A SHOULDER TO CRY ON - 14
DANU duduk di tempat tidur kakaknya, baru saja menceritakan pada kakaknya tentang nominasi penghargaan sastra yang mengharuskannya pergi ke Bandung.

"Itu bagus, Nu! Kakak bangga sekali kamu bisa meraih prestasi seperti itu," kata Damara selesai mendengarkan penjelasan Danu. "Kakak akan atur keberangkatanmu ke sana. Kamu bisa menginap di hotel tempat acara penghargaan itu digelar."

"Nggak usah, Kak... itu kan hotel bintang lima, pasti kamarnya mahal banget."

"Nggak masalah. Kakak masih mampu kok membayar semuanya."

"Tapi, Kak, Danu belum tentu dapat apa-apa dari sana. Kalo Kak Damara udah ngeluarin banyak uang terus Danu nggak menang gimana"

Damara menghela napas pelan, mendudukkan dirinya di samping Danu, menepuk bahu Danu pelan.

"Ini bukan masalah kamu dapat penghargaan itu atau nggak, tapi ini kesempatan kamu menambah pengalaman. Dan sebagai orang yang sangat bangga dengan bakat kamu, Kakak mau kamu datang ke sana dengan kenyamanan yang bisa Kakak kasih buat kamu," jelas Damara.

Danu diam, ini bukan waktu yang tepat untuk membantah Damara, ia mengerti benar sifat kakaknya. Damara akan selalu punya alasan yang tepat untuk menguatkan pendapatnya.

"Jadi kapan kamu berangkat ke Bandung"

"Jumat pagi, Kak. Acaranya Sabtu malam."

"Pergi sama siapa kamu"

"Belum tahu juga sih, Kak, kemarin guru bahasa Danu bilang dia nggak bisa nganter, soalnya anak bungsunya lagi dirawat di rumah sakit," jawab Danu lesu.

"Bukannya Kakak nggak mau nemenin kamu datang ke sana, tapi banyak yang harus Kakak urus di sini."

Danu mengangguk pelan. Ia memang sudah tahu dari awal kakaknya tidak akan mungkin bisa mengantarnya, berbagai hal yang entah apa akan selalu menyibukkan Damara.

"Kamu kan bisa minta tolong Anka untuk nemenin kamu... Kakak bisa pesen dua kamar buat kalian."

"Anka nggak mungkin bisa ninggalin ibunya, Kak. Ditambah lagi dia harus kerja."

"Kalau begitu Andro aja, dia pasti bisa nemenin. Dia kan temen baik kamu juga, nanti kamu

Kakak kasih uang saku lebih supaya kalian bisa sedikit bersenang-senang di sana."

Danu mengangguk mengerti akhirnya. Membuat senyum lebar mengembang di wajah Damara, senyum yang mengisyaratkan masalah Danu dan nominasi penghargaannya terselesaikan dengan sempurna.

"Oke, kalau begitu semua udah beres. Sekarang kamu bisa pergi tidur, ini udah larut malam, besok kamu harus sekolah."

Danu bangun dari tempat tidur kakaknya, berjalan pelan menuju pintu, tapi sebelum sampai pintu, Danu menghentikan langkahnya. Ada yang lupa ia tanyakan pada kakaknya, pertanyaan yang lumayan mengganggu pikirannya beberapa hari ini.

"Kak..."

"Kenapa, Nu"

"Soal berita Kakak sama Imelda..."

Danu tidak melanjutkan kata-katanya karena yakin kakaknya sudah cukup mengerti.

"Berita kemarin... susah dijelasin. Kamu masih terlalu muda untuk mengerti semuanya," jawab Damara. Terdengar menggantung di telinga Danu, tapi Danu hanya mengangguk pelan menerimanya. "Kakak tahu kamu khawatir, tapi itu nggak perlu, Kakak bisa mengatasi semuanya."

Danu keluar sambil mengangguk, sepenuhnya percaya pada kata-kata kakaknya. Ia cukup tahu kakaknya tidak akan begitu bodoh sampai memiliki skandal picisan seperti yang diberitakan infotainment.

***

Tengah malam, Imelda terjaga di atas tempat tidur, di kamar apartemennya. Matanya masih terbuka lebar, tidak menunjukkan tanda-tanda kantuk. Bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Kelakuannya seperti gadis belasan tahun yang baru mengenal cinta.

