AKU MENGGUGAT AKHWAT DAN IKHWAN - 13
Jantungku masih berdegup kencang. Meskipun aroma pegunungan yang sejuk dan rindang terpancar dalam suasana. Masih belum bisa membuatku merasa tenang. Nova dan Dewi, sudah tertidur dalam kamar mereka masing-masing. Entah, mereka benar-benar tertidur karena kelelahan. Atau mereka masih menyimpan rasa ketakutan dalam mimpi-mimpi mereka. Wallahualam. Benar-benar sebuah situasi yang sangat mendebarkan. Tetapi, siapakah pengendara Jeep itu. Yang bersedia untuk mengorbankan diri untuk melindungiku. Apakah mereka, para jundi Allah Atau hanya orang yang berempati saja melihat kami saat dalam kesusahan. Ah, entahlah! Pikirku. Bingung.

Tluutt....Tluut Dering Hpku. Abi

Assalamualaikum, Bi! Ucapku, setelah menekan tombol Call.

Walaikumsalam! Anti sekarang ada dimana Tanya Abiku langsung. Terdengar seperti nada kegelisahan.

Zah sekarang ada di Villa, Bi!

Besok, anti pulang yah! Ada pertemuan keluarga. Ini tentang pernikahan anti!

Hem. Baik Bi! Insya Allah, Zah pagi-pagi akan langsung pulang Bi!

Zah, disana sama siapa Tanya Abi penasaran.

Sama Dewi, dan Nova! Zah, tadi siang hampir dibunuh oleh para penjahat itu Bi! Ucapku. Dengan nada agak takut.

Iya. Abi sudah tahu! Insya Allah, akan selalu ada pertolongan dari para jundi-jundi Allah. Anti tidak boleh takut! Ingat, Allah lah yang akan memberikan pertolongan kepada anti. Maka tetap berserah kepada Allah! Beranikan diri untuk menghadapi peperangan dengan para musuh-musuh kebenaran. Ucap Abi tegas.

Abi, tahu dari mana Tanyaku penasaran.

Zah, tidak perlu tahu. Siapa yang telah memberi tahu Abi! Pokoknya, Zah harus tetap tsabat dalam perjuangan.

Iya Bi. Insya Allah, Zah akan tetap teguh dalam perjuangan melawan para musuhmusuh kebenaran! Ucapku.

Ya sudah, anti sekarang istirahat. Besok anti pulang! Ucap Abi.

Iya, Bi. Insya Allah, ana besok pulang!

Ya. Hati-hati ya Zah! Assalamualaikum Ucap Abi.

Iya, Bi. Walaikumsalam.

Nova, terlihat membuka pintu kamarnya. Dan langsung datang kearahku. Wajah kusutnya sudah mulai ceria. Semoga dia sudah melupakan kejadian tadi siang! Gumamku dalam hati. Dewi pun, terlihat membuka kamarnya. Dan langsung berjalan menuju kearahku. Mereka berdua langsung duduk, disampingku. Yang saat itu, aku sedang melihat siaran tv.

Bagaimana, keadaan kamu Nov Tanyaku.

Untunglah, sekarang agak mendingan! Udah nggak setakut waktu siang tadi. Ujarnya.

Kalau, anti gimana Ukh Tanyaku kepada Dewi.

Alhamdulillah, ana juga baik-baik aja Mbak! Jawabnya.

Kita baru, mengalami kejadian yang mungkin baru pertama kali dalam masa hidup kita. Kejadian yang harus berkejar-kejeran dengan mobil yang saling menggunakan kecepatan tinggi. Kayak difilm-film. Tapi, hidup kita bukan sebuah film yang akan mengetahui menang dan kalahnya sebuah kebenaran. Kita masih hidup dalam kenyataan hidup kita.

Sejenak suasana menjadi hening.

Ehm. Gitu aje dipikirin! Pikirin noh, kite-kite ini mau mati masuk surge ape nerake Nah, lu bedua tinggal pilih. Pan, sude ade pilihannye! Candaku. Dengan dialek bawa betawi.

Keceriaan kembali memuncar dalam diri kami masing-masing.

