Jam tujuh kurang seperempat. Pelan-pelan Niken keluar kamarnya setelah melongok terlebih dahulu. Merasa aman, dia lalu melangkah ke ruang tengah. "Oma...!!" Begitu melihat neneknya di ruang tengah, Niken langsung lari memeluk nenek tercintanya itu.
Oma Lilian itu mama-nya papa. Satu-satunya anggota keluarganya yang bisa dikategorikan 'manusiawi'. Sayang sekali Oma kena stroke tahun lalu, jadi sekarang dia harus menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda. Sayang sekali Oma ini terkenal dengan sikap keras kepalanya. Sudah berkali-kali papa dan mama memaksa Oma untuk tinggal bersama mereka, tapi Oma tidak pernah mau. Oma lebih suka tinggal di rumah kecilnya di Kudus. Dan Oma bisa marah besar kalau ada yang menyinggung-nyinggung untuk menjual saja rumah Kudus. Di surat wasiatnya, Oma sudah menulis, rumahnya di Kudus itu sampai kapan pun tidak boleh dijual. Nanti kalo Oma wafat, rumah itu boleh dipakai untuk tujuan sosial. Pokoknya rumah itu tidak boleh dijual.
Di Kudus Oma punya taman bunga anggrek. Walaupun sekarang sudah agak susah untuknya merawat bunga-bunga anggreknya, Oma masih selalu menyempatkan diri merapikan tamannya setiap hari. Niken sering ke Kudus kalau liburan. Daripada menganggur di rumah. Dari kecil Niken selalu dekat dengan Omanya. Tasya juga dulu dekat sama Oma. "Kapan datang, Oma" tanya Niken.
"Tadi siang, dijemput papamu. Rumahmu hari ini semarak sekali, Fei Fei. Kuning-kuning bunga matahari. Kamu juga memakai baju kuning-kuning. Kamu memang manis." kata Oma sambil mencubit pipi Niken dengan sayang. "Oma, aku hari ini mengundang dua orang yang sangat dibenci papa-mama. Oma bantuin Fei Fei ya." pinta Niken manja. "Tergantung, siapa dulu orangnya."
Ragu-ragu, Niken cerita ke neneknya, "Orang yang pertama, namanya Edi." "Edi yang pacarnya Tasya" tanya Oma langsung bisa menebak. Niken mengangguk.
"Yang kedua" tanya Oma.
"Oma koq nggak tanya, kenapa Niken mau mengundang Edi" Niken heran. Omanya tersenyum lebar. "Edi anak yang baik. Oma sering bertemu dengannya di kuburan Tasya. Dia sering berlama-lama di situ. Kita sering bicara dari hati ke hati. Bukannya kamu dulu yang benci sekali sama dia" tanya Oma. "Itu dulu. Sebelum Fei tau kalo Edi itu sudah berubah jadi orang yang baik. Rasanya sudah waktunya kita memaafkannya."
"Bagus. Oma tidak pernah bilang sama kamu, karena Oma tahu kamu dulu dendam kesumat sama dia. Oma bangga punya cucu seperti kamu, Fei. Oke, sekarang siapa yang kedua" tanya Omanya lagi.
Niken gantian yang tersenyum tersipu-sipu. Melihat gelagat, Oma langsung menebak, "Pacar kamu ya"
Lagi-lagi Niken cuma bisa mengangguk-angguk.
"Papa-mama tahu" bisik Oma.
"Dua-dua sudah pernah melihat orangnya, sih. Namanya Pandu, Oma. Pandu Prasetya." "Orang Jawa yah" tanya Oma.
"Koq Oma tahu" Niken mengkerutkan wajahnya. Oma hari ini seperti tukang ramal saja.
"Nebak aja, dari namanya. Trus gimana"
"Ya Oma pasti tau lah cerita selanjutnya. Papa sama Mama nggak ada yang setuju Fei pacaran sama Pandu. Padahal Fei sayang banget sama Pandu. Pandu juga sayang sama Fei koq."
Oma tersenyum lagi. Agak aneh juga mendengar cucunya yang keras kepala ini jatuh cinta.