Setelah kejadian di taman antara ia dan Damara, entah mengapa Imelda merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya, sesuatu yang mengubah apa yang tadinya dirasakannya. Kehadiran Damara di saat ia sedang gamang, kata-kata Damara yang dirasa seperti oase di tengah gersangnya gurun, hingga ciuman lembut yang tiba-tiba diberikan Damara padanya, membuat segala hal buruk yang dirasakannya menguap seketika.

Entah apa yang membuatnya lemah menghadapi Damara. Saat Damara menciumnya, sebagai wanita yang mengatakan memiliki harga diri, seharusnya ia menampar Damara atau melakukan apa pun yang akan menunjukkan pada Damara bahwa ia bukan wanita yang bisa sembarangan dicium. Tapi nyatanya ia tidak melakukan apa-apa. Ia bahkan membiarkan Damara menciumnya, bahkan sulit untuk tidak mengatakan kalau ia menikmati apa yang dilakukan Damara. Dan yang lebih aneh dari semuanya, ia tidak suka saat Damara mengucapkan "maaf" selesai menciumnya.

Kata "maaf" yang diucapkan Damara seakan mengesankan bahwa apa yang dilakukan Damara padanya merupakan kesalahan, bukan dorongan perasaan menyenangkan seperti yang ia rasakan. Kata "maaf" itu juga menandaskan sisa harga diri yang tersisa padanya. Imelda tahu sepenuhnya, Damara melakukan itu untuk menghormati dirinya, hanya saja Imelda lebih ingin mendengar kata lain yang lebih indah dari Damara. Kata yang mungkin akan membuatnya rela menanggalkan reputasi dan kariernya di kemudian hari.

***

Damara berdiri menghadap Anggun yang memaksa bertemu di sebuah kamar hotel selepas makan siang.

"Agak sulit menghubungi kamu akhir-akhir ini," kata Anggun, seperti biasa dengan nada suara khasnya. "Kamu pasti terlalu sibuk untuk menjawab telepon dari aku, rupanya mainan baru kamu menyita banyak perhatian ya"

Damara tidak menjawab. Ia tidak mau membiarkan Anggun berhasil mengintimidasinya.

"Dia berani bayar berapa untuk bisa sama kamu"

Senyum khas Anggun yang melecehkan membuat suatu perasaan menggeliat dalam diri Damara.

"Dia bukan orang seperti kamu," tegas Damara, tidak tahan dengan kata-kata Anggun.

"Romantis sekali cara kamu membela dia... Apa sekarang kamu merasa telah menemukan cinta" Anggun mendekat ke arah Damara, menyentuh wajah Damara dengan tangan halusnya. Matanya menatap Damara tajam, sementara bibir merahnya terus menyunggingkan senyum sinis.

"Kamu berlebihan, Anggun. Apa yang kamu lihat dan dengar, semua nggak benar, itu cuma gosip murahan."

"Gosip murahan..." Anggun melepaskan tangannya dari wajah Damara lalu membalikkan badannya. "Mungkin buat kamu cuma gosip murahan, tapi aku rasa nggak sesederhana itu. Dari apa yang aku lihat pada diri kamu akhir-akhir ini, aku rasa itu bukan sekadar gosip murahan."

Anggun kembali menghadap Damara, menatap lurus ke mata Damara seakan mencari jawaban pertanyaannya di sana.

Damara tidak begitu suka ketika Anggun sudah menatapnya seperti ini, wanita itu seperti bisa mengetahui apa yang dipikirkannya.

"Aku lelah menghadapi semua kecurigaan kamu. Sekarang aku cuma bisa bilang semua berita itu berlebihan, terserah kamu mau percaya atau tidak. Aku sayang kamu, Anggun! Seharusnya kamu tahu itu."

"Kamu bilang sayang aku, tapi kenapa aku nggak bisa merasakan kamu benar-benar sayang aku ya"

Jengah dengan segala tudingan Anggun, Damara meraih Anggun ke dalam pelukannya, mencium bibir Anggun dengan lembut, membiarkan Anggun mendapatkan jawaban atas semua kecurigaannya.

"Aku harus balik ke kantor," kata Damara setelah melepaskan bibirnya dari bibir Anggun. "Kita bicarakan lagi semuanya nanti malam."