Eh. Nov, kamu belum menceritakan tentang masalah kamu! Ucapku. Meminta penjelasan.

Hem. Iyah! Entahlah, sebenarnya ini masalah pribadiku sih. Tetapi, kalau kamu mengetahui. Aku akan menepati janjiku untuk menceritakannya.

Nova menceritakan tentang permasalahan-permasalahannya. Decap kagumku, pun tertuju pada Nova. Ternyata, Nova sudah mempelajari Islam sejak lama. Hanya saja dia masih belum yakin dengan persoalan-persoalan dalam Islam yang beberapa membuat dia bingung. Hingga akhirnya dia melihat artikelku, yang ternyata sama dengan pertanyaannya selama ini. Sebuah jawaban yang tanpa harus ditanyakan. Setelah itu dia yakin dengan kebenaran Islam. Dan Nova pun, mengucapkan dua kalimat syahadat dengan disaksikan langsung oleh Allah SWT. Yang akhirnya, dia belajar sholat tanpa harus ada yang membimbing. Dia belajar mengaji, tanpa guru yang mengajarinya. Nova masih takut untuk memberitahukan identitas keislamannya. Karena dia termasuk anak dari pembesar seorang pendeta didaerahnya. Hingga akhirnya, Nova terpergok saat sedang melakukan sholat maghrib. Oleh keluarganya. Dan, langsung dia dikurung dalam kamarnya. Hukuman-hukuman pun sering diberikan kepadanya. Bahkan Nova, pernah dipukuli habis-habisan oleh Papanya.

Tetapi, dengan kekuatan keimanannya. Nova tetap, melakukan sholat meskipun didalam hati. Karena setiap waktu dia selalu dijaga oleh seorang bodyguard wanita, yang diberikan wewenang untuk menghajar Nova. Jika Nova diketahui melakukan sholat. Hingga Nova pun tidak bisa leluasa dalam melakukan sholatnya. Bahkan tidak bisa melakukan gerakan sholat. Sampai akhirnya, Nova memutuskan untuk lari dari rumah. Berbekal pertolongan dari Hendra. Seorang teman aktivis UK3nya. Meskipun Hendra tahu, kalau Nova sudah keluar dari agamanya. Tetapi, Hendra tetap mau memberikan bantuannya. Karena, bagi Hendra. Agama bukanlah sebuah keyakinan yang harus dipaksakan. Tetapi agama, adalah unsur yang membimbing manusia dari kehidupannya.

Hingga akhirnya, Nova pun bisa kabur dari tempat terlaknat itu. Setelah itu, dia memberanikan diri untuk menelephonku. Meminta bantuan seorang muslim yang lainnya. Meskipun saat itu dia ragu, apakah aku mau menolongnya apa tidak. Tetapi, saat aku bersedia menolongnya. Keyakinan dia pun semakin bertambah. Bahwa, seorang muslim memang mempunyai keterikatan yang erat dengan saudara muslim yang lainnya. Meskipun saat itu, dia belum mengatakan keimanannya kepada siapapun tentang kekuatan kepercayaannya terhadap Islam. Dia meyakini pertolongan Allah yang pasti akan datangnya. Sampai akhirnya, saat aku akan menjemput Dewi. Dia menanyakan hal yang menurut Nova, adalah rasa persaudaraan yang sangat tinggi. Yang belum pernah dia temukan dan dapatkan dari agamnya yang terdahulu.

Nova juga pernah menceritakan tentang cara-cara dia dahulu. Untuk memurtadkan orang Islam. Bahkan, Nova pernah menyamar sebagai seorang akhwat. Yang sedang membantu pengajian semu, didesa binaanku. Disebut pengajian semu, karena kyai yang diundang juga bukan kyai Islam. Tetapi, seorang pendeta yang mempelajari Islam. Dan akhirnya, menyamar sebagai seorang kyai. Dia pun menyamar sebagai seorang akhwat. Yang pada saat itu, hampir terpergoki oleh dua ikhwan aktivis LDK. Hingga akhirnya, dia merasa malu. Malu dengan cara-cara kotor yang dilakukannya. Hingga akhirnya, dia terketuk untuk mempelajari Islam lebih dalam. Dan memahami makna dan isinya. Untuk mengetahui sebuah pertanyaan yang dahulu pernah tertancap didalam hatinya. Kenapa, kita sangat memusuhi umat Islam. Hingga akhirnya kita pun seperti ingin menghanguskan ajaran mereka! Ada apa sebenarnya dengan ajaran mereka