Pasalnya, Niken dari kecil selalu benci sama anak laki-laki, apalagi anak laki-laki yang sok jagoan. Waktu kecil pun Niken sering berkelahi dengan anak laki-laki. Berkali-kali Mamanya dipanggil guru SD Niken. Ini mungkin salah satu sebab Papa lebih menyukai Tasya yang pendiam dan tidak pernah membuat onar. Tapi dari kecil Oma bisa melihat Niken itu orang yang kuat, dan selalu berpegang teguh pada prinsipnya. Sayang sekali beda umur Tasya dan Niken cukup banyak, empat tahun. Seandainya saja cuma beda setahun,
misalnya, Niken pasti bisa melindungi Tasya. Kekeras-kepalaannya sudah terkenal seantero jagat. Niken paling benci ikut acara-acara keluarga. Oma pernah tanya kenapa, dan jawabannya sangat memuaskan. Waktu itu Niken masih berumur sepuluh tahun. Prestasinya di kelas sangat membanggakan, di bidang apapun. Jawaban yang membuat Oma tertarik waktu itu, adalah "Acara keluarga seperti ini cuma dijadikan ajang unjuk diri. Unjuk keluarga. Ini lho aku yang terbaik. Anakku masuk ke sekolah favorit, universitas favorit. Anakku menikah dengan konglomerat kelas kakap. Memuakkan." Sejak saat itu, Oma tahu bahwa Niken itu punya pribadi yang lain dari orang kebanyakan. Sungguh mengherankan mengingat Niken dimanjakan dari bayi. "Kamu sudah pikirkan baik-baik, Fei" tanya Oma. Niken mengangguk tanpa ragu. "Baiklah, kalau kamu memang mantap, Oma pasti dukung. Jadi penasaran, seperti apa sih, orang yang berhasil mengambil hati cucuku yang konon tidak pernah jatuh cinta ini" goda Omanya.
Niken tertawa kecil. Senang sekali mendapat dukungan tulus dari Oma. Lega sekali Niken, setidaknya dia masih punya Oma yang mau mengerti.
"Non, ada tamu buat non Fei Fei." lapor salah satu pembantu rumah tangganya.
Niken tersenyum menatap Omanya, lalu mendorong kursi rodanya ke arah ruang tamu.
Pandu melangkah ragu-ragu masuk ke ruang tamu dari pintu luar. Rumah Niken benar-benar besar dan megah. Atau dengan kata lain, mewah. Isi ruang tamu ini mungkin kalau dikalkulasi ada berpuluh-puluh juta rupiah. Lampu kristal chandelier yang menggantung manis di tengahtengah ruang tamu dengan cahaya lampunya yang redup benar-benar terlihat... mahal. Vas antik di pojok ruangan itu pasti harganya mahal sekali. Ubinnya dari marmer, mengkilap, sampai-sampai Pandu bisa melihat bayangan wajahnya sendiri di lantai. Kursi sofanya yang berwarna hitam terlihat begitu empuk. Bisa tertidur kalau duduk di situ barang lima menit.
"Ndu!" sapaan ramah itu terdengar begitu melegakan di telinganya.
"Fei Fei. Ini buat kamu. Hadiah buat kamu karena hari ini kamu keliatan cantik banget." kata Pandu sambil menyerahkan serangkaian bunga ke tangan Niken.
"Sudah sempat research dia rupanya," bisik Oma sambil menyenggol siku Niken setelah melihat bunga yang diberikan Pandu itu lily putih.
Niken tersipu malu. Iya, bagaimana Pandu bisa tahu kalau dia suka bunga lily putih
Pandu mendengar bisikan Oma tadi. Dia lalu ikut berbisik, "Aku dapat bocoran dari Wulan."
Tapi dari mana dia tahu kalo Niken bakal terlihat cantik malam ini Mudah saja, Niken kan memang selalu terlihat cantik.
"Ndu, kenalin, ini Omaku. Oma, ini Pandu yang tadi Fei bilang."
Pandu lalu menjabat tangan Oma. Tangan Pandu dingin sekali. Maklum, nervous, mau ketemu camer.
"Papa-mamanya Niken itu cuma manusia, bukan macan. Jadi kamu nggak usah takut." saran Oma yang bisa mencium kegugupan Pandu. Pandu mengangguk.
"Dan ini Edi. Oma rupanya sudah kenal baik sama Edi. Ce-es malah." gurau Niken.
"Mari masuk." ajak Oma.
Niken lalu mendorong kembali kursi roda Oma masuk ke ruang tengah. Rupanya Papa dan
Mama sudah ada di ruang tengah. "Ma, Pa, kenalkan ini Pandu."
"Siapa yang suruh kamu undang dia Dan cowok tengik itu" kata Papa sambil menunjuk ke arah Pandu dan Edi.
"Aku yang undang mereka." Oma menjawab dengan tegas. "Suka atau tidak suka, hari ini mereka akan makan malam bersama kita. Kamu berdua tinggal pilih. Makan malam dengan tampang cemberut seperti itu sepanjang malam, atau berusaha untuk tersenyum sesekali."
