Yang begitu belia memamerkan tawa
Di bawah lembut elus jemari ibu.
Yang dengan sukacita berlari
Tanpa pernah takut di hadapannya
Terbentang rasa lapar dan kehilangan
Dikumandangkan oleh masa depan
Dan sebuah pencarian tiada henti.
Aku ingin menjadi kesedihan
Yang sangat lihai merawat kenangan
Dengan sepasang mata yang diliputi
Debum setiap kali timba menghantam
Dasar sumur ketika mata airmu tertampung.
Aku ingin menjadi kegelapan hujan
Yang menyembunyikan lelah dalam lelap
Di bawah selimut dan hangat rumah
Ketika pertengkaran dan kebisuan
Tak pernah cukup untuk merawat nostalgia
Yang pernah ditinggalkan jatuhan senyum
Dari beranda jiwamu yang bersahaja.
Aku ingin menjadi lembaran malam
Yang dengan setia merawat kesunyian
Tanpa perlu doa-doa dan ruap kemenyan
Ketika kehilangan demi kehilangan
Adalah harga yang tiada pernah cukup
Menggantikan penemuan akan kedamaian.
Aku ingin menjadi senyum di antara lesung pipimu
Yang dengan sederhana mengguratkan keajaiban
Tanpa pernah takut untuk merasa lelah dan jauh
Karena kebahagiaan yang dibagi dengan sukacita
Senantiasa melipatgandakan diri dalam kemenangan.
(Naimata, 2013)