Dan akhirnya pun. Nova banyak sekali membeli buku-buku Islam. Dia mempelajari sendiri, dan mencari kesalahan dalam kebenaran-kebenaran agama Islam. Yang setelah sekian lama dia pelajari. Akhirnya, dia menumukan sebuah kesalahan terbesar bagi umat Islam. Yaitu, umat Islam sangat rapuh dalam kepercayaannya terhadap Tuhannya. Karena mereka tidak mengetahui kebenarankebenaran yang telah tersurat dan tersirat dalam ajaran Islam. Hingga akhirnya, umat Islam tidak mengetahui jati diri mereka yang sebenar-benarnya. Jati diri seorang muslim yang bisa dikatakan kebenaran dari seorang Muslim. Nova, terketuk hatinya. Dengan kebenaran-kebenaran Islam. Yang pernah dia pertanyakan kebenarannya. Sampai akhirnya, Nova mengakui adanya kebenaran dalam Islam. Dan siap mengikuti apa-apa yang telah diataur dalam Islam. Hanya karena dia masih tinggal dengan orang tuanya. Dia takut menunjukkan jati dirinya sebenarnya. Yaitu, seorang mualaf.

Puncaknya, Nova kabur dari rumah. karena dia diancam dibunuh. Jika tidak mau kembali kepada ajaran agamanya yang lama. Dan Nova, yakin. Bahwa Papanya tidak akan tinggal diam jika Nova kabur dari rumah. Pasti, Papanya akan mencarinya kemana pun dia pergi. Dan Nova pun curiga, orang-orang yang hampir membunuh kami. Adalah suruhan dari Papanya.

Sebenarnya sih! Aku tidak hanya bertanya kepadamu saja tentang Islam, Far! Tetapi aku juga pernah bertanya dengan seorang mantan ketua LDK. Khalid namanya! Pasti kamu kenal Ucap Nova, seraya mengakhiri ceritanya.

Ah, ikhwan itu lagi! Sungguh benar-benar kuat dakwahnya! Ucapku dalam hati.

Ehm. Mas Khalid yah Goda Dewi. Sambil melirikku.

Aku hanya melotot kearah Dewi, sambil mencubi pinggangnya.

ADUH. Sakit Mbak! Jerit Dewi.

Ha! Ada apa nih Tanya Nova. Sedikit terlihat menyelidik.

Nggak, ada apa-apa kok Nov! Ucapku.

Pasti, Khalid pacar kamu yah Far Selidik Nova.

Astaghfirllah. Nov, dalam Islam kita dilarang untuk berpacaran! Karena itu akan membuat kemudharatan bagi diri kita sendiri! Ucapku, tegas.

Ih, gitu aja loh kok ngambek! Ucap Nova. Terlihat mengejek.

Iya. Dalam Islam nggak ada pacaran, yang ada langsung menikah kan Mbak! Ujar Dewi, sambil melihatku. Terlihat menggoda.

Ah. Kalian berdua ini, ngomongin apaan sih!

Seketika itupun, kami tertawa.

Terlihat ada yang aneh dalam tatapan Nova. Tatapan mata yang terlihat cemburu. Tetapi, terlihat sangat pasrah dengan apa yang nanti dia dapatkannya.

