Gerakan komunis, pada awal abad ini, dicirikan oleh janjijanjinya yang mencakup banyak hal. Ia merupakan suatu gerakan yang mengumbar janjijanji yang begitu besar: suatu masyarakat tanpa kelas, suatu komunitas yang sejahtera tanpa penghisapan; atau seperti yang dikemukakan Marx, suatu masya rakat di mana orangorang bekerja hanya 4 jam di pagi hari, pergi memancing di siang hari, dan menghabiskan senja hingga malam hari dengan membaca puisi. Namun, bersama berjalannya waktu, gerakan ini mulai memperlihatkan berbagai cacatnya: ketika kaum revolusioner menjadi para penguasa, janjijanji besar tersebut diubah menjadi suatu ideologi kaku yang digunakan terutama untuk memberi pembenaran bagi ter peliharanya kekuasaan tersebut. Demikianlah, para pemberontak muncul karena janjijanji palsu itu.
Milovan Djilas merupakan satu dari para pemberontak tersebut. Bersama tito, Kardelj, dan Rankovich, ia memimpin gerakan komunis di yugoslavia. Kemudian, ia menjadi Ketua Parlemen yugoslavia. Namun pada awal 1950an, dengan berani dan tegar, ia mulai menolak gerakan yang pernah ia pimpin. Buku The New Class ini adalah manifestonya; sebuah pernyataan tentang bagaimana sebenarnya komunisme dalam ke nyataannya. Ia mengutuk komunisme dengan menggunakan bahasa dan metode analitisnya sendiri. Ia mengkritik ko munisme berdasarkan kosakatanya sendiri.
Dalam buku ini Djilas mengemukakan bahwa revolusi komunis merupakan suatu penipuan sejarah: tak ada revolusi lain yang mengumbar begitu banyak janji namun hanya sedikit menepatinya. Baginya, komunisme pada dasarnya merupakan suatu bentuk perang sipil laten antara pemerintah dan rakyat.
Di Prancis sebelum 1789, menurut Djilas, kapitalisme merupakan suatu bentuk hubungan sosial dan ekonomi yang dominan. Revolusi Prancis, yang dipimpin oleh kaum borjuis, dilancarkan untuk menyempurnakan dominasi ini. Karena itu, para penguasanya (yakni kaum borjuis) tidak harus mem bentuk suatu masyarakat yang sepenuhnya baru. Berbeda hal nya dengan Revolusi Rusia 1917. Lenin ingin mengakhiri ma syarakat feodal yang ada dan membentuk suatu masyarakat baru, yakni masyarakat tanpa kelas. Karena itu, setelah revolusi, kaum komunis mencoba untuk membentuk suatu sis tem yang se penuhnya baru yang berbeda dari sistem sebel umnya.
Namun dalam proses pembentukan masyarakat baru tersebut suatu kelas sosial baru muncul: Revolusi itu, yang di lancarkan demi menghapuskan kelas, memunculkan satu kelas baru yang memiliki otoritas penuh. Segala sesuatu yang lain hanya kepurapuraan dan ilusi. Kelas baru ini berakar dalam birokrasi, yang menguasai kekayaan negara dan me monopoli penggunaan kekuasaan. Dengan demikian, anggota utama ke las baru ini adalah kaum birokrat. Kaum birokrat ini tidak ada yang mengawasi, dan mereka sangat solid. tidak ada kelas lain dalam sejarah
MANIFESTO SANG PEMBERONTAK
yang sedemikian solid dan kukuh dalam mem pertahakan kepentingannya dan dalam mengontrol apa yang dimilikinya kepemilikan kolektif dan monopolistik, serta otoritas totaliter. Mereka juga sama eksklusifnya seperti aris tokrasi, namun tanpa martabat dan kebanggaan aristokrasi. Pen dek kata, menurut Djilas, mereka menikmati semua ke me wah an aristokrasi (rumah mewah, mo bil, tamasya, dll.) di atas pen deritaan massa yang semakin be sar. Kelas baru tersebut meng hisap rakyat.
Menurut Djilas, munculnya kelas ini dipersiapkan oleh Lenin. Namun pemula sebenarnya dari kelas tersebut adalah Stalin. Dengan melakukan birokratisasi masyarakat, Stalin mem perluas dan memperkuat basis kelas ini. Dan pada saat Khrushchev mulai berkuasa, kelas ini telah kehilangan semangat revolusionernya, yang diwarisi dari Lenin; satusatunya hal yang ia inginkan adalah hidup dengan damai dan membenar kan dirinya sen diri.
