena aku ingin maju, ingin dipromosikan. Dan jika aku mendapat kasus spesial, aku bisa menuliskannya dan mempublikasikannya ke salah satu jurnal medis.

"Aku peduli pada orang-orang yang aku tangani. Aku dengan tulus ingin membantu mereka atau aku tak akan pernah menjadi seorang ahli bedah. Tapi aku tak merasa bahwa suatu kejahatan untuk perduli pada diriku sen diri dan masa depanku juga."

Lucie membeku saat ia mengalihkan perhatiannya pada retak di semen yang ia lalui. Dia selalu tahu bahwa Stephen tidak bekerja hingga larut malam dengannya karena ingin berduaan dengannya, tapi dia berpikir bahwa itu adalah bentuk dedikasi Stephen kepada pasien mereka.

Lagipula, seperti yang Stephen katakan, itu bukan berarti dia tak perduli pada pasien. Dia hanya bersungguh-sungguh pada karirnya. Dia memiliki tujuan, yang mana terakhir kali Lucie periksa, adalah sesuaru yang Lucie kagumi. Memberi Stephen senyum, Lucie berkata, "Aku mengerti. Dan aku pikir sungguh hebat kau memiliki aspirasi yang tinggi."

Ketika mereka berdua berhenti di depan gedung apartemen, Stephen berbalik ke arah Lucie dan melangkahkan satu kaki ke anak tangga yang paling bawah. "Kita melakukan itu lagi."

Lucie tiba-tiba merasa sangat gugup akan apa yang mungkin terjadi beberapa menit terakhir dari kencan mereka, Lucie tak bisa mengikuti jalan pikiran Stephen. "Apa yang kita lakukan"

Senyum Stephen melebar. "Kita membawa pembicaraan kembali ke sekitar pekerjaan."

"Oh, tak apa, aku tak keberatan. Itu adalah sesuatu yang biasa untuk kita, jadi begitu alami jika percakapan antara kita berdua mengarah kesana. Aku pikir kecocokan itu penting."

Stephen mengambil satu langkah ke arah Lucie dan perutnya terasa seperti ingin jatuh. Stephen tidak setinggi Reid jadi Lucie tak perlu mengadahkan kepalanya terlalu tinggi, dan fisiknya yang lebih kurus tidak membuat Lucie merasa seperti sedang terintimidasi akan keberadaannya, tapi fakta bahwa mata Stephen yang mengarah pada bibirnya cukup membuat Lucie ingin kabur masuk ke dalam pintu.

Itu tidak benar, kan Seharusnya Lucie menginginkan pria itu menciumnya. Selama bertahun-tahun Lucie memimpikan momen ini. Momen dimana Stephen melingkarkan lengannya di tubuh Lucie dan seluruh dunia akan berhenti berputar ketika akhirnya bibir Stephen menyentuh bibirnya.

Aku hanya gugup. Lucie sudah membangun momen ini dalam pikirannya sejak lama hingga ia sulit menerima bahwa momen ini akan segera terjadi.

"Well, jika ini bukanlah waktu yang tepat."

Lucie berbalik dan melihat Reid berjalan ke arah mereka layaknya iklan berjalan untuk kampanye Just Do It dari Nike, tidak mengenakan apapun kecuali celana atletik berwarna hitam dan sepatu lari biru neon, tangannya bertumpu di pinggang dan bernapas dengan keras pasca berlari. Ketika Reid berhenti sekitar dua kaki jaraknya, lampu jalan diatasnya menyinari cucuran keringat yang mengalir di atas bukit ditubuhnya sebelum menghilang ke balik karet celananya yang terpasang rendah dipinggulnya.

Reid menjulurkan tangannya ke sisi kanan tubuh Lucie untuk berjabat tangan dengan kencannya. "Senang bertemu lagi denganmu, Mann."

Lucie tidak bergerak sedikitpun ketika mendengar Stephen menggenggam tangan Reid dan melihat tangan mereka bergerak naik dan turun beberapa kali dalam gerakan berulang. "Begitu juga denganku, Andrews. Aku minta maaf kita tidak mendapat kesempatan berbincang di pesta malam itu, tapi aku sedikit ketat dalam pekerjaan."

