Lucie sudah menanyakan pertanyaan yang sama tidak kurang dari sepuluh kali dalam setengah jam terakhir dan ia tidak mendapatkan apapun yang tampak seperti jawaban. Reid benar-benar bungkam tentang tujuan kepergian mereka dan tetap akan seperti itu meskipun kegembiraannya terlihat jelas. Ia membawanya ke belakang, menuruni trotoar di sisi kota yang berseni, ia terus tersenyum rahasia pada Lucie, senyuman kekanak-kanakan yang mempesona dan membuat wanita itu tertawa layaknya gadis muda lainnya.
Sudah beberapa hari sejak ia berkencan dengan Stephen, dan Reid hanya mendapatkan sedikit waktu bersamanya kecuali selama pelatihan. Kemudian ia tiba-tiba membawanya untuk makan malam dan kemudian melihat sesuatu. Lucie pikir mungkin Reid akan membawanya pergi melihat sejenis pertunjukan, mengingat bagian kota yang sudah mereka lewati, tetapi ketika akhirnya mereka meninggalkan restoran, itu sudah pukul 11, jadi ia mulai merasa buntu.
"Badai musim panas tidak pernah menyakiti siapapun. Hampir sampai, ayolah." Katanya sambil menariknya ke dalam sebuah gang.
Ia menekan sepatu haknya, menyebabkan Reid sedikit mundur. "Hal apa yang mungkin akan kau perlihatkan di lorong gelap seperti ini"
Reid mendekati tubuh wanita itu dan merengkuh sisi wajahnya dengan tangannya yang bebas. Ibu jarinya menelusuri goresan pendek di sisi pipinya. "Apakah kau tidak percaya padaku, Lu" Lucie menatap mata cokelat itu, dan meleleh di perutnya dengan panas yang berputar-putar di pusatnya, lalu ia berbisik. "Tentu saja aku percaya padamu."
Bibirnya yang penuh membentuk sebuh senyuman. "Kalau begitu tutuplah matamu."
Ia hampir saja menolak untuk melakukan hal semacam itu, tetapi cara Reid menatapnya meluluhkan hatinya, dan ia menurunkan kelopak matanya tanpa ragu-ragu.
Sebuah ciuman ringan menyentuh di setiap kelopak matanya sebagai hadiah.
Reid menuntunnya menelusuri lorong dua puluh meter atau lebih, kemudian berhenti. Lucie mendengar semacam suara gemerincing kunci yang dan suara derit pintu berat yang terbuka. Sekali lagi pria itu membawanya ke depan. Lucie benar-benar ingin membuka matanya, tapi ia tidak ingin merusak kejutan Reid. Ia menggigit bibir bawahnya ketika mengunggu Reid menutup pintu dan bergerak ke sekitar ruangan, melakukan hal-hal yang tidak bisa di bacanya dengan suara sementara ia terus memastikan Lucie tetap menutup matanya.
Akhirnya, Reid mendekatinya dari belakang, melingkarkan salah satu tangannya di pinggang wanita itu dan menutup mata Lucie dengan tangannya yang lain. "Sial, aku harus memikirkan dua kali tentang hal ini."
Dia bisa mendengarkan kecemasan dari suara pria itu. "Mengapa kau harus memikirkannya lagi"
"Karena aku tidak tau apa yang akan kau pikirkan. Aku takut kau akan membencinya."
Lucie memiringkan kepalanya kesamping dan mengulangi pertanyaan Reid sebelumnya. "Tidakkah kau percaya padaku" ***
Ruangan itu gelap gulita dengan hanya satu cahaya dari sebuah lampu sorot yang terpasang di atas sebuah balok penopang, dan diatas balok itu terdapat sebuah papan gabus besar yang menampilkan sebuah gambar pensil arang Lucietelanjang.
Tidakkah kau percaya padaku
Apakah ia percaya Seni itu sangat personal dan sesuatu yang sangat intim seperti ini seperti pandangan yang ia berikan pada pria itu ketika mereka bercinta bahkan lebih. Ia memiliki hak untuk merasa tersinggung, meskipun mungkin hanya mereka berdua yang pernah melihat gambar ini. Namun pria itu sudah menggambarnya tanpa seizinnya.