Setelah itu. Ganti Dewi yang menceritakan permasalahannya. Menceritakan semua yang pernah kami hadapi. Termasuk saat-saat aku ditodong pistol tepat dikepalaku. Nova terlihat begitu kagum dengan keberanianku. Berkali-kali dia memujiku. Padahal keimananku tidak sebanding dengan apa yang diperkirakan Nova. Aku tidak begitu berani saat itu. Seberani aku melawan para penjahat-penjahat itu tadi siang. Dewi pun, berkali-kali sering memuji-mujiku. Aku menjadi sangat menderita dengan pujian-pujian yang diberikan oleh dua wanita ini. Pujian yang bisa menjatuhkanku kepada lembah kenistaan. Kenistaan rasa ujub, riya dan takabur yang kan menyebabkan masuknya aku kedalam jahanam. Tidaklah sebuah pujian yang berlebihan, membuat terlena seorang insan. Hingga dia harus masuk kedalam tungku panas yang membara, membakar tubuh dengan mudahnya. karena rasa ujub, riya dan takaburnya. Yaa Allah, lindungi aku dari itu semua!

Nova aku janjikan untuk dapat bersyahadat kembali. Dengan persaksian seorang ulama. Nova terlihat sangat gembira dengan apa yang aku janjikan. Serta tak lupa, aku akan mengajarinya tentang tatacara seorang muslimah dalam bergaul, berpakaian dan berakhidah serta tak lupa. Menjadikan Nova, menjadi seorang muslimah yang berakhlaq mulia. Insya Allah!

***

Aku langsung masuk kedalam rumah. Setelah seharian menyetir dari puncak sampai rumah. Jantungku berdegup, seiring langkah kakiku melangkah dalam setiap jengkal rumah ini. Perasaan yang tak menentu berada dihatiku. Senang, malu, takut semuanya membaur menjadi satu. Membaur dalam rasa hati yang begitu terpatri. Entah bagaimana nanti, pertemuanku dengan seorang ikhwan. Dalam ikatan khitbah yang akan dilangsungkan. Senang, tetapi hatiku benar-benar berdegup kencang. Takut, tetapi begitu senang. Serasa aku merasakan kesanangan yang tiadatara. Kejadian-kejadian yang membuat pusing diriku. Kini menjadi tidak ada artinya. Semua bagaikan aku lupakan. Semua bagaikan cerita masa lalu yang sudah berakhir. Kini lembaran baru yang akan aku dapatkan. Lembaran pernikahan dengan seorang ikhwan. Seorang pejuang dan pujangga dakwah. Yang selalu teguh dalam jalan dakwahnya. Selalu bersamangat dalam jalan kebenaran-Nya. Meskipun tingkat hafalan Quran dan Sunnahnya tak seberapa. Tetapi, pemahaman dalam agamanya pun. Patut dipertimbangkan.

Seorang ikhwan yang bisa membuat hatiku luluh. Luluh karena sengatan energi dakwahnya. Sungguh, selama aku bergelut dalam aktivitas dakwah. Aku baru melihat seorang ikhwan yang mempunyai khans sendiri dalam gaya dakwahnya. Sifat seorang ikhwan yang tidak semaunya sendiri. Mempunyai kerendahan hati yang tinggi. Mampu memposisikan dirinya sebagai seorang yang berpengetahuan. Adakalanya bersuara dalam kritikan. Tetapi adakalanya diam tanpa perlu berbicara apa-apa. Hanya untuk bisa menghormati orang lain. Semangat dakwah yang tinggi, yang selalu ingin memperbaiki diri. Mempunyai rasa persaudaraan yang tinggi. Tutur katanya pun sangat diatur agar tidak menyinggung atau bahkan menyakiti saudaranya yang lain. Ucapan kehormatan pun sering terlantun dalam mulutnya kepada seniorseniornya. Tidak pernah dia menyebut nama seorang yang lebih tua darinya dengan hanya menyebutkan namanya saja. Bahkan menyebut nama seorang juniornya pun, dengan sangat ramah. Dia berusaha agar tidak menyakiti perasaan juniornya, saat dipanggilnya.

