MALAM MERUNJUNG - 14
syahrazad menghirup dalam-dalam rempah yang kusodorkan kepadanya, Aku ingat pernah mengenal rempah ini, katanya dan menghirupnya lagi.

Itu cengkih.

Cengkih

Ia meletakkan cengkih itu di kusen jendela, kemudian mengambil biji pala dan menghirupnya dalam-dalam. Negeri kalian penuh hal-hal indah seperti ini.

Berkah sekaligus kutukan, kataku.

Bagaimana kabar temanmu Aku belum tahu namanya, saat aku melihatnya berlari pergi.

Namanya Umar. Dia jadi pelupa dan masih terus memikirkan 757. Menurut cerita yang kudengar di perjalanan, ia pingsan saat melihatmu, tapi kau tak menyadari kedatangannya. Karena takut kamu menghampirinya dan membuat jantungnya copot, ia cepat-cepat memasang kembali sepatunya, tapi dia mengambil sepatu yang salah. Kejadian itu sudah menjadi lelucon yang cukup terkenal di perjalana n.

Benarkah Banyak dari tamuku yang sengaja meninggalkan sepatu mereka di sini agar mereka punya alasan untuk datang lagi. Aku tahu aturanku sangat aneh, tapi setelah apa yang kualami, aku tak punya pilihan lain. Ia mengelus leher putihnya.

Halaman rumah Syahrazad ditumbuhi rumputrumput yang memiliki telinga. Siapa pun yang mengunjunginya mesti melepas sepatu di pintu gerbang.

Kamu tidak terpikir untuk melakukan perjalana n lagi Pintu-pintu itu, aku yakin mereka semua akan menguak terbuka untukmu.

Dengan jari-jarinya, ia meraih kembali cengkih di kusen jendela, kemudian memainkannya, Kamu tahu, itu pertanyaan yang paling sering kudengar.

Aku memang banyak mendengar jawabannya di sepanjang perjalanan. Tapi mungkin akan lain kalau aku mendengarnya langsung darimu. Kamu telah menjadi legenda.

Itu juga pernyataan yang paling sering membuatku salah tingkah.

Seribu satu, itu jumlah yang banyak sekali. Jumlah banyak yang tersendiri. Kami menggunakannya untuk mengungkapkan sesuatu yang sangat banyak. Setidaknya dalam bahasaku.

Kita sama-sama tahu aku cuma bertahan sampai yang keseribu, satu tangannya menepis udara. Banyak yang datang kemari, tukang-tukang cerita yang mengaku ingin menyusun cerita demi orang lain. Sangat memalukan, karena pada akhirnya aku cuma menyelamatkan diriku sendiri.

Kamu telah menyelamatkan 757. Itu lebih dari cukup.

Kamu pun akan melakukan hal yang sama. Rencana 19 sudah sangat rapi. Dia akan menghabisi 757 begitu ia menjadi raja berikutnya. Mereka berdua sama-sama tukang cerita. Dalam perjalananmu kamu pasti melihat banyak yang mati. Kita semua memiliki kecenderungan merusak cerita lain demi cerita kita sendiri.

Aku teringat dengan ayah Umar yang mati di depan televisi. Ia telah menjadi lembaran tragis dan banyak yang lebih suka berpura-pura kalau ia tak pernah ada.

757 memerlukan tempatnya sendiri untuk menyusun ceritanya sendiri, Syahrazad meneruskan.

Kami tidak akan pernah lupa tentang Zirbad itu. Beberapa bagian terlalu aneh dan terlalu mainmain. Kudengar ia masih diam-diam keluar masuk ke ceritanya dulu. Malam-malam itu tak lagi merunjung, tapi 19 sengaja membuat fiksi yang sangat buruk untuk memperbudak mereka. 757 berusaha memengaruhi anak-anak itu seperti yang dilakukan 19 kepada mereka dulu.