Dengan kata lain, kita dapat mengatakan bahwa bagi Djilas, sistem Komunis tersebut mengingkari janjijanjinya sendiri dengan menciptakan kelas baru ini, yang tangannya bersimbah dosa.
Meskipun mengutuk komunisme dalam realisasi praktisnya, Djilas tidak mengambil kesimpulan bahwa Marxisme, atau lebih tepatnya sosialisme, harus ditinggalkan sebagai sebuah teori masyarakat dan sebagai sebuah panduan untuk mencapai suatu masyarakat yang ideal. Ia mengatakan bahwa tugas utaman ya adalah mengkritik komunisme dalam praktik, dan bukan dalam teori. Ia sepertinya yakin bahwa jika kaum komu nis menciptakan suatu sistem demokratis pada masamasa awal setelah revolusi, janjijanji besar tersebut mungkin tidak sekadar ilusi. Djilas masih meyakini sosialisme sebagai suatu gagas an, dan berpikir bahwa dengan demokrasi hal itu akan memun culkan suatu masyarakat yang sejahtera. Ia menyebut dirinya sebagai seorang Sosial Demokrat.
Penting untuk diingat bahwa Djilas menulis buku ini bukan sebagai seorang akademisi, melainkan sebagai seorang aktivis yang menyaksikan bahwa gerakan yang pernah turut ia pimpin telah salah arah. Karena itu, buku ini harus dilihat terutama sebagai sebuah kesaksian, sebuah pernyataan keke cewaan, dan bukan sebagai sebuah wacana teoretis. Dengan demikian, menilai pentingnya buku ini berarti melihat ke beranian, ketulusan, dan kejujuran sang penulis. Dengan kata lain, kita dapat mengatakan bahwa The New Class merupakan suatu pencapaian besar.
Namun, untuk mengulas buku ini secara memadai, dan untuk menghargai sang penulis secara lebih jujur, kita juga harus mengkritiknya. Di sini kita dapat mengatakan bahwa Djilas tidak dapat menjelaskan secara tepat mengapa revolusi komunis di Rusia tersebut melahirkan suatu kelas baru yang birokratis. Ia terjebak pada metode analitis Marxis. Ia gagal melihat bahwa Marxisme sebagai sebuah teori masyarakat dan perubahan sosialdengan semua tujuan mulianyamengandung bibitbibit despotisme, dan pengejawantahannya niscaya akan menghasilkan suatu sistem yang birokratis.
Marx tidak pernah secara serius mempertimbangkan politik, hukum, dan moralitas. Baginya, semua itu hanya alat bagi para elite kekuasaan untuk memelihara kekuasaan mereka. Semua itu hanya merupakan suatu ekspresi hubungan sosioekonomi. Kebenaran tidak pernah hadir pada dirinya sendiri; ia harus dilihat dalam kaitannya dengan kekuasaan. Implikasi logis dari hal ini sederhana: begitu berkuasa, mereka yang dikuasai (yakni kaum proletar) juga tidak akan merasa bersalah untuk menggunakan hukum sematamata demi memelihara kekuasaan. Kaum proletar hendaknya tidak terintangi oleh moralitas dan permainan politik yang jujur (yakni demokrasi) untuk menyempurnakan tujuan perkembangan sejarah (Lenin, dan terutama Stalin, memahami hal ini dengan baik: mereka
MANIFESTO SANG PEMBERONTAK
membenarkan teror untuk mencapai tujuantujuan mereka). Dalam pengertian ini, kita dapat mengatakan bahwa Marxisme mungkin merupakan salah satu fondasi terbaik bagi suatu kekuasaan yang despotik.
Lebih jauh, bagi Marx, satusatunya cara untuk mencapai suatu masyarakat yang lebih manusiawi adalah menghapus hak milik pribadi. Dengan demikian, ia gagal melihat dua fakt or penting. Pertama, kepemilikan pribadi atas sarana produksi merupakan dasar masyarakat sipil. Menghapuskan hak milik pribadi berarti menghancurkan masyarakat sipil. Kedua, menghapuskan hak milik pribadi hanya berarti membirokratisasikan kepemilikan. hal ini memberikan dasar bagi birokrasi untuk hadir di manamana, sebagai pemilik yang sebenarnya dan penguasa segala sesuatu.
Karena itu, tidak mengejutkan jika sebuah revolusi yang didasarkan pada pemikiranpemikiran Marxis pada ak hir nya menghasilkan suatu kelas (baru) yang digambarkan Djilas dalam buku ini: suatu kelas despotik yang kekuasaannya didasar kan pada birokrasi.
3 Februari 1993