Damara berjalan ke luar setelah mencium kening Anggun. Tanpa banyak pertanyaan Anggun membiarkan Damara pergi. Damara merasa apa yang dilakukannya pada Anggun tadi sudah cukup untuk membuat Anggun berhenti memperlakukannya seperti laki-laki bayaran. Ia sudah cukup jengah dengan semua hal yang selalu diingatkan Anggun padanya. Di dalam lift yang hanya membawanya turun seorang diri, Damara menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya, terlalu lelah dengan semua yang harus dilaluinya. Setelah mencium Anggun tadi, kenangan saat ia mencium Imelda di taman terbayang lagi. Satu hal lagi yang terjadi karena kegagalannya mengontrol diri, hingga Imelda marah padanya kemarin. Satu hal bodoh dilakukannya yang entah mengapa tidak disesalinya.

***

"Good luck ya, Nu. Jangan lupa telepon gue kalo ada apa-apa di Bandung," kata Anka di depan Stasiun Gambir, saat bersama Damara mengantar Danu dan Andro berangkat ke Bandung.

Danu mengangguk pelan, merasa ada yang salah pada dirinya pagi ini. Ia seharusnya senang berangkat ke Bandung untuk menghadiri acara yang menjadi kebanggaan untuknya. Tapi entahlah, rasanya ada sedikit yang mengganjal dalam benaknya.

"Jaga diri kalian selama di sana. Kamu sama Andro boleh bersenang-senang, tapi jangan kelewat batas," tegas Damara, seraya menepuk bahu Danu.

"Tenang aja, Bang, Andro pasti jagain Danu," timpal Andro.

Damara tersenyum lega, sementara Danu hanya berdiri diam tak banyak bicara. Ia seperti anak kecil yang enggan berpisah jauh dari orang-orang terdekatnya. Ini benar-benar memalukan.

"Danu jalan dulu ya, Kak," kata Danu akhirnya.

"Hati-hati... Telepon Kakak kalau kalian sudah sampai."

"Gue pergi dulu, Ka. Jangan pulang malem-malem. Kalo lo terpaksa lembur, jangan jalan sendirian ke halte, nggak aman," pesan Danu.

"Kamu nggak usah khawatir soal Anka. Dia tanggung jawab Kakak selama tiga hari kamu di Bandung."

Danu mengangguk pasrah. Entah kenapa ia tidak suka cara Damara mengatakan itu semua. Seharusnya ia lega Anka dijaga Damara selama ia pergi, hanya saja sekali lagi ia merasa ada yang salah dengan ini semua. Ada sesuatu yang membuatnya setengah linglung.

"Ayo jalan, Nu, kayaknya keretanya bentar lagi berangkat."

Suara Andro membuyarkan semua pikiran aneh Danu. Ia mengangkat ransel ke pundaknya, tersenyum tipis kepada Anka dan Damara, lalu berjalan bersama Andro menuju gerbong kereta. Danu sempat melihat Anka melambai riang ke arahnya, sementara Damara yang berdiri di sebelah Anka tersenyum. Yang paling aneh dari semua yang dirasakannya hari ini, ia tidak suka Damara berdiri begitu dekat dengan Anka.

Danu duduk di salah satu kompartemen di kereta kelas bisnis menuju Bandung, menyandarkan kepalanya di jendela kereta.

"Lo kenapa sih, Nu Dari tadi tampang lo kayak orang kurang darah, lemes mulu!" kata Andro.

Setelah hampir lima belas menit kereta yang membawa mereka ke Bandung bergerak maju,

Danu tidak juga bicara. "Lo nggak suka gue yang nemenin lo ke Bandung"

"Bukan, Ndro... Gue cuma banyak pikiran aja. Ini pertama kali gue ke Bandung setelah hampir lima tahun gue pindah dari sana."

"Lo takut ketemu ayah sama ibu lo di sana"

"Tauk deh." Danu mengangkat bahu, tidak tahu mengapa ia harus mengarang alasan itu untuk menjawab pertanyaan Andro.

"Nu, Bandung tuh gede. Lo nggak mungkin bakal ketemu mereka tanpa sengaja. Bener kata Kak Damara, lo tuh butuh refreshing, lo terlalu serius mikirin semuanya... Sekarang kita ke Bandung bukan cuma buat dateng ke acara lo, tapi bisa sekalian liburan. Coba lo bayangin, Jumat pagi kayak gini kita udah dikasih izin sama sekolah. Terus kita dapet fasilitas nginep di hotel bintang lima dan uang saku lumayan banyak dari kakak lo. Udahlah, jangan mikir yang aneh-aneh, bikin yang udah beres jadi berasa nggak beres."