Reid ingin mengatakan bahwa ia tidak tau apa yang sudah merasukinya hingga melakukan hal segila ini, seperti membuat sketsa telanjang tubuh Lucie, tapi ia akan berbohong pada dirinya sendiri. Sesuatu tentang diri wanita itu tentang perasaan yang ia rasakan ketika dengan Lucie telah membangkitkan sisi kreatif yang selama ini telah tertidur. Cukup bangkit hingga ia menemukan sebuah pria yang mengizinkannya menggunakan beberapa ruang dan persediannya untuk beberapa hari di tempat yang di sebut sebagai studio seni dengan pertukaran beberapa tiket untuk pertarungan yang akan datang.
Dan ini adalah hal yang menginspirasinya.
Jadi kepeduliaannya pada Lucie akan menerimanya sebagai hadiah atau tidak, tidaklah terlalu penting baginya, karena menyembunyikan hak ini darinya seperti rahasia kecil yang kotor di luar pertanyaan itu. ia tidak bisa mundur sekarang. Tanpa nyali, tak ada kemenangan.
Ia menghela nafas dalam-dalam, dadanya melebar seperti bahunya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan. "Oke," katanya sambil menurunkan tangannya. "Buka matamu."
Lucie tersentak pelan sebelum menutup mulutnya dengan jarijarinya dan berbisik, "Ya Tuhan."
Apakah itu hal yang baik "Ya Tuhan" atau sesuatu yang buruk, Reid masih belum bisa memastikan. Ia benar-benar mengharapkan pilihan pertama.
Meskipun ia tau setiap goresannya dengan baik, ia tetap mempelajari gambar itu dan mencoba untuk melihatnya melalui mata wanita di sampingnya. Garis arang dan lengkungan itu menggambarkan dirinya yang tengah di penuhi gejolak gairah di atas sofa, punggungnya melengkung, wajahnya menoleh ke samping dengan rambut yang tergerai di samping bantal. Kaki kanannya tergantung di sisi sofa, telapak kakinya menekan lantai sebagai penahan. Lututnya yang lain tertekuk tajam, jari-jari kakinya menunjuk dan naik beberapa inci. Meregang di bawah tubuhnya, tangan kanannya menghilang di antara pahanya yang ketat, sedangkan tangan kirinya terulur untuk menangkup payudara kanannya, putingnya yang membengkak mengintip di antara jari-jarinya yang menyebar.
Bagian favoritnya adalah wajah Lucie.
Poni tebal menutupi dahinya yang selalu berkerut ketika ia mengalami ledakan kenikmatan. Dengan mata tertutup, bulu matanya terlihat elegan di atas pipinya yang memerah karena lonjakan kecil. Mulutnya tampak penuh, ciumannya bibirnya yang penuh tampak terpisah seakan-akan baru saja terpatahkan dari segelnya. Dan bintik berbentuk hati di sudut matanya, sebuah detail kecil yang mungkin tidak akan di sadari orang lain jika itu hilang, tapi bagi Reid itu adalah pembeda antara Lucie dengan wanitawanita lainnya.
Ia kembali pada dirinya ketika Lucie melangkah maju pada kanvas itu dengan pandangan seakan-akan terpesona. Seakan-akan ia tengah menikmati gambar di sebuah museum seni, Reid masih berdiri di pinggir cahaya dengan tangannya di dalam saku celana jinsnnya dan melakukan hal yang sama dengan wanita itu.
Malam ini Lucie mengenakan sebuah gaun pink dengan tali kecil, korset yang cocok dengan sarung tangannya, menjepit bagian pinggang kecilnya dan tergantung sedikit melebar di pinggulnya dengan tarian melambai di sisinya setiap ia bergerak.
"Reid, aku" dia berhenti, dan Reid benar-benar takut akan hal terburuk.
"Bagaimana menurutmu Apa ini tidak apa-apa; kau bisa mengatakan yang sebenarnya padaku."
Wanita itu menoleh dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ini luar biasa. Kau sangat berbakat." Katanya, sambil kembali menatap gambar itu. "Kau membuatku" Ia menghirup nafas dalam-dalam dan membebaskannya dengan gemetar. ".indah."
Langkahnya bergetar ketika ia berjalan mendekati Lucie dan membalikkan tubuhnya, memeluknya dengan erat. Satu tangannya menyentuh wajah Lucie dan menyeka air matanya yang menetes di tulang pipinya. "Di situlah kekeliruanmu sayang. Aku membutuhkan waktu beberapa saat untuk mencoba sebelum aku bisa menangkap kecantikanmu."
Ia tersenyum lemah. "Kata-katamu sangat manis, tapi dalam sejuta tahun pun aku tidak akan terlihat seperti itu."
Kilat menyambar di luar ruangan itu disertai sambaran Guntur, dan hujan mulai menetesi jendela belakang bagai lagu sumbang. Badai tampaknya semakin membesar bersamaan dengan rasa frustasinya.
