Sarelgaz dan Cerita-Cerita Lainnya - 13
Di dalam hatiku ada sebuah laut yang begitu luas, teramat luas hingga kau tak akan bisa mengukur berapa luasnya. Laut ini sudah ada sejak aku mengenal sesuatu bernama kesedihan.

Ya, lautku adalah Laut Kesedihan, yang menjadi ombak di sini bukanlah air laut biasa, tetapi air kesedihan. Bagaimana bentuk air kesedihan itu Sebenarnya sama saja, hanya mungkin sedikit lebih murung. Lautku juga sejuk, jadi tak perlu diberi AC. Di tepi laut juga ada pasir-pasir kesedihan, pasir yang sebenarnya sama saja seperti pasir Pantai Kuta.

Anak-anak kecil selalu bermain di pantai kesedihanku, mereka datang ditemani orangtuanya, kadang mereka mem-

buat istana-istana pasir di tepi pantai, istana-istana kesedihan, kadang mereka juga bermain bola, dan tentu saja, berenang sambil memakai ban agar bisa mengapung di atas air kesedihan.

Laut Kesedihan ini, dulunya adalah gurun pasir gersang yang sepi, begitu sepi hingga aku tak tahu adakah tempat yang lebih sepi daripada hatiku sendiri. Kemudian seorang gadis datang ke gurun di dalam hatiku ini, ia tidak naik unta, tidak naik kuda, ia datang se perti bidadari yang ditembakkan dari surga, lengkap dengan tas punggung seperti backpacker. Penampilannya sederhana, mengenakan kaus p utih, rok panjang seperti gadis Finlandia, rambutnya berponi, dan tatapan matanya seperti pancaran kebahagiaan yang tak pernah pasti.

Sepi sekali di sini, kata gadis ini setelah meletakkan tasnya di atas pasir. Tentu aku mendengarnya, tetapi tak bisa menjawabnya. Aku hanya melihat bagaimana ia mondar-mandir di gurun pasir ini, melihat kejauhan, menoleh ke sana kemari, seperti berharap ada orang datang, tetapi nihil.

Sudah sepi, kering pula, sepertinya belum pernah ada orang menginjakkan kaki di sini.

Tentu saja belum pernah ada seorang wanita pun yang mendiami hatiku. Aku seharusnya minta maaf karena ia terjebak di dalam hati yang berupa gurun sepi ini. Kalau aku bisa ikut masuk, pasti aku menemaninya atau mengajaknya keluar, ke dunia nyata, sebab toh tak ada yang menarik di dalam hatiku. Namun bagaimana cara agar ia keluar, kalau cara masuknya saja misterius

Kupikir aku harus membangun tenda di sini. Sekarang aku terkejut mendengar ucapannya. Kemudian ia mengeluarkan

ba nyak benda di dalam tasnya, ada cangkul, pasak, lipatan kain terpal, g ulungan tali, paku, cotton bud, dan masih banyak lagi. Ia mulai membangun sebuah tenda berbentuk prisma. Rupanya ia sangat terlatih, mungkin ia anggota pecinta alam yang tersesat, tapi kenapa harus tersesat ke dalam hatiku

Setelah sukses membuat tenda, gadis itu kemudian menggali sumur, berjam-jam ia mencangkul tanpa kenal lelah, sampai didapatnya mata air. Namun ia tak harus menciduknya, sebab air itu me-nyembur ke atas seperti air mancur, pertanda bahwa aku berbahagia.

Aku mulai menyukai gadis ini, setiap hari, ia rajin menggali sumur-sumur baru, sehingga semakin lama banyak air memancar dari dasar hatiku...

Begitulah, bertahun-tahun kemudian, semakin banyak sumur, akhirnya gadis itu berhasil mengubah gurun yang suram di dalam hatiku menjadi laut yang indah, lengkap dengan pantainya, burung-burung beterbangan, barisan pohon kelapa tumbuh begitu saja. Dan gadis itu suka duduk di sebuah batu karang besar.

Sejak hatiku menjadi laut seperti ini, bermunculan orangorang yang entah masuk lewat mana, mereka datang membawa tikar, bekal makanan, seperti hendak berwisata. Lautku bahkan semakin ramai di musim libur sekolah.

Gadis itu senang melihat banyak orang berdatangan, sekarang ia tak perlu merasa sendirian. Aku ikut bahagia dengan keadaan ini. Semuanya terasa begitu damai, sangat damai, sampai suatu hari, muncul seorang lelaki yang tak kukenal, tiba-tiba menyapa gadis itu.