"Tapi mam." sahut Papa protes.
"Aku ingin makan malam dengan tenang. Jadi sebaiknya kalian jaga kelakuan masing-masing." Oma memperingatkan sekali lagi.
Nggak punya pilihan lain, Papa cuma diam saja. "Cuma makan malam. Sesudah itu aku nggak janji apa-apa." kata Papa kemudian.
"Kalau begitu ayo kita mulai makan sekarang." ajak Mama. Rasanya Mama juga sudah tidak sabar menanti makan malam selesai.
Menu masakan malam ini masakan kesukaan Tasya semua. Sup kepiting, bakmi goreng, kodok goreng mentega, dan bu yung hai. Melihat sup kepiting di hadapannya, Edi jadi teringat Tasya. Dari tadi dia masih belum bisa menghabiskan sendokan keduanya. "Nggak suka sup kepitingnya, Edi" tanya Niken.
"Suka. suka koq. Permisi, aku mau ngecek mobilku." Alasan rendahan. Semua orang juga tahu kalau Edi nggak betul-betul berniat ngecek mobilnya. Niken baru saja mau beranjak mengikuti Edi, kalau saja Oma nggak memperingatkan dengan tatapannya yang bilang 'jangan'. Oma yang lalu memutar kursi rodanya menuju ke arah luar. "Pura-pura saja." umpat Papa.
"Pa, ayolah. Masa' Papa nggak melihat perubahan Edi yang drastis Dia nggak lagi sombong seperti dulu. Edi yang sekarang benar-benar simpatik. Bahkan Oma pun bilang begitu."
"Aku tidak tahu bagaimana caranya Oma bisa mendukung kamu, tapi Mama tetap nggak bisa maafin Edi, dan sebelum kamu lebih jauh, lebih baik kamu lupakan saja rencana pacaranmu itu." kata Mama.
"Tante, saya bisa mengerti sikap proteksi Tante dan Oom terhadap Fei Fei. Menurut saya wajar saja, mengingat kejadian tragis yang menimpa Tasya. Tapi Fei Fei bukan Tasya, dan saya juga bukan Edi. Fei Fei cewek pertama, dan bukan tidak mungkin bakal jadi yang terakhir, yang saya cintai. Yang kami perlukan saat ini cuma sedikit kelonggaran waktu untuk membuktikan bahwa cinta kami layak untuk dihargai."
"Omong kosong!" Papa menggebrak meja makan. Niken kaget sekali. Piring-piring di dekat Papa sampai ikut meloncat. Ikut kaget juga, mungkin.
"Kamu cuma ingin mengeruk kekayaan keluarga kami, kan Karena Fei Fei anak kami satusatunya, dia ahli waris tunggal. Seperti mendapat durian runtuh, kan" ejek Papa dengan nada yang teramat sinis.
Pandu sudah siap dengan hinaan seperti itu. Bahkan tadi dia sudah mempersiapkan diri untuk hinaan yang lebih jelek dari itu. Ini belum seberapa.
"Papa, sudah cukup!" Niken tidak terima Pandu diejek seperti itu.
"Saya nggak butuh kekayaan Niken. Saya yakin bisa berhasil dengan usaha saya sendiri. Saya punya modal yang cukup untuk itu. Otak, kemauan, dan kemampuan. Kalau memang membantu, saya bersedia tanda tangan hitam di atas putih, menyatakan bahwa saya nggak akan memperoleh duit sepeser pun dari Fei Fei, bahkan misalnya kami menikah nanti, justru saya yang akan memberi uang pada Fei Fei, bukan menerima. Bagaimana, Oom" kata Pandu menawarkan, masih dengan nada sopan.
"Muluk-muluk." kata Papa. "Apa kerjaan ayahmu" tanya Papa.
"Polisi."
"Salah, saya sudah cek. Polisi rendahan, dengan gaji pas-pasan." Pandu diam saja. Memang kenyataannya begitu. Mau apa "Kamu ke sekolah naik apa" tanya Papa lagi.
"Sepeda."
"Kalo sepeda rusak, naik apa"
"Ya dibikin betul. Kalo tidak bisa ya jalan. Dianugerahi kaki sama Tuhan, sayang kalau tidak digunakan."
"Fei Fei dari kecil selalu naik mobil ke mana-mana. Tidak pernah hidup kekurangan. Kamu tidak akan bisa membahagiakan dia." "Papa! Papa nggak tanya, apa selama ini Fei bahagia Nggak pernah hidup kekurangan bukan berarti bahagia, Pa!" protes Niken.
Pandu lalu menengahi, "Terlalu dini untuk menilai apakah saya bisa membahagiakan Fei Fei apa nggak."
