cepat. Fa masih menganga mendengar cerita Marco tentang Mia,
sahabat kami yang terpisah sejak lulus kuliah dulu.
Ternyata Marco masih menjalin komunikasi dengan Mia.
Gak ada angin atau hujan, tiba-tiba Marco mengajak Fa
ketemu after office hour.
Dy, ini kalimat pertama Marco saat kita ketemu:
Fa ... Mia ngajak tidur sama gue. Please deh, mana
doyan gue sama PEWONG (baca: perempuan). Lagipula dia
kan sahabat kita, gak tega juga gue, Fa. Gila tuh anak.
Wooohooo ... oke pelan-pelan. MFM (Marco-Fa-Mia) sahabatan.
Marco gay. Mia cantik, cerdas, tipe ibu rumah tangga sejati. Fa
Selalu dimanjakan mereka berdua.
Then, Mia mau tidur dengan Marco Wait a minute Am I missing some history, here The fact is: emang udah tujuh tahun Fa gak pernah ketemu Mia, walau kami sama-sama tinggal di Jakarta.
Sumpah gue gak nafsu sama dia. Jijik gue begituan sama sahabat sendiri. Bayangin Fa, berapa tahun kita bertiga sahabatan Masak bareng Maskeran bareng Gila-gilaan bareng Terus dia dengan gampangnya ngajak gue tidur. Sakit jiwa! begitu sumpah serapah Marco. Marco pun nyerocos tanpa titik koma.
Katanya, sejak lulus kuliah, Mia memilih menikah dengan pacarnya. Tetapi hingga saat ini belum dikaruniai anak. Tetapi yang Marco rahasiakan
selama ini bahwa Mia sejak kuliah dulu sudah sering selingkuh dan sleeping around with
other men.
Oh Dear. Why Marco just told me this, now
Setelah menikah, Marco memang jarang ketemu
Mia. Tapi setiap ada kesempatan bertemu (tanpa kehadiran Fa), Mia selalu menceritakan kehidupan seksualnya dengan pria-pria berbagai jenis bangsa.
Semua jenis lokal dan internasional dia juga suka, Fa,
Di sisi kehidupan lainnya, Mia terus membina rumah tangganya, dengan kondisi si suami juga dengan asyiknya
sleeping around with other chicks.
Fa membisu. No comment. Is this a new real life in Jakarta
Or is it only Fa who becomes the last naive girl in this city