Reid selalu tersedak setiap kali ada orang-orang yang membuat wanita itu merasa kurang percaya diri. Tidak hanya satu titik dalam dirinya yang terlihat indah dalam gambar pria itu, tetapi semua tentangnya humor, kecanggungan, kasih sayang, dedikasi semua itu, membuatnya begitu jauh lebih unggul dari setiap wanita yang ia kenal.
Baru saja Reid akan menjelaskan hal yang sebenarnya kepadanya, sebelum Lucie kembali menambahkan. "Maksudku, ayolah. Jika aku terlihat seperti itu, seharusnya Stephen melilitkan sebuah cincin di jari ku."
***
Kegilaan sementara. Itulah yang terpikirkan oleh Lucie ketika ia memikirkan mengapa ia harus mengatakan hal yang sensitif kepada Reid.
Tidak peduli jika sebagian dari situasi itu adalah misinya untuk berakhir dengan seorang pria lain, dan kenyataan bahwa pria itu tidak memiliki perasaan apapun terhadap hubungan ganjil mereka. Reid sudah memberinya sebagian dari dirinya sendiri dengan menciptakan karya seni yang mengagumkan ini untuknya tentang dirinya- dan ia baru saja menampar pria itu dengan membawa Stephen dalam malam mereka dengan menyebutkan namanya.
Lucie melihat kilatan kemarahan di matanya, otot-otot di rahangnya melentur beberapa kali seakan ia tengah berusaha menahan dirinya agar tidak membuat hal-hal yang akan membuat wanita itu ketakutan, dan yang belum layak ia dapatkan.
"Reid, aku minta maaf, aku"
Ia tidak menunggu untuk sisanya, tetapi segera memutar tubuhnya dan berjalan membanting pintu ketika ia keluar menerjang badai. Lucie mengejarnya, namun berhenti tepat di luar studio ketika melihatnya berjalan di trotoar menuju jalanan, kemeja dan jasnya sudah setengah basah.
"Reid, tunggu, kembali!"
Reid menghentikan langkahnya, namun tidak berbalik. Dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya dan bahu lebarnya yang naikturun, ia tampak liar dan berbahaya, dan Tuhan menyelamatkan Lucie, seksi. Tulang punggungnya bergetar dan ia mulai merasa tubuhnya menggigil, namun itu bukan dari dinginnya hujan yang membasahi kulit dan rambutnya. Bahkan kemarahan pria itu mampu mempengaruhinya di tingkat yang paling dasar, dan hal itu membuatnya senang sekaligus frustasi.
Ketika ia berbalik dan berjalan kearahnya dengan sinar mengancam di matanya, Lucie bertanya-tanya apakah ia seharusnya tidak membiarkan pria itu pergi dan meminta maaf ketika reid memundurkan tubuhnya hingga ke batu bata di belakangnya. Ia tau ia harus meminta maaf lagi, ia harus mengatakan sesuatu, apapun itu, tetapi kata-katanya lenyap ketika ia melihat sisi lain dari sosok reid yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sikapnya itu tampak seperti binatang, dan tentu saja itu bukanlah sejenis hal yang lucu dan bisa di peluk.
"Ada apa dengan bajingan itu hingga membuatmu tidak bisa lepas darinya" teriaknya. "Aku serius, tolong katakan, karena aku sudah berusaha untuk mencari tahu dan aku tetap tidak bisa menemukannya!"
Tertarik Jika ada yang telah membuatnya tertarik itu adalah Reid. Itu seharusnya menjadi sebuah hal yang biasa, tidak ada yang lebih dari pada pelajaran untuk menjadi wanita yang bisa menarik hati ahli bedah ortopedi tertentu sehingga mereka bisa hidup bahagia selamanya dalam hubungan yang memungkinkan dan didasarkan pada kepentingan bersama dan rasa toleransi.
Seperti sekarang, dia tidak yakin dengan apa yang ia inginkan saat ini. Sebenarnya itu adalah sebuah kebohongan. otaknya mengatakan bahwa ia menginginkan Stephen. Tetapi tubuhnya dan Lucie takut jika hati itu juga - meneriaki nama Reid.
Ia menggelengkan kepala, beberapa helai rambutnya menampar pipinya. Air mata yang panas tumpah di pipinya, dan ia berdoa agar mereka akan membaur dengan tetesan hujan, hingga ia tidak terlihat sesedih sebagaimana yang ia rasakan. "Aku tidak tau apa yang ingin kau dengar dariku."