Sungguh beruntung jika memiliki ikhwan seperti Khalid. Tak semudah mendapatkan seorang ikhwan sepertinya. Banyak para ikhwan yang hanya mempelajari cara berdakwah dan berjuang dalam dakwah. Tetapi, sangatlah sedikit seorang ikhwan yang mengamalkan karakteristik dakwah dalam akhlaq yang dimiliki oleh Rasulullah. Akhlaq yang begitu mulia. Menjaga agar sesama saudaranya tidak tersinggung dengan apa-apa yang akan dilakukannya. Sungguh sangat jarang sekali. Seharusnya itulah yang menjadi rujukan para pendakwah kita. Para mujahid dan mujahidah yang giat dalam dakwahnya. Tidak hanya asal dalam berdakwah. Yang dalam aktivitasnya hanya terlihat seremonial saja. Seperti halnya berjenggot, berjilbab besar dan lain sebagainya. Padahal akhlaq mereka belum terbina dengan benar. Belum tertarbiyah dengan bagus. Hingga akhirnya menjadikan mereka terlihat lebih eksklusif. Padahal dakwah mempunyai pembeda dalam kegiatannya. Mempunyai keluwesan dalam geraknya. Mempunyai ketepatan dalam keputusannya. Dan mempunyai keramahan dalam perbuatannya. Inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap para aktivis dakwah.

Assalamualaikum. Ucapku. Saat melihat Abi, Ummi dan Bunda sedang berkumpul diruang keluarga.

Walaikumsalam! Serentak jawaban salam tanpa dikomando.

Abi langsung mendatangiku. Zah, nggak apa-apa kan! Bisik Abi.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Abi terlihat khawatir, tetapi tidak ingin Ummi sampai mengetahui kekhawatirannya.

Udah sekarang Zah nunggu sama Ummi dan Bunda. Menunggu sang mujahid, tiba! Kata Abi. Menggoda.

Aku hanya sedikit manyun, sambil memperlihatkan kemanjaanku.

Abi tersenyum.

Setelah itu aku langsung mencium tangan Ummi dan Bunda.

Anti, dari mana saja Tanya Ummi.

Zah, dari villa Mi. Nganterin Dewi, katanya pengen refreshing!

Hem. Sekarang, Dewi masih disana Tanya Ummi lagi.

Iya. Dewi masih disana!

Anti, sudah siap kan Tanya Bunda. Sambil memegang pundakku.

Insya Allah, Bunda!

Ingat. Kalau sudah berumah tangga, sifat kekanak-kanakannya harus dihilangkan. Manja sama suami, boleh. Tetapi, tidak boleh kekanak-kanakan! Nasehat Ummi.

Iya. Biasanya, suami itu paling seneng kalau para istri itu bermanja-manjaan dengan suami. Apalagi kalau suami yang dimanjain, pasti lebih seneng! Tetapi, suami juga biasa paling nggak seneng. Kalau istri terlalu kekanak-kanakan! Bunda pun ikut menimpali nasehat.

Aku hanya bisa mengangguk. Sambil menundukkan pandangan.

Jantungku semakin berdetak tak beraturan.

Zah. Keluarga sudah sepakat, kalau nanti acara khitbahnya. Juga langsung akadnya! Ucap Bunda.

HA! Aku langsung menatap Bunda. Bunda hanya tersenyum. Dan saat aku tatap Ummi. Ummi juga tersenyum, seraya menganggukkan kepala menyetujui apa yang diucapkan Ummi. Secepat inikah Entah perasaan apa yang berada dibenakku. Rasa senang, takut, malu bercampur baur lebih dalam. Aku merasakan ada rasa kesenangan yang sangat tinggi, tetapi rasa takut itu pun tak kalah tingginya.

Ummi menggengam tanganku. Lalu mengatakan Zah, melangsungkan pernikahan dengan cepat itu lebih baik, daripada mengulur-ngulur waktu pernikahan! Ummi sudah sangat setuju, saat Bunda memberitahukan ikhwan yang bernama Khalid itu! Meskipun, Khalid bukanlah orang kaya. Tetapi keluarga kita memandang Khalid sebagai pejuang dakwah. Karena itu lebih mulia ketimbang kekayaan yang berlimpah.

Setetes bening kristal berjatuhan dari mataku. Derai kristal yang mencair dimataku pun bertautan menyembur keluar. Aku langsung memeluk Ummi. Tiada kata yang dapat aku ucapkan. Selain ucapan terima kasih yang besar terhadap kedua orang tuaku. Entah kenapa haru itu begitu menggebu ingin menunjukkan eksistensinya pada tangisku. Aku benar-benar bersyukur, mempunyai keluarga yang begitu mengerti tentang kebutuhan anaknya. Tidak ada paksaan, tidak ada ancaman. Yang ada hanya pilihan untuk mengerjakan kebaikan. Kekayaan yang aku miliki, tidak sebanding dengan kenikmatan mempunyai keluarga yang begitu mengerti.