"Betul, Pa. Pandu itu termasuk orang pandai di sekolah. Nggak pernah mengalami kesulitan di bidang studi apapun. Dia punya masa depan yang cerah." kata Niken seperti orang jual jamu.
"Sekarang jawab pertanyaanku. Sesudah SMA, kamu mau melanjutkan kuliah di mana" tanya Papa lagi.
"Dari kecil saya ingin masuk ITB. Kalau bisa saya ingin mendapat beasiswa untuk kuliah di sana, jadi tidak merepotkan ibu sama bapak." jawab Pandu jujur.
"Nah, Fei Fei itu bakal sekolah di luar negeri. Amerika." kata Papa. "Oh ya!" tanya Niken terkejut. "Siapa yang bilang Koq aku malah belum tahu Apa aku nggak berhak untuk memutuskan di mana aku mau kuliah" Pertanyaan Niken keluar bertubi-tubi.
"Mama yang bilang. Kamu bakal masuk Universitas di Amerika. Titik." kata Mama.
"Nggak. Fei nggak mau. Apa enaknya kuliah di Amerika Dari dulu Fei nggak pernah mimpi ingin kuliah di luar negeri koq." Seperti biasanya, Niken dan kemauannya yang keras. "Ini demi masa depanmu, Fei." kata Mama lagi.
Niken cemberut. Segala sesuatu selalu sudah diputuskan tanpa didiskusikan terlebih dahulu dengan yang bersangkutan. Dirinya!
"Kalau kamu memang mencintai Fei Fei, kamu mestinya mendukung dia untuk kuliah di Amerika demi masa depannya." kata Papa kepada Pandu.
Pandu terdiam. Kata-kata Papa Niken ada benarnya. Apalagi kalau Niken tidak mau kuliah di Amerika cuma karena demi dia. Tidak adil buat Niken. Dia cewek yang cemerlang. Dia harus mendapat kesempatan meniti karier setinggi mungkin.
"Fei, yang dibilang papa kamu benar juga. Aku nggak berhak berdiri di tengah jalan, menghalang-halangimu." Pandu lalu berdiri. "Selamat malam. Terima kasih atas undangan makan malamnya. Selamat tinggal, Niken." "Tunggu, Pandu." Niken mengikuti Pandu yang sudah sampai di ruang tamu. Merasa diacuhkan, Niken lalu memegang lengan Pandu.
"Ndu. Dengerin aku dulu, kenapa sih Sampai dua menit yang lalu, aku nggak tahu kalau aku bakal kuliah di Amerika. Nggak pernah ingin, nggak pernah terpikir pula. Selama ini aku selalu memikirkan kuliah di UI. Ambil kedokteran.
Dari kecil aku cuma ingin jadi dokter. Kamu nggak berdiri di tengah jalanku, Ndu. Kalau kamu pergi, kamu justru membawa pergi impianku."
"Fei, coba pikirkan. Aku nggak ingin suatu saat aku, atau kamu, bertanya-tanya, seandainya saja waktu itu Niken kuliah di Amerika.. "
"Aku nggak akan pernah begitu, dan nggak akan pernah membuat kamu merasa seperti itu. Jujur saja aku nggak suka mendengar ide kuliah di Amerika. Sama sekali nggak ingin. Sama sekali bukan karena kamu, juga. Percaya deh, aku cukup keras kepala. Kamu pun tahu. Kalau aku memang ingin kuliah di Amerika, nggak ada seorangpun atau apapun yang bisa mencegahku." jawab Niken tegas.
"Fei, ini kesempatan bagus buat kamu, buat masa depan kamu. Aku nggak mau jadi penghalang. Kamu bisa bilang nggak menyesal sekarang, tapi nanti-nanti Aku yang bakal menyesal, pasti. Menyesal karena orang yang penuh bakat seperti kamu nggak berusaha sebisa mungkin untuk mengembangkan kemampuanmu."
"Kenapa orang-orang selalu ingin memutuskan perkara untukku Apa aku nggak bisa mengambil keputusan sendiri Apa orang lain, termasuk kamu, tahu apa yang terbaik untukku"
"Dalam hal ini, ya. Saat ini aku bisa melihat, kuliah di Amerika adalah yang terbaik untukmu. Seandainya aku ada di posisimu sekarang, aku pasti mengambil kesempatan itu tanpa pikir panjang. Sorry, Fei. Aku mesti pulang sekarang. Terima kasih makan malamnya. Good night..." Edi dan Oma rupanya mendengarkan percakapan barusan, karena mereka tepat berada di luar ruang tamu.