Puncak dari rambut elang-imitasinya turun sedikit diatas dahinya, terasa berat dengan air yang mengalir dari ujungnya. Kemejanya yang berwarna abu-abu pucat dengan garis-garis perak yang sudah terbuka di bagian krah dan manset yang di gulung di atas ototototnya, sekarang sudah basah kuyup dan menempel di tubuhnya.
Reid meletakan tangannya di dinding di antara kepala Lucie, dan masuk ke dalam privasinya lebih dalam lagi. Ia memenjarakan wanita itu dengan tatapannya yang begitu kuat dan Lucie tampak tidak berdaya untuk berpaling, dan ketika ia berbicara dengan katakatanya yang tajam. "Apakah kau juga memikirkannya ketika aku berada di dalam tubuhmu, Luce Apakah kau mengharapkan miliknya lah yang berada di dalam tubuhmu bukan milikku"
Lucie sudah melukainya. Terutama sisi lembutnya. Sisi yang membuatnya menjadi teman yang bijaksana dan penuh perhatian seperti seorang kekasih. Sisi yang menyentuh tubuhnya seakan jarijarinya memuja setiap lekukan tubuhnya, kemudian memindahkannya ke dalam kanvas yang sangat berharga itu.
Dan sekarang sisi petarungnya sudah mengambil alih, memperkuat pertahanannya dengan pertanyaan yang keras dan kasar untuk menyamarkan luka-lukanya. Tapi meskipun kata-kata kejam itu mengalir dari mulutnya, itu hanyalah kata-kata sosok lain di belakangnya. Dan untuk pertama kalinya Lucie benar-benar mengerti dengan dualitas alami yang di miliki Reid.
Lucie mendorong semua pikiran tentang apa yang ia butuhkan dan memfokuskan pada apa yang Reid butuhkan. Ia sudah memiliki keyakinan itu ketika tangannya merengkuh wajah Reid, jenggot pendeknya menggelitik telapak tangannya.
"Tidak pernah." Kedipan terkejut sesaat terlihat sebelum topengnya kembali terpasang di tempatnya. "Saat kau menyentuhku, aku menyerahkan diriku padamu Reid," ia meregangkan jari-jarinya dan mencium bibirnya. "Setiap.Saat."
Guntur kembali menggelegar di atas kepala mereka seperti lampu sorot dari kilat yang tampak sesuai dengan sosok animalisnya dalam bayangan dan cahaya yang mengungkapkan niatnya. Lucie hanya memiliki beberapa saat untuk mempersiapkan dirinya sebelum mulut Reid turun dan menyentuhnya dalam serangan yang mematikan.
Ia mengerang dan membuka mulutnya pada Reid, menikmati pusaran panas lidahnya ketika tangannya menyentuh pantatnya dan mendorongnya terhadap bagian yang kaku dan tegang di balik resletingnya. Lucie melengkungkan tubuhnya untuk melenyapkan setiap molekul udara yang memisahkan mereka, membuat kontak sebanyak mungkin dengannya, seakan-akan ia akan mati tanpa hal itu.
Reid menyelipkan tangannya di antara mereka, menggeserkan celana dalamnya ke samping, dan menorong dua jarinya lebih dalam. Lucie memecahkan ciuman mereka, tidak bisa menahan teriakannya seperti badai di atas mereka ketika dorongan tiba-tiba yang mengguncang intinya.
"Sialan Luce," katanya dengan kasar. "Aku senang karena kau selalu sangat basah untukku. Aku tidak pernah merasakan sesuatu yang sepanas dan seketat ini. Aku ingin hidup di dalam dirimu, dan tidak pernah meninggalakanmu."
Lucie tidak mungkin membalas kata-kata Reid, jadi ia hanya merengek memohon dengan menggerak-gerakan pinggulnya dan membuatnya bergerak. Dan itu berhasil, tapi tidak sesuai dengan apa yang ia maksudkan. Bukannya meraba tubhnya seperti yang Lucie pikir akan di lakukannya, ia malah menariknya keluar dan meninggalkannya dalam keadaan kosong begitu saja.
"Reid please"
"Jangan khawatir sayang, itu hanya untuk sesaat." Lucie melihat Reid merobek celana jinsnya hingga terbuka dan mendorong mereka hingga membuat ereksinya terlepas. Panjang dan tebal, berpuncak runcing dengan urat dan di tutup dengan kepala yang halus bulat, tiba-tiba Lucie memiliki keinginan untuk membawanya ke dalam mulutnya, namun Reid sama sekali tidak memberikan kesempatan.