Aku sangat kaget. Rencananya hanya melangsungkan acara khitbah. Malahan, menjadi akad nikah. Sungguh berita yang menggembirakan buatku. Tiada rintangan terjal dalam keluargaku untuk menggapai sang pejuang dan pujangga dakwah. Kini seorang mujahid itu akan menjadi milikku. Aku akan mempunyai seorang pelindung yang akan selalu menyertaiku dalam setiap dakwahku. Seorang mujahid yang dihadiahkan Allah, hanya untukku. Yang akan selalu bersama-sama dalam menjalani medan dakwah. Yang akan selalu memperbaiki diri dalam setiap jalan-Nya. Yang akan selalu saling memberikan motivasi untuk perjuangan dakwah. Perjuangan yang tidak akan mudah untuk dihadapi. Meskipun, sulit. Tetapi jika dijalani bersama, maka kenikmatan dalam berdakwah pun akan begitu terasa. Tidak persoalan yang tidak terselesaikan. Berat atau pun ringan sebuah persoalan, jika dipikirkan berdua dengan suami. Maka semua persoalan itu akan mudah untuk diselesaikan. Insya Allah!

Assalamualaikum!

Terdengar suara salam. Ammi! Pikirku. Pasti, Ammi membawa Akhi Khalid. Detak jantungku pun, semakin tak karuan. Rasa senang datang, tetapi masih ada rasa malu dan ketakutan. Lututku serasa lemas, sulit untuk digerakkan. Aku ingin berkata, tetapi mulut ini keluh untuk mengucapkan sepatah kata.

Ummi melihatku dengan tatapan sayang. Dipegang tanganku dengan remasan jari jemarinya. Menyiratkan tentang kekuatan. Aku hanya tersenyum. Tetapi entahlah, senyumanku sepertinya keluh.

Terdengar lamat-lamat. Pembicaraan Abi dengan Ammi, Ustad Fadlan. Sekali terdengar tawa. Badanku semakin lemas, seiring dengan detak jantung yang tak beraturan. Aku akan menikah sekarang! Hari ini juga, aku akan menikah dengan seorang ikhwan yang memang aku impikan. Apakah ini bukan mimpi Jika ini benarbenar mimpi, jangan bangunkan aku!

Zahra, Anakku. Panggil Abi.

Suara Abi yang memanggil kami, mengagetkanku.

Iya, Abi! Jawabku.

Bagaimana Sudah siap! Tanya Abi.

Sudah, Abi! Ana sudah siap. Jawabku.

Assalamualaikum! Maaf saya terlambat! Ucap seseorang yang terdengar baru masuk ruangan.

Walaikumsalam! Anda datang pada waktu yang tepat. Ucap Abi. Khalid, ini adalah petugas dari KUA. Yang akan mengurus pernikahan kalian sekarang juga termasuk sekaligus dari penghulu kalian! Jelas Abi.

Baik. Kalau semua sudah siap! ucap penghulu itu. saya harap untuk pengantin wanita dan prianya duduk didepan saya. Untuk saksi dari laki-laki, silakan duduk disebelah kiri saya. Dan untuk wali dari perempuan, silakan duduk disebelah kanan saya.

HA! Aku harus duduk disamping Akh Khalid. Aku sedikit tergagap. Lututku terasa sedikit lemas untuk bisa melangkahkan kaki ini. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku tidak pernah membayangkan sampai sejauh ini. Apalagi membayangkan duduk bersanding dengan Khalid. Jantungku terus berdegup tak beraturan. Dengan berdzikir, aku terus menundukkan pandangan.

Hingga penghulu itu mengatakan. Baik, tirukan kata-kata saya! ucap penghulu itu. Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan buku skripsi.

Sambil bersalaman dengan Abi. Khalid melafalkan ucapan sakral itu. Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal.