Danu tersenyum kecil. Benar yang dikatakan Andro, ia terlalu memikirkan banyak hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkannya.

***

Untuk pertama kalinya Damara duduk berhadapan dengan Imelda setelah kejadian di taman malam itu. Hari ini Imelda datang ke kantor Damara untuk membicarakan langkah apa yang harus mereka tempuh setelah pihak suami Imelda mengajukan banding terhadap putusan cerai Imelda.

Tidak banyak yang bisa ditangkap Damara dari Imelda hari itu. Imelda hanya duduk di sofa, lebih banyak membiarkan manajernya yang berbicara mewakilinya, sama seperti Imelda yang pertama kali dikenal Damara. Imelda bahkan tidak melepas kacamata hitam yang dipakainya saat mereka bicara, seakan tidak ingin membiarkan Damara menatapnya. Ini semua jelas mengganggu Damara.

Setelah hampir satu jam, akhirnya apa yang harus mereka bicarakan selesai. Imelda segera menyandang tasnya, seperti tidak ingin berlama-lama. Membuat Damara berpikir kesalahan yang dibuatnya sebegitu buruknya.

"Maaf, Mbak Imelda... bisa bicara sebentar sebelum Anda pergi"

Imelda yang sudah sampai di ambang pintu kantor Damara menghentikan langkahnya, hal yang sama pun dilakukan manajernya.

"Ehm... berdua saja maksud saya."

Manajer Imelda menatap curiga pada Damara, tapi tidak lama setelah itu ia mengangguk pelan. "Mbak keluar duluan, Mbak tunggu di parkiran belakang. Kamu harus keluar lewat jalan belakang, karena di depan ada banyak wartawan," pesan manajer Imelda, terdengar seperti memerintah.

"Saya yang akan antar Mbak Imelda ke sana nanti... Mbak nggak perlu khawatir."

Sekarang Damara sudah duduk di sofa, menghadap Imelda.

"Maaf kalau saya meminta kamu untuk tinggal sebentar, ada beberapa hal yang perlu saya luruskan sebelum kamu pergi," kata Damara memulai.

Damara menatap Imelda lekat-lekat, berharap model ini bisa sedikit lebih menghargainya dengan meletakkan sebentar smart phone yang sedari tadi dimainkannya selama mereka bicara. "Aku harap kamu tidak keberatan untuk sebentar saja tidak sibuk dengan handphone. Dan akan lebih menyenangkan kalau kamu bersedia melepas kacamata sementara kita bicara."

Dengan ekspresi tidak senang Imelda meletakkan handphone-nya di atas meja, lalu membuka kacamata yang dipakainya. Mata Imelda terlihat suram, lingkaran hitam terlihat jelas di sekitar kantong matanya. Alasan mengapa ia memerlukan kacamata hitam terjawab sudah.

"Apa yang kamu minta sudah saya jalankan. Jadi sekarang silakan bicara... waktu saya tidak banyak." Imelda menatap sinis ke arah Damara, berbeda sekali dengan saat terakhir Damara menemuinya di taman, malam itu.

"Saya tahu kenapa kamu bersikap seperti ini..."

Imelda mendengus pelan, seakan melecehkan kata-kata Damara.

"Kejadian di taman malam itu yang membuat sikap kamu begitu tidak bersahabat pada saya," Damara kembali meneruskan. "Koreksi jika saya salah."

Imelda tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya duduk diam. Sikap yang disimpulkan Damara sebagai membenarkan.

"Sekali lagi maaf atas kelancangan yang saya lakukan kemarin, saya benar-benar tidak bermaksud buruk saat itu," kata Damara, mengulang apa yang sudah dirancang dalam otaknya berjam-jam yang lalu. "Kamu pantas marah, saya memang keterlaluan malam itu. Seharusnya saya bisa mengendalikan diri."

Damara menghentikan ucapannya, melihat ekspresi Imelda setelah ia mengungkapkan semua. Tidak ada perubahan berarti pada ekspresi Imelda. Ia malah bertingkah seakan bosan mendengar kata-kata Damara.

"Saya sudah terlalu sering mendengar apa yang kamu bilang barusan. Intinya, kamu hanya mau menegaskan bahwa apa yang kamu lakukan di taman malam itu, hanya kesalahan, kan" Imelda menyunggingkan senyum sinisnya. Senyum yang sulit diartikan oleh Damara. "Lalu, sekarang kamu mungkin sangat menyesali semuanya, begitu Saya cukup mengerti... Jadi, mulai sekarang tidak ada yang perlu kita bahas soal malam bodoh itu."