Ia menekan jari-jarinya ke pipi Lucie, dan mengangkat tubuhnya, dengan cekatan memindahkan pakaiannya ke samping, dan membawa dirinya sendiri ke pangkal Lucie. Lucie membenamkan wajahnya di leher Reid dan menjepit bibir bawahnya ketika sensasi kenikmatan itu menyentuh intinya. Dengan cepat Reid mundur dan mendorongnya ke depan, mengatur kecepatan yang di rasa perlu untuk kelangsungan hidup mereka.
Aroma mineral batu basah bercampur dengan aroma bunga rambut basah kuyup Lucie, dan parfum tajam dari kemeja Reid. Suara gemuruh badai dan hujan menyertai mereka dan membungkus mereka, seakan-akan hanya mereka yang berada di atas bumi ini.
Mulutnya merusak bibir Lucie, rahangnya, tenggorokannya, bahunya. Ujurng-ujung jarinya mencengkram bagian samping di tempat ia menembusnya, tangannya yang besar menyebabkan dirinya terpisah dan memungkinkannya untuk masuk lebih dalam lagi.
Lucie menekan kukunya di tengkuk Reid, meniru sengatan batu bata di punggungnya. Hujan membasahi wajah mereka, namun mereka sama sekali tidak berkedip ketika mereka saling menatap satu sama lain, menghubungkan jiwa mereka yang kini terhubung melalui tubuh mereka. Bahkan dalam sejuta tahun ia tidak akan pernah bisa memikirkan pria lain ketika ia sedang bersama Reid. Dia sama sekali tidak mampu berpikir hal lain ketika berada di dalam pelukan pria itu.
Semuanya terasa mencair kecuali saat ini, pria ini yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhinya hingga tidak ada lagi hal yang terpenting kecuali caranya mengisinya, merenggangkannya, dan melengkapinya.
Semuanya terasa terlalu cepat ketika ia merasakan klimaksnya datang. Ia tidak ingin ini berakhir. Ia ingin hal ini terus berjalan selamanya. Ia menggertakan giginya, mncoba menahannya, tapi hal itu terus bangun dan bangun.
"Lepaskan sayang. Aku ingin merasakan kau meremas kejantananku. Datanglah untukku." Geramnya.
Dalam setengah lusin pukulan lainnya, giginya turun ke lehernya, dan kebahunya hingga akhirnya Lucie kehilangan kontrol terakhirnya. Mereka datang secara bersamaan dalam sebuah ledakan dahsyat. Ia menggeram seperti binatang buas yang muncul di lorong gelap ketika ia menumpahkan benihnya di dalam bagian tubuh Lucie yang menegang.
Lucie hancur berkeping-keping, menari dengan gemuruh awan di atas mereka sebelum kembali jatuh ke bumi dengan hujan kembali kepada reid.
Ketika mereka bisa kembali bernafas, dengan lembut Reid menurunkannya ke tanah, meletakan tangannya di bahunya hingga wanita itu bisa menahannya. Ia menangkup pipinya, mencium bibirnya dan berkata. "Ayo pulang dan berteduh dari hujan ini,
hmm"
Lucia tersenyum kecil dan mengangguk. "Bagaimana dengan gambarnya Ini akan hancur di tengah hujan."
"Kita bisa meninggalkannya di sini dan mengambilnya di hari yang lain. Ayo, aku akan membawamu untuk mandi air panas dan lalu ke ketempat tidur."
Lucie mengangkat sebelah alishnya pada Reid. "Kau belum merasa puas"
Reid menyeringai dan berkata, "Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan merasa puas dengan dirimu, Lucie, tapi tidak, bukan itu maksudku. Aku ingin membawamu pulang, merawatmu, dan menempatkanmu ke dalam ranjang hangatmu hingga aku bisa terus bersamamu sampai matahari terbit."
"Oh." Sebuah jawaban sarkastis, dengan garis menyimpang. Sebuah lelucon buruk, tapi hal itu adalah respon yang selalu ia harapkan darinya. Tetapi tidak dengan sesuatu yang akan membuatnya seperti orang bodoh.
Reid mengunci studio, mencium puncak kepalanya, dan merangkulnya saat mereka berjalan kembali ke mobil.
Apakah mungkin secara fisik bisa merasakan keadaan dimana kau kehilangan hatimu untuk seseorang Karena Lucie cukup yakin ia baru saja kehilangan miliknya, dan seharusnya bagian itu terasa sakit secara harfiah.