Khalid terlihat sangat gugup. Hingga dia tidak bisa mengatakan kalimat sakral itu.

Baik kita ulangi sekali lagi. Ucap Penghulu itu. Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan buku skripsi.

Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbahl dengan mas kawin. Khalid benar-benar gugup. Dia tidak dapat melafalkannya dengan lancar.

Seketika itu. Suasana menjadi hening.

Hem! Alhamdulillah sela ustad Fadlan. Mengagetkan. Alhamdulillah, dengan begini kita tahu. Bahwa Khalid memang belum pernah menikah!

Tawa pun meledak dari ruangan ini. Tetapi aku sendiri tertunduk malu. Aku malu untuk menertawakan calon suamiku. Meskipun aku juga ingin tertawa, tetapi aku malu jika aku tertawa. Maka aku menertawakan diriku sendiri.

Khalid, tenanglah. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu! Ucap Abi. Dengan kebijaksanaannya.

Bagaimana Mau diulang Ucap Penghulu itu.

Ya pasti mau dong. Masa nggak diulang sih! Kalau nggak diulang kan nggak sah. Nah kalau nggak sah batal nikahnya. Hem, enaknya! Hihi... Gumamku.

Terlihat dan terdengar lirih, Khalid mengucapkan Bismillah

Baik, kita ulang. Ucap Penghulu itu lagi. Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan buku skripsi.

Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan buku skripsi. Ucap Khalid lancar.

Alhamdulillah. Terasa plong dihati. Bagaikan terlepas dari belenggu yang merantaiku selama puluhan tahun. Tetapi, jantungku masih berdegup tak karuan.

Selanjutnya Penghulu itu mempersilahkan Abi untuk mengikuti kata-katanya. Untuk wali pengantin wanita, tolong tirukan saya. Saya terima nikahnya anak saya yang bernama Farah Zahrani dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan buku skripsi. Seketika itu pandangan ustad Hanafi kepadaku terlihat sangat serius. Abi Hanafi memegang tangan Khalid erat. Seraya mengatakan Aku serahkan anakku, untuk berjuang bersamamu. Jagalah ia, jangan kau sakiti dia.

Saya resmikan pernikahan pasangan pengantin ini. Ucap Penghulu.

Alhamdulillah. Semua sudah berakhir. Masa sendiriku kini telah berubah. Dakwahku kian bertambah. Semangatku kian memuncar, dengan adanya suami disisiku. Alhamdulillah Yaa Allah. Kuatkanlah hati kami untuk selalu berpegang tegu kepada tali ajaran-Mu.

Terlihat tetesan air mata mengalir dari sendu dari suamiku. Khalid. Entah apa yang membuatnya meneteskan air matanya. Kebahagiaankah

Anakku, sekarang engkau resmi menjadi suami dari anakku. Apakah yang engkau risaukan sekarang! Tanya Abi, kepada Suamiku.

Ustad, sungguh ana sangat berbahagia sekali menikahi seorang bidadari. Tidak pernah terlintas sedikitpun rasa kecewa. Tetapi Ustad, sayangnya kebahagiaan ana tidak dapat dirasakan oleh kedua orang tua ana yang berada didesa. Ucapnya.

Selintas derai air mataku pun mengalir. Rasa haruku menyaksikan seorang anak yang begitu menyayangi kedua orang tuanya. Aku tidak tega untuk melihat suamiku menangis. Spontan aku memalingkan muka dengan tertunduk. Suamiku, sungguh engkau benar-benar seorang ikhwan dambaanku!

Anakku, janganlah kamu memanggilku dengan sebutan Ustad! Aku lebih senang jika engkau memanggil Abi! Anakku, kebahagian anak adalah kebahagian orang tua. Abi yakin, orang tua antum disana sangat berbahagia. Meskipun tidak menyaksikan kebahagiaanmu, tapi Abi yakin. Mereka sekarang juga merasakan kebahagiaan itu. Jelas Abi bijaksana.

Derai air mataku semakin menjadi. Mendengar ungkapan Abi. Sungguh aku tidak bisa membayangkan, jika aku menikah tanpa disaksikan oleh orang tuaku. Pastilah amat menyakitkan.