Nalea!

Gadis itu menoleh.

Eh, Malabar

Wah, aku mencarimu ke mana saja, ternyata ada di sini.

Iya. Aku sedang menikmati laut yang kubuat.

Oh. Ini kamu yang buat Apa namanya

Laut Kesedihan.

Kesedihan

Ya.

Kenapa kesedihan

Entahlah. Aku merasa sedih setiap kali melihat laut ini.

Hm, tapi bagus juga. Apa akan ada senja juga nantinya

Senja Aduh, itu terlalu picisan. Di tempat ini tak ada matahari. Itu ada cahaya tapi bukan cahaya matahari.

O, begitu. Bolehkah aku menemanimu biarpun tidak ada senja

Tentu boleh, Malabar. Aku kesepian...

Percakapan semacam ini seharusnya tidak terjadi di dalam h atiku. Siapa laki-laki yang namanya seperti nama kereta api jur usan MalangBandung ini Aku tak mengira ia bisa lebih cepat akrab daripada aku yang merelakan hatiku dijadikan laut oleh gadis ini. Dan aku semakin tak mengira ketika tiba-tiba

gadis ini bersandar ke dada si lelaki, dan lelaki itu pun memeluknya.

Lelaki itu datang setiap hari, mereka akan berduaan di balik k arang selama beberapa jam, kadang juga pindah ke atas bukit di b agian utara. Dan selalu, di bagian akhir, lelaki itu memeluk gadis ini.

Sebenarnya, setiap kali si lelaki memeluk gadis ini, selalu te rjadi gelombang besar dari tengah laut sebagai bentuk kekecewaanku, hanya saja aku menahannya agar tak sampai ke pantai. Itu terjadi berulang-ulang selama beberapa waktu, hingga akhirnya kesabaranku habis...

Hari ini, ketika lelaki itu memeluk gadis ini sangat lama di atas bukit, ombak yang kubuat semakin besar, membuat pengun jung pantai panik.

Lihat, Ma, ombak macam apa itu, tingginya seperti dongeng, kata seorang gadis kecil kepada ibunya.

Tinggi sekali Manisha, ayo cepat lari!

Terlambat. Banyak keluarga yang sedang berlibur, menghampar tikar, tiba-tiba terempas dan hilang ditelan ombak yang kembali ke laut. Terdengar jerit kesedihan di mana-mana, beradu dengan debur ombak. Tak butuh waktu lama untuk menemukan banyak mayat tergenang di laut dalam hatiku, bocahbocah yang masih mengenakan celana pendek, gadis kecil yang mengapung dengan rambut masih mengenakan pita, anak-anak muda yang masih berkalung kamera SLR, semuanya terombang-ambing di tengah gelombang, pohon k elapa yang awalnya berbaris kokoh di tepi pantai pun tumbang b erantakan. Namun kekacauan tersebut tak juga menarik perhatian gadis itu bersama lelaki yang memeluknya di atas bukit.

Sepertinya air pasang, Malabar, kita harus cari tempat yang lebih tinggi lagi.

Untuk apa, Nalea Apa kau takut pada air Kita masih bisa bersama meski di dasar laut atau di luar angkasa sekalipun.

Ucapan lelaki ini benar-benar membuatku marah, kali ini o mbak kubuat semakin tinggi, sembilan kali lebih tinggi dari sebelumnya. Jika tadinya ombak berukuran 7,35 meter, sekarang 7,35 x 9 = 66,15 meter. Ya, sekarang mereka tidak bisa lari ke mana-mana, dan ombak 66,15 meter ini pun langsung menerjang bukit itu, menerjang lelaki itu, menerjang gadis itu, mengakhiri semuanya yang ada di dalam hatiku...

Namun ternyata, ada satu hal yang harus kusadari, bahwa ke sedihan tetaplah kesedihan, bagaimanapun bentuknya, bagaimanapun fermentasinya. Setelah laut kembali surut dan segalanya tak indah lagi di dalam hatiku, jasad lelaki dan gadis itu terdampar di salah satu sudut pantai dengan sebagian tubuh tertimbun pasir, tubuh mereka kini memang tergeletak tak bergerak, tetapi keduanya m asih tetap dalam keadaan berpelukan, selamanya berpelukan, seperti ke bahagiaan yang sangat menyedihkan.