"Bisa dimengerti." Mereka saling melepas, tapi Reid tiba-tiba menunjuk pada kaki Stephen. "Hati-hati, sepertinya kau menginjak sesuatu di sana." Dalam waktu dua detik untuk mengalihkan perhatian Stephen, kemudian Reid merunduk dan berbisik di telinga Lucie, "Kau akan kemasukkan lalat jika membuka mulutmu seperti itu, Lu."

Lucie menutup mulutnya dengan keras hingga ia bersumpah setidaknya tiga dari molarnya retak.

"Aku tak melihat apapun," Stephen berkata saat ia menegakkan tubuhnya setelah melakukan inspeksi.

"Salahku. Itu pasti bayangan atau sesuatu." Reid memberikan Lucie senyuman licik dan menyilangkan tangan berototnya di depan dadanya. "Jadi, apakah kalian bersenang-senang"

"Kami melewati waktu yang menyenangkan bersama-sama, seperti biasanya," Stephen menjawab dari belakang Lucie. "Benarkan, Lucie"

"Oh, uh, tentu saja," katanya, mengangguk layaknya sebuah bobble head di bagian depan sebuah kendaraan off-road. "Waktu yang menyenangkan."

Demi Tuhan, Reid harus mendesak Lucie! Mengapa otak Lucie memutuskan untuk absen di saat seperti ini Stephen mungkin berpikir bahwa ia imbisil. Atau lebih buruk lagi, tak meyakinkan. Ini terlalu berlebihan, Lucie harus segera pergi dari tempat ini dan masuk ke dalam apartemennya yang nyaman dan aman. Lucie memutar tubuhnya seperempat putaran untuk mengawasi ancaman yang akan mendatanginya. "Oh sial! Aku lupa aku harus memberi makan Remy, ferret milik Mrs. Egan, karena dia sedang... uh... mengunjungi saudara perempuannya."

"Ferret" Stephen merasakan kekecewaan yang terlihat jelas pada raut wajahnya. Reid menaikkan sebelah alisnya seakan menunggu sisa dari cerita yang Lucie karang.

"Ya, ferret," kata Lucie. "Kau tahu, mereka kecil, sejenis musang. Aku tak terlalu menyukai mereka, tapi Mrs. Egan memuja makhluk kecil itu."

"Aku tahu apa itu ferret, Lucie, dan aku yakin makhluk itu tak kan keberatan jika harus menunggu sedikit lebih lama lagi."

Sebelum Lucie bisa mengatakan kebohongan lainnya, Reid masuk dengan mulus sekana mereka sudah merancang keadaan itu. "Sebenarnya, tida. Remy mengidap diabetes jadi dia harus makan dan mendapatkan insulin di waktu yang seharusnya. Aku ingin melakukannya untuk Lucie, tapi aku mempunyai alergi."

"Ya!" kata Lucie dengan antusias. "Um, maksudku, Reid benar, aku benar-benar harus pergi. Tapi aku mengalami waktu yang menyenangkan, Stephen. Terima kasih banyak."

Senyuman yang Stephen berikan pada Lucie terlihat tegang dimatanya, tapi Stephen bersyukur dia mengalah pada kondisi ini jadi dia bisa mengajak Lucie pergi keluar lagi jadi mereka bisa mendiskusikan hal yang lebih personal di waktu lain. Setelah setuju dan mendapat pelukan canggung dari Stephen seperti yang Reid lihat, Lucie akhirnya kembali ke tempat perlindungannya yang aman untuk bershower dan berbaring di tempat tidurnya sembari memikirkan ribuan hal dalam otaknya.

Reid tak mengikuti Lucie, tapi Lucie mendengar Reid masuk beberapa jam kemudian. Mengetahui bahwa Reid berada di rumah dan mendengarkan suara Reid yang sedang mandi di ujung loronglah yang membuat otak Lucie akhirnya bisa beristirahat, dan Lucie terjatuh ke dalam tidur yang tak bermimpi. ***