Imelda mengambil handphone-nya, memakai kembali kacamata hitamnya sebelum berdiri dan siap pergi.

"Pembicaraan kita rasanya sudah selesai, jadi sekarang saya sudah bisa pergi."

Tanpa menunggu jawaban Damara, Imelda melangkah menuju pintu. Namun sebelum tangannya meraih tangkai pintu, dengan cekatan Damara meraih tangan Imelda.

"Saya rasa kesalahpahaman antara kita belum benar-benar selesai," kata Damara menatap tajam pada Imelda. "Masih banyak hal yang perlu saya luruskan. Kamu salah mengartikan katakata saya."

"Maksud kamu apa" tanya Imelda.

"Saya meminta maaf sebesar-besarnya untuk kelancangan saya malam itu. Kamu mungkin menganggap saya pengacara yang kurang ajar terhadap kliennya, dan itu merupakan kesalahan yang amat besar. Sebagai pengacara yang menangani kasus perceraian kamu, saya menyatakan sangat menyesal untuk malam itu."

"Lalu di mana letak perbedaannya" Nada suara Imelda terdengar makin sinis. "Apa yang kamu sampaikan sudah saya tangkap sejak awal!"

"Saya mengatakan itu penyesalan saya sebagai pengacara kamu."

Imelda mengerutkan keningnya seakan tidak mengerti apa yang sedang Damara coba jelaskan padanya.

"Sebagai pengacara yang seharusnya bersikap profesional, saya sangat menyesal mencium kamu malam itu. Tapi... sebagai diri saya sendiri, entah kenapa saya tidak menyesalinya." Damara menghela napas, seakan dengan helaan napasnya ia mengeluarkan beban perasaannya juga. Imelda menatap kosong pada Damara, lagi-lagi tatapan yang sulit diterka artinya. "Tentu saja saya masih tetap merasa lancang telah melakukan itu semua," Damara buru-buru menambahkan. "Hanya saja... mungkin ada yang tidak beres dengan otak saya saat ini hingga berani mengatakan saya tidak menyesal. Saya hanya tidak mau sesuatu yang sebenarnya sangat berarti harus saya kamuflasekan dengan penyesalan."

Damara tidak tahu apa yang sedang merasuki dirinya. Apa yang dikatakannya barusan bukan bagian kalimat yang dirangkainya untuk Imelda. Semua tercetus begitu saja tanpa rencana, bahkan hanya kata-kata dalam bayangan liarnya. Sialnya, kata-kata itu justru keluar langsung dari mulutnya. Dengan semua kata yang ia ucapkan, Damara merasa seperti membakar dirinya sendiri di depan Imelda...

Sesaat Imelda tertegun mendengar ucapan Damara. Ternyata kata "maaf" dan penyesalan itu bukan karena Damara menganggap apa yang dilakukannya sebagai kesalahan seperti dugaan yang membuatnya gusar selama beberapa hari ini.

Imelda mendongak, ia bisa melihat Damara berusaha mengartikan ekspresi di wajahnya. Kecemasan terlihat sekali di wajah laki-laki itu, seakan ia cemas dengan tanggapan Imelda atas ucapannya.

Imelda merasakan bibirnya bergerak membentuk senyum kecil, senyum yang juga langsung memberikan efek berbeda pada raut wajah Damara. Damara terlihat lega sekarang. Senyumnya mengembang menyusul kelegaan yang dirasakannya. Satu sisi berbeda dari yang biasa dilihat Imelda pada laki-laki serius seperti Damara.

"Saya menganggap senyum itu sebagai tanda kamu bisa menerima apa yang saya katakan," kata Damara. "Semoga tidak ada lagi tatapan sinis... Tatapan sinis kamu membuat saya gelisah."

Senyum Imelda mengembang semakin lebar. Ia masih belum yakin arti rasa senang yang melandanya sekarang. Namun, sepertinya tak salah jika membiarkan perasaan menyenangkan ini menghiburnya sesaat.

"Aku senang dengan kedekatan kita. Aku merasa bahagia kamu mau dekat denganku tanpa meremehkanku. Hanya saja... ada sesuatu di dalam diriku yang tiba-tiba mengatakan aku tidak layak berada di dekatmu, sesuatu yang sulit dijelaskan sekarang." - Damara