Ya Tuhan, aku merindukan anak-anak itu. Jika ada masa depan, semuanya terletak di tangan mereka. Mata Syahrazad menerawang, seperti mengingat sesuatu yang teramat jauh dan tak ingin ia lupakan.

Aku pun langsung teringat rencanaku. Perjalananku masih panjang. Aku bangkit dan pamit kepada Syahrazad. Harus kuakui, jumlah kalian semakin banyak, katanya saat aku mulai berjalan keluar. Ujung-ujung rumput yang masih basah oleh embun menggelitiki kakiku.

Kami

Yang berkehendak dan membuat cerita terus bergulir.

Tokoh yang salah dalam cerita yang salah, kataku.

Ia tertawa. Rumah ini semakin kerap dikunjungi oleh tukang cerita. Dengan cara mereka masing-masing. Tapi aku melihat benang merah dari cita-cita mereka.

Menyusun cerita yang tak hanya untuk kehendak sendiri

Jalannya cerita bisa begitu licin. Mudah sekali untuk tergelincir. Sebelum kamu sadar, kamu telah mendapati dirimu tinggal di pulau terpencil berselimut kabut. Hidup bersama anjing dan sihir. Atau ilalang yang membelit dan meremukkan tengkorakmu. Kudengar, nasib perempuan-perempuan itu belum berubah sejengkal pun. Lihat tempat ini. Aku membangun benteng dengan hamparan rumput yang berembun dan bertelinga.

Jangan berkata begitu. Kau tak akan menjadi kisah ironis macam itu. Apa yang telah kamu lakukan akan terus berpijar seperti mimpi raja. Syahrazad tersenyum. Kau tahu, aku sering terpikir dari mana datangnya jumlah yang seribu satu itu. Mungkin di satu tempat lain di balik pintu itu.

Maksudmu

Kamu pernah melewati cerita di mana setiap orang selamanya membelakangi dirinya sendiri Selamanya, orang-orang dalam cerita itu menghadapi punggung mereka sendiri. Kecuali ketika mereka berbaring atau telungkup. Tapi kita lebih suka bagian ketika mereka berbaring menatap langit dan menyaksikan bintang berarak. Saat itu, mereka menghadapi dan membelakangi ketakberhinggan.

Itu cerita yang pertama kali kumasuki. Umar yang mengenalkanku dengan cerita itu.

Di sana, mungkin cerita-cerita bisa melakukan lebih banyak daripada yang bisa kita lakukan di sini.

Kami telah tiba di pintu gerbang. Berlusin-lusin sepatu yang pernah datang mengunjungi Syahrazad tersusun rapi. Beberapa sepatu itu kukenali milik tukang cerita yang dari ceritanya aku tiba di sini. Di satu sudut aku melihat sepasang sepatu butut. Sepatuku yang dulu dibawa Umar lari.

Tunggu, kata Syahrazad, menghentikanku saat mulai mengikat tali sepatu.

Ia merogoh saku bajunya dan menggamit lenganku. Kalau-kalau kau ingin berkelit dari tekateki. Aku tahu Nonius sangat dingin.

Burung gagak itu. Bekas cakarnya masih perih di punggungku.

Kukira semua pintu utama sudah diledakkan oleh anak itu

Belum semua. Jika kamu cermat mencari, ada pintu-pintu yang tersembunyi. Anak itu memang ceroboh luar biasa, Syahrazad tergelak. Kadang ia tak sadar apa yang tengah dilakukannya.

Beberapa cerita jadi lebih menarik setelah ia mengacak-acak susunannya.

Dan dengan cara itu kamu mencoba kemari. Jari-jari lembutnya membenamkan sebuah benda kecil yang berat dan dingin di telapak tanganku.

Sebuah kunci.

Terima Kasih

Penulis berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu. Keluarga (terutama Ka Ihah) dan teman-teman yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Irwan Bajang, Maria Puspitasari, dan Indie Book Corner yang membuat mungkin menerbitkan buku sendiri. Special thanks to Hoeda Manis, untuk posting-posting keren di blognya.